Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan
 Sebuah Ringkasan


--Tulisan ini adalah sebuah ringkasan, rangkuman dari sebuah buku yang berjudul "Apa Salahnya Makan Daging?"  yang ditulis oleh Avadhutika Anandamitra Acarya. Buku yang diterjemahkan dari dari Bahasa Inggris oleh Bapak Ir. Ketut Nila ini, merupakan buku tipis yang sarat muatan pengetahuan terkait kenapa orang sebaiknya menjadi vegetarian. Ringkasan ini saya buat untuk merangkum apa yang saya pahami dari buku ini, sekaligus ingin juga mengajak teman-teman lebih luas untuk lebih memikirkan sudut pandang lain yang ada di hidup ini. Tentu saja, versi lengkap tetap ada di bukunya. Saya mendapat buku ini dari seorang kawan, Mbak Rita yang katanya ingat saya saat melihat kembali buku lamanya ini. Pas banget! Ini adalah salah satu pembenaran yang saya perlukan dari apa yang memang sudah saya yakini dari dulu. Terimakasih ya mbak. Bagi yang ingin membaca bukunya, silakan saja kontak saya ya. :) "--

Selamat membaca!



Bagian I. Apa Salahnya Makan Daging dan Sejarah vegetarisme 

Mendengar kata vegetarian, orang akan bertanya-tanya,” Apa salahnya makan daging? Berjuta-juta orang makan daging, kenapa saya harus berhenti?”. Banyak alasan penting kenapa kita perlu berhenti makan daging, bukan alasan emosional atau sentimental, tetapi merupakan alasan-alasan meyakinkan dan ilmiah.
Apakah sejak nenek moyang, manusia selalu makan daging? Jawabannya adalah Tidak! Menurut penelitian (siapa? -net-), kesimpulannya adalah nenek moyang manusia pada jaman purba adalah pemakan tumbuh-tumbuhan. Manusia mulai memakan daging ketika jaman es akhir, yaitu ketika sumber makanan dari tumbuh-tumbuhan sulit didapatkan. Daging adalah pilihan terakhir untuk mempertahankan hidup. Sayangnya, kebiasaan ini terus berlajut bahwa hingga saat ini, dengan berbagai alasan, mungkin karena kebutuhan (Bangsa Eskimo dan suku-suku di utara bumi), karena kebiasaan, kekurangan makanan atau kurangnya pengetahuan. Meski demikian, di sepanjang sejarah, selalu muncul individu/kelompok yang menyadari pentingnya diet murni vegetaris untuk kesehatan, kejernihan mental dan spiritual.

Tidak wajar jika manusia makan daging


Makanan yang mana saja sangat erat kaitannya dengan struktur fisiologi mahkluk hidup. Begitu juga manusia, struktur fisiologinya menunjukkan jenis makanan apa yang sesuai untuknya. Menurut dietnya, binatang bertulang belakang dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: binatang pemakan daging, pemakan rumput dan daun, dan pemakan biji dan buah-buahan.

·         Pemakan pemakan daging

Binatang pemakan daging, seperti harimau, singa, anjing, kucing memiliki karakteristik yang unik yang jauh membedakannya dengan jenis binatang lain. Ciri-ciri pemakan daging adalah: memiliki sistem pencernaan yang pendek dan sederhana dengan panjang kurang lebih 3 kali panjang tubuhnya. Hal ini karena daging membusuk dengan cepat, yang jika tidak segera dikeluarkan akan dapat meracuni aliran darah. Perut pemakan daging memiliki kadar asam sangat tinggi (10 kali manusia) yang berguna untuk menghancurkan daging dan tulang. Pemakan daging juga memiliki gigi taring yang panjang dan runcing, rahang yang kuat, dan kuku tajam. Senjata alamiah itu digunakan untuk mencabik dan merobek daging mangsanya. Pemakan daging tidak memerlukan pencernaan pendahuluan di mulut sehingga tidak memiliki geraham untuk mengunyah makanan, dan tidak memiliki enzim ptialin di liurnya. Pemakan daging biasanya berburu di malam hari dan beristirahat di siang hari sehingga tidak memerlukan kelenjar keringat untuk mendinginkan badannya, tapi mengeluarkan uap panas dari mulut dan lidahnya.

Kucing dan Hyena, contoh binatang pemakan daging. 


·         Pemakan rumput dan daun

Contoh hewan pemakan rumput dan daun adalah sapi, gajah, domba, lama, dsb. Alat pencernaan hewan jenis ini lebih kompleks dan panjang. Di dalam mulutnya, pemakan rumput memiliki susunan gigi geraham 24 buah yang berguna untuk mengunyah makanan serta mencampurnya dengan liur yang mengandung enzim ptialin. Gerakan mulut mengunyah sedikit menyamping, beda dengan pemakan daging yang naik-turun. Pemakan rumput minum air dengan menghisapnya, sedang pemakan daging menjilati airnya. Pemakan rumput tidak memiliki kuku tajam dan taring runcing. Karena pemakan rumput tidak makan secara cepat dan makanannya juga dapat lebih lama disimpan dalam perut, susunan sistem pencernaan binatang jenis ini lebih panjang, yaitu sepuluh kali lipat panjang tubuh.

Yang menarik adalah, penelitian yang menyebutkan bahwa memberikan makanan daging pada hewan pemakan rumput memberikan dampak sangat buruk bagi kesehatan hewan itu. Dr. William Collins, dari New York Maimonedes Medical Center, menemukan bahwa binatang pemakan daging memiliki kemampuan tak terbatas untuk mengatasi lemak dan senyawa jenuh serta kolesterol, tapi tidak untuk pemakan rumput. Kelinci yang diberi makanan mengandung unsur hewani mengalami pengerasan pembuluh darah, penuh lemak dan mengalami penyakit.

Kuda dan Sapi, contoh pemakan rumput dan daun


·         Pemakan biji dan buah-buahan

Contoh binatang jenis ini adalah kera dan monyet. Kulitnya memiliki berjuta pori untuk mengeluarkan keringat, memiliki geraham untuk mengunyah, air ludahnya mengandung ptialin untuk pencernaan pendahuluan. Ususnya berlekuk-lekuk dan panjangnya 12 kali panjang tubuhnya.

Monyet adalah pemakan biji dan buah
(img source: here)


Jelas sekali bahwa struktur fisiologis manusia lebih dekat pada hewan pemakan biji dan buah-buahan serta, rumput dan daun. Jauh sekali dari pemakan daging. Manusia memiliki sistem pencernaan 12 kali panjang tubuhnya, struktur gigi geraham, enzim ptialin, dll.

Secara insting, manusia bukanlah pemakan daging

Selain itu, secara insting, manusia bukan pemakan daging. Kebanyakan orang lain menyuruh orang lain untuk membunuh binatang untuk dimakan. Orang akan menjadi muak jika membunuh sendiri binatang dan memakannya. Manusia tidak memakan daging mentah seperti binatang buas, tapi memasak dengan merebus, memanggang, menggorreng dan menyembunyikan bentuk dan rasa asli dari daging itu dengan berbagai macam bumbu dan sambal. Apakah manusia menikmati merobek-robek dan mengoyak binatang? Apakah manusia akan lebih tergoda dengan seonggok daging mentah atau setangkai anggur?

(img source: here)

Sejarah Vegetarisme


Dari permulaan sejarah, kita temukan bahwa makanan vegetaris dipandang sebagai makanan wajar bagi manusia. Bangsa Yunani kuno, Mesir dan Yahudi menyatakan bahwa manusia sebagai mahkluk pemakan buah-buahan. Pendeta Mesir kuno tidak memakan daging. Tokoh penting Yunani seperti Plato, Socrates, dan Phytagoras adalah penganjur kuat makanan vegetaris. Buddha, mendorong agar murid-muridnya tidak memakan daging. Para pendeta Tao juga adalah vegetaris, begitu juga penganut Kristen dan Yahuni jaman dulu. Penganut Hindhu jaman dulu juga melarang memakan daging.  Di kitab Hukum Hindhu pertama tertulis, “Daging, tidak bisa didapatkan tanpa menyakiti mahkluk hidup lain, dan apabila seseorang menyakiti makhluk yang memiliki kesadaran, maka orang itu tidak akan mendapatkan kebahagiaan surgawi. Seorang murid Muhammad mengatakan, “Jangan jadikan kalian kuburan berjalan.”

“Dan daging binatang yang disembelih di dalam tubuh pemakannya akan menjadi kuburan pemakan itu sendiri.... “ (The Essence Gospel of Peace)

Bagian 2. Mengapa Pemakan Daging Lebih Banyak Sakit dibanding Vegetarian?



Proses peracunan

Sesaat sebelum disembelih, biokimia binatang yang ketakutan mengalami perubahan. Produksi racun dipaksakan keluar mengalir ke seluruh tubuh. Emosi mengakibatkan perubahan sangat besar pada susunan biokimia tubuh. Manusia, juga mengalami perubahan fisik ketika sedang emosional seperti marah atau sedih. Hewan yang ketakutan melepaskan hormon adrenalin yang melekat pada daging dan akhirnya meracuni manusia yang memakannya.

Para pemakan daging lebih mudah terserang kanker. Salah satu alasannya adalah kenyataan bahwa daging hewan yang telah disimpan beberapa hari akan mengalami perubahan fisik menjadi abu kehijauan karena proses pembusukan. Meskipun sudah ditutupi dengan berbagai pewarna sintetis dan bahan pengawet lain, namun malah menjadikan racun di dalam daging semakin banyak. Negara-negara dengan jumlah pemakan daging banyak, cenderung mengalami kasus kanker perut yang tinggi dibanding negara lainnya.

Memakan daging berarti berada di ujung puncak rantai makanan. Akumulasi zat-zat beracun dari proses makan dan dimakan akan terakumulasi di puncak rantai makanan. Misalnya saja racun pestisida DDT. Selain itu, produksi hewan-hewan potong juga mengerikan. Binatang pedaging dijejali banyak makanan dan disuntik dengan zat-zat kimia, dirangsang nafsu makannya, diberi obat antibiotik dan sedatif yang memacu pertumbuhannya agar lebih cepat besar, berlemak, dagingnya berwarna, dsb.

Manusia dapat tertular penyakit yang diderita hewan yang dimakannya. Hewan-hewan di peternakan skala besar, cenderung akan lebih mudah terserang penyakit karena kondisi lingkungannya yang menyesakkan. Hewan-hewan yang stress akan mudah sakit.

Daging dan Penyakit Jantung

Kenapa daging berbahaya bagi peredaran darah? Lemak binatang tidak mudah diuraikan di dalam tubuh dan lama-kelamaan akan melapisi dinding pembuluh darah yang kemudian menyempit dan menyulitkan darah mengalir. Proses itu disebut Atherosclerosis yaitu jantung mendapat beban yang berat hingga berlanjut ke tekanan darah tinggi, stroke dan serangan jantung. Di Amerika Serikat, penyakit jantung adalah pembunuh nomor 1.

Proses Pembusukan

Tidak seperti pada tumbuh-tumbuhan yang memiliki dinding sel tebal. Segera setelah binatang dibunuh, protein di dalam jaringan tubuh akan mengumpul, dan enzym penghancur akan dibebaskan yang disebut ptomaines. Zat ini akan segera melakukan proses pembusukan daging binatang dan ikan yang mati. Jika setelah daging dipotong masih harus didistribusikan melalui pembeli, disimpan, disiapkan dan proses panjang lainnya, dapat dibayangkan sampai berapa jauh proses pembusukan terjadi.

Selain itu, setelah dimakan, daging lama tersimpan dalam tubuh manusia yang memiliki sistem pencernaan panjang. Butuh waktu 5 hari agar daging bisa keluar sepenuhnya dari tubuh. Selama itu, proses pembusukan terus berlangsung, dan daging itu bersinggungan langsung dengan alat-alat pencernaan. Lambat laun hal ini akan menghancurkan sistem pencernaan manusia.

Penyakit Ginjal, Gout, dan Arthritis

Sampah yang paling banyak diproduksi oleh pemakan daging adalah asam urik (senyawa nitrogen).  Dagin bistik misalnya, mengandung kurang lebih 14 gram asa urea per pound. Ginjal pemakan daging bekerja 3 kali lebih berat daripada vegetarian. Ketika muda, mungkin hal ini tidak menjadi masalah karena kondisi fisik masih prima, tapi semakin tua hal ini menjadi membahayakan. Jika ginjal tak mampu lagi menanggung bebannya, asam urik yang tidak dikeluarkan akan diendapkan ke seluruh tubuh yang kemudian diserap oleh otot. Kemudian mengeras seperti kristal yang bila di persendian menimbulkan rasa sakit yang disebut arthritis dan rheumatik. Apabila asam urik mengendap di syaraf, maka terjadi neuritis dan sciatica.

Pembuangan Buruk

Pembuangan buruk terjadi akibat sistem pencernaan manusia yang tidak didesain untuk mencerna daging. Daging adalah makanan yang hampir tidak berserat, yang lambat sekali bergerak di dalam pencernaan sehingga memakan daging mengakibatkan konstipasi.

Bagaimana Kaum Vegetaris Lebih Kuat Secara Fisik?

Salah satu kesalahan konsepsi adalah bahwa makanan vegetaris mengakibatkan orang lemah, pucat, dan penyakitan. Banyak penelitian yang telah dilakukan dan menunjukkan bahwa vegetarian lebih lincah, kuat, dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dari pemakan daging. Bahkan hewan-hewan yang secara fisik kuat dan berumur panjang adalah hewan vegataris seperti gajah, kuda, kerbau, sapi. Semuanya memiliki badan sehat, kekuatan dan stamina yang baik sehingga bisa membantu pekerjaan manusia yang sangat berat. Selain itu, sejumlah atlet vegetarian juga telah mencetak rekor dunia, misalnya: Murray Rose, atlet renang vegetarian pemenang tiga kali medali emas di olimpiade di usianya yang masih muda. Orang-orang vegetaris sebenarnya memiliki stamina lebih karena tidak menyia-nyiakan energi hanya untuk menawarkan racun dari daging.


Padi-padian untuk makanan manusia.

Bagian 3. Apakah Apa Kaitan Antara Makan Daging dan Kondisi Kelaparan Dunia?  YA!

  • Apabila kita simpan padi-padian dan sumbangkan itu kepada rakyat miskin dan kekurangan makanan, dan tidak diberikan kepada sapi-sapi, dengan mudah kita dapat memberi makan rakyat miskin di dunia.
  • Kalau kita makan setengahnya saja dari jumlah daging yang biasa kita makan, maka didapatkan sejumlah makanan yang bisa disumbangkan kepada yang membutuhkan.
  • Sesorang ahli nutrisi dari Harvard, Jean Mayer, memperhitungkan dengan mengurangi produksi daging 10%, maka akan dapat membebaskan cukup biji-bijian untuk bisa dimakan 60 juta orang.
  • Kenyataan mengejutkan bahwa 80-90% padi-padian yang ditanam di Amerikan adalah untuk pakan ternak. Peningkatan konsumsi daging meningkatkan pertanian untuk pakan ternak yang seharusnya bisa digunakan untuk pertanian bagi pangan manusia yang lebih luas.
  • Menjadi vegetarian adalah salah satu opsi untuk mengatasi masalah pangan dan kelaparan di bumi yang semakin gawat. 


Bagaimana kaitan daging dengan kekurangan makanan? Jawabannya sederhana: daging merupakan makanan yang tidak ekonomis. Hanya 10% dari protein dan kalori yang kita berikan pada makanan ternak yagn bisa didapatkan kembali melalui daging yang kita konsumsi. Jadi, 90% terbuang percuma. Tanah yang luas digunakan untuk peternakan dan pertanian pendukung peternakan. Sekiranya, lahan-lahan itu bisa digunakan untuk ditanami padi-padian, kacang-kacangan, dan sayur-mayur yang langsung dapat dimakan manusia. Selain itu, memelihara ternak juga boros air. Penggunaan air untuk ternak 8 kali lebih besar dari pertanian.

Ini berarti, ketika jutaan orang kelaparan dan kekurangan air, di sisi lain orang memboroskan lahan, air dan hasil pertanian hanya untuk dapat makan daging.

“Apabila kita vegetarian, kita dapat melenyapkan kelaparan dari dunia. Anak-anak akan terlahir dan tumbuh dengan baik dengan cukup makan, hidup lebih bahagia, dan sehat. Binatang-binatang akan hidup bebas sebagai makhluk alam, tidak dipaksa untuk melahirkan anak sebanyak-banyaknya untuk digemukkan dan dibantai.” (B. Pinkus, Vegetable Based Proteins)

Peternakan skala besar yang boros sumberdaya

Politik Kelaparan


Kenapa kelaparan bisa terjadi? Apakah karena dunia tidak mampu lagi memberi makan manusia yang jumlahnya semakin banyak? Itulah kepercayaan yang tersebar luas hingga usaha terpadu untuk mengendalikan jumlah penduduk mati-matian dilakukan. Apakah demikian?

“Itu tidak benar sama sekali- itu khayal!” Dunia ini memiliki cadangan yang cukup bahkan lebih untuk memberi makan manusia. Penelitian dari Food and Development Policy, US menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara kepadatan penduduk dengan kelaparan. India adalah contoh negara padat dengan kasus kelaparan, tapi Tiongkok yang 2 kali lebih padat tidak mengalami kelaparan. Taiwan memiliki jumlah penduduk dua kali lipat Bangladesh, tapi Taiwan tidak kelaparan sedang Bangladesh adalah satu negara dengan kasus kelaparan terparah di dunia. Contoh lain negara padat tapi tidak kelaparan adalah Jepang. Memang bumi punya batas daya dukung terhadap manusia yaitu diperkirakan 40 Milyar, tapi saat ini kita masih cukup jauh dari jumlah itu.

Kondisi kelaparan dunia adalah suatu kondisi yang diciptakan. Industri makanan adalah industri besar. Segelintir perusahaan raksasa multinasional menguasai industri ini dan pemusatan kekuasaan ada di tangan mereka. Dengan kekuatan politik dan ekonomi yang kokoh, mereka mengendalikan aliran makanan kepada milyaran manusia di dunia ini. Bagaimana bisa?

  • Salah satu cara perusahaan raksasa mengendalikan pasar pangan adalah dengan berangsur-angsur mengambil alih setiap fase sistem makanan. Misalnya, perusahaan raksasa membuat mesin pertanian, pakan ternak, pupuk, minyak, kaleng makanan, dibelinya serangkaian toko swalayan, perusahaan bahan makanan dan pabrik pengolahan dan menanam makanannya di situ. Mereka akan mengendalikan harga sesukanya. Petani kecil tidak akan bisa bersaing dengan ini.
  • Kekuatan yang menentukan. Perusahaan agribisnis menentukan tanaman apa yang harus diproduksi, kualitasnya, kuantitasnya dan harga jualnya. Pengendalian produksi dan penyimpanan stok dilakukan kadang untuk manipulasi harga. 
  • Lembaga pemerintah yang seharusnya melindungi rakyat, malah didominasi oleh kepentingan agribisnis itu. Banyak pengusaha yang menduduki pos-pos penting di pemerintahan.
  • Perusahaan multinasional semakin banyak membeli tanah-tanah produktif di seluruh dunia.

Beberapa contoh kasus terjadi akibat politik kelaparan ini adalah:

  • Di Amerika Tengah, 70% anak-anak menderita kelaparan. Tapi, 50% tanah pertanian digunakan untuk “cash crop” yaitu pertanian dengan orientasi uang, misalnya pertanian Bunga Lily. Lahan lain digunakan untuk menanam tanaman yang menguntungkan seperti teh, kopi dan tembakau. 
  • Di Haiti, sebagian besar petani berjuang hidup dengan menanam makanan di lereng-lereng pegunungan yang curam. Mereka menyebut diri mereka sebagai orang buangan di negeri sendiri. Tanah-tanah subur di wilayah itu dikuasai oleh segelintir orang kaya untuk peternakan sapi yang kemudian diekspor ke negara maju, seperti AS.
  • Mexico yang dahulunya digunakan untuk menanam jagung, kini telah banyak digunakan untuk menanam tanaman non pangan untuk kebutuhan Amerika. Beribu petani hidup tanpa pekerjaan karena tanahnya telah dijual, atau bekerja sebagai buruh. Terjadi sejumlah pemberontakan karena itu.
  • Di Columbia, tanah-tanah subur digunakan untuk menanam bunga-bunga, misalnya Bunga Carnation yang berharga mahal daripada untuk gandum sebagai makanan rakyatnya.


Tanah-tanah produktif di dunia telah dirubah menjadi lahan pertanian yang memberikan keuntungan tinggi tapi tidak esensial bagi kehidupan manusia. Jadi salah jika dikatakan kelaparan terjadi karena kepadatan penduduk. Itu terjadi karena adanya penguasaan sumberdaya oleh segelintir pihak yang mengendalikan aliran pangan dunia.

Produksi daging adalah puncak dari sistem yang sangat merugikan ini. Karena kebutuhan daging meningkat, negara-negara kaya semakin banyak membeli gandum untuk pakan ternak. Gandum yang dulu makanan pokok manusia, kini dilelang untuk pakan sapi dan babi.


Demi masa depan anak-anak seluruh dunia.

Bagian 4. Ahimsa: Tidak Menyakiti Makhluk Lain


Satu alasan penting lain adalah bahwa kita tidak boleh membunuh, bahkan membunuh binatang, tanpa alasan yang sangat penting. Banyak kelompok agama dan spiritual menganjurkan makanan vegetaris, karena kesucian dan kesakralan semua kehidupan dan kebutuhan hidup tanpa menimbulkan penderitaan makhluk lain. Manusia sejati memandang binatang itu bukan sebagai budak atau makanan, tetapi sebagai adik-adik, dan mereka tidak punya hak untuk menyakiti atau secara kejam membunuhnya terkecuali dalam keadaan sangat mendesak. Binatang tidak pernah menyerahkan hidupnya dengan mudah dan ikhlas agar kita bisa hidup mewah dengan memakan daging.

Seseorang yang pernah mengunjungi tempat jagal dapat melihat kenyataan betapa binatang itu menderita sebelum atau ketika disembelih. Berapa banyak binatang dibantai dalam sehari hanya untuk memenuhi nafsu manusia? Sebagian kita menangis ketika anjing atau kucing piaraan kita mati, tapi bisa diam saja dan menyetujui pembunuhan terhadap berjuta-juta hewan tiap hari?

“Prana” – Daya Hidup dan Vegetarisme

Hukum Prana menyatakan bahwa makanan tertentu mengandung prana atau daya hidup lebih banyak dari yang lain. Prana telah dikenal sejak dulu, misalnya oleh Phytagoras yang menyatakan bahwa hanya makanan yang hidup segar dapat menjadikan manusia memahami kebenaran. Tumbuh-tumbuhan adalah makanan dengan daya hidup paling tinggi. Tumbuh-tumbuhan bahkan masih bisa hidup meskipun dipisahkan dari batang utamanya, biji masih bisa berkecambah. Tidak halnya dengan daging yang akan langsung berproses membusuk sesaat setelah mati. Daging adalah makanan tanpa daya hidup.

Kata ‘vegetarian’ tidak berasal dari ‘vegetable’, tetapi dari Bahasa Latin yaitu Vegetare yang berarti ‘menghidupkan’. Ketika Bangsa Romawi menggunakan istilah Homo Vegetes, itu bukan berarti manusia yang memakan tumbuh-tumbuhan, tapi seseorang yang mempunyai kesehatan dan dinamis.

Saya masih suka daging? Bagaimana sebaiknya?

Suatu prinsip yoga kuno menyatakan bahwa cara terbaik untuk merubah suatu kebiasaan yang sudah mengakar bukan dengan jalan mencabut sampai akar-akarnya. Itu tidak mungkin dilakukan. Tetapi dengan memelihara kebiasaan yang berlawanan dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta. Kebiasaan lama pun akan pudar dengan sendirinya.

Menjadi vegetarian bukanlah hal sulit karena pada dasarnya manusia adalah pemakan tumbuhan. Makanan berprotein tinggi dapat kita dapatkan dengan mudah dari kacang-kacangan dan beras merah. Kebutuhan gizi lain dapat didapatkan dari buah, sayur, dan biji-bijian lain. Jika usaha itu gagal, maka pergi dan saksikan kegiatan di rumah penjagalan. Barangkali itu adalah inspirasi yang anda perlukan.

Kebanyakan orang merasakan perubahan saat mereka beralih ke vegetarian, yaitu: level energi lebih tinggi, sistem pencernaan lebih bersih, kejernihan mental meningkat, bau badan lebih baik. Memakan makanan vegetaris, makanan wajar bagi manusia, hanya sedikit menyakiti makhluk lain, dan kita akan disadarkan pada kesatuan kehidupan dan Kesadaran Agung yang melandasi semuanya.

-----







      Judul : Kisah, Kultur, dan Tradisi Tionghoa Bangka
      Penulis : Rika Theo dan Fennie Lie
      Bahasa : Indonesia
      Tebal :  206 halaman
      Penerbit : Penerbit Buku Kompas 
      Tahun :2014



Sinopsis:

"Thong ngin fan ngin jit jong", Tionghoa maupun pribumi sama saja, adalah ungkapan yang terkenal di Pulau Bangka. Bangka adalah pulau kecil di timur Sumatra yang istimewa. Di pulau yang terkenal dengan timah dan Lada Mentok ini, masyarakat Tionghoa dan pribumi (sebagian besar Melayu dan sebagian lainnya Jawa, Bugis, dll)  telah ratusan tahun hidup bersama, menciptakan akulturasi, pembauran dan silang budaya yang  menarik dan khas. 

Orang-orang Tionghoa khususnya Suku Hakka (Khek) berdatangan ke Bangka dalam jumlah besar pada abad 17 seiring dengan semakin dikenalnya pulau itu sebagai penghasil timah. Pada masa itu, orang-orang Tionghoa bekerja sebagai buruh di pertambangan timah sehingga lokasi tambang juga identik dengan pecinan. Hingga pada masa kemerdekaan Indonesia dan saat kini, masyarakat Tionghoa di sana tak bisa dipisahkan dari popularitas timah Bangka. 

Masyarakat Tionghoa di Pulau Bangka sampai saat ini masih mempertahankan budaya yang dibawanya dari tanah leluhur, Tiongkok. Perayaan, festival, sembahyang dan berbagai macam kegiatan adat masih dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di Bangka, mulai dari perayaan Tahun Baru Imlek, Sembahyang kubur Cheng Beng, Sembahyang Rebut, dan berbagai kegiatan lain di sepanjang tahun. Banyak kisah, cerita, sejarah dan juga filosofi dalam tiap adat budaya masyarakat Tionghoa Bangka yang menarik untuk disimak di buku ini.


Pendapat saya:

Menarik!

Saya senang sekali bisa membaca buku tulisan Rika Theo dan Fennie Lie ini. Sudah lama saya tertarik dengan kultur masyarakat Tionghoa di tanah air dan buku ini telah memberikan satu gambaran ringkas namun jelas tentang masyarakat Tionghoa di Bangka, salah satu pulau yang terkenal dengan jumlah masyarakat Tionghoanya yang terbesar di Indonesia. Secara runut, penulis memberikan informasi tentang kehidupan masyarakat Tionghoa Bangka dalam 4 bab utama, yaitu: Bab I mengenai sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa , Bab 2 mengenai kehidupan orang Tionghoa dalam gejolak perubahan, Bab 3 tentang adat dan kultur yang masih dipegang, dan Bab terakhir yaitu Bab 4 tentang sisi lain kehidupan masyarakat Tionghoa Bangka. Menurut saya 4 bab dalam buku ini cukup bisa memberikan informasi bagi pembacanya.

Secara lengkap buku ini merangkum tradisi masyarakat Tionghoa sepanjang tahun, dimulai dari awal hingga akhir Tahun Imlek, mulai dari perayaan tahun baru, Cap Go Meh di awal tahun, hingga ritual Ban Fuk di penghujung tahun. Kisah, cerita dan makna di tiap-tiap tradisi pun disampaikan dengan cukup baik. Ada sisi lain kehidupan masyarakat Tionghoa yang juga menarik dibaca, yaitu tentang grup musik Tionghoa yang sempat populer di masa lalu, grup Tanjidor yang sangat mirip dengan tanjidor Betawi, dan Sekolah ThHK (Tionghoa Hui Kuan) yang terpaksa ditutup karena disangkutpautkan dengan gerakan komunis di era 60an.

Yang paling menarik bagi saya terhadap masyarakat Tionghoa Indonesia adalah bahwa mereka tidak melupakan tanah leluhur dan budaya asal tapi mereka tetap merasa sebagai orang Indonesia. Seperti yang dituliskan dalam buku ini: orang Tionghoa Bangka jika ditanya, "orang mana?", akan menjawab, "Orang Bangka.".  Kembali lagi pada ungkapan 'Thong ngin fan ngin jit jong', Tionghoa maupun pribumi sama saja, sama-sama orang Indonesia.


Saya sangat merekomendasikan bagi siapa saja yang tertarik dengan kehidupan masyarakat Tionghoa nusantara untuk membaca buku ini. Sebagai 'museum hidup' kebudayaan Tionghoa tanah air, Pulau Bangka memberikan gambaran yang unik, tidak hanya dari kebudayaan asli Tionghoa-nya tapi juga akulturasi dan pembauran dengan budaya pribumi lainnya. 


--------------
Judul     : The Fabulous Udin
Penulis  : Rons Imawan
Bahasa  : Indonesia
Tebal     : 392 halaman
Penerbit : Bentang Belia 2013
Skor       : 3/5


Sinopsis:

Berlatar di sebuah desa kecil di daerah Pelabuhan Ratu, Sukabumi Jawa Barat kisah Udin dan teman-temannya dimulai. Udin, Jeki, Ucup, Inong dan belakangan muncul Suri, teman baru pindahan dari Jakarta yang mengidap penyakit kanker ganas. Persahabatan yang tulus di antara anak-anak SMP inilah  inti dari cerita ini.

Udin adalah seorang anak yang jenius sosial dan mampu memecahkan berbagai permasalahan rumit yang bahkan orang dewasa pun sulit menanganinya, misalnya saja mengurungkan niat orang yang mau bunuh diri, mengusir guru killer dari sekolah, dan banyak lagi. Sedangkan Suri adalah gadis istimewa yang sejak pertama kali kemunculannya telah mencuri hati Udin. Penyakit Suri yang siap merenggut nyamanya setiap saat tidak menjadikan gadis itu lemah, namun sebaliknya menjadi gadis yang kuat dan tabah. Hobi suri adalah melakukan sayembara.

Melalui dukungan teman-temannya, terutama Inong,  Udin dan Suri menjalani hari-harinya sebagai sepasang kekasih dengan kisah cinta monyet remaja. Sampai pada akhirnya kisah ini harus ditutup ketika Suri harus memberikan sayembara terakhirnya. Sayembara terakhir yang akan yang akan menentukan siapa pemenang dan hadiah yang akan diterimanya.

Pendapat saya:

Seorang sahabat menyarankan saya membaca buku ini. "Mbak pokoknya harus baca buku ini. Bagus banget." katanya. Dalam sampul depan buku terdapat komentar bahwa buku ini bisa jadi 'The next Laskar Pelangi'. Sontak saja saya cukup tertarik memulai membaca kisah bocah istimewa 'Udin' di buku ini. Dan secara umum saya rasa buku ini lumayan lah, namun belum bisa saya sejajarkan dengan Laskar Pelangi. Kenapa ya? Saya tidak akan menjawabnya di sini.

Cerita di buku ini berputar di kisah persahabatan kelima anak SMP di sebuah desa kecil di Pelabuhan Ratu dengan fokus utama tentu saja 'Udin', si anak jenius yang istimewa. Cerita dan alurnya mudah diikuti dan cukup ringan. Sejak awal Udin mendapat porsi yang sangat istimewa sebagai karakter utama, kisah-kisah kecerdasannya. Namun justru itulah yang membuat saya agak kurang sreg. Terlalu berlebihan sehingga kurang natural. Karakter pendukung lain justru saya rasakan baik-baik saja atau mungkin biasa saja.

Meskipun saya sudah beberapa kali mengunjungi Pelabuhan Ratu dan sekitarnya, namun penggambaran latar lokasi dan suasana dalam kisah ini saya rasa masih sedikit kurang. Ada suasana yang kurang saya rasakan, 'kurang kena'. Saya terbayang bagaimana rasanya jika saya tidak pernah ke sana ya?

Tapi, buku ini tetap mengasyikkan untuk dibaca. Baru kali ini saya temukan ada tokoh di buku dapat bicara dengan penulisnya. Ha ha ha. Satu nilai lebih buat 'Onyol' sang Penulis. Ini benar-benar hal baru dan segar. Gaya penulisan komedi yang cenderung 'lebay', berlebihan di beberapa bagian mampu membuat saya tertawa. Metafora yang cerdas akan banyak ditemukan di tulisan ini. Saya suka di bagian ini. Saya kasih nilai 3/5 untuk buku ini.
------


Nb: Terimakasih banyak buat Cikal yang meminjamkan bukunya. Sukses ya buat kerjaan barunya. :-)
Judul    : Ayu Manda
Penulis : I Made Iwan Darmawan
Bahasa  : Indonesia
Tebal    :  330 halaman
Penerbit : Grasindo 2010
Skor      : 4/5

Sinopsis:

Gusti Mirah Ayu Mandasari, seorang penari kenamaan Bali,  terlahir dalam sebuah keluarga kaya, Tuan tanah yang menguasai sejumlah lahan desa di wilayah Munduk Sungkal, di Bali. Dalam lingkupan sistem kasta yang ketat, Ayu Manda berada di puncak. Dia terbiasa dilayani, dimanjakan, dinomor satukan oleh orang-orang di sekitarnya, terlebih dari orang-orang Sudra, kasta terendah. Kecuali oleh Wimba, perempuan seusianya yang berani menunjukkan ketidak-sukaannya pada Ayu Manda, bahkan sejak pertama kali bertemu dalam persaingannya sebagai penari terbaik.

Tari Legong, sebuah tarian agung dari Bali telah membawa seka (sanggar) tari milik Gusti Ngurah Amba, ayah Manda berada di puncak kejayaannya. Seka tari ini diundang untuk melakukan pertunjukan di negara-negara Eropa. Ketika di Eropa, Ayu Manda yang masih remaja mengalami untuk pertama kalinya dunia tanpa sistem kasta, dunia yang bebas dan tak ada pengkotak-kotakkan kelompok manusia, dunia yang menyimpan sejumlah rahasia. 

Pergulatan pemikiran Ayu Manda semakin menjadi-jadi setelah kematian Ibundanya, istri pertama dari 4 istri ayahnya. Ayu Manda menenggalamkan dirinya dalam seni tari. Melalui latihan bersama Ibu tirinya yang juga seorang penari, Ayu Manda telah berhasil membawa tari Joged, tari yang dianggap tari murahan menjadi tari yang berkelas. Seka tari yang didirikan oleh Ayu Manda telah menjadi  seka yang paling terkenal di Bali, dan Ayu Manda menjadi penari yang paling dicari. 

Dalam suasana hiruk-pikuk politik  di awal tahun 60'an, Ayu Manda terjebak di dalamnya. Kisah cintanya bersama Raka Sidan yang aktif di suatu Partai Politik semakin membuat pelik hidup Ayu Manda. Perselisihan Ayu Manda dan Wimba pun mencapai puncaknya di sini. Akhir cerita yang tak terduga pun menanti Ayu Manda, sang penari dari Bali.

Pendapat saya:

"Mirip 'Ronggeng Dukuh Paruk' sepertinya". Hal itulah yang terbersit di pikiran saya ketika mulai membaca novel 'Ayu Manda'. Ayu Manda dan Srinthil sama-sama penari yang terjebak di kekalutan politik tahun 60-an, kecintaan mereka terhadap seni tari sama-sama telah dimanfaatkan pihak tertentu sebagai alat meraih suara rakyat, dan akhir yang tragis pula bagi keduanya. Tapi, tunggu dulu. Ada hal besar yang membedakan Ayu Manda dan Srinthil. Jika Srinthil terlahir di keluarga miskin, Ayu Manda adalah seorang putri bangsawan. Latar belakang sistem kasta yang melatari pergulatan hidup Ayu Manda menjadi daya tarik utama novel ini.

Karakter utama, Ayu Manda digambarkan secara apik oleh penulis. Ayu Manda kecil sampai dengan remaja hingga dewasa terasa mengalir wajar seakan saya menyaksikan sendiri seorang gadis kecil yang tumbuh dewasa. Semua karakter pendukung juga dengan sangat jeli dijalin dan ditautkan oleh penulis sehingga masing-masing menjadi sangat hidup dan penting dalam membentuk cerita. Alur cerita sangat mudah diikuti dan mengalir. Latar juga cukup baik diceritakan: gambaran Bali dan orang-orangnya di awal kemerdekaan dan gonjang-ganjing politik tahun 60'an. Bahkan khusus untuk seni Tari Legong dan Tari Joged, dua tarian yang digeluti Ayu Manda dijelaskan sangat detail oleh penulis, mulai dari teknik tarian, gamelan, kostum, sampai para personelnya. Terasa oleh saya jika penulis sungguh ingin mengenalkan tarian Bali ini kepada pembacanya.

Membaca buku yang sampulnya seperti sobek ini cukup bisa membuat saya melupakan waktu. Dalam waktu liburan 2 hari saya telah berhasil menyelesaikan kisah Ayu Manda. Ketika selesai membaca paragraf terakhir saya tertegun. Ciri-ciri saya saat selesai membaca novel bagus. Jadi saya juga sarankan anda untuk membaca novel ini dan lihatlah Bali dan orang-orangnya lebih dari 50 tahun lalu. Bali yang membuat dunia meliriknya bahkan sampai saat ini.

JIka ingin berjalan-jalan di blognya bisa di alamat http://novel-ayumanda.blogspot.com/ , meskipun sayangnya sudah tidak update lagi. Atau review lainnya di sini dan sini.


---
"Bila Manda hamil dan aku juga hamil oleh Raka Sidan, mungkin nasib anak-anak kita akan sama dengan kita".  -kalimat yang tertulis di sampul buku-

Anda akan mengerti kalimat ini setelah selesai membaca novelnya.




Img source: here
Tentang Manga
Judul     :  World's Masterpiece: Bersabdalah Zarathustra
               (Manga de Dokuha: Thus Spoke Zarathustra by Nietzsche)
Cerita    : Nietzsche
Artist     : Variety Art Works (Japan)
Bahasa  : Indonesia (Penterjemah: Isao Arief)
Halaman : 190
Penerbit : PT. Elex Media Computindo 2010



"Tuhan sudah mati". Kalimat itu  menjadi pembuka bagi manga yang mengangkat cerita Zarathustra karya penulis fenomenal Nietzsche. Sontak saja dan sudah bisa dipastikan bahwa membaca manga ini diperlukan lebih 'mikir'. Kisah yang memang sudah menjadi masterpiece dunia ini dicoba diangkat dalam bentuk manga (komik) mungkin agar lebih mudah dibaca dan dipahami oleh pembacanya. Tapi, menurut pandangan saya tetap saja manga ini sulit dipahami, rasanya 'berat' dan butuh 'mikir'. Cerita ini tidak disarankan untuk anak-anak ataupun remaja labil, jika tidak ingin kepalanya pusing. Namun jika anda suka dengan kisah-kisah yang mistik dan unik, maka manga ini cocok untuk anda. Cobalah berkenalan dengan Friedrich Nietzsche sang pemikir fenomenal dari Jerman.

Berlatar pada abad 19 di Eropa ketika revolusi industri mencapai masa kegemilangannya, manusia seakan-akan telah berhasil menguasai alam dan menggeser kepercayaan-kepercayaan akan kekuasaan Tuhan. Kisah bermula ketika seorang pendeta beserta istrinya berjalan di suatu malam yang dingin dan menemukan seorang bayi dalam keranjang. Tidak ada petunjuk apapun tentang siapa asal-usul bayi itu kecuali sepucuk surat bertuliskan 'Zarathustra' yang kemudian menjadi nama bayi itu. Lalu kisah pun berlanjut.


Zarathustra dibesarkan dan diangkat anak oleh pasangan pendeta. Dia tumbuh bersama dengan anak kandung pendeta bernama Alex. Sejak dari kecil Zarathustra adalah anak yang nakal dan kritis, dia banyak mempertanyakan segala hal termasuk tentang eksistensi Tuhan. Hingga kemudia Zarathustra bertemu dengan seorang perempuan misterius bernama Salome yang kemudian mengantarnya pada jalan hidup yang sulit ditebak dan benar-benar mencengangkan. Perginya Zarathustra dari rumah untuk mencari makna kehidupan, dualisme kepribadian Alex yang mengerikan, dan keyakinan pendeta akan Tuhan yang sungguh memilukan, semua itu menjadi warna ajaib dalam kisah ini. Segala hal yang terjadi sungguh tak terduga dan akhir dari kisah pun menyisakan banyak pertanyaan yang mengusik pikiran. 

Satu pertanyaan saya adalah "Apa itu Reinkarnasi Abadi?".  Mungkin ada yang bisa membantu?

Saya rasa, sang mangaka (penggambar ceritanya) cukup bisa menggelitik saya untuk membaca kisah ini sampai selesai dan membuat saya menulis review ini. Tapi sayangnya mungkin kisah ini terlalu sederhana dibandingkan yang aslinya. Saya belum pernah sebelumnya membaca kisah Zarathustra ini jadi rasanya dalam manga ini terlalu cepat alur kisahnya. Deskripsi latar tidak detail padahal itu adalah poin penting dari munculnya kisah ini. Kepercayaan "Tuhan sudah mati" juga adalah hasil dari kondisi latar jaman itu, namun tidak tergambar jelas bagaimana kondisi jaman itu. Rasanya ada yang kurang.

Kalau untuk gambar (art) nya saya rasa lumayan meskipun karakter yang muncul rasanya kurang kuat. Terutama untuk karakter Salome, saya rasa porsi dia sesungguhnya sangat penting di kisah ini namun tidak begitu adanya di manga ini. Sebaliknya, justru karakter Alex cukup kuat di sini. Dualisme kepribadian dan kebimbangan hatinya bisa saya rasakan. Zarathustra sebagai karakter utama malah tergambar dengan sederhana, kurang 'greget' rasanya.

Tapi overall manga ini menjadi jembatan bagi orang-orang untuk berkenalan dengan salah satu karya masterpiece dunia dari seorang pemikir besar yang dimiliki dunia: Nietzsche.

Friedrich Nietzsche
img source: here
 Net262
 -------------------------------------------------------------------------------------------------
  


Img source: here
Judul      : Crying 100 Times (100 Kai Naku Koto)
Penulis   : Nakamura Kou
Bahasa   : Indonesia (Penterjemah: Khairun Nisak)
Tebal     : 250 halaman
Penerbit : Penerbit Haru 2013


Skor       : 3/5

Sinopsis:

Shuici Fuji menemukan anak anjing kecil di parkiran perpustakaan ketika dia baru lulus sekolah menengah dan dalam masa pengangguran menuju universitas. Anjing kecil itu akhirnya diberi nama Book dan dipelihara olehnya. Shuichi pertama kali membawa Book dengan menaiki sepeda motor  miliknya yang memiliki suara khas yang akhirnya menjadi suara favorit Book. Shuichi dan Book menjalin hubungan manusia dan hewan peliharaan yang sangat dekat sampai kemudian Shuichi harus berangkat ke kota lain untuk bersekolah dan kemudian bekerja. Book-pun dipelihara oleh keluarga Shuichi.

Shuichi bertemu Yoshimi Sawamura dalam suatu acara dan mereka saling diperkenalkan oleh teman-temannya. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Shuichi dan Yoshimi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Mereka-pun berencana akan menikah di musim panas, setahun setelah Shuichi melamarnya. Sebelum itu mereka mulai tinggal bersama dan berlatih pernikahan. Yoshimi sangat menyukai cerita Book yang menyukai suara sepeda motor Shuichi, dan ingin melihat anjing itu. Shuichi-pun memperbaiki motor tuanya demi Book dan juga Yoshimi.

Namun kehidupan bahagia Shuichi dan Yoshimi harus dihadapkan pada kenyataan pahit yang tidak dapat dilawan. Yoshimi mengidap penyakit kanker ganas yang merenggut semuanya. Dalam rasa kehilangan yang sangat Shuichi tenggelam dalam kesedihan. Bookpun juga menyusul pergi selamanya. Menangis seratus kalipun sepertinya belum bisa menggambarkan betapa sedihnya hati Shuichi.

Pendapat saya:

Seperti cerita-cerita lain, kisah perpisahan dan kematian karena suatu penyakit selalu saja mengundang suasana sedih dan suram. Crying 100 Times adalah salah satu dari deretan kisah sedih itu. Berlatar di Jepang, kisah ini adalah kisah kehidupan sepasang kekasih yang harus menghadapi kenyataan pahit berupa penyakit ganas yang merenggut nyawa salah satunya. Juga diceritakan hubungan antara tokoh utama dan anjing peliharaannya. Menurut saya kisah mereka cukup bagus meski tidak bisa dikatakan istimewa.



Tidak banyak hal yang bisa saya temukan di buku ini selain daripada cerita itu sendiri. Memang pada beberapa paragraf, penulis mencoba menulis tentang beberapa hal yang dia analogi-kan dengan kejadian yang menimpanya, namun saya sulit untuk memusatkan pikiran di bagian itu sehingga hanya selewat saja. Alur cerita juga sangat mudah ditebak dan tidak ada kejutan yang saya temukan. Penggambaran tokoh juga sangat terpusat di tokoh utama sehingga tokoh pendukung sama sekali tidak bisa diingat oleh saya sebagai pembaca. Penggambaran latar cerita juga agak sulit saya bayangkan. Bagi saya, yang tidak pernah pergi ke Jepang dan tidak terlalu mengetahui budaya di sana, sulit sekali rasanya membayangkan apa yang sedang terjadi di cerita ini. Ya, kecuali alur cerita itu sendiri. Saya rasa ini masalah penterjemahannya. Terasa kaku. Mungkin saja ini tentang gaya penulisan, tapi bisa saja penterjemahannya disesuaikan.

Satu hal yang menarik dari cerita ini adalah sudut pandang ceritanya yang diambil dari tokoh pria. Untuk drama-drama percintaan orang muda seperti ini biasanya tokoh utama adalah wanita. Sudut pandang pria memberikan rasa yang berbeda pada apa yang dirasakan tokoh utamanya, bagaimana dia menghadapi hidup dan kenyataannya, hubungan dengan kekasih dan juga anjingnya. Cukup menarik. Jika bisa memberikan penilaian pada buku ini, skor antara 1-5, maka saya akan berikan nilai 3 untuk Crying 100 Times. Nilai lebih untuk sudut pandang tokoh utama, kisah Book, dan sampul buku   yang manis.

Film 100 Kai Naku Koto
img source: here

Kisah ini telah difilmkan di Jepang tahun 2013 ini dengan judul yang sama dengan bukunya. Tentang film 100 Kai Naku Koto klik DI SINI.


img source:here
Judul     : Bumi Manusia (Bag. I Tetralogi Buru)
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Bahasa : Indonesia
Tebal     : 535 halaman
Penerbit : Lentera Dipantara, 2011 (cetakan ke-11)

Sinopsis:

Minke adalah sedikit dari pribumi berdarah priyayi yang menerima pendidikan  bergaya Eropa yang kala itu masih sangat terbatas hanya untuk kalangan bangsa kulit putih. Pendidikan dan pengetahuan telah membentuk pribadi Minke sebagai pribumi terpelajar yang menentang segala kerendahan dan kehinaan budaya pribumi yang merendahkan martabat bangsa sendiri di hadapan bangsa asing. Berlatar belakang di Jawa pada awal abad ke-20,  ini adalah kisah Minke di Bumi Manusia, perjuangannya dan pemikirannya dalam situasi kala itu.

Kemudian Minke berkenalan dengan Annelies, seorang gadis cantik blasteran Eropa - Jawa, anak seorang Tuan Belanda yang sangat kaya raya dari gundik bernama Nyai Ontosoroh. Kecantikan Annelies memikat hati Minke yang memang sejak awal menyukai perempuan berdarah Eropa. Annelies pun jatuh hati dengan Minke.  Gadis yang hidup dalam kondisi keluarga yang tidak stabil membuatnya jarang bergaul dan sangat rapuh. Kedatangan Minke dalam hidupnya menjadi sangat berharga. Berkebalikan dengan Annelies, Nyai Ontosoroh adalah sosok perempuan pribumi yang sangat kuat. Berbagai hal pahit yang dialami selama hidupnya telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang kuat. Setelah ditinggal pergi Tuan Belanda yang menggundiknya, Nyai Ontosoroh adalah tulang punggung perusahaan keluarga  tuannya. Nyai Ontosoroh dan Annelies adalah daya tarik keluarga itu bagi Minke.


Selama dekat dengan keluarga ini, Minke mengalami banyak gejolak dari dalam maupun dari luar. Banyak hal terjadi baik itu dukungan maupun pertentangan-pertentangan yang muncul dari pilihan-pilihan yang dipilih oleh seorang Minke. Banyak orang-orang yang dikenal Minke yang  memberinya pandangan-pandangan baru tentang hidup. Hingga pada suatu muncul permasalahan berat yang mengharuskannya melepas Annelies meskipun Minke dan Nyai Ontosoroh telah melakukan berbagai perlawanan dan usaha untuk mempertahankannya. Pada akhirnya mereka tetap kalah, entah sampai kapan. 

Pendapat  saya: 

Terlalu banyak pujian yang telah dituliskan maupun diucapkan untuk Bumi Manusia, baik oleh ahli sastra maupun orang biasa. Dan sebagai orang biasa, saya akan menambahkan satu untuk deretan pujian itu. Ya, bagaimana tidak? Membaca kisah Minke dalam buku ini seakan-akan emosi dan pikiran terbawa, melintasi ruang waktu menuju menuju 100 tahun yang lalu, ketika Indonesia masih dipenuhi oleh 'penjajah' Belanda yang katanya sempat berkuasa di bumi pertiwi ini. Latar terasa nyata dan sangat nostalgic meskipun sebelumnya saya tidak pernah membayangkan kondisi Jawa awal abad 20. Tidak hanya latar, namun tokoh dan pemikirannya juga menguasai emosi pembaca.

Bagaimana gejolak yang dialami oleh Minke sebagai pribumi yang mendapatkan pengetahuan ala Eropa, bagaimana kehidupan keras Nyai Ontosoroh sebagai perempuan pribumi yang menjadi gundik dan sosoknya yang keras dan kuat, bagaimana hubungan Minke dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, tergambarkan dengan baik di kisah ini. Hal-hal yang disampaikan oleh penulis melalui tokoh-tokoh dalam buku ini adalah sebuah kritik sosial akan kondisi kebangsaan kala itu dan bahkan hingga masa kini.


Membaca buku ini menjadi suatu keharusan bagi saya dan mungkin juga bagi masyarakat Indonesia yang lain. Tidak banyak karya sastra yang memakai latar kondisi Indonesia saat itu, dan Bumi Manusia menjadi salah satu karya sastra yang paling penting. Gejolak yang dialami Minke dan Nyai Ontosoroh adalah penggambaran gejolak Bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterpurukannya selama berabad-abad. 

img source: here
Judul    : Ronggeng Dukuh Paruk - Trilogi
Penulis : Ahmad Thohari
Bahasa  : Indonesia
Tebal    : 397 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2003


Ringkasan :

Gabungan 3 buku seri Dukuh Paruk: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.


Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.

Ringkasan Selengkapnya klik sini


Pendapat saya:

Dapat membaca kisah Srinthil dan Rasus dalam buku ini adalah suatu berkah bagi saya. Kenapa? Ahmad Thohari telah berhasil dengan baik membawa pembacanya masuk ke dunia dimana dua anak manusia itu hidup, menyatu dengan lika-liku hidupnya, merasakan kegetiran, cinta, dan kerinduan yang mendalam. 


Yang menjadikan novel ini kuat adalah latarnya yang begitu nyata. Penulis berhasil menggambarkan dengan detil suasana Dukuh Paruk tanpa membuat pembaca bosan membaca detilnya. Bahkan jika ada burung walet melayang di langit Dukuh Paruk atau padi menguning di sawah, seakan semua itu dapat saya lihat dengan mata saya sendiri. Kekuatan deskripsi yang hebat. 

Tokoh utama Srinthil dan Rasus dapat tumbuh dengan baik dalam kisah ini. Begitu pula tokoh-tokoh pendukung cerita, semua mendapat porsi yang pas dan tidak berlebihan. Alur cerita yang dibuatpun sungguh memikat dan penuh dengan banyak kejutan. 

Saya sendiri bingung apa yang menjadi kekurangan dari novel ini. Ya, meskipun tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna, namun untuk novel ini saya tidak bisa menyebutkannya. Jikapun harus menyebut mungkin itu hanya warna cover bukunya yang kurang menarik. Dan itu bukan pekerjaan penulis saya rasa. :)

Ini adalah novel masterpiece Ahmad Thohari. Tidak salah rasanya jika novel ini telah banyak dijadikan sebagai bahan penelitian sastra, telah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa, dan pernah diangkat ke layar lebar. Bagi anda yang sudah menontong film "Sang Penari" dan menyukainya, tentu novel ini akan menjadi wajib dibaca karena kisah dalam film itu tak semuanya dapat menangkap keindahan kisah Srinthil dan Rasus dalam cerita aslinya. 
----------------