Tampilkan postingan dengan label Free Writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Free Writing. Tampilkan semua postingan
Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)

Sebuah tulisan acak yang tersusun dari rasa inginku berlatih menulis sesuatu agar bisa mengeluarkan segala pikiran dalam bentuk tulisan. Kali ini aku akan memanfaatkan 10 menit untuk menulis tentang kenapa aku suka sekali mengenal tumbuhan-tumbuhan, siapa nama mereka, dari mana asalnya, dan segala sesuatu tentang si cantik yang selalu mempesona.

Bunga yang cantik, dedaunan, dan tanaman-tanaman hijau warna-warni telah menjadi bagian hidupku yang panjang, sejak dari aku kecil dulu. AKu masih teringat ketika kecil pernah memiliki sebuah kebun mini di depan rumahku yang sederhana. Kecil sekali kebunku, mungkin hanya berukuran 1,5 meter kali 0,5 meter. Namun di sana aku menyayangi sekali tanaman-tanaman itu. Bahkan sempat aku menangis ketika satu buah cabai yang sudah berbuah diambil satu oleh Bapakku. Ya, aku menangis rasanya seperti kehilangan kesayangan yang kupelihara hari ke hari.

Dan kini, kesenangan terhadap tanaman dan dunia tumbuhan semakin menjadi padaku. Aku suka sekali mengumpulkan foto-foto tanaman-tanaman cantik dimanapun berada kutemui, terutama mereka yang belum kukenal. Kemudian foto-foto itu akan kujadikan koleksi dengan mencari nama-nama mereka. Aku mencari lewat google, sebuah alat pencarian termudah saat ini. Selain itu, aku juga pernah menggunakan aplikasi identifikasi tumbuhan. Dan beberapa jenis tanaman telah kuketahui namanya dari aplikasi ini. AKu juga tak jarang bertanya kepada kawan-kawan yang jago dan ahli identifikasi tanaman. Salah dua dari mereka adalah Mbak Lidia Chang dan Bu Yayuk. Rasanya nyambung ketika ngobrol dengan mereka. Hobi yang sama mungkin menjadikan sesuatu obrolan menarik. Meskipun dengan Mbak Lidia hampir tak pernah ketemu secara langsung, hanya via media sosial.

Mengenali tumbuhan-tumbuhan ini membuatku merasa ada kepuasan tersendiri yang menyenangkan. Damai rasanya. Aku merasakan saat berinteraksi dengan bunga-bunga dan dedaunan itu bagai meditasiku, membawaku pada duniaku yang menyenangkan, dan sejenak aku bisa berada dalam imajinasi warna-warni dunia yang indah. Ya, begitulah, mungkin bunga-bunga ini adalah jalan meditasiku. Dan saat ini aku sudah mulai mengumpulkan dan terus mengumpulkan tentang dunia tumbuhan yang selalu menawanku. Senang sekali menggeluti bidang ini. Dan aku pun juga memiliki kebun kecil di belakang rumah yang saat ini bagai istanaku, bersama para cacing-cacing tanah, dan mikroba-mikroba penyubur tanah, yang selalu kuminta kebaikannya dari alam semesta memberikan kedamaian bagiku dan bagi kami semua. Rasanya bisa memanen sendiri sayuran di kebun, sembari melihat bunga-bunga mekar dan buah-buahan muncul dari tangkainya. Rasanya sungguh mendamaikan jiwa ini.

Itulah sekilas kenapa aku ingin selalu mengenal mereka.


Lihat koleksi foto-foto tanaman dan bunga ya di sini, sekaligus nama-nama mereka.
https://www.instagram.com/sekoya_flowers/
Cerita sampah yang tidak bisa selesai hanya di pelajaran SD.

1. Membuang sampah harus di ......

Soal ulangan atau ujian seperti itu mungkin hanya di temui di SD. Mana ada soal ujian di SMP, SMA, bahkan kampus muncul manyakan harus kemana kah orang buang sampah?

Mungkin para pembuat kurikulum sekolah kurang tahu, atau kurang jauh mainnya. Ya, kalau ada kesempatan coba ditanyakan. Mereka tidak tahu bahwa pertanyaan itu pun bahkan sangat sulit jawabannya. Coba saja tanya pada masyarakat yang tinggal di permukiman padat di tepi Ciliwung sana?

Membuang sampah harus di mana? (kalau nggak ke sungai.)
"Kemana lagi mbak sampah-sampah ini harus kami buang?"
"Di sini tidak ada petugas sampah. Dulu sempat ada, kita bayar pakai uang iuran seikhlasnya tapi sekarang sudah tak ada lagi."
"Kami harus naik ratusan tangga untuk sekedar buang sampah."
"Kami tak ada pilihan lain."

Lhah, ternyata ruwet banget keluhannya. Anak SD mana sanggup menjawab soal begituan. Bahkan ada cerita lucu dari sebuah kelurahan di tepi Ciliwung Kota Bogor belum lama ini.

Aku: "Dek, sungai harus bersih ya. Tidak boleh buang sampah di sungai. Pernah gak lihat orang buang sampah di sungai?"
Anak2: "Pernah....!!!, sering malah."
Aku: "Wah, kalau ketemu harus ditegur ya, bilangin kalau buang sampah gak boleh di sungai."
Anak: "Sudah Kak, tapi malah kita yang kena marah."

Lho, lucunya dimana? Dimana coba?
Anak-anak SD itu mungkin baru saja mendapat pelajaran buang sampah. Sedangkan orang yang marah ketika ditegur itu, mungkin sudah lupa pernah SD.

Sebenarnya, apa sih yang membuat persoalan buang sampah itu gak beres-beres? Gak cuman orang yang gak sekolah aja pelakunya, tidak jarang pula bahkan yang makan bangku sekolahpun kelakuannya sama. Lempar sampah dari jendela mobil, nyampah di lantai angkot, nyampah sembarangan asal buang, hingga para pemuja banjir yang senang buang sampah besar. Mereka semua itulah penyumbang bau busuk, pemandangan rusak, dan lingkungan sakit di sekitar kita.

Nah, pertanyaannya, kita ini apakah bagian dari mereka? Pikirkan sendiri. Lihat sungai di sekitarmu, lihat lingkungan di sekitar kamu. Masih kotor? Oh, berarti bisa jadi banget, kamu adalah bagian dari mereka. Kenapa? Karena nggak mungkin bersih sendiri, kebersihan adalah sesuatu yang kolektif yang harus bersama-sama diwujudkan. Kalau enggak? Ya percuma aja dong punya rumah gedong, wangi, dan bersih tapi tetanggaan sama TPA, tetap aja bauk.

Sudah saatnya sih urusan sampah menyampah, buang dimana dan diapakan ini tidak hanya sekedar urusan soal ulangan SD, tapi beneran urusan kita semua.

Ehm, enaknya sih kalau mau gak ribet urusan sampah ya jangan menghasilkan sampah. Gimana cara? Hayoo gimana dong..


(Hari pertama puasa ini, aku sedang gak jelas meratapi nasib, berjuang agar kuat puasa meskipun tanda-tanda lambung ngamuk sudah terasa. Eh, kok malah kepikiran sampah.... )



Malah anak TK ini mah
(img: here)



Bagaimana bisa seseorang menjadi sangat berarti bagi orang lainnya? Apakah ada benar satu jiwa yang melengkapi jiwa lainnya? Apakah ada benar seseorang yang menjadi cahaya ataupun gelap bagi hidup jiwa lainnya? Apakah benar-benar ada semua yang disebutkan sosok dalam jutaan puisi cinta? Apakah ada semua itu? Ilusi yang dimainkan oleh alam dan pengaturnya.  

Apakah aku juga menjadi korban dari ilusi dunia yang seolah menghilangkan eksistensiku yang 'sendiri'? Tak terbayangkan hidup sendiri tanpa jiwa yang lainnya. Rasanya sedih dan hilang dari kehidupan dan realita. Hidup seakan acak dan buram meski nyata dan fakta di depan mata. Semua terbutakan oleh ilusi itu. Hingga kadang sakitpun menjadi bebal karena obat bius ilusi yang sering disebut cinta itu. Apakah aku terkena? 

Meskipun, tak sedikit, tak tahu banyak pula, bahwa ada banyak hal lain yang bisa kita lakukan, bisa kita lihat dimana saja, kapan saja di dunia. Apakah eksistensi cinta itu menjadi lebih penting dari hal lainnya. Apakah ada perbedaan dimensi dari cinta? Bisakah kita menafikan rasa ilusi itu dan mentertawakannya di kemudian hari? Bisakah sepenuhnya lepas? Dan apakah ada sesal ketika kita mengikutinya ataupun menyangkalnya?  

Banyak pertanyaan yang hanya akan terjawab dengan pertanyaan. Kadang akupun menganggap kehadiran satu orang itu menjadi antara maha penting hingga kadang terlupakan. Apakah dia menjadi lebih penting dari kehidupan kemanusiaan lainnya? Akupun bingung. Hingga kadang aku salah menempatkan kata tidak sesuai dengan maknanya. Mungkin ini pula ilusi yang dimainkan cinta. Tatanan bahasa yang salah menjadi termaafkan atas nama sebuah puisi cinta, atas nama keindahan yang kadang hanya semu dan maya. 

(Curhatan siang sembari mendengar Aline bernyanyi sendu lagu lama Slank, Anyer 10 Maret. Uwahhhh..., sepertinya aku jatuh cinta.) 




Beberapa hari yang lalu aku nonton di bioskop untuk ke-2 kalinya filem 'The Revenant'. Ya memang itu adalah filem yang sangat bagus hingga untuk nonton lebih dari sekalipun sangat worthed atau nggak ada ruginya. Bukan sekali itu saja aku nonton satu film sampai lebih dari satu kali, yaitu 2 kali. Belum pernah juga sih aku nonton sampai 3 kali ulangan. Nah, aku jadi ingin mendaftar sejumlah film yang pernah kutonton ulang itu. Berarti, film-film berikut ini bagus menurut penilaianku, sehingga mengeluarkan duit dobel untuk nonton cerita yang sudah kita tahu pun rasanya gak rugi. Yah, meskipun nonton ulang bisa jadi karena diajakin atau digratisin sih, sikon saja itu. Tapi yang jelas, film-film ini mayan bagus lah buatku. 

  1. THE REVENANT 


Kalau mau tahu tentang filmnya buka ada di imdb.    
Kenapa? Karena film ini sangat indah visualisasinya. Meskipun ceritanya rada-rada gory dan sadis, tapi keindahan sang Mother Nature dan juga kejamnya human nature seakan menghipnotis banget. Musik garapan Sakamoto Ryuichi juga indah meskipun mencekam. Pokoknya indah banget deh. Rugi gak nonton film ini. Ya, tinggal tutup mata aja sih pas adegan berdarah-darahnya. Haha.. Terimakasih buat teman nonton yang ke-2 ya, yang sudah bela-belain nonton ini, padahal sebenarnya aku yang ngebet. 









2. CHAPPIE

Tentang filmi ini -> imdb
 Nah, kalau Chappie ini awalnya nonton gak sengaja karena memang bingung lagi mau nonton apa, dan kebetulan banget waktu itu ada yang bayarin. Yuhuu.. gretongan. Dan ternyata, film yang bercerita tentang robot polisi lucu dan lumayan bagus. Ceritanya cukup membuat kita terharu dan terhibur lah. Selain itu, duo rap rave group dari Afrika Selatan  'Die Antwood' yang ikut main di sini, ternyata unyu banget, lagunya juga easy listening. Jadi deh, abis nonton Chappie langsung kepo sama mereka. Nah, nonton yang ke-2 kalinya itu gara-gara teman ngajak nonton terus film yang dipajang waktu itu gak ada yang menarik, akhirnya kusarankan saja Chappie meski aku sudah nonton dua kali. dan yap! teman-temanku juga pada suka. Tuh kan.. bagus. 






3. COMIC 8, Casino Kings Part 1. 

Tentang Comic 8 -> imdb
Kalau cerita nonton 2 kali film ini sebenarnya gak beda jauh sama Chappie, gara-gara diajakin lagi nonton dan ternyata gak ada pilihan lain. Memang, Comic 8 adalah salah satu film komedi unggulan di Indonesia, lucu banget,  eh, lucu aja sih. Tapi aku suka. Ceritanya ala ala action gitu tapi kocak. Dialog-dialognya juga cukup cerdas dan ngocok perut. Yaiya lah ya, secara mereka para komik professional. 











Lhah, terus apa lagi ya? Kok aku lupa. Kayaknya itu dulu deh, sejumlah film yang sempat kutonton 2 kali. Nanti kalau udah ingat disambung lagi. 



img source: here


Pemanasan nulis bebas sebelum nyelesaikan laporan kerja. Sambil mendengar lagu yang lagi menggalau di kepalaku, "Cinta Terlarang"nya The Virgin. Entah kenapa ya, lagu ini terngiang-ngiang sejak beberapa hari terakhir di kepalaku yang seakan penuh meskipun aku yakin gak penuh-penuh amat. Apa sih yang kupikirkan? Toh, aku bukan Pak Jokowi yang harus ngurus negara. Haha..

Kok ada ya cinta terlarang? Bukankah cinta itu adalah sesuatu yang bagaimanapun bentuknya itu adalah indah? Cinta tidak selamanya terkait ero kan? Menurutku sih sah-sah aja apapun cinta itu asal tidak ada yang tersakiti. Yah, meskipun itu tidak akan pernah mungkin. Masyarakat, kumpulan manusia yang membentuknya telah membuat sesuatu yang lebih nakutin dari manusia itu sendiri. Pantesan saja, aku merasa ngerti kenapa Eddie Vedder dengan indahnya bikin lagu "Society". …"Society, you're crazy breed!".

Hal-hal simpel dibikin sulit, yang gak ada diada-adain, yang gak logis dilogis-logisin, hal yang kecil  digedhe-gedhein, yang gedhe dikecil-kecilin, dan seterus-seterusnya. Apakah benar masyarakat seperti itu? Bisakah masyarakat kehilangan kemanusiaannya? Ngeri! Daripada menjadi zombie dalam kumpulan manusia yang hilang manusianya, apa mending kabur? Seperti si Alexander Supertramp yang meninggalkan segalanya karena sudah muak dengan 'society'?! 


Wooh… Badai pun datang! Badai di kepala datang lagi… Tanganpun mulai gerah ingin menari. Sepertinya pemanasanku sedikit berhasil. Dari cinta terlarang ke gilanya society. Pengen kabur jadinya. Tapi, semua juga mungkin tahu, kabur hanya bagi pecundang. Dan, aku tentu tak ingin jadi pecundang. 

Mending nyanyi dulu nih, 'Cinta Terlarang' dan 'Society'. Sungguh dua lagu yang gak nyambung baik genre maupun kisahnya.. Hehehehe... 







Selamat Pagi! 


Kenapa sih orang traveling? Kenapa orang harus meninggalkan zona nyamannya? Kenapa juga orang harus melihat dunia  luar yang mungkin asing dan tidak menyenangkan? Apa kamu hobi traveling? Yah, kalau kamu sudah punya hobi itu, maka tidak akan sulit untuk menjawab pertanyaan di atas. 

Atau mungkin sebaliknya jika kamu anak rumahan, mungkin akan sedikit sulit mengerti bagaimana juga menjawabnya. Traveling bukanlah sesederhana jalan-jalan atau plesiran ke tempat-tempat wisata. Traveling adalah satu esensi di manusia yang musti kudu dilakukan. Kenapa? Karena manusia itu tidak diciptakan di satu tempat untuk menjadi lengkap. Dia harus mencari pecahan-pecahan, bagian dari dirinya di seluruh dunia. Selama dia hidup dan seterusnya begitu. Seperti juga jodoh, tidak diciptakan langsung di dekat kita. Kita harus menempuh perjalanan untuk mengetahuinya. 

Traveling juga begitu, kita bisa ketemu diri kita hanya kita mencarinya. Tapi, untuk menemukan apa yang dicari, tak semua orang berani. Kenyamanan telah menjadi belenggu yang mematikan gerak dan nyali. Kenapa? Apa orang belum bisa dikatakan lengkap dengan dirinya sendiri? Bukan begitu juga. Yang terpenting sebenarnya adalah perkembangan diri. Perkembangan dan pertumbuhan itu yang dimaksud dengan pecahan diri. 

Tak akan puas seseorang mencari apa yang dicarinya. Kepuasan itu hanya bisa dicari jika kita berjalan. Ujung-ujungnya orang mencintai pencarian daripada apa yang dicari. Orang menyukai traveling dibanding destinasinya. Orang lebih suka rebutannya dibanding permen yang direbutkannya. Kesenangan, adrenalin, kepuasan batin, itulah yang paling aku suka saat traveling. Berapapun biayanya, apapun resikonya, berapapun lamanya, traveling seakan tak terasa menuntut satupun itu. Bahagia tanpa syarat. Hahaha.. Karena itulah aku suka hidup, mencintai kehidupan. Karena di situlah aku bisa terus berjalan dan menempuh perjalanan. 

Let's go on a travel guys!

(Tulisan 10 menit ngacak lagi nih. Mikir tema traveling tapi malah lari kemana-mana. Hehehe... )




Bagaimana meja kerja yang nyaman itu? Definisi nyaman bisa macam-macam tapi menurutku paling tidak dalam kaitannya dengan meja kerja, hal ini adalah meja yang menunjang keefektif dan efisiennya aktivitas kerja kita. Nah, dalam tulisan bebas 10 menit ini, aku ingin membahas sedikit tentang meja kerja yang menurutku nyaman. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di meja kerja kita agar kita betah duduk berlama-lama di sana. Apa saja?

  1. Meja harus rapi dan bersih. Meskipun tingkat kerapihan masing-masing orang berbeda, tapi minimal rapi buat diri sendiri. Bersih juga penting, karena bersih itu membuat kita lebih fokus.
  2. Letakkan barang personal, dari rumah yang mengingatkan kita akan hangatnya rumah. Tidak sedikit kok orang yang menaruh bingkai foto keluarga, teman, ataupun pernak-pernik hiasan yang diambil dari rumah. Kalau aku suka menaruh kartu pos di dinding depan mejaku. Jadi, saat aku jengah dan lelah dengan layar komputer, aku bisa mengalihkan pandangan pada gambar-gambar di kartu pos yang membuat hati adem.
  3. Jangan biarkan banyak barang menumpuk di meja. Meskipun ada yang bilang banyak barang di meja berarti orang sibuk, tapi sebaiknya tidak terlalu begitu juga. Berkas-berkas dan barang-barang lain yang menumpuk di meja kerja akan membuat stress tingkat dewa. Sugesti pekerjaan yang tidak akan selesai-selesai malah akan benar-benar membuat pekerjaan sulit selesai.
  4. Jangan biarkan meja kamu terlilit kabel-kabel gak jelas. Kabel adalah penghubung seluruh alat kerja kita. Tapi, kabel juga sering menyebalkan karena melilit kemana-mana.  Lilitan kabel yang berantakan akan menyebabkan polusi mata. Maka dari itu, rapihkan dan gulung kabel dengan baik. Polusi mata tidak baik untuk kesehatan kerja.
  5. Siapkan kopi, teh dan atau air putih. Agar rilex, kita tidak boleh kurang air. Maka, minuman-minuman segar itu akan menjagamu tetap bersemangat kerja.

Lah, apa lagi ya. Tidak terasa sudah 10 menit aku menulis lho. Sudah saatnya berhenti sejenak. Nanti deh, kalau ada kesempatan dan masih ingat, aku akan menulis tips-tips selanjutnya. Sementara ini dulu ya. Bagaimana membuat meja kerja kamu nyaman.


---- 
 (Ini adalah hasil 'free writing', yaitu menulis bebas 10 menit terus menerus tanpa edit.)

Tiba-tiba hatiku gundah gulana entah kenapa. Ada seseorang yang menanyakan kabar dan mencari informasi sedang apa. Rasanya aku dikejar waktu yang seakan tak memberiku ampun dan kesempatan untuk sekedar bersantai. Aduh, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi aku tak mungkin bisa melakukannya di sini karena hari masih sore dan aku masih merasa menjadi orang normal. Tapi aku masih ingin teriak karena hatiku rasanya deg-degan setengah tak mau memberi ampun. Oke, aku bernegosiasi pada diriku sendiri untuk berteriak lewat tulisan 10 menit yang seperti biasa kulakukan untuk melemaskan jari dan juga membungkam kegalauan.

Aku memikirkan tentang masa depan, tentang suatu waktu yang masih belum tentu dan tentang ketidakteraturan. Satu hal yang pasti menjadi pertanyaan bagi semua manusia adalah tentang apa yang dimauinya? Aku pun juga begitu. Aku selalu bertanya dan bertanya pada diriku sendiri, dialog sendiri, apa sebenarnya dalam hidupku yang terbatas ini yang benar-benar aku inginkan. Dan aku selalu saja dibuat terkejut, terkesima sekaligus jengkel dan jengah atas jawaban yang membuatku tak bisa memilih. Apa itu? Aku ingin semuanya. Aku ingin banyak hal yang tidak bisa kuprioritaskan yang mana. Aku masih menjadi anak kecil yang selalu menginginkan semua mainan baru. Bagus benar kan?

Tapi rasanya tidak begitu juga. Aku ingin pulang ke rumah dan membuat sesuatu hal kecil yang nyata tapi aku juga ingin menjadi selebriti besar. Bingung kan? Aku ingin berdiam di satu tempat dan membentuk kedamaian di sana. Tapi kenapa aku selalu menjadi pengiri para pengelana? Bahkan aku masih dianggap pengelana saat aku berpikir aku hanya orang yang sedang bingung. Haduh. Aku ingin mengenal diriku sendiri. Diri yang tak pernah mengakui bahwa aku hanyalah satu dari jutaan orang 'biasa' di bumi ini. 

Pernah aku ingat, membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan yang mungkin dan besar peluangnya terjadi. Apa? Mati dan dilupakan. Oh, benar-benar itu. Itu menakutkanku setengah hidup. Aku pemuja hidup abadi layaknya aku selalu percaya akan cinta abadi. Nah, aku juga pasti ingin hidup abadi, mengukirkan sejarahku dan meninggalkan hidupku dalam keabadian yang tak bisa lekang. Hebat bukan. 

Tapi ya itu. Masa depan bagiku masih seburam 13 tahun lalu ketika pertama kali aku ber-KTP. Lha kalo sekarang saja masih buram, bagaimana ke depan? Berapa lama lagi sih waktu yang kumiliki di sini? Jika mengikuti sejarah nabi, maka hampir separuh waktu dan kesempatanku sudah kuambil. Tinggal separuh lagi yang tersisa. Tapi aku masih mikir bagaimana menggunakan yang separuh itu menjadikannya prasasti dan membuatku dikenang. 

Aku harus apa? 



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(Foto di bawah ini rasanya seperti dunia tak nyata yang sedikit memberiku gambaran tentang apa yang ingin kurasakan sekarang, 'maya'.)




Ide numpuk !


Pernah gak ngalamin?

Pengalaman sebagai seorang blogger (meski amatiran)

Nulis bagi blogger adalah separuh jiwa (atau separuh nafas, separuh hati, separuh aku, dan separuh-separuh lainnya yang udah jadi judul lagu. haha..). Semua blogger pasti kepingin sering-sering posting tulisan agar blognya tetap eksis. Tulisan apapun itulah, dari yang serius kayak mau nulis skripsi, curcol karena patah hati, posting foto doang plus caption minimalis, sampai cuman nulis ngalor-ngidul gak karuan pun yang penting bisa dapat postingan. (Contoh terakhir itu ya tulisan ini nih. )

Nah, pada suatu saat ketika hasrat nulis muncul tapi bingung mau nulis apaan. Tiba-tiba di kepala muncul satu hal yang seringkali kepikiran. Satu hal ini sudah sering mengganggu ketenangan batin karena muncul terus di otak dan gak mau pergi-pergi. Si satu hal ini mendesak untuk segera dibebaskan alias minta dituliskan.

Dia berkata, "Buruan tulis gue di postingan blog elo. Kalo gak, gue gak bakal membiarkan elo hidup tenang!". Pokoknya sadis banget deh ini si satu hal. Ngebet banget pingin segera dituangkan. Ibarat sebuah cek yang harus cepet-cepet dicairkan, biar cepet jadi duit cash dan gak jadi pikiran. Halahhh.. kok analogi ini rada-rada gak nyambung ya. Hehehe... (biarin ajalah, toh itu yang langsung nempel di otak. )

Kepala ini rasanya penuh banget sampe pengen ditumpah-tumpahin tuh isinya. Alamak,... bener-bener nih rasanya kepikiran terus. Dan ini tidak akan hilang sampe si satu hal itu dituliskan. Sumpah! ngeyel setengah hidup!

Aku pernah ngrasain ini berkali-kali. Misalnya nih satu kasusku dengan review buku Ronggeng Dukuh Paruk. Buku itu adalah salah satu karya masterpiece Ahmad Tohari yang aku sangat suka. Top Markotob dan nendang pokoknya mah. Aku ingin banget menuliskan review tentang buku ini di blog. Secara kan aku punya tag khusus untuk Book Review. Nah, karena saking malasnya atau bingung mau nulis apaan, aku tunda-tunda tuh nulis review buku.

Dan apa yang terjadi? Hampir 2 bulan kepalaku isinya sama, "Woy buruan nulis review! buruan woy! buruan! Ronggeng woy!".  Kayak gitulah pokoknya. Setiap buka internet, setiap mau tidur, kapanpun dan dimanapun si 'Review Ronggeng' ada terus. Setelah dua bulan bertahan, akhirnya aku tak sanggup lagi menahannya. Hingga akhirnya kutulis juga tuh si 'Review Ronggeng'. Lalu apa yang terjadi setelahnya?

LEGA.....!

Aih, sumpah bener dah! Leganya itu seperti kayak habis selesai nyelesain ujian. Aku gak peduli hasilnya yang penting ujiannya beres. Sama saja. Aku tidak peduli hasil akhir tulisannya, yang penting ide itu brojol juga dan gak ganggu lagi makan dan tidurku. Hahahaha...

Nah, sering banget hal kayak gini terjadi. Aku sih nyebut ini sebenarnya adalah ide, ilham, pikiran atau apapun itulah dari diri kita. Dia punya kekuatan mendesak yang dahsyat. Waspadalah dan tetap hati-hati. Lebih baik ide-ide itu segera dibebaskan dari cangkangnya di kepala. Biarkan dia ngalir lewat tarian jari kita. Kalo gak,.... Ehmmm... rasakan gundah gulana gelisah dan resah yang gak kalah dari galaunya cinta ditolak. Hahahaha....

Jadi, apa idemu teman? Apa di kepalamu yang mendesak untuk dituliskan?

Dan dikepalaku saat ini banyak sekali mereka berjubelan. Ini peringkatnya yang kususun berdasarkan kekuatannya menyita pikiranku sampai detik ini.

1. dorama review 'Last Cinderella'
2. Sungai Willamette Introduction
3. Watershed Councils in Oregon
4. Large Wood Debris
5. Tillamook State Forest
6. Friends of Mine: Kris
7. dorama review 'Osozaki no Himawari'
8. Non-native invasive species
9. IEI summary
10. Oregon Forest, Public and Privat
11. Etc,...

Anjrott... banyak banget nih jubelan di kepala. Dari sekian banyak itu, yang nangkring paling kuat adalah doramanya si Miura Haruma. Ampuh dah, penting banget yah.. Jadi, daripada si Miura ganteng gangguin kerjaku terus, mending buru-buru aku nulis tentang Last Cinderella di postingan selanjutnya.


Miura Haruma in Last Cinderella

(Sebenarnya kan yg gangguin aku ya ide tulisan ini.. hehehe.. tapi ini sumpah gak sengaja. Tiba-tiba aja galau gak karuan pas mau nulis review dorama. Eh, kesambet nulis ini. Yaelah,... Nah, aku sekarang sudah mulai tersenyum sendiri. Kocak banget rasanya. Congrats ya.. selamat ya Non, udah brojol lagi anaknya.... Yup yup... aku adalah ibu dari anak-anak di blog ini. Jadi ingat kenapa dulu aku ngasih nama blog ini Dunia Aksara Ku. Hehehe)





10 menit untuk menyegarkan kembali otakku yang rasanya malas atau buntu? Atau apapun itu yang aku bingung mendeskripisikannya. Aku ingin berbuat banyak hal, menulis banyak hal tapi apa yang ingin kutuliskan terasa di awang-awang. Coba dulu aku cek lagi ya, apa-apa saja yang perlu aku lakukan, selesaikan dalam waktu sempit yang selalu terasa longgar.

Tampo Bada? Ah, daerah indah itu. Tidak seperti dulu, setahun lalu ketika langit biru menaungiku dalam damai dan mengalirkan seribu puisi tentang pesonanya. Aku seakan tidak bisa lagi begitu. Kenapa? Bukankah di Portland langit masih biru? Bukankah bukit-bukit di kota indah ini masih hijau? Aduhh, apakah ini sebenarnya? Baru kemarin aku merasa menemukan aku yang aku suka, eh ini kembali lagi pada aku yang sepertinya familiar? Alahh,… ada-ada saja.
Langit Portland suatu siang (July 2 '14)

Ingat-ingat satu hal yang menyenangkan. Apakah itu? Bahwa aku, kehadiranku, keberadaanku bukanlah hanya milikku? Lhoh, aku belum merdeka ya? Tapi memang sebenarnya aku tidak pernah merdeka? Aku ini milik siapa katanya? BIngung kan? Yang aku tahu aku harus menulis. Menulis dan terus menulis. Apapun itu. Meski apapun itu terasa bagai batasan yang sangat mencekikku. Aku jadi pingin lari, mencoba merasakan ‘kemerdekaan’ yang sejatinya tak pernah ada. 

‘Kontrak kehidupan’ telah ditandatangani oleh setiap ‘yang hidup’ di dunia ini. Ah, sayangnya aku lupa kontrak itu. Mungkin aku menandatanganinya ketika aku mabuk, masih di alam tidak sadar sebelum di rahim ibuku tercinta. 

Aku masih punya 3 menit untuk meluruskan, memanaskan, dan membuat jari-jari kakuku dan  otak bekuku untuk sekadar berlatih. Karena sehabis ini selesai, 10 menit ini berlalu, banyak lagi yang harus diperjuangkan melalui senjataku yang paling ampuh ini. ‘Jari, otak dan mata’. Bukannya paling ampuh sih, tapi memang itu yang kupunya. Seberapa tajam? Entahlah. Mungkin ada yang bisa memberikan jawabannya, tapi bukan aku.

2 menit terakhir. Oke, mulai fokus. Jadi apa yang akan kutulis hari ini? Tampo Bada- oke. Lalu tentang kebiasaan buang sampah di sini-oke. Lalu apa lagi ya? Oh iya, watershed council-oke. Sip lah. Kurasa cukup 3 tulisan untuk melengkapi lelahnya hari ini.

-----
(NB: Menulis kalap memang paling manjur untuk ngobati buntu! Hehehehe)


Melalui tulisan ini aku hanya ingin menyampaikan sesuatu, membuktikan sesuatu kepada seorang teman yang katanya sedang mengalami kebuntuan dalam menuliskan sesuatu di pikirannya. Dia ingin menulis tapi selalu buntu dan berakhir dengan jari-jari yang tiba-tiba diam 'speechless' di atas keyboard. Hah, kok bisa? Bisa saja  itu. Melalui tulisan 10 menit ini aku ingin katakan kepadanya bahwa apapun itu bisa ditulis, meski hal-hal yang mungkin tidak penting, tidak masuk akal, seperti tidak nyambung dan tidak 'patut' rasanya. 



Hei teman, menulis itu hanya persoalan untuk menuangkan isi kepala dan rangkaian kata. Yasudahlah, ikuti saja apa kata kepalamu itu. Ikuti saja sampai dia terpuaskan. Jangan ikuti gangguan monyet-monyet editor yang selalu menggodamu untuk menghapus kalimat pertama. 10 menit saja kamu coba lawan monyet-monyet sialan itu dan kamu akan temukan kemenangan indah yang tak terkira. Kejutan penuh dengan warna yang akan membuatmu ternganga. Hah, kok bisa ya aku nulis seperti ini? kok bisa ya aku merangkai kata-kata ini? Dan banyak pertanyaan lain yang akan membawamu pada sebuah dimensi baru. Hehehe. Mungkin ini lebay, berlebihan, tapi percayalah bahwa momen 10 menit ketika kamu bisa mengalahkan monyet editor itu sungguh sangat menyenangkan.

Pernah suatu kali aku mencoba ritual 10 menit itu untuk bertarung melawan malasku yang sudah memuncak. Dan tahukah kamu? Haa,.... Aku melahirkan satu puisi panjang, perenungan dalam satu cerita puitis yang berisi tentang fragmen hidupku. Aku terheran-heran betapa ternyata otakku bekerja begitu rupa sampai-sampai aku tidak mengenalinya. Kamu perlu coba deh. 

Jangan sampai kamu kalah oleh kebuntuanmu itu. yakinlah bahwa itu semua bisa dilawan dengan kamu membebaskan otakmu untuk menari-nari sesuai keinginannya dengan diwakili oleh tarian jemarimu di atas keyboard kaku itu. Ayolah, aku tahu kamu bisa. Seperti kamu bilang sebelumnya, bahwa kamu bisa lancar untuk bicara lisan, menuangkan isi kepala dalam suara. Sekarang tinggal kamu rubah saja, tinggal kamu coba buka laptop, nyalakan, tentukan satu hal yang ingin kamu lakukan, siapkan 10 menit dan mulailah menari. Kamu bisa, kamu dapat. Seperti tarian jariku ini yang sudah  mencapai batas waktu 10 menit yang kuberikan padanya. Aku akhiri ocehan tidak karuan ini. Yah, meski acak dan mungkin aneh, tapi tulisan ini mewakili apa yang ada di otakku selama 10 menit ini.

Ayo menulis..

Special to Roma

Sebuah pepatah dari Jepang mengatakan:
"Memikirkan rasanya melahirkan itu lebih menakutkan daripada melahirkan itu sendiri." 

Bagiku itu adalah pepatah yang lucu namun sangat mengena. Betapa sesungguhnya manusia itu dikuasai oleh prasangka dan praduga. Bisa dibilang bahwa manusia terlalu berpikir lebay, merasa takut akan kemungkinan yang bahkan juga belum terjadi. Padahal menjalani sebuah kehidupan itu tak sesulit jika dibayangkan. Yah, meskipun tak seindah dalam impian angan.

Dan saat ini aku merasakan betul makna dari ketakutan akan prasangka itu. Fyuh...! itu akibat kurang persiapan sepertinya. Aku tahu bahwa aku akan berperang tapi aku tidak tahu lawannya dan aku tidak punya senjata untuk jaga-jaga. Jadinya galau dan gundah gulana. Ibaratnya saat ini aku sedang memikirkan betapa menakutkannya dan betapa menyakitkannya melahirkan. Hahaha..


Berarti aku juga harus ingat satu hal. Melahirkan itu tidak seseram jika dipikirkan kok. Jadi intinya adalah 'jalani saja sebaik mungkin'. Jangan pernah kau coba berlari lagi. Hadapilah pilihan takdirimu sendiri. Hadapilah masa depan yang kamu putuskan sendiri. Semua itu tidak akan menyesatkanmu selama kamu percaya pada kemampunmu. Toh segala lawan dan musuh yang ingin dihadang itu adalah kondisi otakmu sendiri. Pasti bisa, anggap saja besok itu waktunya melahirkan si buah hati. Rasa sakit dan takut akan hilang seiring munculnya jiwa baru yang lahir dari proses itu. 

Besok pun juga akan seperti. Rasanya tak sabar untuk menunggu waktu si buah hati lahir. Pasti momen bahagia itu akan sangat menyentuh hatiku terdalam. Meskipun bukan bayi sungguhan untuk besok. Hehehehe. 

Aku hanya ingin mengatakan pada diriku sendiri untuk semangat. Kamu sudah tahu tujuanmu. Dan sesakit apapun jalan untuk mencapai tujuan yang jelas itu adalah kebahagiaan. Yatta! berarti aku sudah bahagia saat ini. WOow sungguh berita yang baik ya. Karena sudah cukup lama rasanya bingung nyari satu saja tujuan untuk dicapai. 

Hidup tanpa ambisi memang membosankan. Makanya berambisilah. Meski ambisi dan keinginan akan melahirkan ketakutan akan kegagalan. Tapi minimal kita punya tujuan. Karena sesungguhnya orang yang paling galau dan merana adalah mereka yang tidak tahu apa yang dia cari. Luntang-lantung di atas bumi.

Meski sering kurasa bahwa mencari apa yang dicari juga adalah tujuan. Hahahaha..

Yooo...Siap-siap untuk esok hari yang cerah. 
Semangat.!!!
Kali ini adalah kisah tentang jengkol. Makanan yang berbau khas, tajam dan menyengat. Dulu aku benar-benar membenci makanan ini. Disuruh sedikit mencoba pun hanya akan berakhir mual dan ingin muntah. Sungguh sangat mengganggu sekali. Tapi kini, jengkol malah masuk dalam daftar menu favoritku. Benar-benar jengkol telah merasukiku hingga aku tak tahan jika sudah melihat masakan berbahan jengkol di depan mata. Jengkol sama saja dengan makanan dewa. Dewa baik hati telah memberikan sedikit menunya bagi manusia. Terimakasih Dewa untuk Jengkolnya. Hehehe.

Awalnya dari Riau, tepatnya di Kampar Kiri, lebih persisnya lagi di Desa Batu Sanggan. Di desa yang terisolir dan hanya bisa dilalui oleh sungai ini adalah pertama kalinya aku berkenalan secara resmi dengan jengkol. Aku sempat menolak untuk berkenalan, tapi jengkol terus memaksa. Yah, jengkol bisa dikatakan sayur wajib bagi masyarakat di desa yang indah ini. Aku tak kuasa menolak tawaran dari seorang ibu yang berbaik hati memasakkan jengkol untukku. Dan bukan itu saja, semua menu memang berasal dari jengkol, sayur jengkol, lauk sambal ikan jengkol, dan jengkol-jengkol lainnya. Tak ada pilihan mungkin lebih tepatnya. Jika tak berdamai dengan jengkol, ya sudah makan nasi putih saja. Dan itu tidak enak kan?

Dan pada akhirnya, jengkol yang dimasak si ibu telah membuatku jatuh cinta. Memang aneh pada awalnya, tapi karena bumbu masak yang sempurna jadilah dia menu istimewa. Beberapa hari aku berada di desa itu, semakin kenal pulalah aku dengan si jengkol. Tak kupedulikan lagi bau menyengat di mulut, apalagi yang di toilet. Ah biarlah saja, yang penting enak. Dan sejak saat itu pulalah aku jadi penggila jengkol.

Masakan jengkol paling enak adalah jengkol iris yang digoreng kemudian disambal balado. Rasanya itu mirip perpaduan antara kacang dan 'sesuatu'. Aku yakin jika 'sesuatu' itu adalah ruhnya si jengkol. Zat X yang hanya dipunyai si jengkol. Entah apa namanya. Aku juga suka semur jengkol. Hehehehe.


img source: here

img source: here

Bagaimana mengatasi kebuntuan untuk menuliskan pikiran dalam suatu tulisan? Kadang-kadang kita benar-benar ingin menumpahkan apa yang ada dalam pikiran. mengalirkannya dalam suatu rangkaian kata yang bermakna. Namun tak kuasa dirasakan ketika terlalu banyak malah menjadi beku. Otak seakan berkhianat dan mengaburkan berbagai ide itu, mencampur aduknya menjadi satu adonan yang akhirnya membingungkan. jari-jari tak bisa bergerak bebas mewakili pikiran kita. KIta seperti terhipnotis untuk tidak bisa berpikir.

Mungkin ini juga yang terjadi ketika kita mengerjakan tugas-tugas sekolah dulu. Skripsi misalnya, jika ditotal-total sebenarnya hanya menghabiskan hitungan minggu atau hari untuk menyelesaikan tulisannya. Namun nyatanya? Bisa-bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Bukan karena bodoh ataupun tidak mampu. tapi itulah. terlalu banyak yang ingin dituangkan namun tidak tertata rapi. pada akhirnya beleleran kemana-mana. Campur bawur, beraduk-aduk di dalam otak. Tidak bisa keluar dan ujung-ujungnya tidak tergarap dan malah membuat pusing. cara paling banyak ditempuh ya-- ditinggalkan. hingga akhirnya waktu tidak terasa telah termakan jauh di belakang. 

Pernah juga diajarkan bagaimana caranya membiasakan diri agar bisa keluar dari tekanan 'buntu menulis' dan agar bisa mengatasi deadline ketika kita dipaksa menulis padahal tidak mau menulis. Yap. dengan FREE WRITING. Menulis bebas. menulislah bebas selama 10 menit per hari. menulis apapun itu. apa yang ada di dalam pikiran dituangkan tanpa perlu diedit dulu. dengan cara ini kita bisa dengan bebas mengeluarkan apa yang tercetus dan muncul dalam pikiran tanpa perlu mengoreksinya. Hasilnya tentu saja bervariasi. bisa bagus, hancur, berantakan atau malah brilliant? tergantung kondisi mungkin ya? tidak tahulah. tapi memang kurasa menulis bebas itu banyak sekali manfaatnya. dan lebih sering aku terkesima dengan hasilnya. setelah 10 menit menulis kalap dan kubaca hasilnya. Sungguh! ternyata ketika kupaksa berpikir aku bisa juga produktif.

Dan tulisan ini adalah tulisan kalapku hari ini. Sungguh aku merasa banyak yang ingin kutulis, dari review buku, film, manga, ingin menceritakan kisah-kisahku, menceritakan foto-foto perjalananku, pemikiran-pemikiranku, tapi aku bingung dan buntu. suntuk. aku teringat tentang menulis kalap ini. dan kucoba saja menulis kalap hari ini. Sudah lama tidak melakukan ini. Dan akhirnya,...

Dong dong dong.. 10 menit sudah hampir berakhir. saatnya menyelesaikan tulisan ini. Ini tidak akan ku-edit. Biar saja. Biar tahu hasilnya orang kalap.


Net262
--------------------------------------------

(Karena tanpa edit, pastinya akan banyak kesalahan ketik dan grammar. hehehe)