Title: Omotesando Koukou Gasshoubu! /High School Chorus
Genre: Youth, Music, School
Episode: 10
Broadcast period: 2015 July - September
Theme song: Sukida by Little Glee Monster

CAST:

Bagi yang doyan dorama musikal, Omotesando Koukou Gasshoubu! sepertinya menjadi wajib hukumnya. Kenapa? Nah, ada sejumlah poin menarik kenapa dorama ini menjadi laik ditonton dan dinikmati. Bahkan, aransemen vokal di dorama ini dapat penghargaan spesial lho dari Television Academy Award. 

Sebelum baca reveiwnya, simak dulu sinopsis singkat dari d-addicts (Inggris ya :P) 

Sinopsis 

Set in a high school chorus club that faces dissolution, this school drama tells the story of an unconventional high-school girl and how her determination to save the club changes the chorus members and the teacher.

Makoto who has moved from Kagawa prefecture to Omotesando high school in Tokyo is looking forward to joining the once-famous chorus club she had always admired. As she arrives, however, things are not as she had expected. The club hardly has any members, and its instructor - Ariake - who first taught Makoto the joy of singing is a mere shadow of his former self living in misery. Despite the unexpected reality, Makoto is determined to achieve her "goal" in the chorus club where her parents enjoyed their students life. However, her classmates react to her efforts to recruit new members with only hostility, with some even telling her to stop being engaged in the club. -- TBS

REVIEW - Menguliti Dorama

Awalnya, aku tidak terlalu tertarik menonton dorama ini, tapi setelah aku melihat daftar pemenang di TV academy award musim kemarin, ada beberapa kali dorama ini nongol sebagai pemenang, misalnya aktris muda belia Yoshine Kyoko yang berhasil menyabet gelar sebagai pemeran terbaik wanita dan juga penghargaan khusus untuk musiknya. Dan ternyata, aku tidak kecewa. Dorama ini memang cukup bagus. 

Ide Cerita
Sebenarnya sih ceritanya sederhana banget kan, seorang gadis SMA yang hobi menyanyi, datang ke sekolah baru dan menjadi inspirasi aktifnya chorus atau gasshou atau padusa  (paduan suara) di sekolah barunya. Dengan latar cerita, dia ingin menyelamatkan orang tuanya yang hampir bercerai dengan mencoba menemukan lagu cinta yang mungkin bisa mengingatkan orang tuanya tentang masa muda mereka. Yeah, gitu deh. Cerita ini juga diselingi dengan kisah cinta ala remaja dan juga romansa keluarga. Cerita yang sederhana tapi sangat mudah dinikmati dan juga sangat manis. 
Ada beberapa hal yang mau disampaikan oleh dorama ini sepertinya, dan berikut ada sejumlah hal yang menjadi catatanku: 

  1. Follow your passion! Ikuti panggilan hatimu. Kagawa Makoto yang mencintai bernyanyi di sebuah chorus terus  tanpa menyerah mengejar panggilan hatinya. Hingga akhirnya dia bisa menjadi inspirasi orang-orang di sekitarnya. Enjoy yourself by follow your passion!, gitu kali ya. 
  2. Family is everything. Yup, keluarga itu bagaimanapun juga adalah keluarga, sebaiknya tidak berpisah. Apapun yang terjadi mereka adalah yang selalu ada buat kita. Ikatan dalam sebuah keluarga tak tergantikan. 
  3. Friendship is never die! Apa sih yang bisa ngalahin serunya, indahnya dan berwarnanya persahabatan saat remaja?! Ya, jika orang bilang masa SMA adalah masa paling bahagia, aku setuju saja. Persahabatan anak-anak di Ometesando Gasshou cukup bisa menggambarkan indahnya masa itu. Eaa...
Lagi pada latihan nyanyi. 
  1. Sing with your soul! Khusus bagi yang doyan nyanyi, maka ketulusan menjadi modal penting agar lagu kita dapat kita nyanyikan sepenuh hati dan sampai pada mereka yang mendengarkan. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak gasshou ini bagus banget. Di beberapa lagu aku bahkan sampai menangis terharu. Lagu di episode 6 dan lagu terakhir 'Ai no Uta' adalah lagu yang kena banget. 
  2. Enjoy love while you're young. Nikmati cinta monyet. Yohai, mumpung muda nikmati cinta. Cinta saat kita muda adalah cinta tanpa syarat. Karena semakin dewasa, cinta kadang berubah jadi itung-itungan untung rugi untuk investasi masa depan. Kalau pas SMA kurasa perasaan itu lebih bebas, maka ungkapkan dan nikmati masa-masa itu. Ada cerita cinta segitiga Makoto - Natsume - Yuria; cinta segitiga luar biasa Rina - Daisuke - Tasuku, Cinta tak berbalas aka friend zone Rentaro - Miko, dan lain-lainnya. Aih, jadi ingat ceritaku sendiri. :)
Makoto dan Natsume, cute banget kan. (img: here)

  1. Ada yang mau nambahin?
CAST
Para pemerannya seger-seger. Orang-orang muda yang penuh dengan gairah muda dan juga ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Hehehe... Yang pasti Shison Jun berhasil mencuri perhatian sebagai seorang flower boy di sini. Aktingnya lumayan baik dan tatapan matanyan itu lho, dalem. Yoshine Kyoko sudah dapat penghargaan jadi ya, pasti lah bagus. Semangatnya itu seakan ikut memberiku semangat juga. Yoshimoto Miyu yang merani Tani Yuria cantik banget, sumpah. Akting antagonisnya di separuh episode awal keren. (Btw Shison Jun dan Yoshimoto Miyu nanti reunian di 5 to 9, ada adegan kissing juga, yuhuu...super spoiler.) Anak-anak gasshou lain juga oke. 

Ariake Sensei (img: here)

Lalu bagaimana dengan sang guru Ariake Sensei? Shirota Yu jelas lebih ganteng sekarang dibanding dulu. Biking melting deh lihat bodinya yang tinggi besar itu, hahaha... "30, guru, single:, Kalau gurunya kayak gini, bakal rajin sekolah pastinya. Ibu Kepala sekolah aku juga suka, rasanya ngayomi gitu. 
Cast lain gak perlu dibahas ya karena nanti kepanjangan. :P
Euy, Nakashima Mika juga akan main lho jadi bintang tamu di salah satu episodenya. Keren banget deh pokoknya. Dia juga cantik banget. 

Nakashima Mika bareng sama anak-anak gasshou. (img: here)


Setting
No Komen! Bagus kok, Tapi tak banyak yang bisa diomongin. Ya, kalau paling memorable ya pastinya halaman sekolah yang jadi tempat memorinya orang tua Makoto yang juga jadi tempat latihan anak-anak gasshou. 

OST dan Lagu Tema
Nah, ini adalah bagian paling menarik soalnya ini dorama musikal. Karena di tiap episode ada minimal 1 lagu. Karena sudah ada yang bikin daftar lagunya langsung saja ya kunjungi halamannya di sini, siapa tahu kamu mau kepo. :) 

Secara keseluruhan aku menikmati nonton dorama ini. Coba deh kamu juga nonton dan nikmati lagu-lagu indah yang dinyanyikan oleh Omotesando Koukou Gasshou! 

My personal score: 8/10 
Yang mau ngintip website resminya : TBS 
Lebih lanjut bisa lihat juga di: d-addicts ; asianwiki
Yang mau nonton: cari link-nya sendiri ya. hehe

Beberapa hari yang lalu aku nonton di bioskop untuk ke-2 kalinya filem 'The Revenant'. Ya memang itu adalah filem yang sangat bagus hingga untuk nonton lebih dari sekalipun sangat worthed atau nggak ada ruginya. Bukan sekali itu saja aku nonton satu film sampai lebih dari satu kali, yaitu 2 kali. Belum pernah juga sih aku nonton sampai 3 kali ulangan. Nah, aku jadi ingin mendaftar sejumlah film yang pernah kutonton ulang itu. Berarti, film-film berikut ini bagus menurut penilaianku, sehingga mengeluarkan duit dobel untuk nonton cerita yang sudah kita tahu pun rasanya gak rugi. Yah, meskipun nonton ulang bisa jadi karena diajakin atau digratisin sih, sikon saja itu. Tapi yang jelas, film-film ini mayan bagus lah buatku. 

  1. THE REVENANT 


Kalau mau tahu tentang filmnya buka ada di imdb.    
Kenapa? Karena film ini sangat indah visualisasinya. Meskipun ceritanya rada-rada gory dan sadis, tapi keindahan sang Mother Nature dan juga kejamnya human nature seakan menghipnotis banget. Musik garapan Sakamoto Ryuichi juga indah meskipun mencekam. Pokoknya indah banget deh. Rugi gak nonton film ini. Ya, tinggal tutup mata aja sih pas adegan berdarah-darahnya. Haha.. Terimakasih buat teman nonton yang ke-2 ya, yang sudah bela-belain nonton ini, padahal sebenarnya aku yang ngebet. 









2. CHAPPIE

Tentang filmi ini -> imdb
 Nah, kalau Chappie ini awalnya nonton gak sengaja karena memang bingung lagi mau nonton apa, dan kebetulan banget waktu itu ada yang bayarin. Yuhuu.. gretongan. Dan ternyata, film yang bercerita tentang robot polisi lucu dan lumayan bagus. Ceritanya cukup membuat kita terharu dan terhibur lah. Selain itu, duo rap rave group dari Afrika Selatan  'Die Antwood' yang ikut main di sini, ternyata unyu banget, lagunya juga easy listening. Jadi deh, abis nonton Chappie langsung kepo sama mereka. Nah, nonton yang ke-2 kalinya itu gara-gara teman ngajak nonton terus film yang dipajang waktu itu gak ada yang menarik, akhirnya kusarankan saja Chappie meski aku sudah nonton dua kali. dan yap! teman-temanku juga pada suka. Tuh kan.. bagus. 






3. COMIC 8, Casino Kings Part 1. 

Tentang Comic 8 -> imdb
Kalau cerita nonton 2 kali film ini sebenarnya gak beda jauh sama Chappie, gara-gara diajakin lagi nonton dan ternyata gak ada pilihan lain. Memang, Comic 8 adalah salah satu film komedi unggulan di Indonesia, lucu banget,  eh, lucu aja sih. Tapi aku suka. Ceritanya ala ala action gitu tapi kocak. Dialog-dialognya juga cukup cerdas dan ngocok perut. Yaiya lah ya, secara mereka para komik professional. 











Lhah, terus apa lagi ya? Kok aku lupa. Kayaknya itu dulu deh, sejumlah film yang sempat kutonton 2 kali. Nanti kalau udah ingat disambung lagi. 



 
Title (romaji): Tamiou
Genre: Comedy, drama, political
Episodes: 8
Broadcast period: 2015-Jul-24 to 2015-Sep-11
Theme song: Stress Free by miwa

CAST
Endo Kenichi as Muto Taizan
Suda Masaki as Muto Sho
Motokariya Yuika as Minami Mai
Jiyoung as Murano Erika
Takahashi Issei as Kaibara Mohei

Kenapa nonton Tamiou? Tentu, karena Tamiou adalah dorama terbaik di musim panas 2015 ini! Masaki Suda dan juga Kenichi Endo akan membuat penontonnya tertawa geli melihat kisah konyol Perdana Menteri Jepang yang sangar dan anak lelakinya yang rada-rada bodoh. 
Simak ya, sinopsis dulu baru review-ku. 

Sinopsis 

(dari d-addicts.com /Bahasa Inggris ya..)

One day, the current prime minister of Japan, Muto Taizan, and his useless son, Sho, suddenly discover that they have switched bodies. With no known cause or solution at hand, Sho reluctantly ends up appearing in the Diet on his father’s behalf. But he completely cannot follow the deliberations as well as the questions and answers because it has been his routine to skip his studies. He is also repeatedly caught making childish responses or misreading kanji in documents. However, untainted by the adult world, Sho's straightforward opinions and genuine feelings start to mobilise the Diet and the public. On the other hand, Taizan has to lead the life of a university student and search for a job on behalf of his son, but with the brains of a prime minister. He refutes arrogant interviewers with his overwhelming knowledge and debating skills. Although Taizan wins the war of words, he is an absolute failure in the interviews itself. Furthermore, several peculiar girls whom Sho has had relationships with appear and makes Taizan more bewildered. 


Para pemeran utama di sini semua..
(img: here)

Menguliti Dorama


Beberapa alasan kenapa harus nonton TAMIOU.

1.  Ceritanya! Sumpah konyol tapi lucu
Cerita tukar badan sebenarnya bukan hal yang baru-baru banget sih, tapi TAMIOU tetap segar ditonton karena kekonyolan ceritanya. Bayangkan, seorang PM yang tidak bisa membaca kanji dan salah baca teks pas pidato kenegaraan! Atau, seorang mahasiswa yang bodoh tiba-tiba menjadi sangat cerdas? Hahaha, dibumbui intrik-intrik politik yang ringan-ringan saja dan sangat mudah dicerna, TAMIOU sangat asik diikuti jalan ceritanya. Mengalir dengan tempo yang cepat dan hemat. Ya ya ya, cuma 8 episode saja! Bisa banget untuk maratonan di akhir pekan.

2.  Cast yang keren!
Ada yang kenal Om Kenichi Endo, pasti kenal dong. Si Om yang sering jadi detektif polisi ini (Ingat di Monster 2012, Border 2013, dan AndoLoyd 2013), kali ini jadi seorang PM, dan lebih sering jadi mahasiswa yang pura-pura jadi PM. Kesan angker dan bermuka seperti buaya akan musnah di sini karena si Om ternyata sangat unyuuuu meranin jadi mahasiwa. Sedangkan peran utama lain yaitu Masaki Suda  juga sangat baik memerankan Mutou Sho, si mahasiswa bodoh dan kemudian menjadi PM. Waduh beribet ya, intinya antara Kenichi Endo dan Masaki Suda, mereka berbagi peran yang sama.
Pemeran lainnya, mayan juga lah.  Jiyong yang meranin Erika sangat cantik dan seksi. Yup, bintang Korea ini kok fasih banget ya Nihongo-nya?

Masaki Suda lucu juga dengan rambut kritingnya.
Img: here

3. Settingnya bagus dan kostumnya rapih
Pengen tahu gimana ruangannya Perdana Menteri Jepang? Atau ruangan sidang angota dewan? Nah, boleh banget nih. Penonton akan diajak-ajak melihat-melihat ruangan-ruangan penting tersebut. Ah, tapi gak yakin juga sih itu ruangan aslinya. Hehehe.. Latar-latar lainnya gak terlalu berkesan sih, kecuali lantai atas rumah  yang awalnya mau dibikin museum itu, wow rada-rada angker gitu deh.
Nah, kalau kostum. Aku suka lihat cowok pake suit lengkap. Wah, puas deh lihat para tokoh-tokohnya pakai baju formal terus. Tapi, seru juga lihat Kenichi Endo pake celana jersey warna terang, kaos bergambar kartun dan cardigan pink? Hahaha.. Dan tentunya yang rambut kritingnya itu lho..kakkoii!

Mau lihat Om Kenichi Endo dan Masaki Suda main sumo? :P
(img: here)


4. Lagu Tema dan OST
Yup, lagu temanya di akhir drama, dinyanyikan oleh Miwaa berjudul Stress Free. Lagunya ceria dan menambahkan kesan bahwa dorama ini adalah dorama komedi yang ceria. Yuhuuu… Kalau OST, aku tidak terlalu memperhatikannya sih. Hehe..


Oke deh, kayaknya cukup lah segitu. Akhir –akhir ini aku sibuk banget dengan kegiatan lain jadi rada susah nyari waktu buat nulis. Tapi, aku akan sempatin sehingga makin banyak dorama yang bisa kureview. Pokoknya nonton TAMIOU deh, lumayan buat ngisi waktu. Sumpah lucu! Gak percuma ini dorama yang jadi best dorama di Television Drama Academy Award untuk Summer 2015, ngalahin Death Note yang waktu itu lagi anget-angetnya. :P



Menikmati lagu, ini asalah salah satu adegan paling sweet juga.
(img: here)


So, mari menyanyi dan nonton dorama! :D

Bahwa sebuah perjalanan itu, traveling itu, tidak terbatas pada jalan-jalan badan saja, mengunjungi tempat baru saja, bertemu orang baru saja dan belajar budaya baru saja. Bertemu dengan sisi lain diri sendiri juga adalah sebuah petualangan yang menakjubkan! 

Well, (Fyuh, sebenarnya aku paling anti nulis campur baur bahasa Indonesia-Inggris tapi memang kadang 'rasa'nya beda, feelnya beda. Hahaha.. So, lupakan dulu sekarang.) . Balik lagi, well, cerita ini berawal ketika pada suatu libur panjang akhir minggu aku bingung mau ngapain. Mau naik gunung gak ada temen, mau jalan jauh dikit duit mepet dan jalanan macet dimana-mana, ngabisin waktu di rumah rasanya sayang banget. Hingga kemudian Sheila, seorang kawanku yang kece badai, ngusulin "Mbak, gimana kalau kita cosplay-an?". 

Semua orang pasti punya hal-hal yang ingin dilakukan dalam hidupnya, yah semacam Bucket list lah (siapa yang sudah lihat filmnya? Cung!) yang berisi hal-hal yang ingin dilakukan sebelum waktu hidup habis, 'Things to do before you die!'. Nah, aku dan pastinya kamu juga punya kan daftar semacam ini. Aku juga ada! Selain ingin bertemu penguin langsung di Antartika, salah satu daftar di Bucket list-ku adalah bermain kostum atau Cosplay.

Ajakan Sheila tentunya adalah pertanda bahwa saatnya telah tiba satu dari bucket listku perlu dicoret. Sip, mari kita cobain bermain kostum, berdandan memainkan suatu karakter dalam balutan kostum dan pamer di depan orang banyak. Rencana untuk ber-cosplay di Tokyo bolehlah tertunda, kita bisa berekspresi juga di dekat sini, dan Kota Tua Jakarta adalah pilihan utama. Apa yang cocok dengan Kota Tua, tentunya noni-noni Belanda ( yang ujung-ujungnya malah cosplay jurig). Haha! Let's just do it.

So, hari itu tanggal 26 September, aku dan Sheila dibantu Habibah yang setia jadi asisten dan juga Jamani Uyee sang fotografer melakukan petualangan seru. Yah, minimal buatku lah. Aku merasakan kesenangan yang mirip saat kurasakan saat aku jalan-jalan. Ada rasa baru, ada petualangan baru. Bedanya, ini bukan lagi eksplorasi ruang, budaya dan manusia di luar sana, tapi lebih ke sesuatu yang ada pada diriku sendiri yang selama ini masih terpendam. Dan ketika dia dibebaskan, wuhhh rasanya itu lho, kayak sedang menatap megahnya Gunung St. Helens di Washington sana. Sumpah deh!

Jadi, kesimpulanku adalah konsep traveling itu bukan melulu jalan-jalan, bisa juga dengan mewujudkan hal-hal yang sangat ingin kita lakukan, segila apapun, seaneh apapun, se-absurd apapun. Yah, asal jangan yang kriminal aja.

Terimakasih ya,
  • untuk Sheila sang partner yang mau gila bersamaku,
  • Untuk Jamani Uyee yang mau jadi fotografer kami (I am your fan!)
  • Untuk Habibah yang menjadi asisten terbaik
  • Dabibah untuk kostum
  • Dan untuk diriku sendiri juga yang mau melakukan petualangan seru ini.


Berikut adalah beberapa foto karya sang fotografer saat kami cosplay-an kemarin. Keren kan! :)  Lain kali bolehlah cosplay-an lagi. Jadi zombie kayaknya seru juga. :D

Note: Aku tidak pakai buka kbbi ataupun oxford dictionary, jadi arti kata ya suka-suka.. hehe


Dandan dulu :)

Another good shot! :)

Ujung-ujungnya jadi begini :P
Kayaknya ini yang paling bagus deh. :)

Fotografer kita +jamani uye 

Behind the scene lah ceritanyah :)



Let's travel, let's adventure, let's have fun! 
(Catatan: Riska, Bang Asun, Pak Ntis, Habibah, dan nama-nama yang kucatut, mohon ijinnya ya.. Hehehe)


Siapa yang suka bangun pagi di akhir pekan?!  Adakah? Apakah aku? Akupun ragu. Dan ini adalah cerita tentang Sabtu pagi-ku di pertengahan Desember. Cerita yang berlatarkan Ciliwung dan ke-tiba-tiba-an (mungkin kalau istilah Inggrisnya Ke-suddenly-an kali ya) niatku yang ujug-ujug muncul. Simak ya.

Jumat malam itu aku buka-buka dan kubaca SMS masuk. Satu SMS yang selalu hadir tiap Jumat itu berbunyi: "KPC Bogor Sabtu 12/12/15 mulung sampah bebersih Ciliwung. Kumpul pkl 08.00 wib di depan mesin pencacah plastik KPC Sempur. CP Joko 021xxxx.". Aih, beberapa kawan-kawanku di Bogor pastilah sudah sangat akrab dengan SMS itu. Kamu juga sering dapat ya? Hehehe.. Seingatku dulu, ada ratusan nomer HP yang mendapatkan SMS rutin itu tiap Jumat. Dan ini sudah tahun ke-7, KPC Bogor bergelut dengan Ciliwung, mengajak puluhan-ratusan-bahkan ribuan orang untuk menengok kembali sungai yang pernah jadi wajah sejarah Pajajaran ini. (Kenapa sejarah? Aku teringat cerita jalur tamu dan jalur bangsawan, cerita dari Mas Hari Kikuk tentang sungai ini di jaman dulu.). Kubaca sekilas SMS itu, dan ujug-ujug aku merasa berkepentingan untuk ke Sempur. Okelah, fix! Besok pagi aku ikut mulung. Kuajak Habibah, kawan kosanku yang masih muda belia, dan tak banyak cingcong dia langsung jawab "Oke mbak!".

Tidak jauh, meskipun tak bisa dibilang dekat juga. Kami sampai di Sempur, turun dari angkot 03 yang sesak, jam 8 kurang sepuluh menit. Di tempat berkumpul kulihat seorang ibu paruh baya sedang asik menikmati sebatang rokok. Alamak, jadi pengen juga. Ups, tahan dulu. Kusapa si ibu dan kutanya apa dia datang untuk KPC. Eh, ternyata dia hanya sedang menikmati pagi rupanya. Ah, yasudahlah. Tak berapa lama, Pak Joko sang CP (Contact Person) muncul. Dia mengatakan akan datang juga kawan dari IPB, tepatnya dari Fakultas Ekologi Manusia yang ingin gabung mulung Sabtu pagi ini. Ah, baguslah. Semakin rame biar semakin seru. Dan datanglah mereka, 5 cewek berkerudung dengan kaos hijau pastel kembar. Salah seorang membawa tripod dan lainnya membawa kamera DSLR. Tarohan, pasti tugas kuliah. Hehehe.. Dan memang benar dugaanku.  Mereka pun membuat entahlah, semacam film mungkin, dengan mewawancarai Pak Joko. Aku dan Habibah, melihat-lihat saja sambil sesekali selfie di pinggir sungai. Waktu berselang dan Pak Ntis datang membawa senjata kami: KARUNG!!!

Laskar Karung KPC - Sabtu pagi itu
(Photo by: Sutisna Rey)
Aku dan Habibah mulai mulung duluan. Kuambil 2 karung, satu untuk seorang dan kami turun ke sungai. Kulihat, sampah banyak nyangkut di tepi sungai, terbawa banjir semalam. Gak kebayang, sampah dari mana saja ini? Mulailah aku dan Habibah mulung apa yang bisa dipulung, mulai dari bungkus detergen, bungkus indomi, hingga kutang dan puluhan popok bayi. Nah, yang terakhir itu perlu digaris-bawahi, POPOK BAYI. Astaga,...! Kenapa ya orang-orang ini? Sakit jiwa? Kenapa banyak banget ya popok bayi di kali? Sejak mulung kapan tahun, popok bayi seakan jadi tamu wajib. Bahkan, pernah nih, aku dapat popok bayi yang masih segar berisi. Pasti tahu kan isinya apa? Pokoknya, warnanya gak kalah gonjreng dibanding bendera partai sebelah itu. Jadi gatel pingin ngomongin popok nih. Yuk mari,..

Penggunaan popok bayi sekali pakai sepertinya memang menjadi hal yang perlu diperhatikan. Karena sepertinya, para ibu-ibu (atau bapak-bapak?) penggunanya masih bingung bagaimana cara mengelolanya. "Make'nya sih gampang. Sekali bayi brott langsung buang gak perlu dicuci." Iya sih. Tapi, buangnya gak harus di kali juga. Lalu dimana? Di tempat sampah? Bau kali, jorok, dll. Lah, dikira dibuang di kali gak jorok? Sebenarnya aku pun gak tahu gimana caranya buang popok bayi bekas yang benar. Maklum belum pernah ber-bayi. Apakah di kuning harus dibuang dulu di WC, atau langsung aja buang bareng sama popok-popoknya. Entahlah. Tapi yang jelas, yang make harusnya tahu. Yang jual harusnya juga ngasih tahu. Btw, dikasih tahu gak sih? Jadi ingat sama Jeng Riska, sang dewi Ikan dari Surabaya yang pernah getol mengangkat fenomena popok bayi ini juga. Jeng, gimana sekarang kondisi Kali Surabaya? Apakah popok masih banyak dijumpa? Bang Asun sempat mengajak ber-ide,"Gimana ya caranya biar orang gak buang popok di kali? Apa perlu kita bikin mitos? Orang kita kalau ke mitos lebih cepat percayanya!". Ah, bener juga kataku. Bikin aja rumor,"Buang popok di kali bisa bikin ruam pantat bayi.". Kali-kali aja itu manjur. Sudahlah, popok bayi mah. Lanjut  lagi,..

Oops, ada popok bayi pasti di sana!
(Photo: Sutisna Rey)

Kawan-kawan dari IPB pun ikut nyemplung bersama, jadi ada 5 tambah 2 tambah 2, ahh. 9 orang totalnya yang mulung hari ini. Lumayanlah. Kami bersemangat mengangkut sampah-sampah itu. Aku, paling senang, mengais-ngais sampah yang nyangkut di celah batu. Sampah kayak gitu, kelihatannya dikit, tapi wooo...aslinya banyak. Lebih seru lagi kalau nemu 'Anaconda Ciliwung'. Dijamin keringat mengucur deras. Satu demi satu sampah kami masukkan karung, hingga kemudian tercium baru menyengat yang hampir membuatku muntah. Di dunia ini, hanya satu bau yang bisa membuat mataku langsung merah berair dan perutku seakan mau keluar. Bau bangkai. Dan di Sabtu pagi inipun, bau ini hampir berhasil membuatku mual. Aku tidak sanggup lagi dan tak berapa kami penuhi karung, kami berhenti. Kebetulan karung juga sudah habis, meskipun sampah masih berserakan. Cukup hari ini. Kamipun berpisah dan kembali ke aktivitas masing-masing. Hampir jam 10 pagi waktu itu.

Sambil berjalan di tepi sungai, Habibah mengatakan, "Enak juga ya melakukan begini di akhir pekan?". Aku pun sedikit terhenyak dengan pernyataan itu. Enak? Apanya yang enak? Kalau enak kan pasti banyak orang yang akan turun. Aku berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan orang juga merasa 'enak' seperti yang Habibah rasakan, seperti juga yang aku rasakan. Rasa enak yang absurd inilah yang mahal. Rasa 'enak' inilah yang bisa menjadi fondasi dasar semua kegiatan yang berdasarkan ke-suka-rela-an atau voluntarisme. Tak ada orang yang dibayar di sini, tak ada fasilitas apapun di sini. Bahkan, yang akan ditemui adalah gundukan sampah yang bahkan menggunung, berbau busuk dan menjijikkan. Tapi, ada yang bilang itu semua 'Enak'.

Aku teringat dulu, setahun lalu aku sempat menanyakan hal yang sama pada beberapa orang di Oregon sana, "What makes you do that voluntary works? Why do you want to do it?". Kenapa orang mau-maunya bersihin rumput di taman kota, kenapa mereka mau nyumbang duit banyak untuk restorasi ikan? Buat apa mereka merelakan waktu untuk ini dan untuk itu? Dan jawabannya hanya sederhana, "I feel good with it.". Sesederhana itu saja. Orang merasa baik, orang merasa enak. Mungkin seperti Habibah bilang 'enak' tadi. 

"Apa kamu punya ide untuk KPC Bogor Net?", tanya Bang Asun dan Pak Ntis siangnya, di kantor FWI yang sudah jadi rumah singgah wajib sehabis mulung, selain tentunya kantor INFIS. Pertanyaan ini agak-agak berat gimana gitu ya. Jujur, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri dan kerja yang sebenarnya sibuk gak sibuk. Setelah beberapa waktu aku tidak datang di Sabtu pagi, aku merasa tidak layak menjawab pertanyaan itu. Tunggu, tunggu! "Come on Net, this is not very you! ", kudengar aku memarahi diriku sendiri. Hahaha... Oke, oke. Aku coba jawab pertanyaan itu.

Jadi, sama seperti yang kuceritakan tentang Habibah dan rasa 'enak'nya yang absurd itu. Intinya adalah bagaimana membuat orang merasakan 'enak' itu, 'feel good' itu. Bagaimana membuat Ciliwung mempesona bagi mereka? Bagaimana membuat sungai ini menjadi ajang orang-orang berekpresi. Orang yang mau ibadah, bisa bersyukur dan beramal di Ciliwung. Orang yang agak narsis (saya misalnya) bisa selfie-selfie sambil mulung sampah Ciliwung biar kelihatan jadi orang baik. Hahaha.. Yang doyan bermedsos, bisa update status entah di Fesbuk, Twitter, Path, instagram atau apapun lah dengan hashtag Ciliwung. Orang yang doyan nulis pasti akan banyak bahan tulisan. Orang yang suka riset bisa juga cari bahan riset. Atau orang yang memang doyan nyemplung kali  ya tinggal nyemplung aja. Hehehe.. Sepertinya sederhana kan. Memang pada dasarnya, niat ber-voluntary, umumnya sederhana. 

Bagaimana cara? Yok cari bareng-bareng. Yang jelas nyata bagiku adalah, kalau tujuannya kampanye ya harus dilihat banyak orang, didengar banyak orang. Biarkan orang tahu dan melihat. Kalau mereka lihat kita 'enak' toh mereka pasti akan ikutan. Kalau 'enak' sendiri mah apa bedanya sama 'itu'. Hahaha... Maaf, saya nulis ini sudah agak malam sih,  jadi sedikit nyrempet-nyrempet.  Sepertinya sudah ngantuk saya, jadi sudahan dulu ya. Yang jelas, 'enak absurd' itu yang perlu dicari dan mari temukan itu bersama-sama. 

Bukankah begitu kawan?

Salam cinta dan rinduku pada sungai, gunung, hutan, alam semesta dan manusia yang sangat indah. Muachh..

Dan terutama untuk Ciliwung yang berhasil membuatku bangun pagi di Sabtu pagi! Good job C!


Minggu, 13 Desember 2015 (23:49)

Kaos Ijo kawan-kawan FEMA IPB, aku dan Habibah. C...
(photo by: Sutisna Rey)

Giliran teman-teman FEMA IPB, Pak Joko, Pak Ntis, dan Habibah
(Fotonya pastinya aku yang njepret :) )

-----

Sebagian cerita dari MeNeHe 41 hari ini :)
Tidak mudah untuk bisa bertemu dan berkumpul dengan kawan lama. Tapi, tidak sulit juga. Seperti pula malam ini. Tanpa basa-basi, tanpa rencana berarti, byarrr..., begitu saja, aku bisa bersua dan sekedar berbagi cerita dengan teman sekelas semasa kuliah dulu, MeNeHe 41. Untuk Sandhi, Lita, Amri, Clara, dan Priyo, aku senang sekali bisa ketemu kalian lagi setelah sekian lamanya. Jika bisa mengekspresikan diriku sebebasnya, aku pasti akan jingkrak-jingkrak ketemu kalian. Sayangnya, aku masih jadi orang yang pemalu seperti biasanya. Ehemm,...

Malam ini, dan juga seperti dulu juga, yang menjadi hot artisnya adalah 'Si Peneliti dari Kendal -Manokwari'. You know who lah gaes! Sandhi Imam Maulana sepertinya tetap akan kurus kering dengan 46 kilo-nya itu seperti pula tetap koplak dan secablak  yang kutahu ketika ia masih belum jadi S.Hut.  Gaes, padahal sekarang doi udah Master, lulusan kampus beken di Ausie, buntutnya sudah dua pula, tapi Sandhi tetap aja Sandhi yang sama. Sama? Sama-sama masih 'ndeso'. Sorry San, tapi cerita pengalamanmu di Ausie yang paling nempel di kepalaku lho. Ingat cewek berhanduk? Atau si 40%? Atau gaya-gayaan di Belanda? Hahaha... Konyol sumpah! But, I like it! Just so you know lah, aku juga tetep 'ndeso' kok. Justru itu 'point of interest'mu. Tak doakan semoga cita-citamu kabul ya. (Dan semoga ngikutin kamu deh yang urusan 8 tahun. Kalau bisa kurang. Amiinnn)

Amri juga gak banyak berubah, kecuali sedikit ukurannya saja agak naik. Hehehe. Suaranya masih rendah dan pelan, seperti dulu, hingga kadang aku tidak dengar apa yang dia katakan. Pak Komti punya rencana mulia lho untuk bikin reuni MeNeHe 41. Ayo support Amri jadi komti alumni! (Btw, sampai sekarang aku gak tahu apa itu arti atau kepanjangan komti. Apa komandan inti ya? Au ah.. ) Salam buat Ayu ya. Ciee, pasangan cinlok.

Priyo masih bulet, eh tambah bulet ding malah. Bersama sang istri tercinta, doi bela-belain datang ke pertemuan malam ini meskipun katanya habis kecapean seharian ngaduk semen. Ngecor katanya. Ngecor apaan sih kamu Pri? Clara juga, sehabis pulang kerja disempat-sempatin datang. Aku, saking kupernya, sampai gak paham kalau Clara sudah married dan bahkan punya buntut 2 tahun. Kemana saja aku selama ini?! Tapi, beneran lho Clar, kamu masih kelihatan seperti gadis. Hehehe.. (Pasti senang nih kalau dibilang begini.)

Last but least, Lita. Lita datang bersama anak dan suami. (OMG! Kapan aku juga bisa beranak juga ya? Nunggu yang mau buahin dulu kali ya.. Hahaha... ) Ingat dulu, aku sering ke kosan Lita buat nyalin tugas kuliah, minta bahan ujian, dll. Karena setahuku, Lita itu paketannya dengan Nui, maka aku sempatin ngambil selfie bareng Lita. Tujuannya? Jelas, buat bikin iri Nui. Ayok, Nui kapan ke Bogor? Gak kangen apa ngrumpi sama aku?

Aku dan Lita
Ada yang penasaran kita ngobrolin apa saja malam ini? Hah,... Anak Kehutanan pasti ngomongin hutan. Tentunya tak jauh dari kondisi kehutanan kita yang semakin parah. Kabut asap dimana-mana dan bagaimana ini seharusnya kondisi ini bisa segera diselesaikan. Halahh,... Serius banget ya?! Atuh mah gimana lagi, 4 dari 6 orang yang ngumpul di sini gawenya di bawah KLHK kabeh. Dari kabut asap, loncat-loncat ke oops Manokwari lagi! Terus ngomongin jaman kuliah, lalu balik ke Manokwari lagi. Hahaha.. Canda lho. Bagi yang punya nama-nama berikut ini, mohon diperhatikan, karena kalian telah jadi bahan omongan kita malam ini, yaitu: Catur si punk mania, Ivan yang tak ada duanya, Eko pak polisi, Iis Han Han yang entah berada dimana, Fatah yang sedang di seberang dunia, pak dosen Khalifah, Rejos dan bakso raksasanya, Nui dan Wati sang guru SMK, Yumte dan Christina pasangan cinlok kita, Eris dan Denpasarnya, Topan sang Eo ber-rebana kita, Satrio yang tak ada duanya, dan trio wek-wek lulus terakhir angkatan kita-Huda, Ivan, aku. Lhoh aku? Iya gaes. Bagi mungkin yang belum tahu, aku lulus benar-benar paling terakhir di angkatan 41, "Sang Khotaman-Penutup-Penyempurna". Lol..

Hampir lupa. Bahkan, kita juga ngomongin Anton SIREGAR sang artis orkestra kita yang dulu sempat pamitan ingin berkarir di Suriname. Apakah kalian masih ingat kawan kita satu-satunya Siregar yang bukan orang Batak itu?

Sebenarnya sih hampir kalian semua kami sebut namanya malam ini. Jadi, jangan khawatir kawan. Kalian akan selalu jadi bahan rumpian nostalgia kita kok. :)

MeNeHe 41 adalah satu dari sekian komunitas pertemanan dalam hidupku yang berwarna-warni. Kalian-kalian adalah warna-warna di dalamnya. Satu per satu dari kalian punya kesan di dalam memoriku. Jika berkesempatan dan kalian berkenan, aku bisa kok menceritakannya. Hehehe...  Terimakasih ya teman, untuk waktu dan kesempatannya. Meskipun waktu berlalu begitu cepat, tapi memori kita akan selalu ada dan terasa baru kemarin terjadi.

Sungguh, malam ini sangat menyenangkan. Bahkan Sandhi bilang kalau belum sembuh kangennya. Aku juga sama San. Tapi, apa daya, waktu tetaplah berbatas, dan besok kita harus kembali jadi kuli kehidupan, demi dapur masing-masing yang bahkan jumlahnya ada yang lebih dari satu. Hehe. 

Seorang kawanku dari Amrik (fyi,her name is Dori.)pernah bilang padaku satu kalimat yang ingin juga kukatakan pada kalian semua.

-"It's amazing how the time flies by, but not the memories. Isn't it interesting how each of us is brought together in life?"-


-21 Oktober 2015-
Sudah salah dari sananya. Mungkin itu yang terlintas di pikiran ketika mendengar pernyataan Pak Wiwid, "Mahzab yang dipakai untuk menyusun UU Tata Ruang kita adalah mahzab Amerika, yang tentu saja tidak cocok diterapkan di Indonesia." Pak Wiwid adalah seorang pegawai pemerintah daerah yang bekerja di Dinas PUPR Kabupaten Banyumas bagian Tata Ruang.

Disebutkan bahwa, sebelum disahkannya UU Penataan Ruang nomor 26 tahun 2007, penataan ruang di Indonesia berkiblat pada sistem penataan ruang ala Eropa yang mengatur ruang dalam blok-blok besar dan tidak secara detail. Sedangkan di UUPR terbaru, kiblat itu beralih ke Amerika. Kalau Pak Wiwid, menyebutnya sebagai 'mahzab Amerika'. Penataan ruang ala Amerika adalah penataan ruang untuk menata sebuah daerah baru. Perencanaan dibuat dengan detail dalam blok-blok yang sudah ditentukan sedemikian rupa. Kenapa kemudian hal ini menjadi tidak sesuai ketika diterapkan di Indonesia?

"Kondisi Amerika dan Indonesia sudah jelas berbeda", kata pak Wiwid. Penataan ruang ala Amerika ditujukan pada daerah yang masih kosong sedangkan untuk Indonesia adalah ruang yang sudah berkembang. Pensyaratan  perencanaan pada tingkat detail akan membuat masalah baru yang bahkan tidak secara langsung menyinggung tata ruang itu sendiri, misalnya saja masalah sosial, ekonomi dan turunan-turunannya. Coba kita tengok sekilas tentang si RDTR atau Rencana Detil Tata Ruang.

--
Kenapa RDTR menjadi kendala utama dalam penataan ruang? Ya, karena bahkan RDTR itu belum ada. Aturan yang seharusnya ada tapi belum ada. Ribetnya penyusunan perencanaan membuat hal-hal dasar seperti rencana ini terus molor. Jika di tingkat atas sudah terlambat, maka dipastikan yang di bawah-bawahnya juga ikut terlambat.

RDTR  menjadi suatu keharusan bagi sistem penataan ruang kita yang mengacu pada UUTR. Untuk mengatur suatu ruang, diperlukan suatu rencana detail yang mencakup blok-blok pemanfaatan ruang yang sudah diperhitungkan dengan masak-masak. Sepertinya baik-baik saja disini. Lalu, apa masalahnya?

Masalah muncul ketika ruang yang diatur adalah ruang yang sudah berkembang, sudah ada isinya, sudah terbangun. Akan lebih sulit untuk membuat penataan pada ruang yang terbangun dibanding pada lahan yang masih kosong. Mengatur ruang yang sudah berpenghuni berarti berurusan pula dengan para penghuninya. Dan seperti yang pernah aku tuliskan sebelumnya, bahwa sesuatu peraturan itu tidak berlaku mundur maka peraturanlah yang harus menyesuaikan dengan kondisi yang sudah ada. Bagaimana kemudian ruang yang sudah berkembang ini diatur? Nah, di sinilah nanti akan terjadi proses interaksi termasuk tarik ulur kepentingan yang tentunya tidak bisa sederhana, apalagi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sudah dipastikan akan sangat ribet. Tidak ada cara mudah tanpa resiko untuk mengatur yang sudah seperti ini. Kalau menyitir apa yang Ahok pernah katakan tentang bagaimana cara paling gampang menata ulang Jakarta, ya diratakan lalu dibangun ulang. Artinya, tidak mudah memang mengatur yang sudah 'teratur'. (Teratur dalam artian sudah bercokol duluan, tidak sama artinya dengan rapi.)

---
Beberapa hari yang lalu, aku berbincang dengan salah seorang kawan bernama Dafid, yang lebih sering dipanggil Suki, yang baru saja pulang berpetualang di negeri tirai bambu Cina. Satu kesan yang dia miliki tentang Beijing, kota terbesar negeri itu adalah betapa bersih dan rapihnya kota itu. Lalu, yang membuatnya tertarik adalah sistem pemilikan tanah di sana. Di negara komunis itu, pemilikan tanah seluruhnya dikuasai oleh negara. Tidak ada satupun warga sipil yang boleh memiliki tanah. Lalu, bagaimana orang-orang tinggal? Suki menceritakan jika di sana, terdapat banyak rumah susun dan apartemen yang disewakan pada warga sipil. Jangka waktu sewa bisa sampai dengan 25 tahun. Suki menceritakan jika orang-orang Beijing biasanya mulai menyewa apartemen saat umur 4oan tahun di saat sudah mapan. Hak sewa rumah dapat diwariskan kepada anak, kerabat ataupun orang lain ketika pemilik hak meninggal atau melepas haknya sebelum masa sewa berakhir. Jadi, untuk masalah rumah bisa selesai di sana. Tapi, bagaimana dengan lahan pertanian? Bagaimana status petani? Itu, aku belum tahu dan masih terlalu malas untuk mencari tahu (baca: googling sendiri).

Aku jadi berpikir, apa mungkin sistem penguasaan lahan secara penuh seperti di negeri komunis lebih baik untuk negeri yang kadung semrawut ini? (Katanya sih.. )  Jadi, tidak ada lagi nanti ceritanya jual beli tanah ilegal, adanya tuan tanah yang maruk, kesenjangan pemilikan tanah, dll. Biar nanti itu negara yang bagi-bagi tanah untuk apa saja dan dimana saja. Dengan demikian, maka penataan ruang akan menjadi lebih simpel karena yang ngurusi cuman sepihak, tak perlu ribet dengan sengketa pemilikan ataupun hal-hal terkait penguasaan lainnya. Kalau begitu, apa perlu kiblatnya diganti lagi, dari Eropa ke Amerika lalu sekarang ke Cina? Ingat sabda Nabi, "Tuntutlah ilmu sampai negeri Cina!". Nah lhoh..

Jadi gimana enaknya?
Da,aku mah apah atuh?! Siapa sayah harus mikir mahzab tata ruang segala.

Kalau kita punya demokrasi Pancasila, kenapa tidak kita juga punya sistem tata ruang Pancasila. Ya, sistem tata ruang yang khas Indonesia, yang mewadahi keunikan dan kondisi nyata dari tanah negara (tercinta) ini. Bagaimana bentuknya, ya bisa dilobi-lobi. Lagipula, apa perlu kita bermahzab ke negara-negara lain yang toh kondisinya jauh berbeda. Indonesia ini 'the only one' loh, negara yang gak ada duanya di dunia ini. Ya memang, kita perlu belajar dari negara lain juga, tapi tetap harus punya jati diri dong. Nah..  Apaan lagi ini, kok nyambung ke identitas bangsa? Lhoh, bukannya memang masalah ruang berhubungan erat dengan identitas. Ah, mbuh lah…

Sudah dulu lah, ngalor ngidul - ngetan ngulon tentang mahzab tata ruang. Balik lagi, dah aku mah apa atuh yah..Hanya wong cilik yang kepo-an dan bercita-cita bisa ngaku jadi peneliti. (Biar kalau lain kali nulis gak perlu lagi pakai keterangan, 'Dah aku mah apa atuh'.Hehehe)

Jadi intinya, kalau kata Pak Wiwid kita salah mahzab.

(Ngomongin mahzab yang pake istilah Arab, jadi kepikiran, apa pindah mahzab ke Arab sekalian? :D  )


img source: here


Pemanasan nulis bebas sebelum nyelesaikan laporan kerja. Sambil mendengar lagu yang lagi menggalau di kepalaku, "Cinta Terlarang"nya The Virgin. Entah kenapa ya, lagu ini terngiang-ngiang sejak beberapa hari terakhir di kepalaku yang seakan penuh meskipun aku yakin gak penuh-penuh amat. Apa sih yang kupikirkan? Toh, aku bukan Pak Jokowi yang harus ngurus negara. Haha..

Kok ada ya cinta terlarang? Bukankah cinta itu adalah sesuatu yang bagaimanapun bentuknya itu adalah indah? Cinta tidak selamanya terkait ero kan? Menurutku sih sah-sah aja apapun cinta itu asal tidak ada yang tersakiti. Yah, meskipun itu tidak akan pernah mungkin. Masyarakat, kumpulan manusia yang membentuknya telah membuat sesuatu yang lebih nakutin dari manusia itu sendiri. Pantesan saja, aku merasa ngerti kenapa Eddie Vedder dengan indahnya bikin lagu "Society". …"Society, you're crazy breed!".

Hal-hal simpel dibikin sulit, yang gak ada diada-adain, yang gak logis dilogis-logisin, hal yang kecil  digedhe-gedhein, yang gedhe dikecil-kecilin, dan seterus-seterusnya. Apakah benar masyarakat seperti itu? Bisakah masyarakat kehilangan kemanusiaannya? Ngeri! Daripada menjadi zombie dalam kumpulan manusia yang hilang manusianya, apa mending kabur? Seperti si Alexander Supertramp yang meninggalkan segalanya karena sudah muak dengan 'society'?! 


Wooh… Badai pun datang! Badai di kepala datang lagi… Tanganpun mulai gerah ingin menari. Sepertinya pemanasanku sedikit berhasil. Dari cinta terlarang ke gilanya society. Pengen kabur jadinya. Tapi, semua juga mungkin tahu, kabur hanya bagi pecundang. Dan, aku tentu tak ingin jadi pecundang. 

Mending nyanyi dulu nih, 'Cinta Terlarang' dan 'Society'. Sungguh dua lagu yang gak nyambung baik genre maupun kisahnya.. Hehehehe... 







Selamat Pagi! 


Semua ini berawal dari ketertarikanku pada Beyonce atau yang lebih dikenal dengan julukan Queen Bey, bisa dibilang satu dari 'the sexiest women on earth'. Aku menjelajah jagad Youtube untuk sekedar menikmati alunan merdu suara sang Ratu. Hingga pada satu lagu super romantis berjudul 'Drunk In Love' yang dinyanyikan Queen Bey dan suaminya Jay Z. Tak lengkap rasanya jika menonton video di Youtube tanpa melihat sekilas komentar para viewer. Lalu, aku temukan komentar menarik, "I don't understand why someone like her can fall for Jay Z who has no sex appeal at all. What happen with her sex life now? Is it already dead?". Yang kemudian, komentar itu dijawab dengan sangat menarik juga, "She falls for Jay Z because he has a sexy idea. She falls for it!". 

Look at how Queen Bey staring at Jay Z, kind of cute! (img source: here)

Nah lho, di sanalah awal aku kepikiran dengan konsep sexy mind. Apa sebenarnya itu? Sekuat apakah keseksian pikiran ini hingga bisa melampaui batasan-batasan fisik?

Bagaimana menjalani dan memandang kehidupan, bagaimana membebaskan diri dalam ekspresi tak terbatas, dan bagaimana bersikap jujur pada nurani, seperti itu mungkin konsepnya yang bisa kucoba jabarkan. Tentu tidak semua orang bisa seperti itu, sama halnya tidak semua orang punya sex-appeal yang kuat secara ragawi. Orang-orang dengan pemikiran yang unik pasti akan menjadi menonjol di antara sekumpulan orang di dunia yang semakin terasa palsu ini. Ketertarikan pada sesuatu yang unik adalah bawaan manusia, basic instinct barangkali. Kalau sudah tertarik pasti jadi kepo, bawaannya ingin tahu terus. Kalau sudah begitu pasti akan mendekat dan semakin dekat. Byarr! Jadian deh. Hehehe.. 

Terlepas bagaimana pun wujud dan bentuknya, seseorang dengan sexy mind pasti akan selalu mendapatkan pengagumnya. Aku pun demikian, ketertarikanku pada seseorang boleh saja berawal dari fisik karena itu yang memang pertama bisa terlihat. Tapi, pemikiran yang jujur dan penuh petualangan adalah pesona tiada akhir bagi diriku yang selalu ingin punya teman yang seru. Teman yang bisa mengimbangi perangkat lunak di otakku yang liar. Agar sampai kapanpun nanti, aku tak perlu men-downgrade (Ups! Bisa jadi aku terlalu meninggikan diriku sendiri. Hehehe.. ) diriku sendiri hanya untuk sekedar menjadi compatible dengan seseorang yang tak pernah bisa kupahami. Begitu pula sebaliknya, aku takut juga jadi men-downgrade orang lain. Karena itu juga aku mudah jatuh hati pada orang-orang yang cerdas, bebas, dan liar. 

Yoi... Ada gak ya orang seperti itu? Pastinya ada lah. Aku percaya selalu hal itu. Dan kalau sudah kutemukan, seseorang dengan 'sexy and beautiful mind' itu pasti akan kuperjuangkan mati-matian agar selalu bisa bersamaku. ðŸ˜‰

Aku pun ingin jadi sexy, makanya aku coba jujur pada diri sendiri. Sudahkah ada yang tertarik? Hehehe...

Lalu, mengalunlah sendu lagu 'Jatuh hati' dari Raisa,... Ya, cinta memang banyak bentuknya. 

"... Ku terpikat pada tuturmu. Aku tersihir jiwamu. 
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia. 
Ku ingin kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu. 
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu... "




"For someone with the most beautiful and sexiest mind I've ever found, please let me always be by your side."