Img source: here
Judul      : Crying 100 Times (100 Kai Naku Koto)
Penulis   : Nakamura Kou
Bahasa   : Indonesia (Penterjemah: Khairun Nisak)
Tebal     : 250 halaman
Penerbit : Penerbit Haru 2013


Skor       : 3/5

Sinopsis:

Shuici Fuji menemukan anak anjing kecil di parkiran perpustakaan ketika dia baru lulus sekolah menengah dan dalam masa pengangguran menuju universitas. Anjing kecil itu akhirnya diberi nama Book dan dipelihara olehnya. Shuichi pertama kali membawa Book dengan menaiki sepeda motor  miliknya yang memiliki suara khas yang akhirnya menjadi suara favorit Book. Shuichi dan Book menjalin hubungan manusia dan hewan peliharaan yang sangat dekat sampai kemudian Shuichi harus berangkat ke kota lain untuk bersekolah dan kemudian bekerja. Book-pun dipelihara oleh keluarga Shuichi.

Shuichi bertemu Yoshimi Sawamura dalam suatu acara dan mereka saling diperkenalkan oleh teman-temannya. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Shuichi dan Yoshimi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Mereka-pun berencana akan menikah di musim panas, setahun setelah Shuichi melamarnya. Sebelum itu mereka mulai tinggal bersama dan berlatih pernikahan. Yoshimi sangat menyukai cerita Book yang menyukai suara sepeda motor Shuichi, dan ingin melihat anjing itu. Shuichi-pun memperbaiki motor tuanya demi Book dan juga Yoshimi.

Namun kehidupan bahagia Shuichi dan Yoshimi harus dihadapkan pada kenyataan pahit yang tidak dapat dilawan. Yoshimi mengidap penyakit kanker ganas yang merenggut semuanya. Dalam rasa kehilangan yang sangat Shuichi tenggelam dalam kesedihan. Bookpun juga menyusul pergi selamanya. Menangis seratus kalipun sepertinya belum bisa menggambarkan betapa sedihnya hati Shuichi.

Pendapat saya:

Seperti cerita-cerita lain, kisah perpisahan dan kematian karena suatu penyakit selalu saja mengundang suasana sedih dan suram. Crying 100 Times adalah salah satu dari deretan kisah sedih itu. Berlatar di Jepang, kisah ini adalah kisah kehidupan sepasang kekasih yang harus menghadapi kenyataan pahit berupa penyakit ganas yang merenggut nyawa salah satunya. Juga diceritakan hubungan antara tokoh utama dan anjing peliharaannya. Menurut saya kisah mereka cukup bagus meski tidak bisa dikatakan istimewa.



Tidak banyak hal yang bisa saya temukan di buku ini selain daripada cerita itu sendiri. Memang pada beberapa paragraf, penulis mencoba menulis tentang beberapa hal yang dia analogi-kan dengan kejadian yang menimpanya, namun saya sulit untuk memusatkan pikiran di bagian itu sehingga hanya selewat saja. Alur cerita juga sangat mudah ditebak dan tidak ada kejutan yang saya temukan. Penggambaran tokoh juga sangat terpusat di tokoh utama sehingga tokoh pendukung sama sekali tidak bisa diingat oleh saya sebagai pembaca. Penggambaran latar cerita juga agak sulit saya bayangkan. Bagi saya, yang tidak pernah pergi ke Jepang dan tidak terlalu mengetahui budaya di sana, sulit sekali rasanya membayangkan apa yang sedang terjadi di cerita ini. Ya, kecuali alur cerita itu sendiri. Saya rasa ini masalah penterjemahannya. Terasa kaku. Mungkin saja ini tentang gaya penulisan, tapi bisa saja penterjemahannya disesuaikan.

Satu hal yang menarik dari cerita ini adalah sudut pandang ceritanya yang diambil dari tokoh pria. Untuk drama-drama percintaan orang muda seperti ini biasanya tokoh utama adalah wanita. Sudut pandang pria memberikan rasa yang berbeda pada apa yang dirasakan tokoh utamanya, bagaimana dia menghadapi hidup dan kenyataannya, hubungan dengan kekasih dan juga anjingnya. Cukup menarik. Jika bisa memberikan penilaian pada buku ini, skor antara 1-5, maka saya akan berikan nilai 3 untuk Crying 100 Times. Nilai lebih untuk sudut pandang tokoh utama, kisah Book, dan sampul buku   yang manis.

Film 100 Kai Naku Koto
img source: here

Kisah ini telah difilmkan di Jepang tahun 2013 ini dengan judul yang sama dengan bukunya. Tentang film 100 Kai Naku Koto klik DI SINI.


Aku teringat pada waktu itu
Meskipun tak tahu pasti kukejar

Meskipun aku membantu
Namun hari esok yang serasa lama
Dan tak dapat kugapai

Tenangkan perasaanmu
Tenangkan perasaanmu
Sebaiknya kau cari

Tenangkan perasaanmu
Tenangkan perasaanmu

Carilah hingga dapat

-----------
(Dari Manga Doraemon Petualangan 2: Petualangan Nobita di Luar Angkasa, by Fujiko F Fujio)


Sungguh baris-baris kata itu telah memberikan arti yang dalam di pikiranku. Sudah lebih dari belasan tahun sejak pertamakali aku membacanya dan aku terpesona oleh kata-kata itu. Setiap sedih dan kebingungan aku selalu ingat : “Tenangkan perasaanmu. Sebaiknya kau cari. Tenangkan perasaanmu. Carilah hingga dapat”. 

Kata-kata itu akan selalu kuingat. Mungkin selamanya. 
Img source: here

img source:here
Judul     : Bumi Manusia (Bag. I Tetralogi Buru)
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Bahasa : Indonesia
Tebal     : 535 halaman
Penerbit : Lentera Dipantara, 2011 (cetakan ke-11)

Sinopsis:

Minke adalah sedikit dari pribumi berdarah priyayi yang menerima pendidikan  bergaya Eropa yang kala itu masih sangat terbatas hanya untuk kalangan bangsa kulit putih. Pendidikan dan pengetahuan telah membentuk pribadi Minke sebagai pribumi terpelajar yang menentang segala kerendahan dan kehinaan budaya pribumi yang merendahkan martabat bangsa sendiri di hadapan bangsa asing. Berlatar belakang di Jawa pada awal abad ke-20,  ini adalah kisah Minke di Bumi Manusia, perjuangannya dan pemikirannya dalam situasi kala itu.

Kemudian Minke berkenalan dengan Annelies, seorang gadis cantik blasteran Eropa - Jawa, anak seorang Tuan Belanda yang sangat kaya raya dari gundik bernama Nyai Ontosoroh. Kecantikan Annelies memikat hati Minke yang memang sejak awal menyukai perempuan berdarah Eropa. Annelies pun jatuh hati dengan Minke.  Gadis yang hidup dalam kondisi keluarga yang tidak stabil membuatnya jarang bergaul dan sangat rapuh. Kedatangan Minke dalam hidupnya menjadi sangat berharga. Berkebalikan dengan Annelies, Nyai Ontosoroh adalah sosok perempuan pribumi yang sangat kuat. Berbagai hal pahit yang dialami selama hidupnya telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang kuat. Setelah ditinggal pergi Tuan Belanda yang menggundiknya, Nyai Ontosoroh adalah tulang punggung perusahaan keluarga  tuannya. Nyai Ontosoroh dan Annelies adalah daya tarik keluarga itu bagi Minke.


Selama dekat dengan keluarga ini, Minke mengalami banyak gejolak dari dalam maupun dari luar. Banyak hal terjadi baik itu dukungan maupun pertentangan-pertentangan yang muncul dari pilihan-pilihan yang dipilih oleh seorang Minke. Banyak orang-orang yang dikenal Minke yang  memberinya pandangan-pandangan baru tentang hidup. Hingga pada suatu muncul permasalahan berat yang mengharuskannya melepas Annelies meskipun Minke dan Nyai Ontosoroh telah melakukan berbagai perlawanan dan usaha untuk mempertahankannya. Pada akhirnya mereka tetap kalah, entah sampai kapan. 

Pendapat  saya: 

Terlalu banyak pujian yang telah dituliskan maupun diucapkan untuk Bumi Manusia, baik oleh ahli sastra maupun orang biasa. Dan sebagai orang biasa, saya akan menambahkan satu untuk deretan pujian itu. Ya, bagaimana tidak? Membaca kisah Minke dalam buku ini seakan-akan emosi dan pikiran terbawa, melintasi ruang waktu menuju menuju 100 tahun yang lalu, ketika Indonesia masih dipenuhi oleh 'penjajah' Belanda yang katanya sempat berkuasa di bumi pertiwi ini. Latar terasa nyata dan sangat nostalgic meskipun sebelumnya saya tidak pernah membayangkan kondisi Jawa awal abad 20. Tidak hanya latar, namun tokoh dan pemikirannya juga menguasai emosi pembaca.

Bagaimana gejolak yang dialami oleh Minke sebagai pribumi yang mendapatkan pengetahuan ala Eropa, bagaimana kehidupan keras Nyai Ontosoroh sebagai perempuan pribumi yang menjadi gundik dan sosoknya yang keras dan kuat, bagaimana hubungan Minke dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, tergambarkan dengan baik di kisah ini. Hal-hal yang disampaikan oleh penulis melalui tokoh-tokoh dalam buku ini adalah sebuah kritik sosial akan kondisi kebangsaan kala itu dan bahkan hingga masa kini.


Membaca buku ini menjadi suatu keharusan bagi saya dan mungkin juga bagi masyarakat Indonesia yang lain. Tidak banyak karya sastra yang memakai latar kondisi Indonesia saat itu, dan Bumi Manusia menjadi salah satu karya sastra yang paling penting. Gejolak yang dialami Minke dan Nyai Ontosoroh adalah penggambaran gejolak Bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterpurukannya selama berabad-abad. 

Sore sudah mulai hilang di tengah macet Darmaga
Tidak seperti biasanya. Baru kali ini. Luar biasa,....

Berbagai kalimat kuucapkan sore tadi, mewakili kekagumanku pada langit sore ini di Darmaga. Darmaga
yang kukenal seperti hilang sore ini, atau mungkin saja aku belum terlalu mengenalnya. Hujan sesaat tadi seperti membuka tabir baru tempat tinggalku selama hampir satu dekade ini. Woahh,... Rasanya membuncah, pecah, meledak, bertaburan, berhamburan semua yang bisa mewakili kekaguman yang tak terungkap dalam kata yang dapat mengartikannya. Sungguh, aku mulai mencintai Darmaga dan langit sorenya.

Siang itu kuhabiskan beberapa jam bersama Cikal, menonton kisah lama Matsu Jun dan Koyuki di Kimi wa Petto. Wajah Momo-Matsu Jun ternyata berhasil menyihir keroncongan di perutku yang sejak pagi hanya kusuguhi 5 keping biskuit Marie.  Entahlah Cikal, sepertinya dia juga cukup terpengaruh pesona ikemen satu ini.  Hingga akhirnya sore, jam 4, aku tak tahan lagi. Lapar sungguh luar biasa, meski nafsu makan tidak kunjung hadir. Kami putuskan untuk keluar, membeli mie aceh di tempat langganan.  Hujan sejam yang lalu juga sudah reda, hanya menyisakan jejak-jejak tipis air di permukaan jalanan, dan tentunya di langit. Sungguh keputusan yang sangat tepat.

Makan sore di warung mie aceh bernama Kurnia tidak menjadi hal istimewa. Seperti biasanya saja. Meski sempat berkomentar porsi yang berkurang namun tetap saja perut rasanya penuh, kekenyangan akibat  es jeruk  seporsi gelas besar.  Sungguh penuh perut hingga terasa keras menggelembung. Haa...
Hampir jam 5 ketika kami keluar dari warung dan kami disambut cahaya yang sangat menyilaukan di arah barat.


Sumpah!!! Silau yang membutakan mata. Sebelah tangan kuletakkan di kening membentuk payung untuk melindungi mataku. Bahkan Cikal yang bersamaku mengatakan bahwa cahaya sore ini terlalu silau dan membuatnya pusing jika harus mengarahkan pandangan langsung ke arah barat. Suasana jalan Raya Darmaga menuju Kampus IPB sungguh padat, macet di antara silau ini. Namun entah apapun itu, aku merasa sore ini istimewa. Silau ini sungguh mempesona. Di balik mentari yang seakan hendak jatuh di ufuk barat itu terdapat langit  mempesona yang digelantungi awan-awan jingga.

Kami lanjutkan tujuan kami untuk berbelanja sejenak di kompleks pertokoan BARA (akronim familiar dari Babakan Raya) yang merupakan miniatur Indonesia-segalanya ada. Kurasa Cikal berbelanja terlalu lama di toko kelontong yang menjual ember dan plastik-plastik segala rupa. Sesak toko yang dijejali pengunjung membuatku tak betah berlama di dalamnya. Aku tunggu saja di luar toko. Kulayangkan pandang ke arah selatan dan tiba-tiba aku tercengang. GUNUNG SALAK! Yaa... Gunung Salak di selatan pandangku. Gunung yang telah kupandang selama hampir 9 tahun ini. Sungguh! Gunung Salak tak pernah seindah ini.

Aku sungguh tak pandai mendeskripsikan. Gunung Salak yang biasanya tertutup kabut, sore ini terpampang bebas. Cahaya silau barat tadi membentuk terang sempurna di lembah-lembah di kaki gunungnya. Bahkan kulihat kebun-kebun, rumah-rumah, jurang-jurangnya terlihat sangat klasik (aku bingung memilih kata. Klasik adalah definisiku akan sebuah negeri dongeng impian yang tidak pernah kutemui dalam nyata). Jarak pun seolah hilang beberapa waktu. Puncak yang lebih gelap lebih membentuk aura magis yang aneh di pandanganku. Sungguh! Sore ini Gunung Salak indah. Indah. Kembali lagi, aku tak pandai mendeskripsikan.

Sepanjang jalan aku mengungkapkan kekagumanku hingga kurasa Cikal bosan mendengarnya. Tapi biarlah, biar saja dia ikut tertular euforia yang kurasakan. Dan tidak habis rasa kagumku, di langit tenggara muncul kaki pelangi. Sebuah pelangi pendek namun sungguh besar dengan bias warna sempurna. Mejikuhibiniu (Merah Jingga Kuning Hijau Biru Nila Ungu). Bias air hujan memberikan kesempatan pada cahaya mentari untuk menunjukkan keindahannya. Menjadi penyempurna suasana.

Aku dan Cikal pulang. Sepanjang jalan macet dengan suara bising kendaraan yang mengantri jalanan. Pelangi sudah beberapa menit kemudian cepat menghilang. Langit barat sudah tak sesilau tadi. Di timur terlihat Gunung Gede Pangrango diselimuti awan hitam menggulung. Suasana dengan cepatnya berubah. Namun daripada itu, aku bahagia. Aku merasakan apa yang alam coba sampaikan. Tak perlu dimengerti, hanya terasakan. Dan mengetahui itu aku sungguh bahagia.

Aku heran. Apakah orang-orang yang terjebak macet di jalanan itu juga merasakan indahnya sore ini?
Atau hanya aku? Adakah orang lain?

Entahlah,...

23 Mei 2013


Seharian di perjalanan yang lumayan lancar. Sudah pagi-pagi benar aku terbangun. Jam 6. Kabut di luar masih tebal menyelimuti bukit-bukit. Aku masih berhutang menuliskan sejarah panjang Bada yang harus keselesaikan sebelum aku pulang. Di pagi yang masih rabun itu, aku sudah harus menghidupkan layar dan mulai mengetik. Bersyukur karena ternyata kemudian Ibu Femmy langsung membawakan segelas kopi susu hangat. Pas sekali menemani pagi ini.

Sekitar 15 menit aku memulai khusyu’ memandang layar dan menarikan jari di keyboard, Praska datang. Dari matanya yang masih sembab, terlihat kesan bahwa dia belum lama terbangun dari tidur, bahkan belum sempat mencuci muka. Meskipun begitu, Praska tetap cool. J .

Kuberikan topi NordWand kesayanganku pada Praska sebagai  kenang-kenangan. Karena kutahu dia sering bermain-main di luar rumah, di bawah terik mentari Bada, maka kupikir sebuah topi akan bisa menjadi salah satu teman baiknya yang berguna. Lalu Gledis kuberikan seperangkat spidol dan stabilo. Ya,.. karena dia suka menggambar dan mewarnai. Tiba-tiba perasaan segan untuk berpisah kembali hadir. Huhh,...



Jam 8 pagi kami berangkat ke Gintu. Mobil travel yang akan mengantarku ke Palu akan menjemputku dari Gintu. Seperti biasa aku dibonceng Bang Adi. Hampir sejam kemudian, kami sampai di Gintu.
Tidak seperti kemarin, suasana rumah di Gintu cukup ramai. Ada beberapa orang di rumah itu. Perbincangan pun dimulai dengan suasana meriah. Kedatangan Pak Obet, masih saudara juga dengan Ibu Femmy membuat suasana semakin meriah. Pak Obet ini sungguh lucu. Namun demikian dia juga sangat cerdas. Beberapa kali dia melemparkan joke-joke yang sebenarnya sangat kritis namun menjadi lucu karena pembawaannya. Dia membahas tentang kekhawatiran maraknya penjualan tanah di Bada kepada para pendatang, kesenjangan ekonomi yang bisa saja muncul karena pendatang umumnya lebih maju daripada pribumi, dan situs-situs arkeologi yang mungkin saja memiliki motif terselubung pengangkutan pusaka Tampo  Bada’ ke luar wilayahnya. Uhh, pokoknya tema-tema krusial deh. Hanya saja tetap lucu dan membuat orang terbahak-bahak.

Baru kemudian aku tahu kalau Bang Obet ini adalah mantan polisi. J
Jam 10 mobil muncul. Aku berpamitan dengan semua orang di rumah itu. Aku masuk mobil dan berangkat. Beberapa kali mobil berhenti: mengantarkan barang, mengambil titipan  orang-orang, menjemput penumpang, dll. Baru sekitar jam 11.30 mobil benar-benar beranjak meninggalkan Bada. Nama sopir adalah Iksan, pemuda 25 tahun berkuiit gelap dengan potongan rambut gaya Kangen Band. Namun demikian, selera musiknya lumayan J, bukan Kangen Band juga. Ini terdengar dari musik-musik yang disetelnya di mobil. Wkwkwk.
---
Jalan masih rusak, bahkan di beberapa tempat muncul bekas longsoran baru yang membuat jalan rusak itu menjadi lebih sempit. Sempat ada sebuah bus butut pengangkut barang yang kesulitan melewati jalan sempit bekas longsoran. Iksan dan temannya turun membantu evakuasi bus itu dan aku ikut turun menontonnya. Ngeri juga melihat bus yang hampir jatuh melayang ke jurang itu. Tapi syukurlah semua bisa diatasi.
---
Jam 3 sore kami sampai di Tentena. Perjalanan lanjut ke Poso. Di Poso, suasananya mencekam. Beberapa spanduk besar bergambar foto-foto DPO yang katanya teroris. Wooo,... ngeri sekali terlebih jika melihat tentara-tentara yang lalu lalang menyandang senapannya.
---
Poso berlalu dan perjalanan dilanjutkan. Malam ini terang bulan, cerah tanpa hujan. Semilir angin malam membuatku ngantuk dan terlelap di perjalanan. Sesekali terbangun ketika sang sopir dengan lincahnya membelok-belokkan mobilnya di tikungan-tikungan tajam dengan kecepatan yang menurutku cukup tinggi.
--
Padi buta aku sampai di Palu. Aku mencari penginapan dibantu oleh Iksan. Cukup usaha juga karena ternyata banyak penginapan yang penuh. Mungkin sedang ada acara entah apalah yang membooking semua kamar-kamar penginapan ini. Beruntung masih ada penginapan yang masih menyediakan kamar kosong. Penginapan Kartika di Jalan W. Mongisidi.
--
Setelah mandi akupun tidur. Perjalanan hari ini membuatku ngantuk dan berat mata.

Selamat tidur. Biarkan bulan di luar sana bersinar purnama. Cukuplah aku tertidur dalam pulas istirahat yang membawa energi baruku esok hari.




"Ibarat tiga ekor burung yang sedang terbang berkejaran. Burung yang paling di depan adalah dunia, burung yang kedua adalah manusia, burung  yang terakhir adalah kematian. Burung yang kedua selalu mengejar burung yang pertama, dan burung yang ketiga selalu mengikuti dari belakangnya. Ketika manusia mengejar dunia, dia juga harus sadar bahwa kematian selalu membuntuti di belakangnya."

Pelajaran berharga hari ini kudapatkan dari "Rojer", tukang jual rokok, tisu dan pulsa keliling di lingkungan kampus IPB yang katanya kampus bebas rokok. Bukan rokok, bukan pula pedagang atau masalah kampus yang membuatku tertarik, namun ucapan2 Rojer yang membuatku berpikir beberapa hal.

Siang itu, setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan di depan laptop di perpustakaan IPB, aku memutuskan untuk makan siang di Kantin Kornita di Fakultas Kehutanan. Karena bukan mahasiswa lagi, maka tidak heran ketika tiba di sana aku memilih untuk duduk sendiri. Ya, tidak ada yang kukenal kecuali  beberapa pedagangnya saja. Ketika itulah kulihat Rojer, si pedagang keliling rokok. Dipanggil dengan sebutan "Rojer" karena setiap dia lewat untuk berjualan selalu berteriak "Rojer Rojer". Dia pun duduk dekat denganku. Sedikit obrolan ringan sekedar sapaan hingga akhirnya berkembang menjadi kuliah kehidupan. Bukan aku dosennya, sepertinya di sini aku merasa menjadi murid dari si Rojer.


Dengan lancar Rojer menceritakan tentang dirinya. Bagaimana dia bekerja sudah bertahun-tahun dengan berjualan barang dagangannya dan bagaimana dia menjalani hidupnya yang yaa,..... begitu-be gitu saja. Bukan keluhan! Hanya pernyataan. Satu hal darinya. Dia selalu mengikuti pengajian, dia selalu mengikuti diskusi  dan ceramah agama.  Tidak hanya di satu tempat, tapi di beberapa tempat dengan imam/ kyai yang berbeda. Dan dari sanalah kemudian dia memberitahuku banyak hal. Filosofi dunia, hidup, dan mati dalam analogi tiga burung yang terbang berkejaran itulah salah satunya. Dia dapatkan analogi itu dari seorang kyai yang dia tidak ingat lagi namanya.

Tentu saja aku juga banyak bertanya. Selalu dengan intro jawaban yang sama:

"Makanya ngajiii!!! biar nambah ilmunya...."

Haaa,.... Sungguh siang yang indah. Bukan hal baru sebenarnya. Apa yang Rojer sampaikan adalah sesuatu yang pernah kudengar juga. Namun rasanya semua itu menjadi baru ketika itu kudengar dari orang yang tak terduga.

 Ilmu memang tak terbatas. Dia di mana saja, kapan saja, di siapa saja. Tergantung kita, bisa menerimanya atau tidak. Jika mengutip kata Masriadi, "Dunia ini ibaratnya adalah bank data, semuanya ada. Tergantung kita, apakah bisa memiliki software yang tepat untuk membuka data itu". Rasa-rasanya, siang ini aku dapat  memiliki software sederhana untuk membuka sedikit data yang tersimpan di Rojer. hehehe...

--------------------
Sebelum pulang kutanya nama asli Rojer. Sambil mengelak dia hanya memberikan petunjuk: "Pokoknya huruf depannya C dan belakangnya P". Ini sih sangat gampang. "CECEP" tembakku dengan sangat yakin. apa lagi coba nama yang cocok buat orang Sunda? dan ternyata tebakanku tidak meleset..

Terimakasih ya Bang Cecep alias Rojer, untuk siang ini.



22 Mei 2013


Yey,... Besok kembali!! (Ke Palu J)

Antara senang dan juga sedih. Rasanya belum puas berada di Tuare dan di Bada. Namun waktu berlalu seperti tidak punya toleransi. Semuanya begitu cepat berlalu. Sudah menuju hari-hari deadline. Bisakah? Pasti bisa!

Aku bangun kesiangan lagi. Jam 8.00. Tidak bisa kusalahkan hari kemarin yang melelahkan, tak bisa juga kusalahkan kebiasaan, namun gara-gara kesiangan hari ini rencanaku untuk melihat fajar di Bada tertunda lagi. Kesempatan terakhirku adalah besok. Bisakah? Pasti bisa! (menulis sambil penuh keraguan J).

---- Aku menulis catatan ini sudah jam 12 malam. Beberapa saat lalu genset dimatikan. Ada lampu bertenaga aki di kamarku. Lumayan untuk penerangan di meja kerjaku. Binatang-binatang kecil yang terbang mengerumuni cahaya benar-benar menjadi teman, meski kadang membuatku gatal-gatal dengan gigitannya.---------

Hari ini diajak ke kebun coklat milik Mama Dini. Akupun ikut. Akhirnya aku menaiki gerobak kayu yang ditarik dua ekor sapi. Awalnya kurasa kasihan pada sapi-sapi itu, tapi memang sudah tugas mereka dari dulu ya begitu itu. “Yang sabar dan kuat ya wahai sapi-sapi!” J. Gerobak dikendarai oleh Om-nya Dini. Penumpangnya ada tiga: aku, Mama Dini, Gledis. Jalan menuju kebun cukup jauh dan di beberapa tempat becek banget. Di sepanjang perjalanan hanya ada kakao, sedikit kebun kopi, dan pohon-pohon hutan.

Ramai orang di beberapa titik sepanjang perjalanan: kelompok ibu yang sedang mengupas coklat, pemuda yang sedang membersihkan lahan, beberapa pemanen coklat. Setelah sekitar 20-30 menit kami sampai kebun Papa Dini. Kebun coklat yang cukup luas di tepi Sungai Leiriang. Di sana sudah ada empat orang, termasuk Papa Dini dan Kak Titi. Nampaknya mereka sedang beristirahat dari kerjanya. Pondok tempat berisitirahat cukup besar.

Ibu Femmy pun menyusul, kemudian Praska dan beberapa pemuda. Woo,.. rame jadinya. Kamipun makan siang bersama..


(OMG, jari-jariku rasanya kaku ngetik. Ngantukkk)

Pondok di kebun coklat

Jam 3 aku pulang kembali ke kampung, dibonceng motor boti : Papa Dini, aku, Gledis. Di tengah jalan aku disengat tawon. Sumpah sakitttt. Kepala langsung pusing dan kliyengan. Dan ternyata langsung bengkak. Hemm,.... oleh-oleh nih.
---

Malampun tiba. Aku diajak Ibu Femmy ke kepala desa. Niatnya mau pamitan. Namun kepala desa sedang di Gintu. Lanjut kami mengunjungi Om-nya Ibu Femi bernama Pak Adrianus S (S apa ya?). Dulunya beliau adalah Polhut, pensiun 2 tahun lalu. Sempat kami bercerita tentang hutan-hutan di sekitar Bada. Pak Adrianus pernah menyusuri hutan bahkan sampai Wumbu Wana. Woooww,...
---

Ketika pulang kutengadahkan langit malam purnama yang cerah. Bulang begitu cantik nangkring di langit sana. Suasana desa yang tak teraliri listrik ini seakan mendapatkan berkah dari cahaya Dewi Bulan. J. Romantis banget. Andai saja oh andai saja,.. mulai ngalamun...
Sampai di rumah, Ibu Femmy langsung meminjamkan baju adat miliknya. Aku berfoto dengan baju adat Bada. Hehehehe.... Meski tanpa make-up sedikitpun aku tetap akan bertekad meng-upload foto berharga ini.
---

Ketika jam setengah 10, aku kembali ke kamar dan mulai menulis. Belum berapa lama, kamarku diketuk. Rupanya Roni dan Jupy (yang tadi aku temui di kebun) hendak meminta file film. Oke deh, sekalian saja bertukar kontak. Jadilah kami ngobrol. Cukup lama juga, sambil menunggu transfer data. Alamat FB sudah kusimpan. Amann...
---
Sudah malam, saatnya berpamitan.
---
Ingin kuselesaikan tulisan yang belum selesai.
----
Genset mati, hewan-hewan kecil berlalu lalang. Kadang-kadang hewan terbang ini bagaikan pesawat yang gedubrukan menabrak mukaku. Hehehe,..
Semangat!!!

--- 

21 Mei 2013

Menelusur Sejarah (II)


Aku dan Pak H Mangela
Episode sejarah kembali lagi hadir di hari ini. Simpang siur yang 3 hari lalu membuatku pusing akhirnya hari ini terurai sudah. Terimakasih tentunya untuk nara sumber yang sangat fasih menceritakan kisah sejarah : Bapak Hendrik Mangela. Hari ini adalah episode khusus untuk Bapak satu ini.
--
Hari ini, sesuai rencana, kami akan memperbaiki kisah sejarah yang simpang siur. Yah, ingin kutekankan lagi bahwa meskipun sejarah bukan menjadi inti dari buku yang harus kutulis, namun unsur sejarah menjadi satu hal yang juga krusial. Penting. Menuliskan sejarah pun ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Namun hari ini aku banyak belajar. Akupun berangkat dari Tuare jam 10.00, setelah Ibu Femi selesai mengajar di SD. Hari ini aku dipertemukan dengan Bapak Hendrik Mangela yang bertempat tinggal di Pada. Desa yang cukup jauh juga dari Tuare.

Seperti kemarin, kami menggunakan dua motor: aku berboncengan dengan Bang Adi, Ibu Femi menyetir sendiri. Semalam tidak hujan, jalan sedikit lebih kering dari kemarin-kemarin. Namun tetap saja di titik terlicin jalur Kageroa-Lengkeka, Ibu Femi menyerahkan motornya untuk diseberangkan oleh Bang Adi di jalan licin tersebut. Kami beristirahat sejenak di Gintu dan meneruskan perjalanan ke Pada. Langit cerah biru, awan putih, bukit-bukit hijau, udara panas.

Sesampainya di kediaman Pak Mangela, ternyata yang dicari tidak ada. Beliau sedang di Gintu, sedang ada pekerjaan penterjemahan Al Kitab ke Bahasa Bada yang menjadi tanggung jawabnya. Inilah resiko bertamu tanpa pemberitahuan. Hehehe... Jadinya untung-untungan. Kami memutuskan untuk ke Gintu saja, menyusul Pak Mangela.


Sebelum ke Gintu, Ibu Femi mengajakku ke Bomba untuk sejenak melihat situs penggalian arkeologi di dekat wilayah tersebut. Jalan menuju situs adalah jembatan gantung selebar 1 meter-an yang bergoyang-goyang jika dilewati orang. Jembatan gantung itu melintasi Sungai Tuare yang cukup lebar. Cukup deg-degan juga ketika jembatan berayu karena ada motor yang lewat. Sampailah di ujung jembatan dan rasanya lega sekali. Kulihat ada sebuah tulisan selamat datang. Ternyata lokasi yang dimaksud ini sudah masuk wilayah Desa Kolori.

Hanya sekitar 15 menit kami melihat situs  tersebut. Sepertinya barang-barang bekas penggalian tersebut adalah gerabah/ tembikar di masa lalu. Katanya barang-barang seperti ini memang banyak tersimpan, terkubur di tanah di Lembah Bada ini. Bahkan lokasi situs yang kami kunjungi hari ini terletak di halaman rumah orang. Betapa lembah yang penuh dengan misteri.

Kamipun kembali,..

Sempat mampir di Bewa, mencari-cari sinyal. Sial-nya hari ini aku lupa bawa HP. SShhh,.... Kebiasaan buruk!!! Jadilah aku menonton saja orang-orang yang berburu sinyal terbatas ini. Jika kuperhatikan betul-betul, hal ini unik juga. Motor-motor diparkir di tepi-tepi jalan dan orang-orang yang hampir semuanya memegang HP.

 
Mencari sinyal HP
  
Perjalanan dilanjutkan dan kami ke Gintu ujung. Kami menemui Pak Mangela di rumah Ibu Ita yang ternyata adalah pengurus AMAN juga di Bada. Sembari aku mengobrol dengan Bapak Mangela, Ibu Ita dan Ibu Femi berbincang di luar. Ya, aku dan Bapak Mangela mengobrol sebentar. Kami janjianuntuk bertemu lagi malam harinya. Kisah sejarah ini agak panjang dan saat ini beliau sedang bekerja jadi tidak bisa fokus untuk menceritakannya. Okeee...

Jadilah kami menunggu malam di Gintu. Sempat juga aku diajak ke rumah Bapak Leky Tompa, kakak Ibu Femi yang juga sekretaris MHTB, juga guru SMA di Bada. (Anak bungsu perempuan Bapak Leky bernama Caca sangat lucu sekali. Imut banget.) Bapak Leky memiliki rumah yang cukup luas. Di sini jugalah banyak keponakan dan keluarganya bertempat tinggal. Aku sempat mengobrolkan banyak hal dengan Bapak Leky: kakao, keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan isu-isu terkini. Yahh,, lumayanlah untuk update berita dan nambah-nambah informasi.

Ketika senja kami kembali dan berapa lama kemudian berangkat ke Pada. Sesampai di tujuan, Bapak Mangela sudah menyambut kami, juga anjing galak miliknya yang dirantai. Gonggongannya cukup keras dan cukup untuk menakutiku jika saja dia tidak dirantai. Oke, lanjut,...

Bapak Hendrik Mangela, Nara Sumber sejarah


Aku meminta Bapak Mangela untuk menceritakan dan aku mencatat. Aku akan anggap versi sejarah yang pernah kutahu dan simpang siur itu tidak ada. Jadi semuanya dimulai dari nol. Mulailah kisah dituturkan. Ini dia ceritanya:

...... PRE –MEMORY (mirip di latihan-latihan upacara bendera, maka bagian ini akan aku skip saja. Pekerjaan khusus di lembar terpisah)....

Pada intinya adalah sejarah asal-usul yang dituturkan oleh Bapak Mangela lebih runut, lebih masuk akal karena tidak mengandung unsur dongeng dan magis, dan sesuai dengan periode sejarah di lain tempat. Nara sumber yang bisa dipercaya. Beliau dulu pernah jadi penilik sejarah selama 16 tahun dan juga kepala Depdikbud sampai akhir 2002. Beliau sudah berkutat dengan sejarah sejak dari muda, tidak heran jika saat ini ketika usianya mencapai 68 tahun beliau sangat fasih melafalkan sejarah tanah kelahirannya. Salute..


Setelah selesai, kami pulang. Mampir sebentar di Gintu untuk makan malam dan lanjutkan perjalanan ke Tuare, di tengah-tengah gerimis malam. Jalan malam cukup memberikan suasana yang benar-benar lain. Rasanya lebih lama sampai di tujuan. Badan sudah lelah dan pegal-pegal. Ketika kulihat ada tanda perbatasan desa Tuare, sungguh lega rasanya.

Jam 22.30. Kami baru tiba di Tuare.
(Praska langsung menyambut mama-nya. Anak yang baik J)

Oh Tuhan. Apa yang  harus kulakukan? Ketika aku mulai membuka laptop, jam sudah mulai menunjukkan malam tua. Aku juga lelah sekali. Tapi kisah hari ini serasa menumpuk tidak hanya di buku catatanku, tapi juga di otakku. Whoaaa,......

Ibu Femmy bilang sebaiknya aku tidur dan istirahat. Besok adalah hari istirahat. Ya, aku setuju dengan Ibu Femmy. Minimal catatan harian 15-20 menit.

Tidak terasa besok sudah harus kembali.



Tiba-tiba teringat Mahameru. Ehm, sungguh pesona beku puncak Semeru ini selalu menjadi angan-anganku. Suatu saat nanti pasti akan ke sana lagi. Meski hanya hitam, putih, abu-abu, namun di atas sana serasa sebuah dunia lain yang indah. Indah dalam bekunya, dalam sunyinya, dalam horison tanpa batasnya.

Yuk, mendaki gunung lagi,....

Mahameru, Januari '13 photo taken by Sandi Bakti





20 Mei 2013

Akhirnya ke Kageroa juga,...

Tiba-tiba tanggal sudah di Mei ini sudah berkepala “2”. Waktuku semakin sempit saja. Waktu yang diberikan untukku sebenarnya ingin kutawar lagi. Rasanya ingin lebih dan lebih. Tak ada rasa bosan ataupun beban. Yang kutahu hanya aku betah di sini. Yah, mungkin saja karena mungkin baru genap seminggu aku tinggal di sini. Banyak hal yang belum kutahu yang membuatku selalu ingin lebih dekat. Mungkin penasaran.

Pagi seperti biasanya tidak menyisakan sedikitpun bekas fajar untukku. Rekor bangun pagiku di sini adalah jam 6 (pas tim UKP3 datang) dan ketika itu matahari sudah memberikan warna asli bagi alam ini: hijau, biru putih. Bukan warna magis merah keemasan yang selalu menyihirku ketika kulayangkan pandang ke arah timur. Ahh,... suasana itu,...  Bangun pagi bagiku saat ini adalah kemewahan. Harga yang harus kubayar adalah begadang semalaman. Ketika begadang sampai pagi itulah mungkin aku sempat bersua dengan fajar. Untuk kemudian tidur lagi karena kelelahan. Haaa,...
Sarapan pagi nan lezat...
------ 
Hari ini harus ke Kageroa!!!!
-----

Siang ini aku ikut mandi di kuala (Bahasa Gimpu untuk sungai, Bahasa Bada= Uwai) bersama Praska, Vira dan Gledis. Akhirnya ada juga sesi mandi di sungai. Hehehe,... Kegiatan inilah yang hampir tak pernah luput aku lakukan jika sedang ada kegiatan di lapangan. Jika sudah ikut mandi di sungai, rasanya ada ikatan batin dengan tempat dan orang-orangnya. Itulah yang selalu kurasakan. (Selalu teringat ketika mandi di sungai dangkal di  Krui, mandi dengan selang sakti di Melinsum atau mandi air gambut berwarna hitam di Teluk Meranti). Semua momen-momen mandi itu selalu melekat dalam ingatanku.
Karena itu, marilah mandi di sungai. Tak perlu bersabun dan bersampo. Berenang hilir mudik juga sudah menyenangkan. Atau bisa juga bermain istana pasir di ‘pantai’ sungai.

Ketika mandi, kulihat ada dua orang perempuan sedang melakukan aktivitas domestik: mencuci piring, mencuci pakaian, dan mandi. Meskipun kebanyakan rumah telah memiliki  toilet dan fasilitas MCK sendiri dan ada juga bak-bak penampungan air komunal, namun sepertinya beberapa warga masih memilih sungai untuk keperluan domestiknya. Meskipun kulihat hal ini sudah sangat jarang.


---Kageroa; Pembagian wilayah Adat (Bapak Apolus Wengkau)

Menjelang sore aku ditemani Ibu Femi berangkat ke Desa Kageroa. Beruntung sore ini tidak hujan sehingga perjalanan lumayan lancar. Aku berangkat ditemani oleh Roni, adiknya Bang Adi. Setelah kuperhatikan dengan seksama, kakak-beradik ini memiliki model rambut yang sama. Hahaha,..

Kami sampai di rumah Bapak Apolus Wengkau. Beliau adalah ketua DPD-MHTB di Kageroa. Dulunya, beliau pernah menjabat kepala desa. Yap, Bapak ini termasuk salah satu orang yang dituakan, yang dihormati. Dia jugalah yang menjelaskan tentang sistem pembagian wilayah hutan Bada di acara upacara penyambutan tempo hari. Seperti sudah meramalkan kedatangan kami, Bapak Apolus seperti sedang menunggu kami dengan duduk di ruang tamu rumah kayunya. Rumah panggung dari kayu yang seperti rumah antik di antara rumah-rumah yang mulai bergaya ‘modern’.


Kami masuk dan mulailah Ibu Femi menjelaskan maksud kedatangan kami. Langsung ke pokok permasalahan dan kamipun membahas tentang pembagian wilayah hutan.  Satu hal yang paling membuatku sedikit kaget dan juga tersenyum geli adalah ketika kami membahas Bulu Limbo. Kira-kira begini ceritanya:



Bulu limbo adalah bagian di puncak bukit yang terdapat danau kecil/ kolam. Bulu=bukit, Limbo=kolam. Wilayah ini termasuk dalam wilayah komunal yang tidak boleh sembarangan diolah. Dalam file yang kuterima sebelumnya, di Bulu Limbo ini banyak ditumbuhi tanaman kacang. Kacang? Sejak pertama aku sudah heran, kenapa kacang bisa tumbuh di air/ pucuk bukit? Ternyata dan oh ternyata, pertanyaanku terjawab sudah oleh Bapak Apolus. Yang banyak tumbuh di Bulu Limbo adalah Pohon Kacang.Yah, dengan huruf tebal agar jelas. Pohon Kacang ini adalah nama pohon (entah nama latinnya) yang banyak tumbuh di Bulu Limbo. Kayu pohon ini adalah salah satu yang bisa digunakan untuk membuat rumah (ramuan rumah). Meskipun sama-sama kacang, namun maknanya sudah sangat lain. Kupikir, kita harus berhati-hati dalam merekam informasi yang kita dapat. Kesalahan yang sepertinya kecil ini, ternyata tidak sekecil yang terkira. Itu yang kupikirkan. J

Ketika aku tanyakan apakah pembagian wilayah ini dikenal oleh semua masyarakat desa, Bapak Apolus mengatakan bahwa pengaturan ini mungkin sudah kurang dikenal oleh orang-orang di Desa Gintu, Bewa, Pada, dll yang lokasinya di tengah-tengah lembah, jauh dari bukit-bukit. Yang paling banyak berinteraksi dengan wilayah hutan dan perbukitan adalah orang-orang di Desa Kageroa, Tuare, dan desa-desa di LoreBarat lainnya serta Desa Bulili di Lore Selatan. Masuk akal juga sih.

Setelah membahas tentang kakau (hutan dalam Bahasa Bada), kami sempat juga membahas tentang ladang berpindah yang dulu pernah menjadi satu budaya dan saat ini banyak ditinggalkan. Ternyata membahas tentang ladang berpindah membawa memori masa lalu baik bagi Ibu Femi dan juga Bapak Apolus. Seru jadinya diskusi kami. Hingga sebelum akhir diskusi kutanyakan tentang kekhawatiran akan masa depan dan hal-hal lain.


Bapak Apolus merasa bahwa masa depan masyarakat Bada ini dia juga tidak tahu akan bagaimana. Ada kekhawatiran juga di masa depan jika nanti orang-orang tua yang sampai saat ini gigih mempertahankan adat budaya sudah tidak ada. Terlebih lagi dengan semakin berkembangnya jaman yang seakan sulit dikejar.



Sore ini cerah. Ketika kami pulang dari Kageroa sekitar jam 5.30, seperti kemarin, pelataran gereja ramai dengan orang-orang yang berolah-raga sore. Kami ikut bergabung dalam keramaian itu. Tampaknya hari ini lebih ramai dari kemarin. Lebih banyak orang yang berkumpul. Anak-anak kecil berlarian di halaman. Berguling-guling di tanah. Seru sekali melihatnya.
------
Malam menjelang, kami pulang.

Tidak seperti kemarin, aku libur dahulu untuk menggambarkan Gledis sesuatu. Aku ingin menyelesaikan kewajibanku dulu untuk merangkum menu utama hari ini: “Pembagian wilayah adat Tampo Bada”.
Okey!

Hari ini aku ingin membahas lengkap tentang hutan adat. Tapi entah kenapa, lampu yang bertenaga genset ini semakin berkunang-kunang. Apa pandanganku ya? Rasanya pendarnya semakin tidak stabil. Sama seperti katup mataku yang rasa-rasanya ikut tidak stabil. J Jam 22.54.

Sudah malam ternyata. Biarkan malam ini aku tertidur kurang nyenyak karena menanggung hutang hari ini. Sudah resiko. Aku memilih mengalah pada pendar lampu ini. Lagipula sebentar lagi genset akan selesai masa tugasnya hari ini.
Kisah berlanjut untuk esok hari.

Selamat tidur,..

Journey 9: Ibadah Minggu <--- before="" nbsp="" next----="">