(Sudiyah Istichomah)

(Catatan ini merupakan sebagian dari hasil saya melakukan PKL semasa kuliah tepatnya tahun 2008, sehingga yang tertulis dan dokumentasi juga merupakan gambaran kondisi saat itu)

Pemanenan getah damar

Pohon damar yang sudah bisa dipanen yaitu pohon damar yang berumur 15 sampai 20 tahun. Pohon damar yang siap dipanen sudah dibuat takik-takik atau lubang-lubang di batang pohon untuk keluarnya getah damar. Frekuensi pemanenan damar normalnya adalah tiap1 bulan (± 30 hari) karena pada saat itu damar yang dihasilkan sudah mulai mengeras dengan kualitas yang cukup baik. Namun seiring maraknya pencurian damar, waktu pemanenan damar menjadi lebih cepat menjadi 14 sampai dengan 20 hari.

Dalam sekali panen biasanya petani membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan pemanenan, tergantung luasan lahan yang dimiliki dan jarak lahan dari pemukiman. Jika pemilik lahan tidak bisa memanen sendiri damarnya karena sesuatu hal seperti lahan yang terlalu jauh atau lahan yang terlalu luas, biasanya sering memburuhkan kepada orang lain.

Untuk mendapatkan getah damar dilakukan dengan cara melukai kulit batang sampai kambiumnya (membuat takik). Bentuk takik adalah segitiga dengan ukuran awal sisi-sisinya sekitar 3-4 cm. Damar akan keluar dari kambium yang terluka tersebut dan mengumpul dalam takik yang dibuat selama waktu yang ditentukan. Getah damar yang sudah terkumpul dalam kurun waktu satu bulan telah siap dipanen.

Penentuan besar dan jarak takik dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut :

1. bentuk segitiga memudahkan pengumpulan damar dan memanennya, selain itu damar yang dihasilkan juga lebih bersih dari campuran kayu.
2. ukuran sisi takik awal 3-4 cm cukup untuk mengumpulkan damar dan untuk menghemat batang (agar luka batang tidak terlalu besar).
3. jarak vertikal antar takik 40 cm agar antar takik yang berdekatan tidak bertemu, selain takik berfungsi sebagai tempat pijakan kaki untuk naik ke atas, jarak 40 cm memudahkan untuk memanjat.
4. jarak horizontal antar takik 50 cm dengan tujuan agar takik tidak bertemu dan untuk penghematan batang.

Penghematan batang yang dimaksud yaitu agar batang yang dilukai/dibuat takik terlalu lebar (permukaan yang dilukai tidak terlalu luas) sehingga produktifitas damar dapat berlangsung dalam kurun waktu yang lama tanpa merusak batang damar.

Dalam pemanenan damar, alat-alat yang digunakan yaitu :

1. kapak yang berfungsi untuk mengerik/mengambil damar dari takik
2. ember/bakul yang berfungsi sebagai tempat penampungan damar yang sudah dikerik di pohon
3. ambon (tali dari rotan) yang berfungsi untuk membantu memanjat pohon
4. Bebalang yang berfungsi untuk menampung damar sekaligus untuk mengangkut
5. Karung yang digunakan untuk menampung damar

Teknis pemanenan damar yaitu sebagai berikut :


  1. Persiapan alat
  2. Damar yang berada di takik terbawah diambil dahulu. Damar diambil dengan kapak. Arah kapak adalah ke tiga sisi takik dengan tujuan agar damar yang diambil tidak pecah, ukurannya besar, utuh dan agar damar tidak jatuh ke tanah.
  3. Damar ditampung dengan bakul atau ember, takik yang sudah kosong dilukai kambiumnya untuk merangsang keluarnya damar lagi
  4. Setelah selesai dengan takik terbawah, maka selanjutnnya mengambil damar pada takik atasnya. Untuk takik yang tidak bisa dijangkau tanpa memanjat, maka digunakan ambon (tali dari rotan) untuk membantu memanjat.
  5. Ambon disimpul dengan ukuran sedemikian rupa sehingga dapat mengelilingi pohon dan menahan tubuh pemanen. Cara naik dengan menggerakkan ambon ke arah atas dan kaki berpijak pada takik di bawahnya
  6. Memanen damar pada takik-takik atas sampai selesai kemudian turun dari pohon
  7. Memindahkan damar dari bakul/ember ke dalam karung atau bebalang.
  8. Memanen pohon selanjutnya dan seterusnya sampai selesai


Damar yang dihasilkan berbeda pada tiap waktunya. Biasanya dalam sehari dihasilkan damar 35-40 kg damar per orang perhari. Jika produksi damar sedang baik pohon damar yang dipanen sekitar 10-12 batang pohon, namun jika produksi damar sedang jelek maka pohon yang dipanen bisa mencapai 20 pohon untuk hasil yang sama. Penurunan produksi tersebut kira-kira sebesar 30-40%.

Pemanenan damar biasanya dilakukan sendiri oleh petani pemilik kebun dengan keluarganya. Tetapi jika dalam hal tertentu tidak bisa dilaksanakan sendiri maka ia bisa memakai tenaga kerja dari luar. Pekerja pemanenan biasanya berasal dari warga setempat. Sistem pengupahan pekerja pemanenan berupa bagi hasil damar maupun upah dengan uang. Untuk sistem bagi damar biasanya perbandingan damar untuk pemilik dan pekerja adalah 1:3 atau 1:4.


Selain pemanenan damar dari pohon, masyarakat biasanya mengambil damar yang jatuh ke tanah atau lebih dikenal dengan lahang. Kegiatan ini pengumpulan damar yang jatuh ke tanah ini disebut ngelahang. Ngelahang biasanya dilakukan oleh ibu-ibu dan anak-anak. Pengambilan lahang boleh dilakukan di mana saja dan tidak dianggap mencuri. Hasil dari ngelahang untuk anak-anak bisa mencapai 1-2 kg perhari. Damar lahang biasanya berharga di bawah harga normal damar karena damar lahang umumnya bercampur tanah sehingga kualitasnya kurang baik, kecuali jika damar lahang bersih maka harganya bisa mencapai harga damar normal.
(Sudiyah Istichomah)

(Catatan ini merupakan sebagian dari hasil saya melakukan PKL semasa kuliah tepatnya tahun 2008, sehingga yang tertulis juga merupakan gambaran kondisi saat itu)

Jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang damar sampai saat ini (tahun 2008) dianggap tidak terlalu mengakibatkan kerugian besar, hanya menurunkan sedikit produktifitas damar. Menurut keterangan dan informasi dari petani hama-hama tersebut bersifat musiman setahun sekali dan tidak bisa dicegah, sehingga serangan hama tersebut dianggap hal yang wajar. Tidak ada perlakuan khusus untuk mengatasi hama ini, hanya dibiarkan saja sampai musim hama selesai. Musim hama biasanya pada bulan-bulan awal tahun bertepatan dengan musim semi daun muda.

Jenis-jenis hama yang menyerang yaitu
walang sangit yang menyerang daun, Kumbang wer-wer yang mengerat batang, dan ulat daun yang memakan daun muda. Sistem agroforest damar yang beraneka ragam dan kompleks memungkinkan untuk pencegahan serangan hama secara besar-besaran seperti pada hutan monokultur yang lebih rentan serangan hama. Hal ini disebabkan hewan yang bersifat hama tidak bebas berekspansi ke semua pohon yang bukan sumber makanannya.

Gangguan hutan lain selain hama dan penyakit dapat berasal dari manusia ataupun dari alam. Gangguan hutan dari alam yaitu angin puting beliung yang sering terjadi di daerah Pahmungan. Biasanya angin tersebut datang beberapa tahun sekali dan menumbangkan beberapa pohon termasuk damar. Pada akhir tahun 2006 terjadi angin puting beliung yang cukup besar dan menumbangkan banyak pohon damar. Kerugian yang diakibatkan angin ini cukup besar bagi petani.

Gangguan hutan yang berasal dari manusia yaitu adanya pencurian damar. Pencurian damar saat ini sangat marak dilakukan. Kerugian akibat pencurian ini sangat besar. Selain kerugian langsung berupa berkurangnya hasil produksi damar, efek pencurian berpengaruh pula pada perubahan pola panen damar yang dilakukan petani. Untuk menghindari kerugian yang cukup besar akibat pencurian, petani memperpendek waktu/jarak panen damar dari normal 30 hari mennjadi 15-20 hari. Perpendekan waktu tersebut mempengaruhi kualitas damar yang menurun dan pada akhirnya menurunkan juga harga jual. Namun hal ini tetap dilakukan petani dengan pertimbangan daripada tidak panen sama sekali.

Gangguan hutan lain adalah adanya penggembalaan liar. Kebiasaan masyarakat Pahmungan dalam memelihara ternak adalah dengan melepasliarkan ternak tersebut. Sering kali ternak tersebut masuk ke lahan agroforest damar dan kadang merusak/memakan tanaman muda milik petani. Kerusakan yang diakibatkan hewan ternak tersebut tidak berpengaruh terhadap produksi damar, sehingga petani tidak terlalu mengkhawatirkan masalah ini.

Pengendalian Gangguan Hutan

Upaya pengendalian gangguan hutan telah dilakukan oleh petani, terutama gangguan pencurian. Upaya pencegahan pencurian dilakukan dengan berbagai cara yaitu :

1. Pengawasan langsung : yaitu menengok kebun damar sesekali waktu, terlebih untuk kebun yang dekat dengan perkampungan. Untuk kebun yang jaraknya relatif jauh jarang ditengok karena dianggap lebih aman dari pencurian.

2. Pewarnaan getah damar dengan cat : yaitu pewarnaan getah damar dengan cat sebagai identitas damar. Misalnya damar milik A warna merah, B warna hijau, dsb. Warna yang digunakan biasanya kombinasi 2 warna. Penentuan warna berdasarkan kesepakatan bersama yang diputuskan dalam musyawarah petani. Mekanisme kerja : Jika warna damar tertentu milik A, maka jika dijual oleh selain A maka dipastikan damar tersebut adalah damar curian dan pembeli tidak boleh membelinya dan melaporkan kepada desa untuk ditindaklanjuti.

3. Pemberian denda untuk pencuri : yaitu pemberlakuan denda bagi orang yang terbukti telah melakukan pencurian damar. Besarnya denda ditentukan berdasarkan keputusan bersama.

4. Perubahan pola waktu panen : yaitu memperpendek selang waktu panen damar dari 30 hari menjadi 15-20 hari.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi gangguan pencurian, namun banyak kendala yang ditemui, antara lain :

1. Sebagian besar warga Pahmungan masih terikat kekerabatan yang erat, sehingga penyelesaian masalah pencurian sering didasari perasaan segan dan sungkan.

2. Sistem pengawasan yang tidak ketat masih memungkinkan terjadinya pencurian.

3. Sering kali pencuri dan pembeli damar saling bekerjasama dalam jual-beli damar sehingga aturan cat damar tidak berfungsi.

4. Peraturan denda yang tidak berjalan lancar.
Saat aku masih SD, mungkin kelas 6, aku masih sering menginap di rumah Budhe (kakaknya Bapak) yang rumahnya di kampung sebelah, tapi masih satu desa. Aku menginap untuk menemani mbak Ana, sepupuku yang masih kelas 4 SD. Meskipun lebih muda, namun aku tetap harus memanggil mbak. Silakan bertanya kepada orang Jawa.

Di sanalah aku punya banyak teman,anak-anak tetangga di sekitar rumah Budhe, sebut saja: Dewi, Wiyanto, Andi, Astri, Ayu, Rian, Oneri (baca: wanri), Royan, Wawan, dan dek Hari (khusus dek Hari, aku harus menulis namanya dengan sebutan ‘dek’ karena kalau tidak rasanya aneh banget). Kami sering sekali bersepeda tiap sore. Tentu saja sepeda yang dipakai adalah sepeda mbak Ana, karena aku sendiri tidak memiliki sepeda. Menyenangkan dan mengasyikkan sekali bersepeda. Ketika bersepeda, beberapa dari kami ada juga yang membawa bekal untuk di perjalanan. Dan yang tertulis ini adalah salah satu kisah petualangan bersepeda kami di suatu sore hari yang indah.

Kami berkumpul sekitar jam setengah 3 sore di pertigaan jalan, di depan rumah Wiyanto yang memang merupakan tempat paling strategis untuk berkumpul karena terletak di tengah-tengah kampung. Setelah semua kumpul, kamipun berangkat bersepeda. Aku dan mbak Ana menggunakan satu sepeda dan berboncengan, tentu saja bergantian boncengannya. Bersama-sama kami semua bersepeda di jalan desa, menyusuri daerah dukuh (kampung) sebelah yang masih dikelilingi kebun-kebun dan pepohonan besar. Aku senang sekali dan kami pun selalu bercanda. Gelak tawa kami tak pernah berhenti sepertinya, karena semua terasa menyenangkan. Kesenangan itu mungkin karena jalan yang kami lalui menurun, sehingga tidak terlalu lelah mengayuh meskipun jalannya cukup jauh.

Sampai di ujung suatu jalan, terdapat sebuah makam di sisinya. Kami tiba-tiba berhenti, dan beberapa anak turun dari sepeda. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku juga ikut turun dari sepeda. Di jalan tersebut tampak tanah yang menurun, dan tak terlihat ujungnya. Beberapa anak laki-laki mencoba untuk melihat jalan itu.

Tiba-tiba ada yang berteriak “Eh, cepet lewat kene wae! Neng ngisor ono kali! (eh, lewat situ saja yuk! Di bawah ada sungai)”.

“Medeni ki, aku wedi! (serem, aku takut!)” jawab kami, yang sebagian anak-anak perempuan.

Aku melihat di ujung jalan aspal itu, terdapat jalan tanah yang menurun dan mengarah ke kiri dari aspal, sepanjang 100-an meter. Jalan tanah ini berujung pada sebuah sungai kecil. Yang menakutkan adalah di sepanjang kiri jalan tanah tersebut adalah kompleks pekuburan kampung yang masih rimbun dengan pohon kamboja dan rumpun bambu. Sungai di ujung jalan pun terlihat menyeramkan karena seperti terimbuni bambu yang lebat sehingga suasana menjadi sangat suram.

Kamipun berunding sejenak. Pertimbangan yang kami ambil adalah, jika kami pulang melalui jalan berangkat maka jalan akan menanjak dan jauh, sedangkan jika kami meneruskan jalan tanah itu kami tidak tahu sampai di mana ujungnya. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan terus saja melewati jalan tanah dan menyeberang sungai kecil di bawah sana.

Karena jalan tanah dan agak basah, sulitnya minta ampun jalan di sana, apalagi dengan menuntun sepeda, karena kami tidak berani menaikinya. Aku menuntun sepeda dan mbak Ana sesekali membantuku. Sampai di sungai kami pun kami harus menyeberanginya dengan susah payah. Meskipun air tidak begitu dalam, namun menuntun sepeda di air tetap saja sulit karena sangat seret.

Suasana super serem! Bagaimana tidak? Di atas sungai banyak terdapat pohon-pohon besar, ada beringin juga yang terkenal angker dan kamboja di sela-sela makam. Aku sendiri takut, dan teman-temanku juga terlihat sekali takut, sangat jelas tergambar dari wajah-wajah tegang. Kami yang masih kecil ini pun merinding bersama.

Satu-persatu kami berhasil menyeberangi sungai. Aku pun berhasil. Namun ternyata kesenangan menyeberang sungai langsung hilang begitu melihat jalan di depan. Rasanya sial sekali. Setelah menuruni jalan tanah becek dan licin, menyeberangi sungai seram, kami juga harus melalui jalan tanah berbatu yang super menanjak. (Jika dipikir saat ini, wajar sekali jika menyeberangi sungai turun maka setelah itu harus naik  ). Kami harus menuntun sepeda ke atas. Rasanya capek sekali.

Ketika aku sudah di ujung tanjakan, terdengar teriakan-teriakan.
“Oi....oi......! Oneri tiba neng kali (oi....oi...!Oneri jatuh di sungai)”.

Aku dan juga lainnya langsung menoleh.

“Eh lha terus piye? (eh lha terus gimana?)” kata seseorang yang sudah di atas.
“Dhe e nangis lho, mbok ditulung (Dia nangis lho, tolongin dong)” jawab yang masih di bawah.

Aku hanya diam dan melihat ke bawah. Oneri terpeleset di sungai. Dia menangis, mungkin karena sakit terjatuh atau lebih mungkin juga karena ketakutan. Wajah menangisnya lucu banget, tapi aku tidak berani tertawa, tentunya hal ini tidak sopan dan aku juga tidak tega, meskipun jujur aku menahan tawa.

Akhirnya Oneri dituntun jalan oleh teman laki-laki, sepedanya juga dibawakan oleh teman. Aku sendiri hanya melihat kejadian itu dari atas, karena aku tidak mau turun lagi. Sungguh dari kecil sifat ini sudah ada pada ku. 

Perjalanan berlanjut. Di ujung jalan yang belum pernah kami lewati tersebut terlihat hamparan sawah yang menghijau, udara yang bersih, dan pemandangan yang indah. Kami berjalan menuntun sepeda menuju persawahan itu. Beruntung sekali ternyata areal persawahan tersebut kami kenal sehingga untuk pulang kita tahu arah dan jalannya.

Di bawah pepohonan rindang di tengah sawah, kami membuka bekal dan saling bertukar (Dewi membawa ayam  ). Saat makan, kami melihat tidak terlalu jauh di jalan raya ada rombongan kampanye PDIP sedang lewat dan bersorak-sorak. Kami ikut bersorak ria dan rasanya senang sekali berada di tengah teman-teman dan alam indah.

“Di malam ini , aku tak dapat
Memejamkan mata, terasa berat,....
Dongeng sebelum tidur...”

Lagu dari Wayang yang sedang tren itu mengiringi perjalanan kami pulang, di sela-sela nyanyian angin di hamparan sawah dan tawa ceria kami.
(Sudiyah Istichomah)

Agroforest damar di Pahmungan seperti pada umumnya agrofrest damar di sepanjang Pesisir Krui mengembangkan spesies damar (Shorea javanica) sebagai spesies utama dan spesies bukan damar yang terdiri dari berbagai jenis/spesies pohon buah dan herba sebagai pelengkap. Spesies bukan damar yang dikembangkan oleh masyarakat adalah spesies yang dianggap berguna oleh masyarakat, misalnya durian, duku, cengkeh, petai/tangkil dan sebagainya.

Pengadaan benih dan bibit pada agroforest damar dapat dikelompokkan menjadi 2
berdasarkan sumbernya, yaitu pengadaan benih/ bibit dari lahan agroforest dan pengadaan benih/ bibit dari luar. Pengadaan bibit dari luar biasanya berasal dari bantuan pemerintah ataupun dari pembelian. Biasanya bibit damar berasal dari biji dan juga cabutan/anakan alami.

Biji damar diambil saat musim biji sedangkan bibit cabutan dapat diambil kapan saja. Musim bunga (biji) umumnya sekitar 5 tahun sekali, seperti pada umumnya pohon-pohon dari famili dipterocarpaceae. Biji damar hanya dapat bertahan selama beberapa hari saja, sehingga untuk mengatasi persediaan bibit, damar dibibitkan dalam suatu bedeng, sekaligus berfungsi sebagai tempat pembibitan jenis-jenis tanaman lain.

Pembibitan damar (Shorea javanica)

Pembibitan damar dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Lokasi pembibitan damar biasanya di sekitar rumah ataupun di dalam bidang agroforest dalam jumlah dan luasan tempat yang sangat bervariasi tergantung masing-masing petani. Pada jaman dahulu pembibitan dilakukan dengan langsung menanam bibit/biji ke tanah, namun saat ini petani lebih banyak menggunakan polybag karena lebih mudah dan praktis.

Ilustrasi pembibitan damar langsung tanpa polybag

a.dari biji : biji diambil lalu ditanam dalam tanah yang dipersiapkan untuk pembibitan.
b.Dari cabutan / anakan :
- dicabut langsung lalu ditanam dalam pembibitan
- diambil sekaligus tanahnya lalu ditanam beserta tanahnya dengan tujuan agar akar damar tidak rusak

Pembibitan :
Media : tanah (langsung tanpa ayakan dan tanpa campuran pupuk)

Cara penyemaian :
- Persiapan media, tanah dimasukkan dalam polybag ukuran setengah kilogram
- Menyiapkan bibit dapat berupa biji ataupun anakan dari cabutan. Biji/anakan dimasukkan dalam polybag, masing-masing 1 biji/anakan per polybag.
- Polybag yang sudah ditanami biji/tanaman disusun dalam baris-baris ukuran 1mx4m.
- Tempat persemaian yang digunakan harus teduh agar benih cepat tumbuh dan mencegah kekeringan. Untuk peneduh digunakan daun kelapa/daun tepus sebagai atap.
- Perawatan bibit meliputi : penyiraman setiap sore hari (sekitar pukul 4-5)
- Pembersihan gulma/tanaman pengganggu dilakukan jika muncul (namun di beberapa lokasi yang dikunjungi, terdapat pula bibit-bibit damar yang kurang terawat dalam artian banyak ditumbuhi oleh gulma/tanaman pengganggu).
- Bibit yang berumur sekitar 1 tahun sudah siap untuk ditanam.

Perbandingan hasil bibit dari biji dan cabutan yaitu bibit dari biji lebih mudah tumbuh, dari pengamatan didapatkan bahwa untuk bibit berumur 6 bulan tinggi rata-rata untuk bibit dari biji adalah 50cm sedangkan untuk bibit dari cabutan adalah 25 cm. Selain itu daun pada bibit dari biji juga lebih besar dan banyak. Menurut petani, prosentase hidup bibit dari biji lebih besar dari cabutan yaitu sekitar 80% dibanding 50%.

PEMBUATAN TANAMAN

Lahan agroforest damar di Pekon Pahmungan termasuk lahan jenuh (sudah penuh/dengan susunan yang sudah lengkap) sehingga penanaman yang dilakukan lebih bersifat penyulaman untuk regenerasi tanaman atau mengganti tanaman yang mati dan mengisi sela-sela lahan yang terbuka.

Penanaman biasanya dilakukan pada musim hujan. Pohon yang ditanam adalah jenis damar ataupun selain damar, biasanya dari jenis buah-buahan. Untuk jenis tanaman kayu lain yang dijumpai di lahan agroforest seperti sungkai dan jenis lain biasanya tumbuh liar dan dibiarkan saja oleh petani karena tidak mengganggu tanaman inti (damar).
Pemeliharaan Tanaman dan Tegakan

Pemeliharaan Tanaman dan tegakan di agroforest damar cukup sederhana. Untuk tanaman damar muda, cukup dilakukan pembersihan gulma yang sering tumbuh di sekitarnya. Pembersihan dilakukan dalam waktu yang tidak tetap, biasanya setengah tahun atau satu tahun sekali. Setelah tidak terganggu oleh gulma, damar dibiarkan begitu saja sampai umur produktif.

Tegakan yang sudah tumbuh biasanya tidak dilakukan pemeliharaan secara khusus, tetapi dibiarkan begitu saja. Namun ada juga sedikit petani yang memelihara bidang agroforest mereka dengan membersihkan tumbuhan bawah secara rutin sehingga lantai hutan lebih bersih. Perlakuan umum terhadap agroforest damar ini menjadikan lahan agroforest damar lebih menyerupai hutan alam dimana terdapat jenis-jenis pohon dan tumbuhan bawah yang cukup banyak. Pada beberapa tempat, tumbuhan bawah bisa sangat rapat dan mencapai lebih dari 1,5 m. Petani biasanya tidak akan menebang atau membuang tanaman liar yang dianggap tidak merugikan/tidak mengganggu damar.

(Tulisan yang tertulis ini merupakan sebagian dari hasil Praktek Kerja Lapang saya selama kuliah, yaitu tahun 2008, jadi yang tertera adalah kejadian pada tahun 2008)
Cerita ini terjadi di saat aku masih SD. Dulu yang punya TV belum banyak, cuma Pak Lurah dan orang kaya saja. Setiap malam biasanya orang-orang di sekitarku nonton ketoprak TVRI di Kantor Kecamatan (sekarang sudah pindah, menjadi kantor Catatan Sipil). Saat itu orang yang kos di tempatku yaitu Pakdhe Warno (lebih akrab dengan panggilan Pakdhe Sodron) dan istri dan anaknya -Lina yang seumuran denganku, mengajakku menonton ketoprak pada suatu malam. Aku senang sekali.

Sampai di sana sekitar jam 7 malam. Aku dan yang lain masuk ke Kantor kecamatan.
“Kulo nuwun”
“Monggo-monggo” di dalam banyak orang, ada Pak Carik, Pak Sekretaris camat dan pegawai-pegawai lain. aku duduk di samping Lina dan melihat acara-acara ketoprak di TV. Tvnya masih hitam putih dan sangat kecil, dan juga gambarnya jelek plus suaranya yang cempreng. Tapi kurangnya hiburan maka aku seneng banget karena tidak setiap hari bisa nonton TV. Biasanya orang-orang nonton di ruang depan kantor, tapi jika yang datang banyak, nontonnya dipindah ke halaman kantor, dengan syarat tidak lagi hujan. TV yang ada di ruang depan dibalik arah monitornya menghadap halaman yang dipisahkan oleh jendela besar. Jika sudah begitu, biasanya digelar tikar untuk duduk. Beberapa buah 'dingklik' atau kursi pendek pun ada juga.

Saat semua nonton, ada orang lain yang masuk, mau ikutan nonton. Sepertinya tukang jualan ronde. Pakdhe Sodron lalu pergi agak lama. Aku dan Lina ngobrol-ngobrol seperti layaknya anak kecil. Setelah Pakdhe Sodron kembali, dia membawa kacang dan makanan kecil lain. ternyata Pakdhe Sodron dari warungnya Budhe Yati, budheku yang jualan tak jauh dari kantor ini. Aku diberi kacang, senang sekali. Jam sudah malam, ketoprak sudah habis satu jam lalu. Dan film kolosal silat juga sudah habis (aku masih ingat salah satu tokohnya namanya “Srinthil” yang telah menyelamatkan harta karun yang dibawa terjun ke laut oleh musuh. Hahaha). Jam 9 malam saatnya Dunia Dalam Berita. Karena aku sudah ngantuk, aku cuma bisa merem melek sambil duduk sampai akhirnya Budhe Mar membangunkanku untuk pulang.

Malam itu udara cukup dingin. Aku berjalan menuju rumah dengan hati senang karena bisa nonton TV. Sepertinya tidurku nyenyak malam itu, sambil membawa kenangan yang bahkan masih kuingat sampai saat ini.

Nonton TV di halaman kantor camat. :)
Main gugur gunung
pic by me
Suatu hari, aku masih SD kelas berapa aku lupa kapan. Sudah menjadi kebiasaan anak-anak di sekitar rumahku kalau bermain pasti di halaman rumah seorang nenek, bernama Mbah Suro. Di sanalah istana kami, tempat favorit kami. Rumah Mbah Suro mempunyai halaman luas, ada kebun dengan banyak pohon-pohon besar sehingga kami bisa bermain sepuasnya. Dari umpetan, lompat tali, sepak bola, kelereng, sepak sebong, dll. Pokoknya di sanalah istana kami.

Hari itu, hari yang cerah dan teman-teman mengajak bermain. Aku langsung menuju ke rumah Mbah Suro. Di sana sudah pada kumpul, dari hasil musyawarah (ce ileee) kami main gugur gunung. Permainan dengan tanah yang dibentuk seperti gunung, di puncaknya ditancapin lidi. Lalu anak-anak mengambil tanah secara hati-hati dan yang menjatuhkan lidi di anggap kalah dan harus menjaga sembari teman-teman yang lain ngumpet.

Karena asyiknya aku sampai lupa waktu. Temanku yang ikutan main banyak sekali, ada Dedi, Chandra, Purwanti, Topik, dll. Karena lamanya aku sampai merasa pengen pipis. Tetapi aku menahannya sampai beberapa lama. Setelah itu aku ngomong-ngomong sama teman dan dasar si Dedi cerita lucu banget. Spontan aku tertawa dan karena itu pula aku jadi nggak kuat nahan pipis. Adu duh!... syurrr..... basah celanaku, semua mata tertuju padaku. Wajahku panas, aku malu, aku harus bagaimana?.

Dedi lalu bilang “Ihh, ngompol ki..” spontan aku jawab “Eh iyo, biasane yo ngene....”. aduh bodoh banget aku. Aku lalu pulang dengan diikuti padangan dan tawa terpendam teman-temanku. Dan masih dengan celana hijau lumutku yang basah plus perasaan bingung, aku pulang. Entah bingung karena apa....

(andai saja dulu musim kamera, pasti akan aku abadikan momen2 indah itu)

ini adalah lirik lagu Gugur gunung yang aku dapat dari tetangga

(SUMBER:

Ayo (ayo) … kanca (kanca) … ngayahi karyaning praja
Come (come) … friends (friends) let’s do our work

Kene (kene) … kene (kene) … gugur gunung tandang gawe

Come here (come here) … come here (come here) … together we do the work

Sayuk-sayuk rukun bebarengan ro kancane

Harmoniously (let’s be) together with friends

Lila lan legawa kanggo mulyaning negara

[Work] sincerely for the glory of our country

Siji (loro) telu (papat) … maju papat papat

One (two) three (four) … let’s go (forward) infours

Diulung-ulungake mesthi enggal rampunge

Pass if over to the other, for sure if will finish

Holobis kuntul baris, holobis kuntul baris ( 2x )
(Sudiyah Istichomah)


Pekon Pahmungan 2008

Pekon (desa) Pahmungan merupakan salah satu pekon yang terkenal dengan repong damarnya yaitu salah satu bentuk agroforestri. Kawasan agroforest damar di Pahmungan dan lebih luas lagi di Kecamatan Pesisir Tengah termasuk dalam kategori desa khusus damar yang dicirikan oleh dominasi hamparan kebun damar dan dominasi produksi damar dalam kehidupan desa dan rumah tangga penduduk (Dupain, 1994 dalam Foresta, 2000).

Pekon Pahmungan secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung. Pekon Pahmungan merupakan desa yang letaknya 5 km dari pusat kecamatan (Pasar Krui), sekitar 32 km dari ibukota kabupaten (Liwa), dan dari ibukota provinsi (Bandar Lampung) berjarak sekitar 287 km. Batas sebelah utara Pekon Pahmungan yaitu Way Ngison Balak, sebelah selatan berbatasan dengan Way Mahnai Lunik, sebelah barat berbatasan dengan Pekon Sukanegara dan di sebelah timur berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Pekon Pahmungan memiliki ketinggian antara 10-50 mdpl. Pekon Pahmungan dilalui oleh beberapa sungai, diantaranya Way Ngison Balak, Way Ngison Lunik, Way Rawang, Way Umbul dan Way Aying. Aliran Sungai yang masih jernih digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari (Koswara, 2006). Luas Pekon Pahmungan adalah 2010 ha yang terdiri dari tiga dusun. Topografi Pekon Pahmungan terdiri dari areal datar sampai lereng. Areal datar digunakan sebagai daerah persawahan dan pemukiman, sedangkan areal lereng atau dengan topografi curam digunakan sebagai lahan repong damar (agroforest damar).

Masyarakat Pekon Pahmungan adalah masyarakat pendatang dari Marga Haji Muara Dua Sumatera Selatan. Mereka mendatangi Pekon Pahmungan pada tahun 1870 untuk bermukim. Hutan yang terdapat di Pekon Pahmungan pada saat mereka datang masih asli. Asal nama Pahmungan sendiri berasal dari permong yang dalam Bahasa Lampung berarti pertemuan antara dua buah sungai. Untuk menunjang hidupnya masyarakat membuka hutan untuk berkebun dan menanam padi (sawah), sambil menunggu panen, mereka menanam kopi, di selang pohon damar dan buah-buahan (durian, duku, petai dan jengkol) (FKKM, 2002).

Pada tahun 1900, salah satu poyong-poyong (orang tua dahulu/nenek moyang) menjadi pedagang besar dan menjual hasil bumi ke Singapura. Di sana mereka melihat bahwa getah damar memiliki harga yang tinggi. Kemudian mereka memberi tahu masyarakat Pekon Pahmungan bahwa getah damar berpotensi untuk diperdagangkan. Informasi tersebut menyebar dengan begitu cepat sehingga pada tahun 1930 masyarakat mulai menyemai bibit damar dan membudidayakannya. Proses penanaman bibit mengikuti penebangan atau lebih dikenal dengan tanam tunggul. Pada tahun 1935 Pemerintah Hindia Belanda menetapkan suatu kawasan hutan tetap yang tidak boleh dibuka dengan nama Hutan Kawasan atau lebih dikenal dengan Boschwezen / BW (FKKM, 2002).

Tahun 1950, masyarakat Pekon Pahmnungan mulai menuai hasil dari penanaman damar dan buah-buahan yang akrab mereka sebut dengan istilah repong damar, sehingga kesejahteraan juga mulai meningkat. Sekitar tahun 1993 – 1997 dilakukan pemasangan patok HPT (Hutan Produksi Terbatas) dan HL (Hutan Lindung) yang melintasi lahan repong milik masyarakat di sekitar Krui yang dilakukan oleh pemerintah orde baru. Pemasangan patok ini menimbulkan perlawanan dari masyarakat Krui, khususnya Pahmungan. Dari perlawaanan masyrakat tersebut akhirnya pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dengan No.47/Kpts-II/1998 yang menyatakan areal repong damar seluas 29.000 ha sebagai Kawasan Dengan Tujuan Istimewa atau KDTI (Foresta, 2000).


Sumber

Foresta, H de, Kusworo, A, Michon, G, Djatmiko, WA. 2000. Ketika Kebun Berupa Hutan: Agroforest Khas Indonesia-Sebuah Sumbangan Masyarakat. International Centre for Research in Agroforestry, Bogor : Indonesia

Koswara, Engkos. 2006. “Peranan dan Kontribusi Hutan Rakyat Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani : Studi Kasus Pekon Pahmungan Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Lampung Barat”. Skripsi. Bogor : Program Studi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB
Suatu hal yang hanya bisa kunikmati sendiri.
Ingin kubagi?
Tapi bisakah?

Jika aku hanya membagi batu, atau angin untuk mengenyangkan mereka

Takkan bisa dicerna

Sulit.
Hampa.
Menyiksa.

Jadi,

Biar hanya untukku sendiri lah

Tapi

aku tidak pelit kok

Jadi,

Kalo mau?
Aku siap membagi kenikmatan ini

Dan berharap
Batu dan angin yang kuberi
Terasa bagai udang goreng yang sangat enak itu


Saat itu, aku kelas 1 SD, tahun 1993. Suatu hari, wali kelas sekaligus guruku yang bernama Bapak Kasim di tengah-tengah pelajaran tiba-tiba keluar kelas. Saat itu masih pagi dan kejadian yang aneh inipun berlangsung.

Karena perginya Pak guru kelas menjadi kosong. Anak-anak di kelasku pun menjadi bingung dan canggung dengan suasana ini. Kelas yang tidak ada gurunya saat jam pelajaran membuat kami tak tahu harus berbuat apa.Dari hasil tunjuk di antara kami akhirnya diputuskan 2 orang yang akan mencari kejelasan dari ketidak jelalasan status ini. Dua orang duta kami yang seingatku semuanya laki-laki bernama Agung dan Frisa. Mereka diamanatkan oleh warga kelas 1 SD kami untuk mencari keberadaan Pak guru kami.

“Ayo neng ngomahe Pak Kasim wae! (Ayo ke rumah Pak Kasim saja!)” ajak Agung.
“Yo, ayo” kata Frisa.

Terjadilah dialog singkat tersebut di antara mereka dan langsung saja mereka menuju rumah Pak Guru yang kebetulan terletak tepat di sebelah kiri SD kami.

Tak beberapa lama, hanya sekitar 15 menit merekapun kembali ke kelas dan langsung dikerubuti oleh anak-anak yang lain. Aku hanya diam dan melihat dari bangku tempatku duduk. Aku masih malu dan canggung karena belum terlalu kenal dengan anak-anak kelas.

“Pak Guru ono tamu (Pak guru ada tamu)” Agung berkata.
“Trus awake dewe piye? (lalu kita gimana?)” tanya kami semua.

Tiba-tiba saja dari salah satu bangku murid ada yang nyangklong (membawa di pundak) tasnya. Entah siapapun oknum penyangklong tersebut telah berhasil membuat sebagian besar dari kami mengikutinya. Hampir semua warga kelas akhirnya nyangklong tas masing-masing dan berbondong-bondong berdiri di luar kelas. Suasana di luar sepi karena kelas-kelas lain masih jam pelajaran.

“Ayo mulih wae! Wis diijinke kok (ayo pulang aja! Sudah diijinkan kok)” ajak Agung.

Benar-benar sebuah provokasi yang sangat potensial berhasil pada kami. Sebagian besar dari kami mempercayai ucapan Agung karena memang tadi dia yang ke rumah Pak Kasim. Sebagian besar kami sudah berniat pulang meski banyak pula yang ragu-ragu. Lama waktu yang kami habiskan untuk bengong dan bingung, sambil nyangklong tas di depan pintu dan teras kelas. Pulang enggak, pelajaran juga bukan.

Tentu saja ini menjadi pemandangan yang cukup aneh di pagi hari bagi seluruh warga SD, saat melihat kelas termuda sekolah itu. Anak-anak paling kecil menyangklong tas dengan wajah bingung dan innocent.

Setengah jam kemudian Pak Guru kamipun akhirnya datang. Melihat kami di depan kelas dengan tas di bahu membuatnya marah. “Siapa yang nyuruh pulang?!!! Ayo masuk semua, baru ditinggal sebentar saja,......” bentak Pak guru dengan wajah yang meskipun aku lupa bagaimana, cukup membuatku takut.

Kami semua diam walau ada satu atau dua yang berani menyangkal sesuatu. Aku sendiri takut banget dan hanya diam menjadi saksi dan pendokumentasi peristiwa itu. Pelajaran dilanjutkan kembali.
Pulang pagi akhirnya gagal, plus kami mendapat bonus omelan dari Pak guru....
Masih samar-samar teringat, dulu ketika TK, entah nol kecil atau nol besar. Hari Jumat di sekolah selalu diadakan senam SKJ, tentunya SKJ 90. Aku yang masih terlalu polos hanya ikut-ikutan saja ketika disuruh berbaris di halaman sekolahku, TK Bustanul Atfal IV.

Musik pun mengalun. Ibu guru mencontohkan gerakan-gerakan senam, dan aku masih bingung sama sekali apa yang harus digerakkan. Karena keterbatasan peraga gerakan, maka aku dan kawan-kawanku hanya bergerak asal-asalan dan kacau.

Saat itulah muncul beberapa anak SD, mungkin sekitar lima orang yang ternyata adalah anak-anak SD Boyolali V yang kebetulan hari itu pulang pagi. Menjadi kebiasaan dan mungkin adat di kalangan anak-anak kecil, bahwa jika pulang pagi dari sekolah atau liburan, maka pasti bermain di TK. Melihat anak-anak SD itu, Ibu guru memanggil dan meminta mereka untuk menjadi contoh adik-adik TK melakukan SKJ. Mereka bersedia.
Kami, anak-anak TK semua ribut di belakang. Ada yang bilang mereka anak kelas lima. Saat senam teman-teman melakukannya dengan ramai sekali. Aku hanya mengikuti gerakan kakak-kakak SD itu, sambil terkagum-kagum ria terhadap mereka.

“wah, podho hebat, wis podho gedhe lan pinter (wah, mereka hebat, sudah besar dan pintar)” batinku dalam hati.

Ketika masih TK, melihat anak SD sudah membuatku terkagum-kagum. Sampai selesai senam dan masuk kembali ke kelas, aku masih terpaku sambil bergumam “podho hebat banget, kapan aku bisa koyo ngono? (mereka hebat banget, kapan aku bisa seperti mereka?)”.

SKJ '90