Tampilkan postingan dengan label water. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label water. Tampilkan semua postingan
(Catatan: Riska, Bang Asun, Pak Ntis, Habibah, dan nama-nama yang kucatut, mohon ijinnya ya.. Hehehe)


Siapa yang suka bangun pagi di akhir pekan?!  Adakah? Apakah aku? Akupun ragu. Dan ini adalah cerita tentang Sabtu pagi-ku di pertengahan Desember. Cerita yang berlatarkan Ciliwung dan ke-tiba-tiba-an (mungkin kalau istilah Inggrisnya Ke-suddenly-an kali ya) niatku yang ujug-ujug muncul. Simak ya.

Jumat malam itu aku buka-buka dan kubaca SMS masuk. Satu SMS yang selalu hadir tiap Jumat itu berbunyi: "KPC Bogor Sabtu 12/12/15 mulung sampah bebersih Ciliwung. Kumpul pkl 08.00 wib di depan mesin pencacah plastik KPC Sempur. CP Joko 021xxxx.". Aih, beberapa kawan-kawanku di Bogor pastilah sudah sangat akrab dengan SMS itu. Kamu juga sering dapat ya? Hehehe.. Seingatku dulu, ada ratusan nomer HP yang mendapatkan SMS rutin itu tiap Jumat. Dan ini sudah tahun ke-7, KPC Bogor bergelut dengan Ciliwung, mengajak puluhan-ratusan-bahkan ribuan orang untuk menengok kembali sungai yang pernah jadi wajah sejarah Pajajaran ini. (Kenapa sejarah? Aku teringat cerita jalur tamu dan jalur bangsawan, cerita dari Mas Hari Kikuk tentang sungai ini di jaman dulu.). Kubaca sekilas SMS itu, dan ujug-ujug aku merasa berkepentingan untuk ke Sempur. Okelah, fix! Besok pagi aku ikut mulung. Kuajak Habibah, kawan kosanku yang masih muda belia, dan tak banyak cingcong dia langsung jawab "Oke mbak!".

Tidak jauh, meskipun tak bisa dibilang dekat juga. Kami sampai di Sempur, turun dari angkot 03 yang sesak, jam 8 kurang sepuluh menit. Di tempat berkumpul kulihat seorang ibu paruh baya sedang asik menikmati sebatang rokok. Alamak, jadi pengen juga. Ups, tahan dulu. Kusapa si ibu dan kutanya apa dia datang untuk KPC. Eh, ternyata dia hanya sedang menikmati pagi rupanya. Ah, yasudahlah. Tak berapa lama, Pak Joko sang CP (Contact Person) muncul. Dia mengatakan akan datang juga kawan dari IPB, tepatnya dari Fakultas Ekologi Manusia yang ingin gabung mulung Sabtu pagi ini. Ah, baguslah. Semakin rame biar semakin seru. Dan datanglah mereka, 5 cewek berkerudung dengan kaos hijau pastel kembar. Salah seorang membawa tripod dan lainnya membawa kamera DSLR. Tarohan, pasti tugas kuliah. Hehehe.. Dan memang benar dugaanku.  Mereka pun membuat entahlah, semacam film mungkin, dengan mewawancarai Pak Joko. Aku dan Habibah, melihat-lihat saja sambil sesekali selfie di pinggir sungai. Waktu berselang dan Pak Ntis datang membawa senjata kami: KARUNG!!!

Laskar Karung KPC - Sabtu pagi itu
(Photo by: Sutisna Rey)
Aku dan Habibah mulai mulung duluan. Kuambil 2 karung, satu untuk seorang dan kami turun ke sungai. Kulihat, sampah banyak nyangkut di tepi sungai, terbawa banjir semalam. Gak kebayang, sampah dari mana saja ini? Mulailah aku dan Habibah mulung apa yang bisa dipulung, mulai dari bungkus detergen, bungkus indomi, hingga kutang dan puluhan popok bayi. Nah, yang terakhir itu perlu digaris-bawahi, POPOK BAYI. Astaga,...! Kenapa ya orang-orang ini? Sakit jiwa? Kenapa banyak banget ya popok bayi di kali? Sejak mulung kapan tahun, popok bayi seakan jadi tamu wajib. Bahkan, pernah nih, aku dapat popok bayi yang masih segar berisi. Pasti tahu kan isinya apa? Pokoknya, warnanya gak kalah gonjreng dibanding bendera partai sebelah itu. Jadi gatel pingin ngomongin popok nih. Yuk mari,..

Penggunaan popok bayi sekali pakai sepertinya memang menjadi hal yang perlu diperhatikan. Karena sepertinya, para ibu-ibu (atau bapak-bapak?) penggunanya masih bingung bagaimana cara mengelolanya. "Make'nya sih gampang. Sekali bayi brott langsung buang gak perlu dicuci." Iya sih. Tapi, buangnya gak harus di kali juga. Lalu dimana? Di tempat sampah? Bau kali, jorok, dll. Lah, dikira dibuang di kali gak jorok? Sebenarnya aku pun gak tahu gimana caranya buang popok bayi bekas yang benar. Maklum belum pernah ber-bayi. Apakah di kuning harus dibuang dulu di WC, atau langsung aja buang bareng sama popok-popoknya. Entahlah. Tapi yang jelas, yang make harusnya tahu. Yang jual harusnya juga ngasih tahu. Btw, dikasih tahu gak sih? Jadi ingat sama Jeng Riska, sang dewi Ikan dari Surabaya yang pernah getol mengangkat fenomena popok bayi ini juga. Jeng, gimana sekarang kondisi Kali Surabaya? Apakah popok masih banyak dijumpa? Bang Asun sempat mengajak ber-ide,"Gimana ya caranya biar orang gak buang popok di kali? Apa perlu kita bikin mitos? Orang kita kalau ke mitos lebih cepat percayanya!". Ah, bener juga kataku. Bikin aja rumor,"Buang popok di kali bisa bikin ruam pantat bayi.". Kali-kali aja itu manjur. Sudahlah, popok bayi mah. Lanjut  lagi,..

Oops, ada popok bayi pasti di sana!
(Photo: Sutisna Rey)

Kawan-kawan dari IPB pun ikut nyemplung bersama, jadi ada 5 tambah 2 tambah 2, ahh. 9 orang totalnya yang mulung hari ini. Lumayanlah. Kami bersemangat mengangkut sampah-sampah itu. Aku, paling senang, mengais-ngais sampah yang nyangkut di celah batu. Sampah kayak gitu, kelihatannya dikit, tapi wooo...aslinya banyak. Lebih seru lagi kalau nemu 'Anaconda Ciliwung'. Dijamin keringat mengucur deras. Satu demi satu sampah kami masukkan karung, hingga kemudian tercium baru menyengat yang hampir membuatku muntah. Di dunia ini, hanya satu bau yang bisa membuat mataku langsung merah berair dan perutku seakan mau keluar. Bau bangkai. Dan di Sabtu pagi inipun, bau ini hampir berhasil membuatku mual. Aku tidak sanggup lagi dan tak berapa kami penuhi karung, kami berhenti. Kebetulan karung juga sudah habis, meskipun sampah masih berserakan. Cukup hari ini. Kamipun berpisah dan kembali ke aktivitas masing-masing. Hampir jam 10 pagi waktu itu.

Sambil berjalan di tepi sungai, Habibah mengatakan, "Enak juga ya melakukan begini di akhir pekan?". Aku pun sedikit terhenyak dengan pernyataan itu. Enak? Apanya yang enak? Kalau enak kan pasti banyak orang yang akan turun. Aku berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan orang juga merasa 'enak' seperti yang Habibah rasakan, seperti juga yang aku rasakan. Rasa enak yang absurd inilah yang mahal. Rasa 'enak' inilah yang bisa menjadi fondasi dasar semua kegiatan yang berdasarkan ke-suka-rela-an atau voluntarisme. Tak ada orang yang dibayar di sini, tak ada fasilitas apapun di sini. Bahkan, yang akan ditemui adalah gundukan sampah yang bahkan menggunung, berbau busuk dan menjijikkan. Tapi, ada yang bilang itu semua 'Enak'.

Aku teringat dulu, setahun lalu aku sempat menanyakan hal yang sama pada beberapa orang di Oregon sana, "What makes you do that voluntary works? Why do you want to do it?". Kenapa orang mau-maunya bersihin rumput di taman kota, kenapa mereka mau nyumbang duit banyak untuk restorasi ikan? Buat apa mereka merelakan waktu untuk ini dan untuk itu? Dan jawabannya hanya sederhana, "I feel good with it.". Sesederhana itu saja. Orang merasa baik, orang merasa enak. Mungkin seperti Habibah bilang 'enak' tadi. 

"Apa kamu punya ide untuk KPC Bogor Net?", tanya Bang Asun dan Pak Ntis siangnya, di kantor FWI yang sudah jadi rumah singgah wajib sehabis mulung, selain tentunya kantor INFIS. Pertanyaan ini agak-agak berat gimana gitu ya. Jujur, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri dan kerja yang sebenarnya sibuk gak sibuk. Setelah beberapa waktu aku tidak datang di Sabtu pagi, aku merasa tidak layak menjawab pertanyaan itu. Tunggu, tunggu! "Come on Net, this is not very you! ", kudengar aku memarahi diriku sendiri. Hahaha... Oke, oke. Aku coba jawab pertanyaan itu.

Jadi, sama seperti yang kuceritakan tentang Habibah dan rasa 'enak'nya yang absurd itu. Intinya adalah bagaimana membuat orang merasakan 'enak' itu, 'feel good' itu. Bagaimana membuat Ciliwung mempesona bagi mereka? Bagaimana membuat sungai ini menjadi ajang orang-orang berekpresi. Orang yang mau ibadah, bisa bersyukur dan beramal di Ciliwung. Orang yang agak narsis (saya misalnya) bisa selfie-selfie sambil mulung sampah Ciliwung biar kelihatan jadi orang baik. Hahaha.. Yang doyan bermedsos, bisa update status entah di Fesbuk, Twitter, Path, instagram atau apapun lah dengan hashtag Ciliwung. Orang yang doyan nulis pasti akan banyak bahan tulisan. Orang yang suka riset bisa juga cari bahan riset. Atau orang yang memang doyan nyemplung kali  ya tinggal nyemplung aja. Hehehe.. Sepertinya sederhana kan. Memang pada dasarnya, niat ber-voluntary, umumnya sederhana. 

Bagaimana cara? Yok cari bareng-bareng. Yang jelas nyata bagiku adalah, kalau tujuannya kampanye ya harus dilihat banyak orang, didengar banyak orang. Biarkan orang tahu dan melihat. Kalau mereka lihat kita 'enak' toh mereka pasti akan ikutan. Kalau 'enak' sendiri mah apa bedanya sama 'itu'. Hahaha... Maaf, saya nulis ini sudah agak malam sih,  jadi sedikit nyrempet-nyrempet.  Sepertinya sudah ngantuk saya, jadi sudahan dulu ya. Yang jelas, 'enak absurd' itu yang perlu dicari dan mari temukan itu bersama-sama. 

Bukankah begitu kawan?

Salam cinta dan rinduku pada sungai, gunung, hutan, alam semesta dan manusia yang sangat indah. Muachh..

Dan terutama untuk Ciliwung yang berhasil membuatku bangun pagi di Sabtu pagi! Good job C!


Minggu, 13 Desember 2015 (23:49)

Kaos Ijo kawan-kawan FEMA IPB, aku dan Habibah. C...
(photo by: Sutisna Rey)

Giliran teman-teman FEMA IPB, Pak Joko, Pak Ntis, dan Habibah
(Fotonya pastinya aku yang njepret :) )

-----
(Below is the result summary of my study while I was in World Forest Institute's fellowship program. This was also a paper material that was already accepted for IS-River conference in France-2015 which unfortunately I was not able to attend. I just want to share it again here on my personal blog.) 
----

Public Engagement in River Management, Lessons Learned From The Willamette River in USA to Indonesia’s River

Sudiyah Istichomah

Indonesia,  nonette262@gmail.com


ABSTRACT
There is an obvious need for the public to be involved in the management of natural resources, including forests, rivers, and resources. There are major challenges in Indonesia around river management such as floods, pollution, land conversion, and low community participation. The Minister of Environment stated that in 2014 75% of the large rivers in Indonesia were contaminated. This study aimed to explore how rivers are managed in the US, using the Willamette River in Portland as a case study. The focus was especially on public involvement  and how that can be applied to Indonesia. Many things can be learned from the Willamette River are 1) Government agencies are actively involved in community programs, the public are also actively involved, and there are nonprofit organizations that oversee government management, 2) Things like dam removal, installation of LWD for fish habitat, and re-meandering rivers are all management tools that would benefit Indonesia, 3) The use of an iconic species such as salmon as the impetus to restore the river is an excellent idea. Indonesia can look for an iconic  species  of their own , 4) Using the river as part of urban ecotourism. The Willamette River is a great Portland attraction for things like jogging, sailing, swimming, etc.



KEYWORDS
Public engagement, involvement, river, USA, Indonesia


1           Introduction

      Indonesian River and Challenges

There is an obvious need for the public to be involved in the management of natural resources, including forests, rivers, and resources. Today, water and river management  is an important issue around the world. There are major challenges in Indonesia around river management such as floods, pollution, land conversion, and low community participation. The Minister of Environment stated that in 2014 75% of the large rivers in Indonesia were contaminated.

This study aimed to explore how rivers are managed in the US, using the Willamette River in Portland as a case study. The focus was especially on public involvement  and how that can be applied to Indonesia.

Why this study is important:
  1. Water is necessary for all life on earth. Rivers reflect the level care that is put into managing water resource and they need to be cared for.
  2. Learning how developed countries use public involvement in river management  in important so that developing countries can learn from these models.
  3. The Willamette River is an important river in Oregon. It flows through the city of Portland and has a complex management, influenced by the urban environment with many different governmental and interested parties engaged in its management.
For 6 six months fellowship program in World Forest Institute, June – November 2014, writer did a study to learn about river management within the USA, with case study of the Willamette River in Portland, Oregon State. The study’s objectives are to know about the general condition of the river management and to find lessons learned that can be applied in Indonesia.

Four main questions for this study are,
  1. What is the current state of management of the Willamette River in Portland?
  2. Who are the actors that play a role in the management of the river and what are the roles?
  3. Is there a forum that brings together those parties?
  4. How does it compare with the situation in Indonesia?
The research was conducted in two ways: interviews and literature studies. Interviews were conducted with government agencies, experts, non-profit organizations and the general public in random. Literature was reviewed from websites, journals, news and other sources. A number of  fieldtrips with the World Forest Institute also allowed me to gain knowledge about the management of natural resources, especially rivers of PNW in general.

2. RESULT

2.1 Willamette River – Portland, A river with a long history

The Willamette River Basin is the largest watershed in the state, covering more than 11,500 square miles. Portland occupies only a small fraction of the river’s drainage basin, about one-half of one percent, but is the most urbanized area. Native salmon, steelhead and other fish and wildlife species live within Portland’s urban boundary, and also  migrate through Portland to other parts of the Willamette River Basin, Columbia River Basin and beyond.
The Willamette River faces a lot of problems, including pollution and water quality. In 2000, the federal government established that the river has become one of the Super Fund site cleanup projects because of it’s heavy pollution. This program involves many stakeholders: governments, private companies, numbers of environmental organizations, and also the general public who actively care for the implementation of the programs.

Restoration carried out in upstream rivers and creeks also provide a major influence on the Willamette River in Portland. Restoration of the Willamette River, and generally in the PNW, is closely related to salmon, which has been included in the category of endangered species. Salmon migrations connect the downstream and upstream of river systems and salmon habitat restoration has proven beneficial for the restoration of the river as a whole. Various restoration programs are conducted with the involvement of the general public, such as  volunteer-based tree planting, cleaning streams of garbage, and invasive species removal.

2.2 Actors in Willamette River Management

Who are the actors in river management?
In general, there are four groups that play an active role in management: Government, Private companies/ land owners, nonprofit organizations, and the general public.

Government plays the largest role in river management. They set the policy and develop the manage plans. They engage the public throughout the entire process using various means. Some of these are: transparency – letting the media and public know of their plans, public comment periods for each program so they know what the public wants, providing public field tours, and creating advisory groups.

Nonprofit organizations such as Willamette Riverkeepers or watershed councils can play a complimentary role to government organizations. Through their programs and campaigns, they raise awareness about the river and encourage public to be more. They also can monitor the work of government.

Private companies and land owners typically use a lot of water resources for their business and do have a voice in management of the water. They can support the government and nonprofit organizations that works for river by give fund or have partnership. Landowners usually do the stream restoration and conservation in their property.

The general public is the most important part of this system. The public can actively participate in river management in many ways: read the news and updates about government programs, give active responses during public comment periods, and volunteer in events related to the river.

There are of course many divergent opinions about and interests in the Willamette River. Public engagement is one way to help the various groups work together and understand each other interests in the water. However, developing  discussion forums and consensus on ideas and is difficult and requires a lot of work to have all the parties come together.

Are there forums that bring together interested parties?
Advisory councils and watershed councils provide a forum for people to meet and discuss their concerns about the river.
Watershed councils are locally organized, voluntary, non-regulatory groups established to improve the conditions of watersheds in their local area. They bring together local stakeholders from private, local, state, and federal interests in a partnership, to help plan restoration. In Oregon, there are at least 74 watershed councils that build a big network of people dedicated to supporting the work of river protection and restoration throughout the state.

2.3 Lessons Learned: From Portland to Indonesia
River management in Indonesia is led by the government. There are at least 14 ministries related to water management with the Ministry of Public Work being the main ministry in charge of infrastructure and management of the river. There are also several NGOs that are actively involved in water issues. But there is  a lack of participation by the general public.

In Indonesia, there is also a Water Resources Council, a forum of river management parties at the national or provincial level. They don’t function well however  because coordination is lacking and not everyone’s interests can be accommodated. The most interesting thing is the trend of community volunteer organizations like River Defenders which recently formed all around Indonesia as an expression of concern from a small number of the public for the poor condition of the river.

Many things can be learned from the Willamette River:
  •  Government agencies are actively involved in community programs, the public are also actively involved, and there are nonprofit organizations that oversee government management.
  • Things like dam removal, installation of LWD for fish habitat, and re-meandering rivers are all management tools that would benefit Indonesia.
  • The use of an iconic species such as salmon as the impetus to restore the river is an excellent idea. Indonesia can look for an iconic  species  of their own.
  • Using the river as part of urban ecotourism. The Willamette River is a great Portland attraction for things like jogging, sailing, swimming, etc.. Urban rivers in Indonesia have not been widely used for leisure purposes.

---------

img source: here 








Serayu River - Central Java (2011)


"If you have what it takes to make a big change in the environmental condition in this country, what would you want to do?", one of my friend asked me that question. And now, I am still thinking about that. A simple question doesn't always need a simple answer. It can be so much complicated. But, the simpler is the easier to understand, even for the answerer. So, I think that I would just to answer it in simple way.  

It was all started with my 'accidental' interest in river and water management issue that leads me to know a little faction of this big issue. What I know all this time is that there's something wrong with the water management in this country. And, just like everybody else, the easiest way to do is blaming the government. I said, "They should or shouldn't do this and that, bla bla bla...!". I always ask for action from others with justification that that's all their job and I do not have enough power to do it myself. Then, the question hit me for a second!  

If I have all the resources I need (fund, time, team) in order to change the current poor condition of the river in this country, what would I do? What I want to do? Hahaha.. It really hits me. I didn't have confidence answering it in a blink of eye.  Unexpectedly, I need more time to think. Whoaa...! I got something on my mind that really interest me. Maybe my confusion is just the same thing with what the government has. They have resources, they have power, but maybe they don't any confidence too, just like me. Or, is it just me who lack of imagination? Who knows?

Well, I will try to answer it here.

In this case, I will create a team whose members are credible and expert in the field.  “The right man in the right place”, they said. Every single person on earth has what they can or can’t do by themselves. To do something that we able to do is one of the ways to gain success in our work. Do not make mistake like put someone in the wrong place. Do not make me a singer while I am a tone-deaf person. Just like, do not make an economist to do some conservation jobs. It’s not about if they can’t do the work or vice-versa. Like in an Indian movie ‘3 Idiots’ I watched several years ago, “Can you imagine if Mariah Carey became an Engineer?!” It doesn’t mean that she can’t but her best is to be a singer.

My position? Of course, I would like to choose to be the leader. Why? My experience when I was chosen as a class representative in SD (elementary school) still lingers in my mind and I think it is not a bad idea to do it again. Post power syndrome! (Lol)

Then, I will just ask them the same question, “What would you like to do if you have what it takes to…”.  The right person in the right place and time will know the answer. We will work together as a perfect team! (Somehow, it feels like Multi Level Marketing.

As simple as that!

Further question? Let’s wait for the expert’s answer. Maybe ‘The Fish Goddess’ Riska Darmawanti has an answer regarding the river ecology, or the activist of Ciliwung Sudirman Asun has answer about people’ voluntarism, etc. The names I mentioned here just several names that came to my mind when I was writing this. So, it doesn’t mean anything actually.

How would I know the best person? How can I manage all of them? How to ensure everything is okay? How this and that? (OMG! Why this ‘How’ question is so complicated? How many ‘Hows’ are there? 

I am laughing to myself again. Maybe I am not qualified to be a good leader like I said. It’s a half joke! I would prefer to be one of the team members who work for the river. What can I do? Social Research maybe…. I am still learning too. 

And I don't think that this note can give the real answer to the question itself.

You?

img source: here 





Hutan TN Gede Pangrango dilihat dari Desa Cimande bersebelahan dengan Desa Pancawati, Caringin, Bogor. 


"Ya, di situ di DAS.", kata Pak Jamil (bukan nama asli) - seorang warga desa sambil menunjuk jurang tempat Sungai Cimande mengalir. Dalam hatiku aku was-was. Kenapa? Terdengar lagi satu istilah yang sempat membuatku berkerut : DAS atau Daerah Aliran Sungai. Jangan-jangan,.... Mari disimak apa yang terpikir olehku saat itu. 

Hari ini, aku mengunjungi Desa Pancawati, sebuah desa di Kaki Gunung Pangrango yang diapit oleh rimba yang kini telah berstatus Taman Nasional Gede Pangrango dan daerah-daerah industri terutama Pabrik Danone Aqua yang boleh dikatakan sebagai perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia. Di desa yang katanya merupakan daerah yang dekat atau malah memang daerah 'recharging area' - kawasan untuk serapan air tanah, berbagai kegiatan yang melibatkan perusahaan air itu pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Danone telah menggelontorkan dana CSRnya dan mungkin dana lainnya juga di sini. Melalui LSM lokal setempat, perusahaan itu telah membantu masyarakat setempat baik dalam bidang ekonomi ataupun pembinaan tentang lingkungannya. Tak lupa pula, ada peran taman nasional yang juga ikut kecipratan 'rejeki' dari adanya perusahaan besar ini. Nah, apa hubungannya dengan Pak Jamal dan DAS? Aku bukannya akan membahas tentang program ataupun untung rugi adanya interaksi ini. Aku hanya ingin menggaris-bawahi penggunaan istilah populer, terkesan scientific, cerdas, dan sering sekali disalah-pahami, yaitu DAS. 

Interaksi yang intensif antara masyarakat dengan golongan akademisi, peneliti, perwakilan perusahaan dan aktivis lingkungan yang kadang menggunakan kata-kata dan istilah tertentu, pasti akan menulari pula penduduk dampingan. Karena ini terkait air, maka istilah DAS ikut-ikut terbawa. Bagus di satu sisi. Tapi, jika terjadi kesalah-pahaman tentu menjadi kurang bagus. Nah, ini pula yang aku kuatirkan terjadi dengan Pak Jamal. Ketika dia menyebut kata DAS sambil menunjuk sungai dengan yakinnya, aku mulai ber-dejavu dengan pengalamanku dulu saat aku menemui permasalahan yang serupa. Orang seringkali aku temui menyalah-artikan definisi DAS dengan wilayah kanan-kiri sungai yang dibatasi garis sempadan sungai. Padahal, dua hal itu jelas tidak sama. (Ups, istilah bantaran dan sempada saja ternyata artinya beda. :O) 

"Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan." (UU no. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air). 

Sedangkan garis sempadan sungai adalah garis maya/khayal di kanan dan kiri palung sungai yang ditetapkan untuk perlindungan sungai (PP 38/2011 tentang Sungai). Nah, daerah antara garis sempadan dan palung sungai itu yang mungkin seringkali disalah-pahami sebagai DAS. Silakan disanggah jika asumsiku kurang tepat.

Apa yang membuat dua hal ini sering disama-artikan ya? Ada yang tahu? Monggo kalau mau urun suara bisa dikomen. 

Dengan perkataan Pak Jamil di atas tadi, aku berasumsi bahwa dia salah paham. (Aku akan coba cek lagi kapan-kapan. :) ) Pertanyaan lanjutannya adalah, darimana dia bisa salah paham? Ada dua kemungkinan, yaitu: dia memang salah paham sendiri atau jangan-janan memang pendamping masyarakat yang mengenalkan definisi DAS itu pada Pak Jamil sudah salah paham duluan. Tidak mustahil terjadi kemungkinan yang kedua. 

Nah, lalu yang menjadi perhatianku adalah penggunaan istilah dan bahasa-bahasa tertentu ketika berbicara dengan masyarakat umum. Kenapa ada jurusan khusus komunikasi dengan masyarakat di kampus-kampus terkenal, misalnya saja IPB yang punya KPM (Komunikasi Pengembangan Masyarakat)? Pasti karena berkomunikasi dengan masyarakat itu bukan perkara mudah. Karena itu diperlukan keterampilan khusus yang mumpuni agar apa yang kita sampaikan benar-benar pas dipahami oleh mereka, tidak kurang dan tidak lebih.Jangan sampai salah paham apalagi salah langkah. :)

Aku dulu sempat jengkel terhadap seorang kawan yang punya hobi ngomong dengan 'Bahasa Dewa' - suatu istilah untuk bahasa yang susah dipahami konteks maupun maknanya tapi terdengar 'wah' karenan banyaknya penggunaan kata-kata asing, serapan, dan akademis. Ampun banget orang-orang kayak gini! Pernah aku katakan langsung bahwa bisa saja bagi dia indikator seseorang itu cerdas adalah dari semakin tidak dipahaminya apa yang dibicarakannya. "Semakin orang gak paham, maka lo semakin keren dan cerdas!", kataku saat itu. Tapi, masa ya gitu sih? 

Aih, aku tetiba jadi teringat video rekamana Vicky Prasetyo saat pidato pemilihan Kades dengan bahasa Inggris ngaco-nya, yang diiringi para tetua desa yang manggut-manggut entah kagum, entah ngerti, atau entahlah. Jangan sampai kita seperti itu. 

Lhah kok, nyambungnya sama salah konsepsi DAS apa? Coba kamu sambungkan sendiri, lagipula semua ini hanya asumsiku.

Aku di TKP :) 


Jika Amerika punya Salmon, maka Indonesia punya Chitra chitra sebagai maskot restorasi sungai. Benarkah?

Tulisan ini adalah salah satu jawaban dari pertanyaanku di artikel tentang Salmon (baca: Salmon, Primadona Ikan di Pacific North West). 

Di tulisan sebelumnya, aku membahas tentang Ikan Salmon, yang menjadi maskot restorasi sungai di Amerika Serikat karena masuk dalam kategori satwa terancam punah menurut Endangered Species Act. Status Salmon tersebut mewajibkan pemerintah dan juga warga negara untuk ikut serta melindungi Salmon dengan salah satu caranya adalah memperbaiki tempat hidup atau habitat Salmon, yaitu sungai.

Berangkat dari itu, aku menjadi terpikir, adakah sesuatu maskot yang bisa mendorong adanya restorasi sungai di Indonesia? Kemudian aku teringat dengan geger tahun 2011 kemarin saat ditemukannya Bulus raksasa di Sungai Ciliwung Jakarta, tepatnya di daerah Tanjung Barat (Baca berita: penemuan bulus raksasa Ciliwung). Bulus berukuran panjang hampir 1,5 meter yang memiliki nama ilmiah Chitra chitra javanensis adalah satu dari sekian banyak satwa penghuni Sungai Ciliwung yang masih bertahan sampai saat ini. Dan kemungkinan besar bulus ini bisa menjadi maskot restorasi sungai di Indonesia, khususnya di Jawa yang menjadi habitat utamanya. Inisiasi ini juga sudah dimulai oleh Komunitas Ciliwung.

C. chitra javanensis yang ditemukan di Ciliwung Jakarta November 2011 (img source: here)

Chitra chitra javanensis adalah salah satu subspecies dari Chitra chitra atau nama internasionalnya adalah Asian narrow-headed softshell turtle (Kura-kura Asia dengan tempurung lunak dan dan kepala menyempit).  Urutan taksonomi bulus ini adalah sebagai berikut:

Kingdom: Animalia , Phylum: Chordata, Class: Reptilia, Subclass: Anapsida, Ordo: Tertudines, Sub-Ordo: Cryotidora, Family: Trionychidae, Genus: Chitra, Species: Chitra chitra, sub-species: Chitra chitra javanensis.

Genus Chitra: (A) C indica (Bangladesh); (B) C vandijki (Myanmar); (C) C chitra chitra (Malaysia); (D) C chitra javanensis (Indonesia). (McCord et.al 2002)






Sebaran bulus ini adalah di Pulau Jawa dan juga Sumatra bagian selatan. Bulus Chitra chitra menghuni wilayah perairan air tawar yaitu sungai-sungai. Mereka biasanya berada di bawah lapisan lumpur/pasir sungai.  Spesies bulus ini masuk dalam ketegori Critically Endangered menurut IUCN dan Red List Appendix II dalam CITES. Di Indonesia sendiri dalam PP no. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, species Chitra yang dilindungi adalah Chitra Indica atau Labi-labi Besar yang tentunya berbeda spesies dengan Chitra chitra. Aku tidak bisa menemukan adanya peraturan nasional yang melindungi C. chitra.


Sebaran C. chitra javanensis (McCord et. al 2002)

Ancaman utama kelestarian bulus ini adalah perburuan dan juga rusaknya habitat. Diketahui bahwa perburuan bulus ini banyak dilakukan di daerah Pasuruan – Jawa Timur dan juga beberapa kali di Bengawan Solo – Jawa Tengah. Sebagian besar perburuan dilakukan untuk jual-beli koleksi reptil. Pencemaran sungai yang masih marak berlangsung saat ini juga menjadi ancaman bagi bulus Chitra chitra yang menyukai perairan air tawar yang bersih.

Penemuan bulus raksasa C. chitra javanensis di Sungai Ciliwung menjadi bagian penting dalam upaya restorasi sungai Ciliwung yang dimotori terutama oleh jejaring Komunitas Ciliwung yang kemudian  menetapkan tanggal 11 November yang bertepatan dengan penemuan bulus sebagai Hari Ciliwung. Lalu, setelah 3 tahun sejak November 2011, bagaimana perkembangan restorasi Ciliwung dan bagaimana juga nasib bulus raksasa ini?

Saat aku menulis catatan singkat ini, aku belum banyak menemukan perkembangan berarti terkait riset ilmiah tentang Chitra chitra javanensis yang juga oleh masyarakat lokal disebut Senggawangan. Setelah mencoba berselancar di dunia maya dengan kata kunci ‘Chitra chitra javanensis’, ‘senggawangan’, dan lain-lain yang sekiranya terkait dengan isu bulus raksasa, namun hasilnya tidak terlalu banyak. Menurutku sudah sewajarnya jika hewan langka bahkan dilindungi, harus mendapatkan perhatian lebih terutama juga karena ancaman yang dihadapi cukup berat. Jika tidak ingin menyusul kepunahan species yang juga terjadi di Ciliwung, yang telah memakan korban punahnya 90% spesies ikan asli akibat rusaknya habitat, serangan ikan non-asli invasif, dan eksploitasi.

Upaya untuk melindungi Chitra chitra javanensis terkait langsung dengan restorasi sungai. Langkah yang telah diambil oleh para penggiat Komunitas Ciliwung dengan menjadikannya maskot Ciliwung menurutku sangatlah tepat. Maskot membuat sesuatu menjadi lebih menarik dan bertujuan. Orang akan lebih tertarik dengan suatu tujuan yang ‘nyentrik’ daripada tujuan mulia yang terkadang dinilai ‘basi’ dan terlalu mengawang-awang. Menyelamatkan Bulus Raksasa dari ancaman kepunahan menurutku lebih menarik daripada hanya slogan membersihkan sungai untuk kebaikan bersama. Meskipun pada prakteknya, penyelamatan habitat bulus akan sama artinya dengan restorasi sungai itu sendiri. Seperti orang berjualan, diperlukan branding yang kuat, begitu pula dengan restorasi sungai.

Belajar dari Pacific North West, pantai barat Amerika yang saat ini juga banyak melakukan proyek restorasi sungai, Salmon adalah maskot utama. Perlindungan habitat Salmon telah membawa efek yang kuat terhadap upaya perbaikan kualitas sungai dari hilir sampai hulu, mulai dari program penghijauan daerah riparian hingga proyek besar perobohan dam/bendungan yang nilai dalam dolarnya sangat spektakuler. Salmon telah berhasil menjelma menjadi ikon sungai sehat di sini. Jika Salmon bisa,  Chitra chitra javanensis juga bisa kan?


Referensi:

McCord WP, Prtichard Peter CH.2002. A Review of The Softshell Turtles of The Genus Chitra, With The Description of New Taxa From Myanmar and Indonesia (Java). Centre for Herpetology, Madras Crocodile Bank Trust, Hamadryad Vol. 27, No. 1, pp. 11 – 56. (link)

[IUCN] International Union for Conservation Nature.The IUCN Red List of Threatened Species: Chitra chitra. (link)

Berita:


Mt St Helens di kejauhan, Hutan Nasional Gifford Pinchot, Cold Water Lake

Anveg* (Analisis Vegetasi)? Ekoper** (Ekologi Perairan) ? Olala....

Sejak dari jaman masih sekolah dulu, di praktikum kampus, di Lawalata-IPB bahka hingga sudah ALB, sampai-sampai jauh-jauh ke Amrik, Anveg dan praktek Ekoper masih juga kulakukan. Aku tidak akan membahas tentang teknik Anveg ataupun Ekoper di tulisan ini, hanya sedikit mengunci kenangan 3 hari lalu, saat aku ikut membantu, menjadi volunteer praktikum lapangan siswa high school di Mt St Helens, Washington. Bersama tuan rumah MSHI (Mt St Helens Institue), siswa dan guru dari Centralia High School Washington, dan sejumlah volunteer, kami menghabiskan semalam sehari di pegunungan spektakuler yang masih masuk kawasan Hutan Nasional Gifford Pinchot.




Kamis Sore, 02 Oktober 2014

Aku dan Rick berangkat dari Portland menuju lokasi. Normalnya butuh waktu 2 jam perjalanan dengan mobil. Namun karena kami berangkat ketika jam sibuk dan lalu lintas padat, maka waktu yang diperlukanpun menjadi lebih panjang. Sekitar hampir 2 jam kemudian kami sudah mampir sejenak di sebuah kota kecil (aku lupa namanya) untuk makan malam. Sebuah restoran Mexican pun kami pilih. Sekitar 40 menit kemudian baru dilanjutkan perjalanan menuju Mt St Helens. Hari mulai gelap dan mataharipun segera tenggelam. Kami sampai di lokasi sekitar jam 8 malam dan suasana sepi.

Pintu gedung learning center yand dulunya adalah Visitor center ternyata tidak dikunci. Kamipun masuk dan mendapati ternyata para siswa sedang menonton film 'Dante's Peak', sebuah film tentang letusan gunung berapi yang lebay. Bahkan Sonja, ahli vulkanologis dari MHSI bilang adegan di film itu unrealistic banget. Aku ikut berkenalan dengan sejumlah guru dan volunteer lain. Sambil menunggu siswa selesai menonton film, aku menikmati langit malam yang berbintang serta hamparan hitam gelap pegunungan St Helens di sepanjang mata memandang. Rasanya benar-benar,.. weeww... Amazing!

Sekitar jam setengah 9.15 kami menuju bunkhouse, kompleks rumah para peneliti/ staff di MSHI. Aku menginap di sana malam itu. Suhu udara sekitar 45 F, lumayan dingin. Malam itupun aku tidur nyenyak sekali dan menyadari bahwa aku adalah satu dari sedikit orang yang beruntung menghabiskan malamnya menginap di sekitar gunung itu.



Di depan bunkhouse, tempat menginap semalam


Jum'at pagi, 03 Oktober 2014

Bangun pagi jam 6.00. Langit masih gelap dan udara di luar jangan dikira dinginnya minta ampun. Seduhan teh panas menghangatkanku di pagi itu. Baru jam 7 kemudian berangkat menuju Learning Center untuk sarapan dan juga bersiap untuk kegiatan. Ketika tiba, ternyata banyak murid yang masih bergelatakan tidur di lantai. Mereka belum pada bangun. Lucu banget melihat anak-anak SMA itu pada bergumul dengan sleeping bag dan selimutnya. Sembari menunggu kami, melihat matahari yang baru saja terbit.

Sarapan pagi ala Amerika, cereal dan susu, plus sepotong pisang. Waktu sarapan kulihat ada siswa yang mengenakan penutup kepala hangat berbentuk beruang. Lucu banget... Ajakin foto dulu.

Aku dan beruang lucu Tatiana

Setelah sarapan diadakan sesi perkenalan. Kami para pendamping memulai memperkenalkan diri dan menceritakan aktivitas kami masing-masing dan latar belakang terjun di dunia ilmu pengetahuan. Aku juga nantinya kebagian harus memberi cerita juga. Satu-per satu maju, menceritakan masa kecilnya, kenapa menjadi scientist dan ketertarikan mereka terhadap ilmu. Pas tiba giliranku, sumpah nervous banget. Untungnya aku punya bahan yang bisa kuceritakan. Karena mereka sangat tertarik dengan vulkano (G. berapi) maka banyaklah cerita yg bisa kusampaikan. Secara rumahku cuman 17 km dari salah satu vulkano teraktif di dunia. "That was a great speech!", katanya. Sungguh senangnya di luar negeri begini adalah orang selalu memberi penghargaan atas usaha orang lain.


Perkenalan sambil cerita tentang background keilmuan di depan anak-anak SMA.


Pembagian kelompok dilakukan. Ada 4 kelompok yang terdiri dari sekitar 8 anak. Nama-nama kelompok mengikuti nama pohon: Hemlock, Alder, Willow, dan (aduh lupa). Tiap kelompok akan melakukan 2 kegiatan yaitu pengambilan data terestrial dan akuatik, pada pagi dan siang sesudah makan. Di pagi hari aku menjadi pendamping pengambilan data teresterial bersama tim Hemlock dan setelah makan siang berganti di akuatik bersama Tim Alder. Pagi harinya aku berpasangan dengan pendamping lain yaitu Rick dan di akuatik bersama Elizabeth.

Pengambilan data Terestrial

Tim berjalan menuju lokasi pengambilan data yang ternyata cukup jauh. Perlu berjalan 20 menit menuju ke sana. Untungnya hari itu cerah dan hangat. Setelah tiba, kami dibagikan peralatan yang disimpan dalam satu box besar. Para laki-laki yang kemudian mendapat tugas untuk mengangkut yang terberat. Lokasi telah ditentukan dan tinggal mencarinya dengan GPS. Anggota tim harus bekerja mandiri, kami pendamping hanya membantu jika memang diperlukan. (Baru kutahu ternyata ada sejumlah orang tua yang ikut dalam kegiatan ini).

Mencari titik plot

Butuh waktu cukup lama, sekitar 30 menit untuk menemukan titik plot. Setelah ketemu baru kemudian dibagi-bagi tugas. Kami membantu untuk menjelaskan apa yang bisa mereka lakukan. Tak berapa lama para siswa mulai membuat sebuah plot lingkaran dan juga petak-petak kecil di dalamnya.


Mengukur diameter pohon


Analisa tumbuhan bawah

Mengambil sampel tanah


Ah, aku jadi ingat anveg dulu, kalau dulu banyakan pakai petak ukur, plot lingkaran hanya dipakai untuk hutan homogen. Di sini memang hutannya nyaris homogen. Hampir semua yang tumbuh di sini adalah Douglas Fir, pohon maskotnya Oregon. Bahkan di plot yang dibuat anak-anak inipun semuanya adalah Douglas Fir. Setelah plot selesai, pengambilan sampel tanah di 4 kuadran plot, pengukuran pohon, dan juga tumbuhan bawah. Menjelang jam 12 siang, data berhasil diselesaikan. Saatnya kembali ke gedung utama.

Makan siang dilakukan di jajaran meja piknik di tepi Cold Water Lake. Sandwich yang sudah disiapkan pagi tadi menjadi andalan makan siang hari ini. Sandwich kalkun memang jadi makan siang praktis selama di lapangan. Setelah selesai, baru kemudian masing-masing tim kembali melakukan tugasnya. Aku berganti mendampingi Tim Alder untuk mengambil data akuatif bersama Elizabeth. Sebenarnya aku sudah lupa bagaimana melakukan ini, tapi tidak masalah karena partnerku adalah ahlinya. Aku jadi hanya ikut membantu dan sambil belajar juga.

Pengambilan data Akuatik.

Lokasi pengambilan data akuatik adalah di sekitar Cold Water Lake, tapi bukan di danau utama melainkan di danau-danau kecil di sekitarnya. Seperti pada kegiatan anveg teresterial, hal pertama yang dilakukan adalah menemukan lokasi yang telah ditentukan. Sekali lagi, keterampilan menggunakan GPS perlu diuji. Salah seorang anggota team memegang mengoperasikan GPS dan memimpin anggota lain menuju lokasi yang ternyata tidak mudah dilalui, yaitu melalui semak belukar yang cukup tebal. Di balik semak-semak nampak danau kecil yang airnya bening. Yap, di badan air inilah Tim Alder melakukan kegiatannya.

Danau cantik lokasi pengambilan data


Setelah dijelaskan sebentar oleh Elizabeth, tim dengan sigap membagi tugas: siapa yang mendata vegetasi, siapa yang mengukur parameter fisik, siapa yang mendata biota air, dll. Tidak sampai 5 menit semua anggota sudah tahu apa yang akan mereka lakukan. Salut banget.

 Hal pertama adalah membuat titik-titik stasiun pengamatan. Cukup cepat, hanya sekitar 10 menitan dan 5 stasiun telah dibuat. Selanjutnya mereka melakukan tugasnya. Aku membantu seorang anggota yang bertugas untuk mengukur karakteristik fisik air (pH, konduktivitas, dan kekeruhan) karena kebetulan dia sendirian. Peralatan yang digunakan sangat memadai dan anak-anak ini juga cukup mahir menggunakannya. Dari pengamatanku, hanya pengindentifikasian serangga air yang agak susah dilakukan dan lebih intensif didampingi oleh Elizabeth.

Analisa vegetasi air


Salamander yang ikut masuk di perangkap  serangga

Semuanya bekerja sama :) kompak.

 Sekitar 1,5 jam kemudian semua data telah didapatkan dan semua orang kembali ke tepi danau untuk menunggu penjemputan. Hampir jam 4 sore, bus sekolah menjemput anak-anak ini. Aku ikut naik di bus sekolah kuning itu.
 
Sesampai di gedung utama, anak-anak langsung membersihkan diri dan mengantri untuk makan malam. Aku berbincang sebentar dengan para  pendamping dan guru. Kemudian bersama Rick pamit pulang ke Portland tanpa ikut makan malam bersama. Masih ada 2 jam-an perjalanan, sebelum kami tiba di Portland.

Sungguh satu hari yang sangat indah dan berkesan. Semoga lain kali ada kesempatan lagi untuk ke sini bersama teman-teman yang lainnya.

"Science connect us all.", kata Glenn. Seorang vulkanologis yang sangat antusias dan mencintai vulkano. 

Aku diapit dua siswi Centralia High School.



----------------------------

(Anveg dan Ekoper di sini kuartikan sebagai praktikum sederhana/ dasar yang dulu sering dilakukan saat masih kuliah di IPB dan juga saat aktif di Lawalata. :) )
Pertama kali aku mencoba mengenal sungai di negeri ini, aku langsung diherankan dengan ikan selebriti ini, Salmon. Ikan migran ini memiliki posisi dan pengaruh yang sangat penting terhadap sungai-sungai di negeri ini. Dam dirobohkan untuk memberi jalan pada si ikan ini, instalasi LWD (Large Wood Debris) yang biayanya spektakuler rela dilakukan untuk memberi si ikan tempat memijah, setiap ada proyek yang berhubungan dengan aliran air/ sungai selalu nama Salmon di bawa-bawa untuk memastikan kepentingan si ikan tidak terganggu, bahkan pemerintah federal dengan sengaja membunuh sejumlah pemangsa Salmon (burung, anjing laut). Pokoknya, si Salmon ini bak selebriti di sini. Meski kadang keputusan pemerintah dinilai kurang populer, namun tetap saja dilakukan untuk menjaga si Salmon.

Salmon adalah nama umum yang digunakan untuk menyebut sejumlah jenis ikan dari famili Salmonidae. Ikan-ikan Salmonidae yang tidak tidak disebut Salmon antara lain Trout, Char, Grayling dan Whitefish. Ikan Salmon aslinya berasal dari Samudra Pasifik dan juga Samudra Atlantik bagian utara, meskipun kini sudah banyak budidaya Salmon yang dilakukan hampir di seluruh dunia. Ikan Salmon bersifat 'anadromous' yaitu Salmon yang hidup di laut bermigrasi dari laut ke air tawar untuk bertelur atau bisa juga bagi Salmon yang hidup di air tawar yang bermigrasi ke sungai yang lebih hulu untuk bertelur. Kebalikan dari anadromous adalah catadromous, yaitu ikan air tawar yang  bermigrasi ke laut untuk bertelur. Ada dongeng (folklore) yang menceritakan bahwa Salmon akan kembali tepat dimana dia dilahirkan/ menetas dan menurut beberapa studi hal ini benar. Bagaimana mereka bisa mengingatnya ya?


Salmon life cycle
1. Salmon eggs hatch in the redd
2. Fry grow in the stream
3. Young Salmon migrate downstream and journey to the sea
4. Salmon spend years at sea - feeding, growing and storing nutrients from the ocean
5. Large adult Salmon journey back up the river
6. Adult lay and fertilize eggs (spawn), then die
7. Salmon get eaten and nutrients are spread througout the area (forest, land)

Salmon adalah sumber makanan yang penting. Penduduk asli Amerika (Native America aka Indian) bahkan menyebut Salmon sebagai 'roti'nya orang mereka. Sudah sejak lama, Salmon menjadi makanan paling penting bagi penduduk native. Tidak hanya mereka, hampir semua orang di sini menyukai Salmon. Posisi Salmon dalam ekonomi lokal di daerah inipun menjadi sangat penting. Selain itu, ikan ini juga menjadi sumber makanan penting bagi spesies lain seperti beruang, anjing laut dan juga burung pemangsa.

Salmon dan Native American. Sebuah gambar di Museum at Warm Spring, Oregon

Dalam kaitannya dengan restorasi sungai, Salmon memiliki fungsi penting. Salmon yang bermigrasi dari laut ke hulu mensyaratkan kondisi sungai yang sehat. Kejernihan air, temperatur yang tepat, jalur migrasi yang lancar dan tentu saja tempat bertelur yang nyaman. Dari hilir ke hulu, dari laut ke tempat bertelur, Salmon telah menyatukan satu kepentingan yang sama yaitu sungai yang baik. Jika ada gangguan di tengah jalan, maka rantai migrasi Salmon akan terputus. Pernah suatu ketika, di Kota Portland, temperatur air di Sungai Willamette lebih tinggi dari normal pada saat musim migrasi Salmon. Akhirnya, banyak ikan yang mati kepanasan. Ataupun bendungan yang menutup jalan migrasi sehingga Salmon tidak bisa lewat. Meskipun Salmon adalah ikan yang bisa melompat, tapi tingginya bangunan bendungan tidak bisa dilaluinya. Karena itulah, Salmon mampu berbicara bagaimana kondisi sungai di wilayah ini. Jika Salmon bisa ditemukan di suatu sungai dalam kondisi baik maka bisa diartikan sungai itu cukup baik. Nah, ini pula yang akhirnya membawa Salmon menjadi seleb ikan di sini.

Hutan-hutan di PNW banyak yang dimiliki oleh privat, baik keluarga ataupun korporat. Di hutan-hutan tersebut, mengalir sungai-sungai kecil-besar yang sebagian menjadi jalur migrasi Salmon ataupun tempat bertelur. Hilangnya Salmon dari satu aliran yang dulunya pernah didatangi Salmon adalah pertanda buruk, bahwa ada yang salah dengan sungai. Hal ini bukanlah berita baik dan kadang menjadikan para pemilik lahan was-was. Banyak kelompok pemerhati lingkungan (pemerintah ataupun NGO) yang mengawasi si ikan ini. Masyarakat umumpun juga menaruh perhatian untuk si ikan. Para pemilik lahan dan juga pemerintah umumnya akan melakukan apa saja untuk menjaga ataupun membuat Salmon kembali ke sungai-sungai mereka. Kenapa? Karena "jika sungaimu didatangi Salmon, maka kamu orang yang baik."

Instalasi LWD di hutan privat sebagai tempat untuk Salmon bertelur



Bagaimana dengan Indonesia?

Aku tidak tahu apakah di Indonesia ada ikan migran juga. Ikan migran mungkin bisa dijadikan maskot sungai. Mereka bisa menghubungkan hilir dan hulu. Merekapun bisa bercerita ada apa saja di sepanjang perjalanannya menyusur sungai? Membuat tren menyelamatkan ikan sepertinya bagus juga, secara tidak langsung juga menyelamatkan habitatnya yaitu sungai.

------------



Bendungan 10 Pintu Air Tangerang (Img source: here)

Seminggu yang lalu tepatnya. Aku tak sengaja membaca berita yang sebenarnya biasa saja tapi menjadi luar biasa. Aku merasa terhibur dengan ironi yang disampaikannya. Mirip kata orang, "Menertawakan diri sendiri adalah salah satu hiburan juga." Nah, berita ini juga membuatku mentertawakan negeri ini, mentertawakan diri ini sendiri. 
 
Judul berita online tersebut adalah "Pintu Air Tangerang Bocor, Petugas Sumpal Dengan Sampah". Isinya mengenai bocornya bendung pintu air 10 di Tangerang dan usaha petugas untuk menanggulanginya dengan menyumpal lubang kebocoran dengan sampah sungai. Berita selengkapnya bisa dibaca di link ini

Sebuah postingan di forum terbesar di Indonesia, KASKUS, tepatnya di subforum BPLN (Berita, Politik, Luar Negeri) yang lebih dikenal sebagai BP raya, juga memposting berita ini. Ini linknya : KASKUS. Berita itu mendapat lebih dari 50 komentar dan dilihat lebih dari 1000 kali. Yang menarik bagiku adalah komen-komen dari para netizen penghuni BP raya. Coba simak beberapa komen berikut ini.

1. Yang mengomentari tentang ‘kekreatifan’ pihak PU yang berhasil memanfaatkan sampah sungai agar lebih berguna. Ke-kepepet-an yang dialami petugas PU Tangerang ini dikomentari oleh mereka:





Well, PU telah berhasil dengan tanggap dan sigap menyumbat kebocoran bendungan! Rekayasanya bisa-bisa mengalahkan engineer! Jangan heran, sampah sungaipun ada gunanya juga. Hahahaha.. Jika sampah gak cukup buat nyumpal bendung bocor, petugasnya aja sekalian dilempar buat nyumbat (Yang ini sadis benar, tapi berhasil membuat aku senyum-senyum sendiri.) Yah, inilah Indonesia.

2. Yang mengomentari tentang PU-nya: 



PU Tangerang? No hope katanya. Selain bendungan, coba dilihat proyek PU yang lain. Jalan aspal misalnya, yang kata si juragan ini dikerjakannya hanya ½ hati. Ada yang berkomentar pula tentang enaknya jadi PNS? Kenapa dengan pegawai negeri sipil? Kenapa enak? Entahlah, aku tidak tahu. Tapi yang jelas memang antrian untuk daftar PNS selalu panjang dan berjubel kan. Nah ada pesen juga, buat pns yang sudah jadi: kerja yang baik ya, jangan maruk. Tuh, bendungan kerjain yang bener, masak beli semen buat nyumpel bendung bocor aja gak sanggup. Gimana mau nyumbat uang negara yang katanya ‘bochor-bochor’ di sana-sini.

3. Yang ini memberi usulan untuk bisnis sampah Jakarta – Banten. 



Untuk keperluan menyumbat bendung bocor di Banten, sampah sungai di Jakarta yang jumlahnya sudah, .. Ah sudahlah.. bisa dikirimkan pada yang membutuhkan.

4. Yang ini malah nyangkut prestasi kepala daerah.





Tangerang adalah bagian dari Provinsi Banten yang dipimpin oleh Ratu Atut (sekarang masih gak ya?). Nah, menurut salah satu juragan ini, tindakan PU yang kreatif ini adalah salah satu prestasi Atut sebagai kepala daerah. Hahahaha… Eh ada yang bawa-bawa nama Dagumen di sini. Ada yang tahu siapa dia? Hehehe….


Dan, itulah tadi, sekedar berita konyol yang cukup membawa tawa pada diri sendiri. Menghibur diri dengan kebodohan yang tercipta bersama. Ketika tak ada lagi yang bisa membuat kita tertawa, ya tertawakan diri sendiri. Ah, coba membayangkan, apakah para petugas PU yang menyumpal sampah di bendung bocor itu juga mentertawakan diri mereka sendiri? Seperti layaknya aku dan sejumlah warga di KASKUS yang ikut menyimak berita itu?

Last comment:

Ikut terhibur juga.


 -------------------------