Tampilkan postingan dengan label My Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Indonesia. Tampilkan semua postingan
(Catatan: Riska, Bang Asun, Pak Ntis, Habibah, dan nama-nama yang kucatut, mohon ijinnya ya.. Hehehe)


Siapa yang suka bangun pagi di akhir pekan?!  Adakah? Apakah aku? Akupun ragu. Dan ini adalah cerita tentang Sabtu pagi-ku di pertengahan Desember. Cerita yang berlatarkan Ciliwung dan ke-tiba-tiba-an (mungkin kalau istilah Inggrisnya Ke-suddenly-an kali ya) niatku yang ujug-ujug muncul. Simak ya.

Jumat malam itu aku buka-buka dan kubaca SMS masuk. Satu SMS yang selalu hadir tiap Jumat itu berbunyi: "KPC Bogor Sabtu 12/12/15 mulung sampah bebersih Ciliwung. Kumpul pkl 08.00 wib di depan mesin pencacah plastik KPC Sempur. CP Joko 021xxxx.". Aih, beberapa kawan-kawanku di Bogor pastilah sudah sangat akrab dengan SMS itu. Kamu juga sering dapat ya? Hehehe.. Seingatku dulu, ada ratusan nomer HP yang mendapatkan SMS rutin itu tiap Jumat. Dan ini sudah tahun ke-7, KPC Bogor bergelut dengan Ciliwung, mengajak puluhan-ratusan-bahkan ribuan orang untuk menengok kembali sungai yang pernah jadi wajah sejarah Pajajaran ini. (Kenapa sejarah? Aku teringat cerita jalur tamu dan jalur bangsawan, cerita dari Mas Hari Kikuk tentang sungai ini di jaman dulu.). Kubaca sekilas SMS itu, dan ujug-ujug aku merasa berkepentingan untuk ke Sempur. Okelah, fix! Besok pagi aku ikut mulung. Kuajak Habibah, kawan kosanku yang masih muda belia, dan tak banyak cingcong dia langsung jawab "Oke mbak!".

Tidak jauh, meskipun tak bisa dibilang dekat juga. Kami sampai di Sempur, turun dari angkot 03 yang sesak, jam 8 kurang sepuluh menit. Di tempat berkumpul kulihat seorang ibu paruh baya sedang asik menikmati sebatang rokok. Alamak, jadi pengen juga. Ups, tahan dulu. Kusapa si ibu dan kutanya apa dia datang untuk KPC. Eh, ternyata dia hanya sedang menikmati pagi rupanya. Ah, yasudahlah. Tak berapa lama, Pak Joko sang CP (Contact Person) muncul. Dia mengatakan akan datang juga kawan dari IPB, tepatnya dari Fakultas Ekologi Manusia yang ingin gabung mulung Sabtu pagi ini. Ah, baguslah. Semakin rame biar semakin seru. Dan datanglah mereka, 5 cewek berkerudung dengan kaos hijau pastel kembar. Salah seorang membawa tripod dan lainnya membawa kamera DSLR. Tarohan, pasti tugas kuliah. Hehehe.. Dan memang benar dugaanku.  Mereka pun membuat entahlah, semacam film mungkin, dengan mewawancarai Pak Joko. Aku dan Habibah, melihat-lihat saja sambil sesekali selfie di pinggir sungai. Waktu berselang dan Pak Ntis datang membawa senjata kami: KARUNG!!!

Laskar Karung KPC - Sabtu pagi itu
(Photo by: Sutisna Rey)
Aku dan Habibah mulai mulung duluan. Kuambil 2 karung, satu untuk seorang dan kami turun ke sungai. Kulihat, sampah banyak nyangkut di tepi sungai, terbawa banjir semalam. Gak kebayang, sampah dari mana saja ini? Mulailah aku dan Habibah mulung apa yang bisa dipulung, mulai dari bungkus detergen, bungkus indomi, hingga kutang dan puluhan popok bayi. Nah, yang terakhir itu perlu digaris-bawahi, POPOK BAYI. Astaga,...! Kenapa ya orang-orang ini? Sakit jiwa? Kenapa banyak banget ya popok bayi di kali? Sejak mulung kapan tahun, popok bayi seakan jadi tamu wajib. Bahkan, pernah nih, aku dapat popok bayi yang masih segar berisi. Pasti tahu kan isinya apa? Pokoknya, warnanya gak kalah gonjreng dibanding bendera partai sebelah itu. Jadi gatel pingin ngomongin popok nih. Yuk mari,..

Penggunaan popok bayi sekali pakai sepertinya memang menjadi hal yang perlu diperhatikan. Karena sepertinya, para ibu-ibu (atau bapak-bapak?) penggunanya masih bingung bagaimana cara mengelolanya. "Make'nya sih gampang. Sekali bayi brott langsung buang gak perlu dicuci." Iya sih. Tapi, buangnya gak harus di kali juga. Lalu dimana? Di tempat sampah? Bau kali, jorok, dll. Lah, dikira dibuang di kali gak jorok? Sebenarnya aku pun gak tahu gimana caranya buang popok bayi bekas yang benar. Maklum belum pernah ber-bayi. Apakah di kuning harus dibuang dulu di WC, atau langsung aja buang bareng sama popok-popoknya. Entahlah. Tapi yang jelas, yang make harusnya tahu. Yang jual harusnya juga ngasih tahu. Btw, dikasih tahu gak sih? Jadi ingat sama Jeng Riska, sang dewi Ikan dari Surabaya yang pernah getol mengangkat fenomena popok bayi ini juga. Jeng, gimana sekarang kondisi Kali Surabaya? Apakah popok masih banyak dijumpa? Bang Asun sempat mengajak ber-ide,"Gimana ya caranya biar orang gak buang popok di kali? Apa perlu kita bikin mitos? Orang kita kalau ke mitos lebih cepat percayanya!". Ah, bener juga kataku. Bikin aja rumor,"Buang popok di kali bisa bikin ruam pantat bayi.". Kali-kali aja itu manjur. Sudahlah, popok bayi mah. Lanjut  lagi,..

Oops, ada popok bayi pasti di sana!
(Photo: Sutisna Rey)

Kawan-kawan dari IPB pun ikut nyemplung bersama, jadi ada 5 tambah 2 tambah 2, ahh. 9 orang totalnya yang mulung hari ini. Lumayanlah. Kami bersemangat mengangkut sampah-sampah itu. Aku, paling senang, mengais-ngais sampah yang nyangkut di celah batu. Sampah kayak gitu, kelihatannya dikit, tapi wooo...aslinya banyak. Lebih seru lagi kalau nemu 'Anaconda Ciliwung'. Dijamin keringat mengucur deras. Satu demi satu sampah kami masukkan karung, hingga kemudian tercium baru menyengat yang hampir membuatku muntah. Di dunia ini, hanya satu bau yang bisa membuat mataku langsung merah berair dan perutku seakan mau keluar. Bau bangkai. Dan di Sabtu pagi inipun, bau ini hampir berhasil membuatku mual. Aku tidak sanggup lagi dan tak berapa kami penuhi karung, kami berhenti. Kebetulan karung juga sudah habis, meskipun sampah masih berserakan. Cukup hari ini. Kamipun berpisah dan kembali ke aktivitas masing-masing. Hampir jam 10 pagi waktu itu.

Sambil berjalan di tepi sungai, Habibah mengatakan, "Enak juga ya melakukan begini di akhir pekan?". Aku pun sedikit terhenyak dengan pernyataan itu. Enak? Apanya yang enak? Kalau enak kan pasti banyak orang yang akan turun. Aku berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan orang juga merasa 'enak' seperti yang Habibah rasakan, seperti juga yang aku rasakan. Rasa enak yang absurd inilah yang mahal. Rasa 'enak' inilah yang bisa menjadi fondasi dasar semua kegiatan yang berdasarkan ke-suka-rela-an atau voluntarisme. Tak ada orang yang dibayar di sini, tak ada fasilitas apapun di sini. Bahkan, yang akan ditemui adalah gundukan sampah yang bahkan menggunung, berbau busuk dan menjijikkan. Tapi, ada yang bilang itu semua 'Enak'.

Aku teringat dulu, setahun lalu aku sempat menanyakan hal yang sama pada beberapa orang di Oregon sana, "What makes you do that voluntary works? Why do you want to do it?". Kenapa orang mau-maunya bersihin rumput di taman kota, kenapa mereka mau nyumbang duit banyak untuk restorasi ikan? Buat apa mereka merelakan waktu untuk ini dan untuk itu? Dan jawabannya hanya sederhana, "I feel good with it.". Sesederhana itu saja. Orang merasa baik, orang merasa enak. Mungkin seperti Habibah bilang 'enak' tadi. 

"Apa kamu punya ide untuk KPC Bogor Net?", tanya Bang Asun dan Pak Ntis siangnya, di kantor FWI yang sudah jadi rumah singgah wajib sehabis mulung, selain tentunya kantor INFIS. Pertanyaan ini agak-agak berat gimana gitu ya. Jujur, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri dan kerja yang sebenarnya sibuk gak sibuk. Setelah beberapa waktu aku tidak datang di Sabtu pagi, aku merasa tidak layak menjawab pertanyaan itu. Tunggu, tunggu! "Come on Net, this is not very you! ", kudengar aku memarahi diriku sendiri. Hahaha... Oke, oke. Aku coba jawab pertanyaan itu.

Jadi, sama seperti yang kuceritakan tentang Habibah dan rasa 'enak'nya yang absurd itu. Intinya adalah bagaimana membuat orang merasakan 'enak' itu, 'feel good' itu. Bagaimana membuat Ciliwung mempesona bagi mereka? Bagaimana membuat sungai ini menjadi ajang orang-orang berekpresi. Orang yang mau ibadah, bisa bersyukur dan beramal di Ciliwung. Orang yang agak narsis (saya misalnya) bisa selfie-selfie sambil mulung sampah Ciliwung biar kelihatan jadi orang baik. Hahaha.. Yang doyan bermedsos, bisa update status entah di Fesbuk, Twitter, Path, instagram atau apapun lah dengan hashtag Ciliwung. Orang yang doyan nulis pasti akan banyak bahan tulisan. Orang yang suka riset bisa juga cari bahan riset. Atau orang yang memang doyan nyemplung kali  ya tinggal nyemplung aja. Hehehe.. Sepertinya sederhana kan. Memang pada dasarnya, niat ber-voluntary, umumnya sederhana. 

Bagaimana cara? Yok cari bareng-bareng. Yang jelas nyata bagiku adalah, kalau tujuannya kampanye ya harus dilihat banyak orang, didengar banyak orang. Biarkan orang tahu dan melihat. Kalau mereka lihat kita 'enak' toh mereka pasti akan ikutan. Kalau 'enak' sendiri mah apa bedanya sama 'itu'. Hahaha... Maaf, saya nulis ini sudah agak malam sih,  jadi sedikit nyrempet-nyrempet.  Sepertinya sudah ngantuk saya, jadi sudahan dulu ya. Yang jelas, 'enak absurd' itu yang perlu dicari dan mari temukan itu bersama-sama. 

Bukankah begitu kawan?

Salam cinta dan rinduku pada sungai, gunung, hutan, alam semesta dan manusia yang sangat indah. Muachh..

Dan terutama untuk Ciliwung yang berhasil membuatku bangun pagi di Sabtu pagi! Good job C!


Minggu, 13 Desember 2015 (23:49)

Kaos Ijo kawan-kawan FEMA IPB, aku dan Habibah. C...
(photo by: Sutisna Rey)

Giliran teman-teman FEMA IPB, Pak Joko, Pak Ntis, dan Habibah
(Fotonya pastinya aku yang njepret :) )

-----
(Below is the result summary of my study while I was in World Forest Institute's fellowship program. This was also a paper material that was already accepted for IS-River conference in France-2015 which unfortunately I was not able to attend. I just want to share it again here on my personal blog.) 
----

Public Engagement in River Management, Lessons Learned From The Willamette River in USA to Indonesia’s River

Sudiyah Istichomah

Indonesia,  nonette262@gmail.com


ABSTRACT
There is an obvious need for the public to be involved in the management of natural resources, including forests, rivers, and resources. There are major challenges in Indonesia around river management such as floods, pollution, land conversion, and low community participation. The Minister of Environment stated that in 2014 75% of the large rivers in Indonesia were contaminated. This study aimed to explore how rivers are managed in the US, using the Willamette River in Portland as a case study. The focus was especially on public involvement  and how that can be applied to Indonesia. Many things can be learned from the Willamette River are 1) Government agencies are actively involved in community programs, the public are also actively involved, and there are nonprofit organizations that oversee government management, 2) Things like dam removal, installation of LWD for fish habitat, and re-meandering rivers are all management tools that would benefit Indonesia, 3) The use of an iconic species such as salmon as the impetus to restore the river is an excellent idea. Indonesia can look for an iconic  species  of their own , 4) Using the river as part of urban ecotourism. The Willamette River is a great Portland attraction for things like jogging, sailing, swimming, etc.



KEYWORDS
Public engagement, involvement, river, USA, Indonesia


1           Introduction

      Indonesian River and Challenges

There is an obvious need for the public to be involved in the management of natural resources, including forests, rivers, and resources. Today, water and river management  is an important issue around the world. There are major challenges in Indonesia around river management such as floods, pollution, land conversion, and low community participation. The Minister of Environment stated that in 2014 75% of the large rivers in Indonesia were contaminated.

This study aimed to explore how rivers are managed in the US, using the Willamette River in Portland as a case study. The focus was especially on public involvement  and how that can be applied to Indonesia.

Why this study is important:
  1. Water is necessary for all life on earth. Rivers reflect the level care that is put into managing water resource and they need to be cared for.
  2. Learning how developed countries use public involvement in river management  in important so that developing countries can learn from these models.
  3. The Willamette River is an important river in Oregon. It flows through the city of Portland and has a complex management, influenced by the urban environment with many different governmental and interested parties engaged in its management.
For 6 six months fellowship program in World Forest Institute, June – November 2014, writer did a study to learn about river management within the USA, with case study of the Willamette River in Portland, Oregon State. The study’s objectives are to know about the general condition of the river management and to find lessons learned that can be applied in Indonesia.

Four main questions for this study are,
  1. What is the current state of management of the Willamette River in Portland?
  2. Who are the actors that play a role in the management of the river and what are the roles?
  3. Is there a forum that brings together those parties?
  4. How does it compare with the situation in Indonesia?
The research was conducted in two ways: interviews and literature studies. Interviews were conducted with government agencies, experts, non-profit organizations and the general public in random. Literature was reviewed from websites, journals, news and other sources. A number of  fieldtrips with the World Forest Institute also allowed me to gain knowledge about the management of natural resources, especially rivers of PNW in general.

2. RESULT

2.1 Willamette River – Portland, A river with a long history

The Willamette River Basin is the largest watershed in the state, covering more than 11,500 square miles. Portland occupies only a small fraction of the river’s drainage basin, about one-half of one percent, but is the most urbanized area. Native salmon, steelhead and other fish and wildlife species live within Portland’s urban boundary, and also  migrate through Portland to other parts of the Willamette River Basin, Columbia River Basin and beyond.
The Willamette River faces a lot of problems, including pollution and water quality. In 2000, the federal government established that the river has become one of the Super Fund site cleanup projects because of it’s heavy pollution. This program involves many stakeholders: governments, private companies, numbers of environmental organizations, and also the general public who actively care for the implementation of the programs.

Restoration carried out in upstream rivers and creeks also provide a major influence on the Willamette River in Portland. Restoration of the Willamette River, and generally in the PNW, is closely related to salmon, which has been included in the category of endangered species. Salmon migrations connect the downstream and upstream of river systems and salmon habitat restoration has proven beneficial for the restoration of the river as a whole. Various restoration programs are conducted with the involvement of the general public, such as  volunteer-based tree planting, cleaning streams of garbage, and invasive species removal.

2.2 Actors in Willamette River Management

Who are the actors in river management?
In general, there are four groups that play an active role in management: Government, Private companies/ land owners, nonprofit organizations, and the general public.

Government plays the largest role in river management. They set the policy and develop the manage plans. They engage the public throughout the entire process using various means. Some of these are: transparency – letting the media and public know of their plans, public comment periods for each program so they know what the public wants, providing public field tours, and creating advisory groups.

Nonprofit organizations such as Willamette Riverkeepers or watershed councils can play a complimentary role to government organizations. Through their programs and campaigns, they raise awareness about the river and encourage public to be more. They also can monitor the work of government.

Private companies and land owners typically use a lot of water resources for their business and do have a voice in management of the water. They can support the government and nonprofit organizations that works for river by give fund or have partnership. Landowners usually do the stream restoration and conservation in their property.

The general public is the most important part of this system. The public can actively participate in river management in many ways: read the news and updates about government programs, give active responses during public comment periods, and volunteer in events related to the river.

There are of course many divergent opinions about and interests in the Willamette River. Public engagement is one way to help the various groups work together and understand each other interests in the water. However, developing  discussion forums and consensus on ideas and is difficult and requires a lot of work to have all the parties come together.

Are there forums that bring together interested parties?
Advisory councils and watershed councils provide a forum for people to meet and discuss their concerns about the river.
Watershed councils are locally organized, voluntary, non-regulatory groups established to improve the conditions of watersheds in their local area. They bring together local stakeholders from private, local, state, and federal interests in a partnership, to help plan restoration. In Oregon, there are at least 74 watershed councils that build a big network of people dedicated to supporting the work of river protection and restoration throughout the state.

2.3 Lessons Learned: From Portland to Indonesia
River management in Indonesia is led by the government. There are at least 14 ministries related to water management with the Ministry of Public Work being the main ministry in charge of infrastructure and management of the river. There are also several NGOs that are actively involved in water issues. But there is  a lack of participation by the general public.

In Indonesia, there is also a Water Resources Council, a forum of river management parties at the national or provincial level. They don’t function well however  because coordination is lacking and not everyone’s interests can be accommodated. The most interesting thing is the trend of community volunteer organizations like River Defenders which recently formed all around Indonesia as an expression of concern from a small number of the public for the poor condition of the river.

Many things can be learned from the Willamette River:
  •  Government agencies are actively involved in community programs, the public are also actively involved, and there are nonprofit organizations that oversee government management.
  • Things like dam removal, installation of LWD for fish habitat, and re-meandering rivers are all management tools that would benefit Indonesia.
  • The use of an iconic species such as salmon as the impetus to restore the river is an excellent idea. Indonesia can look for an iconic  species  of their own.
  • Using the river as part of urban ecotourism. The Willamette River is a great Portland attraction for things like jogging, sailing, swimming, etc.. Urban rivers in Indonesia have not been widely used for leisure purposes.

---------

img source: here 









Hutan TN Gede Pangrango dilihat dari Desa Cimande bersebelahan dengan Desa Pancawati, Caringin, Bogor. 


"Ya, di situ di DAS.", kata Pak Jamil (bukan nama asli) - seorang warga desa sambil menunjuk jurang tempat Sungai Cimande mengalir. Dalam hatiku aku was-was. Kenapa? Terdengar lagi satu istilah yang sempat membuatku berkerut : DAS atau Daerah Aliran Sungai. Jangan-jangan,.... Mari disimak apa yang terpikir olehku saat itu. 

Hari ini, aku mengunjungi Desa Pancawati, sebuah desa di Kaki Gunung Pangrango yang diapit oleh rimba yang kini telah berstatus Taman Nasional Gede Pangrango dan daerah-daerah industri terutama Pabrik Danone Aqua yang boleh dikatakan sebagai perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia. Di desa yang katanya merupakan daerah yang dekat atau malah memang daerah 'recharging area' - kawasan untuk serapan air tanah, berbagai kegiatan yang melibatkan perusahaan air itu pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Danone telah menggelontorkan dana CSRnya dan mungkin dana lainnya juga di sini. Melalui LSM lokal setempat, perusahaan itu telah membantu masyarakat setempat baik dalam bidang ekonomi ataupun pembinaan tentang lingkungannya. Tak lupa pula, ada peran taman nasional yang juga ikut kecipratan 'rejeki' dari adanya perusahaan besar ini. Nah, apa hubungannya dengan Pak Jamal dan DAS? Aku bukannya akan membahas tentang program ataupun untung rugi adanya interaksi ini. Aku hanya ingin menggaris-bawahi penggunaan istilah populer, terkesan scientific, cerdas, dan sering sekali disalah-pahami, yaitu DAS. 

Interaksi yang intensif antara masyarakat dengan golongan akademisi, peneliti, perwakilan perusahaan dan aktivis lingkungan yang kadang menggunakan kata-kata dan istilah tertentu, pasti akan menulari pula penduduk dampingan. Karena ini terkait air, maka istilah DAS ikut-ikut terbawa. Bagus di satu sisi. Tapi, jika terjadi kesalah-pahaman tentu menjadi kurang bagus. Nah, ini pula yang aku kuatirkan terjadi dengan Pak Jamal. Ketika dia menyebut kata DAS sambil menunjuk sungai dengan yakinnya, aku mulai ber-dejavu dengan pengalamanku dulu saat aku menemui permasalahan yang serupa. Orang seringkali aku temui menyalah-artikan definisi DAS dengan wilayah kanan-kiri sungai yang dibatasi garis sempadan sungai. Padahal, dua hal itu jelas tidak sama. (Ups, istilah bantaran dan sempada saja ternyata artinya beda. :O) 

"Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan." (UU no. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air). 

Sedangkan garis sempadan sungai adalah garis maya/khayal di kanan dan kiri palung sungai yang ditetapkan untuk perlindungan sungai (PP 38/2011 tentang Sungai). Nah, daerah antara garis sempadan dan palung sungai itu yang mungkin seringkali disalah-pahami sebagai DAS. Silakan disanggah jika asumsiku kurang tepat.

Apa yang membuat dua hal ini sering disama-artikan ya? Ada yang tahu? Monggo kalau mau urun suara bisa dikomen. 

Dengan perkataan Pak Jamil di atas tadi, aku berasumsi bahwa dia salah paham. (Aku akan coba cek lagi kapan-kapan. :) ) Pertanyaan lanjutannya adalah, darimana dia bisa salah paham? Ada dua kemungkinan, yaitu: dia memang salah paham sendiri atau jangan-janan memang pendamping masyarakat yang mengenalkan definisi DAS itu pada Pak Jamil sudah salah paham duluan. Tidak mustahil terjadi kemungkinan yang kedua. 

Nah, lalu yang menjadi perhatianku adalah penggunaan istilah dan bahasa-bahasa tertentu ketika berbicara dengan masyarakat umum. Kenapa ada jurusan khusus komunikasi dengan masyarakat di kampus-kampus terkenal, misalnya saja IPB yang punya KPM (Komunikasi Pengembangan Masyarakat)? Pasti karena berkomunikasi dengan masyarakat itu bukan perkara mudah. Karena itu diperlukan keterampilan khusus yang mumpuni agar apa yang kita sampaikan benar-benar pas dipahami oleh mereka, tidak kurang dan tidak lebih.Jangan sampai salah paham apalagi salah langkah. :)

Aku dulu sempat jengkel terhadap seorang kawan yang punya hobi ngomong dengan 'Bahasa Dewa' - suatu istilah untuk bahasa yang susah dipahami konteks maupun maknanya tapi terdengar 'wah' karenan banyaknya penggunaan kata-kata asing, serapan, dan akademis. Ampun banget orang-orang kayak gini! Pernah aku katakan langsung bahwa bisa saja bagi dia indikator seseorang itu cerdas adalah dari semakin tidak dipahaminya apa yang dibicarakannya. "Semakin orang gak paham, maka lo semakin keren dan cerdas!", kataku saat itu. Tapi, masa ya gitu sih? 

Aih, aku tetiba jadi teringat video rekamana Vicky Prasetyo saat pidato pemilihan Kades dengan bahasa Inggris ngaco-nya, yang diiringi para tetua desa yang manggut-manggut entah kagum, entah ngerti, atau entahlah. Jangan sampai kita seperti itu. 

Lhah kok, nyambungnya sama salah konsepsi DAS apa? Coba kamu sambungkan sendiri, lagipula semua ini hanya asumsiku.

Aku di TKP :) 



Kenapa harus jalan?

Pernahkah mendengar kalau orang mau lebih nasionalis harus sering jalan-jalan? Pasti sering kan? Kalau kamu seorang yang suka jalan atau seorang traveler, kamu pasti tahu yang kumaksud. Tapi, kalau kamu yang jarang jalan atau bahkan tidak pernah jalan, nah di tulisan ini aku akan ngajak kamu sedikit mikir, kenapa orang yang sering jalan-jalan biasanya lebih nasionalis.  

Kemana kita harus jalan-jalan agar bisa lebih nasionalis, lebih mencintai negeri ini? Ada dua pandangan yang berbeda dan saling melengkapi. Apa perlu keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari kota metropolis Medan, Jakarta hingga ke pedalaman Papua sana? Ataukah, kamu perlu berjalan lebih jauh ke mancanegara, menjelajah negeri orang yang kadang tak kita pahami bahasanya dan asing rasa makanannya, mulai dari metropolitan dunia seperti New York, Tokyo, Paris hingga negeri antah berantah di jantung gurun-gurun negeri Afrika sana? Well, apa pendapat kamu teman? 

Aku, meski tidak seluruhnya, beruntung pernah melakukan keduanya. Aku pernah beberapa kali jalan-jalan (atau lebih tepatnya kerja) di jauh-jauh pedalaman Sumatra, Kalimantan hingga Sulawesi sana. (Ah,aku belum berkesempatan ke Papua) Aku pun beruntung sempat menjelajah (kerja juga) di negeri Paman Sam yang termahsyur itu dan sekedar berjalan-jalan di beberapa negara tetangga Asia. Apa yang kudapat kemudian? Nasionalisme kah? Mungkin iya jika rasa cinta ini disebut demikian. Tapi ada rasa yang beda antara keduanya meski berujung pada satu cinta pada Ibu pertiwi, pada sang Mother land.

Meskipun beberapa kalipun aku jalan-jalan di Indonesia, aku selalu saja terkejut dan menemukan hal-hal baru. Seperti waktu itu, aku jalan ke daerah Simpang Hilir, sebuah kecamatan cukup terpencil di Kalimantan Barat. Di salah satu desanya, aku tinggal lebih dari seminggu, menginap di rumah penduduknya. Desa yang berada di antara perkebunan sawit luas dan hutan tropis Kalimantan yang terlihat lebat, aku menyadari bahwa banyak hal yang selama ini tidak kuketahui tentang tanah yang katanya adalah tumpah darahku ini. Tidak hanya keindahan alam yang mempesona tapi juga kenyataan yang tidak seindah poster wisata. Aku melihat sendiri betapa negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini tidak selamanya indah. Selalu ada cerita sedih di sela-selanya. Kerusakan lingkungan dan kisah sedih penduduknya seakan memberiku gambaran lain akan negeri ini yang tak akan kutahu jika aku tak merasanya sendiri. Aku sempat menuliskan kegalauanku akan hal itu di tulisan ini (klik: Batu Barat dan Melinsum). 


Tak hanya cerita pilu, cerita indahpun masih banyak kutemui. Suatu waktu, aku sempat berjalan-jalan ke Lembah Bada, suatu lembah hijau nan indah yang dikelilingi bukit dan gunung di tengah-tengah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Di sana, aku menemukan wajah lain dari Indonesia. Sumpah, pertama kali ke sana, aku benar-benar merasa terpesona. Bagaimana tidak! Di dalam komunitas yang masih menjunjung tinggi adatnya ini, aku merasa bagai di negeri antah-berantah namun masih berasa di rumah. Ya, di sini, masyarakat adat Bada memiliki banyak tradisi unik, bahasa yang beda dan tentunya keramah-tamahan khas negeri kita tercinta. Meskipun di Poso sering terdengar berita kerusuhannya, tapi di Bada semua begitu berbeda. Orang-orang di sini hidup damai berdampingan satu sama lain dan mereka sangat terbuka terhadap kedatangan tamu dari luar. Ah, pokoknya aku betah banget di sini. Langit biru Bada bahkan menginspirasi menulis sebuah puisi cinta untuknya, coba cek ini (klik: Langit Bada). Segala keunikan ini seakan membuatku semakin bangga menjadi bagian dari tanah air ini. 


Aku dan anak-anak di Batu Barat, Simpang Hilir, Kalbar (2013)
Alam Bada yang indah dan langit birunya yang memukau (2013)

Setelah sekian kali aku berjalan-jalan di tanah air, aku pun berkesempatan menginjak tanah di benua seberang. Amerika adalah salah satu negara di mana aku sempat selama 7 bulan mencoba menggaulinya. Apa yang kudapatkan? Semua serba wow! Wajar saja, negeri Paman Sam ini konon adalah negeri paling kuat sedunia, Superpower katanya. Iya memang! Di Amerika, aku menemukan banyak hal baru, suasana baru dan temuan-temuan baru. Masyarakat yang lebih perlente, kota yang lebih besar, gedung-gedung tinggi yang lebih megah, jalan-jalan yang lebih bersih dan teknologi yang lebih canggih. Hampir semua yang lebih ini dan itu aku jumpai di sini. Tapi, apakah aku lebih suka tinggal di sini? Ah, jujur saja iya. Siapa sih yang tidak ingin tinggal lebih nyaman dalam lingkungan yang lebih rapih? Tapi apa iya cukup sedemikian halnya?

Ternyata tidak selalu demikian. Semakin jauh dengan kampung halaman malah membuatku semakin memikirkannya. Huru-hara di negeri tercinta yang kadang tak pernah terjamah meski hanya sekedar lewat berita, malah kucari-cari dari negeri yang jauh di sana. Apa yang terjadi dengan rumah ya? Bagaimana orang sini memandang Indonesia? Bagaimana ini dan itu segala rupa tentang rumah jadi ingin kuketahui. Segala rupa tentang Indonesia yang dibahas di luar sana selalu ingin membuatku berkata, “That’s my home country and it’s very beautiful! I am Indonesian!”. Di setiap kesempatan, aku selalu menyampaikan betapa negeri kepulauan tropis terbesar di dunia itu adalah rumahku, kampungku, dan ibu pertiwiku. Kadang aku merasa aneh juga. Ketika di rumah sendiri kadang aku merasa kesal dengan segala rupa masalahnya, namun di luar sana aku selalu membanggakan tanah airku. Ah,.. memang benar ya. Kadang jarak itu penting untuk membuat kita menyadari betapa berharganya apa yang kita miliki. Begitu pula negeri ini. Kita bisa saja menjadi sangat mencintainya, merindukannya ketika kita jauh darinya. Kalau kamu gak percaya, coba saja! Dan rasakan, betapa hanya Indonesia tempatmu untuk pulang kembali. Bahkan sambal terasi pun akan membuatmu rindu setengah mati.

Di tengah rimba Redwood di California pun aku ingat rumah (2014)
Melihat di seberang Sungai Sumida, Tokyo Skytree yang termahsyur pun
aku masih ingat rumah :)

"That Indonesia is my beloved home country!", I said. (Oregon, 2014)


Banyak hal yang bisa kita temui jika sering jalan-jalan. Cinta pada negeri salah satunya. Entah itu di dalam negeri atau di luar negeri, semua akan membuat kamu mencintainya, mungkin dari sisi yang berbeda. Ya, memang demikian karena wujud cinta bisa berupa apa saja dan datang dari mana saja. Makanya, sering jalan-jalanlah. Temukan diri sendiri, temukan dunia, dan temukan cinta pada rumah kita. 

Damn, I love Indonesia!

Sambil berkaca-kaca, mengingat kembali suatu musim gugur di benua seberang sambil bersenandung rindu,...

“...Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai, Engkau kuhargai

...Walaupun banyak negeri kujalani
Yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku rasa senang

Tanahku tak kulupakan, Engkau kubanggakan.”

(Tanah Airku - Ibu Soed)

- Tulisan ini disertakan dalam lomba 'jalan-jalan nasionalisme' yang diadakan Travel On Wego Indonesia- 

Kampung Halamanku, Boyolali di Kaki Merapi-Merbabu yang selalu kurindu 




Jalan becek penuh lumpur ini mengingatkanku pada sesuatu. Satu hal yang sangat kukenal hingga bahkan aku tak sanggup ingat meletakkannya di mana di ruang memoriku. Meskipun mendung kadang menyelimuti langit, namun birunya langit musim panas tak akan mampu terbendung oleh awan hitam.

Langit biru dan awan putih adalah pesonamu. Daya yang mengikat hatiku sedemikian dalam dengan damai surgawi yang hanya bisa kurasa tanpa ungkap kata. Namun sayang, sudah takdir jika surga berdamping neraka. Di balik damai, aku rasakan gelisah. Ada sesuatu, entahlah, yang tak bisa menyempurnakan imajinasiku. Ada yang mengusik pikiranku, menyentuh keprihatinanku, menanyakan eksistensiku.

Semua begitu nyata: Tanah kuning yang membelah hijaunya hutan sawit, tanah coklat berlumpur yang sesekali menggulingkan setiap yang melewatinya, busa mengapung di parit-parit air kehitaman, dan anak-anak kecil yang dengan riang berenang di dalamnya. Bercampur dengan sesekali bau aneh menyengat entah darimana. Semua nyata mengusikku.

Ah, mereka tertawa. Orang-orang itu tertawa. Ramah mereka menyapa, menyapa nasib yang tak dimengerti. Tersenyum pada masa kini yang diharapkan dapat bersahabat. Karena masa lalu telah jadi mimpi sedang masa depan tak sanggup memberi janji. Apa lagi yang bisa dilakukan selain tertawa?

Teriknya siang di tengah jalan berdebu dan hujan sesaat karena awan hitam yang tak mampu lagi menahan bobotnya, seakan membawa bisikan. Aku dibisikkan, “Dulu di sini ada ‘kami’, dulu di sini ada ‘dia’, dulu di sini ada ‘mereka’, dan dulu di sini ada....”.

Ada siapa? Apa? Kenapa?

Pertanyaan itu muncul selalu dalam diamku yang tak terdiam. Aku selalu termenung dalam setiap gurau canda yang kulontarkan. Semua begitu memutar otakku hingga aku pusing bahkan tak bisa tidur.

Oh Tuhan, kenapa semua ini begitu sedih? Apa yang salah dengan kami? Apa salahku? Dan pertanyaan terbesarku adalah aku bisa apa? Sedang, aku hanyalah pahlawan kesiangan yang selalu bermimpi besar. Meski mimpi hanyalah untuk pecinta tidur tapi aku masih selalu berharap, “Tolong! Bangunkan aku sekarang! Siapapun itu”.

Batu Barat dan langit birunya


------

Catatan di atas adalah kegelisahan yang kurasakan saat aku berada di Desa Batu Barat, Teluk Melano, Kayong Utara, Kalimantan Barat. Desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Palung dan juga berdekatan dengan perkebunan sawit PT. CUS ini seakan menjadi pengalaman pertamaku untuk lebih merasakan secara emosional hidup di desa-desa pinggiran hutan dan kebun sawit skala besar.

Sebagai penikmat jalan-jalan di pedalaman, aku sangat menyukai desa ini. Batu Barat yang dilalui oleh Sungai Melano sungguh memiliki keindahan khas Bumi Borneo yang membuatku betah. Orang-orang desa yang ramah, alam yang kaya, dan budaya yang berbeda dapat kutemukan di sini. Namun, aku terusik oleh hal-hal kritis seperti kerusakan lingkungan yang terjadi. Aku merasa trenyuh, dadaku sakit sekali. 

Seperti yang kutuliskan sebelumnya, banyak hal yang membuatku terheran-heran hampir tidak ingin percaya. Hutan Kalimantan yang indah seperti yang digambarkan dalam-dalam poster wisata rasanya jauh sekali. Meski Gunung Palung di depan mata tapi kebun sawit luaslah yang paling dekat dengan Batu Barat. Jalan-jalan tanah di desa ini membelah-belah perkampungan yang tersebar. Hanya sedikit jalan berplester yang terpotong-potong di sana-sini. Jika hujan tiba, berubahlah jalan tanah kekuningan itu menjadi ajang seluncur, licinnya minta ampun. Bahkan, akupun tak berani menaiki motor jika kondisi jalan sudah seperti itu.

Rumah-rumah kayu dan sedikit rumah bertembok semen berjajar  rapi menghadap jalan. Sebuah parit berisi air kehitaman – air gambut- yang digunakan orang-orang untuk keperluan mandi dan cuci-nya. Air parit yang tak seberapa itu harus menanggung beban buangan detergen dari sekian banyak manusia. Maka, busa nampak di mana-mana.

Jalan tanah di Batu Barat yang licin saat hujan. (2013)

Jalanan di kebun sawit yang terlihat sama, sawit sejauh mata memandang (2013)


Sedang jauh di kebun sawit, sudah seperti dunia lain. Jalan-jalan tanah memotong-motong petak-petak sawit yang pasti akan membuat siapapun bingung menentukan arah karena semua terlihat serupa. Pondok-pondok pegawai dan buruh kebun seakan jadi kampung sendiri di tengah rimba sawit. Ada yang bilang bahwa di dalam kebun bahkan lebih ramai dari desa, lebih banyak fasilitasnya, ada sekolah bahkan puskesmas-nya. Orang-orangpun katanya lebih memilih tinggal di sana.

Aku trenyuh karena di balik keramahan orang-orangnya, di balik kesenanganku akan masa yang bagai liburan, ada rasa sesak akan sesuatu yang kurasa ‘pernah ada’. Saat itu, aku terbayang-bayang akan masa lalu Batu Barat. Apa yang pernah ada di sini? Siapa yang pernah ada di sini? Ada apa dulu di sini? Kenapa jadi begini? Lalu, terbayang olehku juga indahnya hutan Kalimantan yang pernah kutahu. Lalu, tiba-tiba aku bagai tersayat sembilu. Rasanya miris, sakit sekali. Apa ya rasa ini? Aku seperti tidak terima akan semua ini. Aku memikirkan orang-orang sini yang sepertinya baik-baik saja. Mereka selalu tertawa, bergurau dan bahkan menggodaku dalam candaannya. Tak ada yang salah kan? Jika semua baik-baik saja tapi kenapa aku sedih sekali?

Nanda sedang memperhatikan ibunya meracik masakan. (2013)

Anak-anak, masa depan Batu Barat

Aku, yang pernah setidaknya belajar tentang hutan, yang setidaknya punya gelar ber-embel-ember hutan, menjadi merasakan beban tanggung jawab. Apalah itu yang disebut beban moral atau apapun itu. Aku merasakannya. Rasa ingin melakukan sesuatu tapi tak tahu harus bagaimana. Maka itulah, aku sebut diriku pahlawan kesiangan. Dalam pikiran yang dangkal, aku ingin menjadi sosok yang ingin merubah kondisi. Agen perubahan katanya. Tapi dalam nyata, aku hanya bisa bergumam sambil mengumpat nasib. Mungkin tidak salah jika aku ini adalah seorang pemimpi. Tapi, segila-gilanya aku dalam mimpi, aku pun ingin sesegera mungkin terbangun dari tidur. Aku ingin hidup dan menjadi nyata. Tapi bagaimana?

Karena masa lalu adalah mimpi dan masa depan tak sanggup berjanji, maka aku hanya punya saat ini. Sekarang yang akan menentukan semuanya. Apakah aku akan tetap menjadi pahlawan kesiangan atau setidaknya aku bisa mengubah jadwal bangun tidurku menjadi sedikit lebih pagi?
Siapa tahu.

Untuk Batu Barat dan kenangan biru yang selalu menghantuiku sekaligus memberiku sejuta rindu.

Matahari Terbit di atas Sungai Melano, Batu Barat


-------------------

Bravo si anjing imut
Ada apa dengan anjing?

Ada berita lucu-lucu aneh hari ini yang ada hubungannya dengan Anjing. Apakah itu? Cek dua berita ini dulu: Lihat Anjing Pelacak Polisi di Balai Kota Pesilat FPI Menyingkir dan Dua anggota FPI digigit anjing pelacak saat demo Ahok. Nah kalo sudah baca beritanya baru lanjut lagi kita ngobrol.

Anjing dan FPI. Ada hubungan apakah di antaranya keduanya?

Hari ini, massa salah satu ormas yang ngaku membela agama itu berdemo di depan Balai Kota DKI Jakarta. Ormas yang terkenal dengan seragam sorban, dan baju terusan putih ini melakukan aksinya dengan orasi dan juga adegan silat. Mereka seperti sudah siap untuk memperjuangkan apa yang mereka percaya, yaitu penggulingan sang PLT Gubernur DKI Jakarta, Ahok. Di tengah terik siang panas Jakarta, semangat tempur membuncah.

Pesilat tangguh pun unjuk gigi diiringi orator yang berteriak-teriak, "Kita akan menampilkan silat jurus Kemplang Babi melawan jurus Cina Mabok,".
Ngeri kan...

Img source: here


Hingga kemudian muncul si Anjing. Polisi mengerahkan empat ekor anjing pelacak untuk berjaga-jaga. Dan sang pesilat berbaju hijau yang sedang beraksipun tiba-tiba ciut nyali dan menyingkir. Lho kok?
Segitu aja?

"Polisi jangan provokasi kami dengan menampilkan anjing, itu najis," kata salah seorang orator.

Para pendemopun akhirnya bubar. Lho kok?

Apakah ini gara-gara si anjing? Salah apa si anjing? Anjingnya najis katanya. Halah, najis ya tinggal dicuci bersih 7 kali. Anak SD yang pernah belajar agama pasti juga tahu itu. Kenapa bubar? Ada yang digigit anjing rupanya! Yah, itu salahnya sendiri kenapa main masuk kantor orang dengan paksa.  Padahal aku juga seneng sebenernya dengan berita ini. Hahaha...Bingung sendiri tapi terhibur.

Anjing polisi (Img source: here)


Lalu aku main ke Kaskus yang lagi rame membahas hal ini juga, salah satunya trit ini. Ada yang mengatakan bahwa sang pesilat yang memperagakan jurus kemplang babi belum belajar jurus kemplang anjing. Jadinya mundur dulu untuk mempelajari jurus baru ini. Hahahaha... tambah ngakak saja aku.

Sebagai pecinta binatang, anjing bagiku adalah satu dari binatang favoritku. Mereka itu sangat imut, lucu, pintar, setia dan nurut. Lhah, anehnya di banyak tempat di tanah air tercinta ini, anjing seakan jadi marga satwa kelas 2 bersama si babi. Heran deh. Orang misuh-misuh nyebut anjing, anjing gak ngapa-ngapain disambit batu, anjing gak tahu apa-apa dikata-kata najis dan kotor terus. Ampun Emak!!! Sedih setiap mendengar itu. Gimana mau maju jika anjing aja jadi masalah gedhe.

Upss...Tapi mungkin ada hikmahnya juga ya. Sekarang ketahuan gimana cara mudahnya mbubarin demo ormas yang bersangkutan itu. Tinggal lepas saja anjing dan mereka mungkin bakal kabur. Hahaha..

Ya, kecuali jika lain kali mereka sudah menguasai jurus kemplang anjing.