Masyarakat desa hutan adalah sekelompok masyarakat yang bermukim dan menetap di sekitar atau di dalam hutan dan umumnya hidup bergantung pada pemanfaatan sumberdaya hutan. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah warga Pekon Pahmungan , kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Lampung Barat.




Pemukiman di Pahmungan yang berdampingan dengan lahan Repong Damar
               Seperti pada umumnya masyarakat desa hutan di berbagai tempat, masyarakat Pahmungan sangat
terikat dengan sumberdaya hutan. Hal ini terlihat jelas dari interaksi yang dilakukan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai tingkat usia terhadap sumberdaya hutan secara langsung. Aktifitas sehari-hari yang dilakukan masyarakat sering dilakukan di hutan.

Suasana pemanenan getah damar, ketika istirahat.
               Mata pencaharian mayoritas penduduk adalah sebagai petani damar pemilik lahan ataupun petani bukan pemilik lahan. Sedangkan mata pencaharian lain yaitu: pedagang (pembeli) damar baik tingkat penghadang maupun tingkat pengumpul di desa, petani sawah, buruh, pedagang warung, ternak, ojek, pegawai negeri/swasta.


               Pendidikan rata-rata warga adalah SMP, banyak warga yang sudah bisa baca-tulis. Seluruh penduduk beragama islam. Fasilitas tempat ibadah yang cukup yaitu 2 buah masjid dan 2 buah musholla mendukung kegiatan keagamaan yang memang banyak dilakukan oleh masyarakat.

               Masyarakat Pesisir Tengah termasuk juga masyarakat Pahmungan adalah masyarakat dari keturunan asli Lampung. Hanya beberapa orang saja yang merupakan warga pendatang. Penduduk pendatang mayoriats berasal dari Jawa dan hampir semuanya sudah cukup lama menetap dan bekerja di pahmungan. Hubungan antara warga pendatang dan asli cukup dekat. Waktu yang lama dan interaksi yang cukup telah menjadikan hubungan antar warga cukup dekat. Bahasa yang dipakai sehari-hari oleh masyarakat adalah bahasa Lampung dan sebagian besar warga telah lancar menggunakan bahasa Indonesia juga.

               Transportasi utama sebagian besar masyarakat beberapa tahun terakhir adalah dengan kendaraan bermotor. Motor telah menempati peran penting dalam transportasi di Pahmungan. Sebagian besar masyarakat telah memiliki motor  sebagai alat transportasi utama. Akses jalan dari Pahmungan keluar pun juga cukup baik dan telah diaspal. Jarak Pekon Pahmungan ke ibu kota Kecamatan Pesisir Tengah Krui sekitar 5 km, dengan jarak tempuh selama 10 menit menggunakan kendaraan bermotor. Jarak Pekon Pahmungan ke ibu kota Kabupaten Lampung Barat sekitar 32 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan, sedangkan jarak dari Bandar Lampung sekitar 287 km atau sekitar 8 jam perjalanan.

Jalan motor di lahan repong damar
               Bukan hanya tranportasi di jalan-jalan desa saja yang menggunakan motor, ternyata motor telah menyentuh pula sistem transportasi di dalam lahan repong damar. Motor digunakan sebagai alat angkut kayu gergajian dari dalam hutan untuk dikeluarkan dan untuk mengangkut hasil hutan lainnya. Penggunaan motor dalam hutan ini telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu setelah dibuatnya jalan kayu yang cukup lebar dari luar hutan sampai di dalam hutan.

               Akses komunikasi masyarakat dengan luarpun sudah baik. Hampir setiap warga sudah memiliki televisi maupun radio. Penggunaan handphone juga sudah menjadi hal yang wajar, dan hamper setiap penduduk dewasa mempunyai handphone sebagai sarana komunikasi. Selain itu, terdapat pula sebuah radio komunitas yang cukup efektif sebagai sarana menyampaikan informasi yaitu Radio Komunitas Suara Petani (RKSP). Pendirian dan pengelolaan radio tersebut didampingi oleh LSM Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) pada tahun 2005. Pengurus radio komunitas tersebut adalah penduduk pekon, terutama para pemudanya. Para tetua terlibat sebagai pengawas (Ekowati, 2005). Namun karena terbentur berbagai kendala, pengelolaan radio menjadi menurun.

               Keberadaan repong damar di Pesisir Krui khususnya Pahmungan tidak terlepas dari budaya masyarakatnya. Masyarakat menganggap repong/kebun damar sebagai hasil karya mereka sejak awak pembentukannya sampai saat ini. Repong damar mempunyai posisi penting pada seluruh lapisan masyarakat. Hal ini terlihat pada banyaknya aktifitas masyarakat dari semua kelas umur yang berkaitan langsung dengan adanya repong damar.

Pustaka:
Ekowati, Dian. 2005. ”Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengembangan Ekowisata. Kasus: Pekon   Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah Krui, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung” [Skripsi]. Bogor : Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, IPB

(Catatan ini merupakan sebagian dari hasil saya melakukan PKL semasa kuliah tepatnya tahun 2008, sehingga yang tertulis dan dokumentasi juga merupakan gambaran kondisi saat itu)
(Sudiyah Istichomah)

Dalam perdagangan damar, melibatkan banyak pihak dan berbagai aktifitas di dalamnya. Damar yang dipanen dan belum diberi perlakuan disebut dengan damar asal atau asalan. Petani biasanya langsung menjual damar asalan hasil panen mereka pada pembeli di kebun atau lebih dikenal dengan sebutan penghadang. Namun ada juga petani yang mengumpulkan dahulu hasil panennya dan menjualnya pada pembeli di desa / pengumpul.

               Penghadang melakukan sortasi awal damar berdasarkan ukuran dan warna damar.
Jika sudah terkumpul cukup banyak, damar dijual kepada pengumpul di desa. Pengumpul damar di desa membeli damar dari petani maupun penghadang. Damar yang diperjualbelikan dapat berupa damar asalan maupun damar yang sudah disortasi. Pengumpul melakukan sortasi kembali. Damar dibagi-bagi menjadi kelas-kelas. Kelas-kelas tersebut seringkali berbeda pada tiap-tiap pengumpul. Setelah damar terkumpul baru dijual ke pedagang besar di Pasar Krui atau langsung pada konsumen di luar daerah (biasanya dari Jakarta). Dari pedagang besar kemudian damar djual lagi ke konsumen di luar daerah untuk kemudian diekspor maupun untuk konsumsi dalam negeri. Di bawah ini adalah bagan alir perdagangan damar (Bourgeouis, 1984 dalam Foresta et.al, 2000).
                             
                                     Organisasi Rantai Perdagangan Damar 


               Proses pengolahan damar dilakukan di luar Krui atau dengan kata lain perlakuan yang terjadi di Krui hanyalah sortasi saja. Rantai perdagangan di Krui pun relatif stabil dan sederhana. Masyarakat Pahmungan dan umumnya Krui menyebut proses sortasi dengan pengolahan, jadi pengolahan menurut masyarakat adalah pemilahan/ sortasi damar.

Aktifitas pada tingkat-tingkat perdagangan damar sampai dengan Pasar Krui yaitu :
Petani :    - pemanenan damar
              - sortasi awal (namun umumnya petani menjual damar asalan)

Penghadang :    - Pengumpulan damar dari petani langsung dari kebun
                 - Sortasi ke dalam kelas-kelas
                      - penjualan ke pengumpul di desa

Pengumpul :    - Pembelian damar dari petani dan penghadang
             - sortasi damar ke dalam kelas-kelas berdasarkan ukuran dan warna yaitu :
1.      Kelas A (kelas ekspor) = ukuran 2-4 cm
2.      Kelas B = ukuran 1-2 cm
3.      Kelas C = ukuran 0,5 - 1 cm
4.      Kelas DE = ukuran < 0,5 cm
5.      Kelas debu = ukuran debu/serbuk
6.      Kelas KK = damar dengan warna kehitaman

Berbagai ukuran damar

Pedagang besar :    -  pembelian damar dari pengumpul di desa, pembelian dilakukan tiap hari         dan bisa mencapai 5 ton perharinya.
-         Sortasi lanjutan
-         Pengumpulan damar dilakukan dalam gudang cukup luas
-     Penjualan damar ke pedagang di luar daerah (biasanya Jakarta dan Bandar Lampung)

Gudang penyimpanan damar pedagang besar.


                     Untuk pengumpul, pengumpulan damar dilakukan di gudang (lantai dasar rumah atau ruang depan yang cukup luas). Jika sudah terkumpul kemudian dipak dalam karung-karung. Dalam waktu 3 hari seorang pengumpul dapat mengumpulkan 3-5 ton damar. Penjualan damar ke pasar Krui ataupun dijual langsung kepada konsumen di luar daerah. Penjualan yang terakhir sangat tergantung pada permintaan sehingga tidak menentu, bisa sampai tiga bulan sekali.

Pustaka: 
Foresta, H de, Kusworo, A, Michon, G, Djatmiko, WA. 2000. Ketika Kebun Berupa Hutan: Agroforest Khas Indonesia-Sebuah Sumbangan Masyarakat. International Centre for Research in Agroforestry, Bogor : Indonesia


(Catatan ini merupakan sebagian dari hasil saya melakukan PKL semasa kuliah tepatnya tahun 2008, sehingga yang tertulis dan dokumentasi juga merupakan gambaran kondisi saat itu)


Judul     : Dewi Kawi
Penulis   : Arswendo Atmowiloto
Bahasa   : Indonesia
Tebal     : 19 bab, 131 halaman
Penerbit : Gramedia
Skor      : ***


Sinopsis:
Eling adalah seseorang yang pada masa mudanya penuh dengan kepahitan hidup. Namun semasa mudanya adalah masa yang paling membuat terkesan karena ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Kawi yang telah banyak memberikan perubahan pada hidupnya. Kawi adalah seorang penghuni di kompleks pelacuran. Mereka berdua, Eling dan Kawi menjalin cinta masa mudanya yang saat ini, ketika Eling telah menjadi seorang Juragan kaya, hal itu seperti mimpi saja.

Saaat ini Eling telah menjelma menjadi Juragan Eling, seorang pengusaha sukses yang disegani dan dijuluki sebagai seorang ‘Kapitalis Kejawen’. Eling tidak akan pernah melupakan saat-saat ia bersama Kawi meskipun Kawi telah pergi dan hilang sejak lama. Eling ingin mencari jejak Kawi dan mencari kembali jejak masa lalunya. Eling ingin memastikan bahwa kenangan yang selama ini ia yakini bukanlah angan-angan dan khayalan yang ia buat sendiri. Eling ingin memastikan bahwa Kawi yang ia sebut sebagai Dewi Kawi, seseorang yang berharga di masa lalunya, bukanlah sosok khayalan. Dengan bermodalkan kenangan, Eling dengan bantuan adiknya, Podo, mencoba mencari keberadaan Dewi Kawi.


Namun semakin pencarian itu dilakukan dan tidak membuahkan hasil, Eling menjadi takut untuk menerima kenyataan baru yang mungkin akan berbeda dengan kenyataan yang selama ini ia yakini. Pertemuan yang ia harapkan mungkin saja akan membuat kenangan-kenangan yang selama ini ia rekonstruksi menjadi hancur berantakan. Kenyataan kemarin bukanlah kenyataan hari ini dan kenyataan hari ini bukanlah kenyataan esok hari. Setiap bergulirnya waktu, manusia selalu membuat kenyataan baru, kenyataan yang terus terekonstruksi, terus berubah sesuai dengan apa yang diinginkan yang bahkan akan sangat berbeda dengan kenyataan masa lalu.

Penilaian saya:
Membaca buku ini seperti belajar tentang kehidupan. Sudut pandang dan pemikiran tokoh Eling seperti menggambarkan pemikiran dari sang penulis sendiri. Pembaca pun seperti tidak bisa mengelak dari pendapat itu, karena memang seperti itulah adanya. Salah satu hal yang paling membuat saya sebagai pembaca terkesan adalah bahwa ‘kenyataan atau kebenaran itu adalah hasil rekonstruksi pikiran’.

Dalam cerita ini, pemikiran-pemikiran tokoh Eling lebih mendominasi dibandingkan alur ceritanya sendiri. Pada awal membaca cerita ini, saya penasaran dengan jalan cerita dan bagaimana akhir kisahnya. Apakah pertemuan dengan Kawi terjadi? Ataukah ada hal lain yang terjadi? Namun hal ini tidak dapat saya temukan karena semakin lanjut membaca, kisah akan semakin dalam membahas tentang pemikiran-pemikiran tokoh Eling, sehingga alur cerita yang diceritakan sebelumnya pun terkadang terlupakan dan seperti tidak berhubungan. Ketika cerita semakin dalam membahas pemikiran Eling itulah saya mulai merasa bosan. Bosan karena hal itu selalu ditulis berulang-berulang, bahkan sampai di akhir cerita. Mungkin memang hal itu lah yang ingin ditekankan oleh penulis.

Saya merekomendasikan jika anda membaca buku ini, bacalah dalam beberapa kali waktu. Meskipun buku ini tipis, namun pemikiran-pemikiran penulis sangat banyak tertuang dalam kisah ini. Membaca dalam sekali waktu bisa saja menghilangkan makna yang sangat dalam yang ingin disampaikan oleh penulis. Mungkin hal ini hanya terjadi pada saya. Bagaimana dengan anda?




Judul    : East Wind West Wind (Angin Timur Angin Barat)
Penulis : Pearl S Buck
Bahasa : Indonesia (penterjemah: Lanny Murtihardjana)
Halaman  : 21 bab, 240 halaman
Penerbit  : Gramedia
Skor    : ***

Sinopsis:
Kwei Lan adalah seorang perempuan Cina yang tumbuh dan dididik menurut adat-istiadat Cina Kuno. Adat-adat istiadat kuno yang mengharuskan seorang perempuan menjadi bunga dan menyingkirkan diri diam-diam di hadapan lelaki, yang melarang perempuan mengungkapkan perasaannya secara langsung dan terang-terangan, dan yang mengharuskan seorang perempuan mengalami penderitaan yang menyakitkan karena harus membebat kaki agar senantiasa kecil dan cantik. Masa itu adalah masa dimana kaki yang kecil adalah yang dianggap cantik, dan setiap kecantikan memerlukan pengorbanan.

Masalah muncul ketika Kwei Lan menikah dengan seseorang yang modern. Meskipun suaminya adalah seorang Cina, namun dia pernah pergi ke luar negeri dan menerima pendidikan barat. Berbagai perbedaan sudut pandang dan pertentangan budaya pun banyak terjadi mewarnai hari-hari selama perkawinan mereka, bahkan menjadi masalah di keluarga besar kedua belah pihak. Masalah semakin besar ketika kakak Kwei Lan pulang dan membawa istri berkebangsaan asing.  


Kwei Lan semakin menderita karena merasa pengorbanan yang selama ini dilakukannya sia-sia sedangkan suaminya menuntutnya untuk berkorban lebih, terlebih ketika suaminya meminta bebat kakinya dibuka. Sedangkan bagi suaminya, membuka bebat kaki berarti adalah membebaskan istrinya dari penderitaan. Apa yang Kwei Lan pikirkan sering tidak sesuai dengan maksud dari sang suami.
Kisah ini, dituturkan dengan sudut pandang Kwei Lan. Bagaimana dia mengalami pendidikan Cina kuno ketika kecil, hari-hari awal pernikahannya, menghadapi budaya baru yang sama sekali asing baginya, dan bagaimana dia harus menyesuaikan diri dengan budaya baru tersebut. Kisah dimana Angin Timur dan Angin Barat bertemu.

Pendapat saya:
Cerita ini dituliskan oleh Pearl S Buck melalui penuturan Kwei Lan. Membaca kisah ini, seperti mendengar sendiri Kwei Lan bercerita dan mencurahkan isi hatinya. Cerita ini sangat mengalir sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan kisahnya. Saya membaca buku ini selama 3 hari.

Membaca kisah ini, memberikan pengetahuan tentang budaya-budaya Cina Kuno dan bagaimana proses budaya barat yang mulai masuk dan diadaptasi oleh masyarakat lokal. Bagaimana cara masyarakat Cina harus menyesuaikan diri dengan budaya baru yang bahkan bertentangan dengan budaya lama dan bagaimana nasib mereka yang tidak mau menyesuaikan diri? Jawabannya akan ditemukan dalam kisah ini melalui sudut pandang Kwei Lan.

Namun demikian, dalam cerita ini saya melihat bahwa budaya Cina yang ditampilkan terkesan seperti budaya yang terkalahkan, sedangkan budaya barat yang ditampilkan seolah-olah lebih unggul. Konflik-konflik yang tercipta juga terkesan sedikit ‘mengunggulkan’ budaya barat, meskipun saya yakin masih banyak budaya Cina Kuno yang baik.

Saya memberikan rating/ nilai *** (bintang tiga) untuk karya Pearl S Buck yang pertama ini. Jika anda memiliki waktu luang di akhir pekan, anda dapat membaca buku ini pada Jum’at malam dan pada hari Minggu-nya anda akan mendapatkan pengetahuan baru tentang budaya Cina kuno.




(Sudiyah Istichomah)

Desa adalah sekumpulan orang-orang yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu dalam waktu tertentu yang saling  berinteraksi secara langsung dengan lingkungan alam sekitarnya membentuk satu kesatuan ekosistem. Sering kali desa diartikan secara umum sebagai suatu daerah yang terdiri dari masyarakat yang tertinggal dan jauh dari pusat perkembangan. Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, Indonesia adalah negara yang tersusun dari berbagai masyarakat yang multikultural yang terbagi-bagi dalam kumpulan-kumpulan masayarakat yang tinggal menyebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Pulau Mianggas sampai Pulau Rote yang sebagian besar berbentuk “desa”. Sebutan Desa sendiri berasal dari Pulau Jawa dan bisa berlainan di lain lain daerah seperti penyebutan desa dengan nama “Pekon” bagi masyarakat Lampung, “Gampong” untuk masyarakat Aceh dan “Nagari” untuk masyarakat Sumatera Barat. Namun pada dasarnya konsep desa sendiri tidak begitu berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain
            Setiap desa di seluruh nusantara memiliki ciri khas masing-masing dalam hal budaya dan adat istiadatnya. Budaya tersebut terbentuk merupakan hasil dari interaksi masyarakat dengan sesamanya dan dengan alam lingkungannya. Kekayaan alam Indonesia yang beraneka ragam memungkinkan terwujudnya bermacam-macam budaya yang ada pada masing-masing daerah. Budaya yang terbentuk meliputi seluruh aktifitas masyarakatnya, mulai dari bidang sosial seperti budaya gotong-royong, adat pergaulan, religius, sampai bidang fisik seperti budaya pertanian, arsitektur bangunan, tata ruang dan hal-hal lain.
            Sebagai hasil dari interaksi yang terus menerus dan adaptasi jangka panjang terhadap lingkungan alam, desa telah berkembang menjadi tempat hunian/permukiman yang sesuai dengan kondisi alam lingkungan setempat. Banyak nilai-nilai yang tersimpan dalam sistem desa baik nilai sosial ataupun fisik yang perlu dipertahankan.
            Perkembangan jaman dewasa ini telah banyak memberikan pengaruhnya pada tata kehidupan manusia di segala penjuru dunia tak terkecuali Indonesia. Dengan adanya globalisasi dan segala macam isu-isu di dalamnya telah merubah tatanan yang telah terbentuk pada tata kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak daerah-daerah yang tergerus arus globalisasi yang pada akhirnya kehilangan ciri khasnya dan hanyut dalam arus tersebut, bahkan arus tersebut telah merubah sekian banyak “wajah” desa-desa di Indonesia yang begitu kaya akan budaya. Pengaruh modernisasi akan jauh lebih terasa di perkotaan. Perkembangan kota-kota di Indonesia saat ini bisa dikatakan cukup memprihatinkan. Hal ini terlihat dari banyaknya masalah-masalah di hampir seluruh kota-kota di Indonesia , mulai dari masalah sosial sampai masalah lingkungan hidup yang menjadi berita hampir setiap hari. Sebenarnya apa yang terjadi?
            Dengan melihat nilai-nilai fisik desa yang sangat sesuai dengan konsep keberlanjutan, maka tidak ada salahnya nilai-nilai tersebut diterapkan di perkotaan sebagai upaya untuk mengatasi masalah-masalah sosial lingkungan hidup yang kerap terjadi di kota-kota di seluruh Indonesia.

Nilai-Nilai Fisik yang Tersimpan Dalam Desa
            Nilai-nilai fisik yang tersimpan dalam desa merupakan implikasi langsung dari budaya dalam desa tersebut. Nilai-nilai tersebut dapat dilihat dari kondisi fisik atau penampakan fisik desa.
Nilai-nilai yang dimaksud yaitu sebagai berikut : 1) desa sebagai satu kesatuan ekosistem, 2) tidak adanya limbah dalam desa (zero waste), 3) Nilai estetika dan religi, 4) efisiensi energi dan optimalisasi energi, 5) Keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, dan 6) Multifungsi. Nilai-nilai tersebut akan coba diterapkan dalam perkotaan dalam bentuknya yang disesuaikan dengan kondisi kota yang bersangkutan.

Kota Sebagai Satu Kesatuan Ekosistem
            Kota sebagai satu kesatuan ekosistem berarti kota dengan kesatuan antara setiap unsur-unsur pembentuknya baik lingkungan biotik (hidup) maupun lingkungan fisiknya. Pembanguan kota harus mempertimbangkan kesatuan antara masyarakat kota, sarana prasarana, dan lingkungan alamnya. Kesemua hal tersebut tidak boleh dipisah-pisahkan, karena pelalaian satu hal saja akan menjadi masalah cepat atau lambat.

Kota Dengan Sistem Zero Waste
           Kota dengan sistem zero waste berarti kota yang bebas limbah (sampah). Limbah berasal dari sisa-sia produksi maupun konsumsi yang merupakan bahan-bahan/zat-zat yang sudah tidak dipakai. Saat ini limbah merupakan masalah yang cukup serius di beberapa kota di Indonesia. Limbah tersebut dapat berupa limbah yang berasal dari rumah tangga maupun limbah industri. Penanganan limbah perkotaan saat ini masih menggunakan sistem TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yaitu dengan mengumpulkan dan mengkonsentrasikan limbah-limbah pada satu tempat, tanpa perlakuan selanjutnya.
        Dalam rantai kehidupan sisa-sisa organisme diuraikan oleh dekomposer yang berfungsi merombak sisa-sisa organisme yang kemudian akan dikembalikan lagi ke dalam siklus rantai makanan melalui penyerapan tumbuhan. Dalam sistem kota saat ini nampaknya kurang memperhatikan siklus ini.
     Secara sederhana siklus kehidupan terdiri produksi, konsumsi, dekomposisi, kembali lagi pada produksi seperti terjelaskan pada pola rantai makanan dan energi.

Kota adalah konsumen, dalam artian kota tidak memproduksi sendiri bahan-bahan baku kehidupannya, misalnya bahan-bahan pangan masyarakatnya atau bahan baku industri hampir semuanya didatangkan dari luar kota (desa). Dari konsumsi tersebut dihasilkan limbah. Desa dalam hal ini berperan sebagai produsen. Masalah yang kemudian timbul adalah siapa yang berperan sebagai dekomposer?
Tentu sangatlah tidak bijak jika sampah perkotaan dipinggirkan di pinggiran kota tanpa pengelolaan yang memadai sehingga menjadi gangguan bagi warga pingiran kota yang tidak ikut serta dalam konsumsi tersebut.
Untuk mewujudkan sistem zerowaste dapat dimulai dari mengubah pola hidup masyarakat perkotaan. Pola hidup yang konsumtif harus dihilangkan dan dirubah menjadi pola hidup produktif.  Perngurangan konsumsi berarti pula pengurangan limbah, terlebih lagi limbah-limbah yang sering kali menjadi masalah seperti limbah plastik dan limbah kaleng selain limbah industri-industri skala besar maupun kecil. Pengalihan penggunaan bahan yang tidak ramah lingkungan juga harus segera dilakukan. Penggunaan plastik ataupun kaleng sebagai bahan kemasan ataupun penggunaan lain sebisa mungkin diganti dengan bahan lain yang lebih mudah diurai seperti kertas.
Sudah saatnya sistem pengelolaan limbah harus dibenahi. Sistem TPA sudah tidak cocok diterapkan, karena terbukti sistem ini hanya melahirkan masalah-masalah baru baik masalah sosial maupun masalah lingkungan hidup.

Kota yang Estetik dan Religius
            Pembangunan kota umumnya memperhatikan nilai estetika mulai tata ruangnya sampai pada detail bangunan sarana prasarana kota. Untuk menambah nilai estetika / keindahan kota sebaiknya kota dibangun dengan desain-desain yang bermutu. Selain nilai estetika, nilai religius sebaiknya juga dimasukkan dalam pembanguan kota. Hal inilah yang saat ini banyak terlupakan. Desain bangunan-bangunan kota sebaiknya menggunakan model arsitektur modern yang disesuaikan dengan budaya Indonesia, seperti misalnya penambahan ornamen etnik pada setiap bangunan.
            Dengan memperhatikan nilai-nilai estetika dan religius, diharapkan masyarakat perkotaan tetap akan memiliki rasa cinta terhadap budaya sendiri dan tidak kehilangan jatidiri sehingga tidak mudah larut dalam arus modernisasi yang seringkali tidak sesuai dengan budaya bangsa.

Efisiensi dan Optimalisasi Energi di Kota
            Konsumsi energi sangatlah besar, dapat dilihat mulai dari konsumsi bahan bakar untuk industri, lalu lintas, rumah tangga, sampai pada berbagai sarana prasarana kota. Untuk menjamin keberlangsungan penggunaan energi haruslah dilakukan efisiensi dan optimalisasi energi dalam artian penggunaan energi yang hemat, teapat danntidak boros.
            Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pengaturan jumlah kendaraan bermotor di perkotaan untuk mengurangi kemacetan lalulintas. Kemacetan merupakan salah satu bentuk pemborosan energi yang hampir setiap hari terjadi di hampir setiap kota besar di Indonesia. Selain itu pembatasan penggunaan energi untuk hal-hal yang tidak perlu juga perlu digalakkan.
            Untuk memenuhi kebutuhan energi kota, ada baiknya kota dapat memproduksi sendiri energi yang dibutuhkannya. Saat ini energi fosil masih menjadi sumber energi utama berbagai aktifitas di kota.Pengembangan energi alternatif merupakan gagasan yang cukup baik, seperti penggunaan energi surya/matahari sebagai sumber energi yanmg ditangkap melalui panel surya. Jika diumpamakan setiap gedung-gedung di kota memilki panel surya dan menghasilkan energi untuk minimal memenuhi kebutuhan nya sendiri maka dapat dibayangkakn berapa banyak penghematan energi fosil yang dilakukan.

Kota Dengan Keanekaragaman Hayati
            Untuk mewujudkan kota dengan keanekaragaman hayati tinggi diperlukan adanya penyusunan tata ruang yang optimal yang mendukung hal ini. Keanekaragaman berarti banyaknya jenis-jenis hidupan dalam suatu tempat dalam hal ini kota. Pusat-pusat kehati tersebut dapat diwujudkan dengan adanya RTH(Ruang Terbuka Hijau) di perkotaan dalam bentuk yang bermacam-macam misalnya taman kota dan hutan kota. Dengan adanya RTH ini akan memeberikan peluang untuk hidupnya jenis-jenis hidupan lain selain manusia di perkotaan.
            Pengembangan sarana prasarana kota dengan mengkombinasikan bangunan dan tumbuhan juga merupakan salah satu hal yang menarik. Misalnya gedung-gedung perkotaan diwajibkan membangun taman di dalamnya. Bukan suatu hal baru lagi pembangunan taman dalam gedung/atap gedung. Selain menambah keanekaragaman hayati kota, juga dapat menambah nilai estetika kota itu sendiri dan masih banyak manfaat positif lainnya.

Kota Multifungsi
Dengan terpenuhinya nilai-nilai sebelumnya, maka secara otomatis suatu kota akan mempunyai fungsi yang beraneka ragam, mulai dari tempat hunian, pusat industri, pusat budaya dan pusat modernisasi tanpa harus kehilangan fungsinya lingkungan hidupnya yang terjaga dengan baik.

Penutup
            Seperti telah dikemukakan sebelumnya, desa memiliki nilai-nilainya yang harus dipertahankan, bahkan diadaptasi pada sistem perkotaan. Pembangunan kota-kota di Indonesia saat ini banyak melalaikan kesatuan kehidupan manusia dengan lingkungan pendukungnya yang dibuktikan banyaknya masalah-masalah sosial dan lingkungan hidup di perkotaan. Sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, tidak ada salahnya adaptasi nilai-nilai desa ke dalam kota dilakukan, tanpa meninggalkan identitas kota sendiri. 

(note : catatan masa kuliah)


Judul       : Saving Fish From Drowning (Penyelamatan yang Sia-Sia)
Penulis    : Amy Tan
Bahasa    : Indonesian (penterjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno)
Physic    : 18 bab, 549 halaman
Penerbit  : Gramedia

Synopsis :

Latar utama dari cerita ini adalah di Burma/ Myanmar dengan situasi politik terakhir. Ada 13 orang tokoh di cerita yang menjadi sentral cerita, dengan 1 tokoh diantaranya adalah ‘orang mati’.
Orang mati tersebut berperan sebagai penutur kisah, sehingga jalan cerita kisah ini juga merupakan sudut pandang dari si orang mati tersebut.
‘Bagaimana mungkin orang mati bisa berkisah?’
‘Kesadaran yang muncul setelah raga menghilang?’
Di dalam kisah ini, Bibi Chen sebagai penutur menceritakan bagaimana ia meninggal dalam suatu kejadian yang sangat tragis yang bahkan ia sendiripun tidak ingat bagaimana itu terjadi. Kemudian muncullah orang-orang yang merupakan sahabat Bibi Chen semasa hidup, yang merupakan tokoh-tokoh utama dalam cerita ini.

Keduabelas tokoh tersebut merupakan rombongan turis Amerika yang akan melakukan perjalanan wisata dari kaki pegunungan Himalaya di Cina menuju hutan rimba di Burma (Myanmar) yang pada awalnya menunjuk Bibi Chen sebagai pemimpin rombongan. Rute dan rencana perjalanan yang sudah dipersiapkan oleh Bibi Chen akhirnya tidak terlaksana dengan baik karena kematian yang tidak terduga tersebut. Perjalanan pun akhirnya dilaksanakan dan berbagai peristiwa muncul silih berganti selama dalam perjalanan wisata tersebut. Kedua belas tokoh tersebut diceritakan oleh Bibi Chen dengan porsi yang sama. Semua tokoh mendapat bagian dalam cerita ini, dari kehidupan mereka sebelum melakukan wisata sampai dengan kejadian yang dialami selama melakukan wisata.


Puncak peristiwa terjadi ketika pada keduabelas rombongan turis tersebut menghilang tanpa jejak di Danau berkabut, Burma. Ketika hilang itulah terjadi berbagai kejadian yang membuat cerita semakin kompleks. Bagaimana rasa kemanusiaan kita tersentuh oleh kejadian-kejadian di mata kita? Bagaimana kita mempercayai suatu cerita dengan beragam versi yang terasa maya, namun berada di depan mata kita? Bagaimana kita bertindak dalam kondisi yang tidak memungkinkan kita melakukan apa-apa? Bagaimana cara melakukan upaya yang terasa seperti sia-sia?
Berbagai keajaiban pun terjadi yang membuat kita percaya bahwa hal itu benar-benar ada.

Pendapat saya :
Buku ini merupakan karya Amy Tan ke-3 yang saya baca. Untuk membaca ini saya membutuhkan waktu selama hampir 3 bulan. Judul yang digunakan dalam edisi Bahasa Indonesia adalah ‘PENYELAMATAN YANG SIA-SIA’. Entah kenapa judulnya begitu dan bukannya arti dari judul aslinya saja. Menurut saya ‘MENYELAMATKAN IKAN TENGGELAM’ lebih keren. Cocok dengan tulisan di pembukaan buku ini yang mungkin saja memberi inspirasi penulisnya tentang judul buku ini:

“Seorang laki-laki yang saleh menjelaskan kepada para pengikutnya, “Mengambil kehidupan itu jahat, dan menyelamatkannya adalah tindakan yang mulia. Setiap hari aku berjanji akan menyelamatkan ratusan kehidupan. Kutebar jalaku di danau dan ratusan ikan pun terjaring. Kutaruh ikan-ikan itu di tepi danau, dan di sana mereka melompat-lompat dan menggeliat. “Jangan takut,” kataku pada ikan-ikan itu. “Aku menyelamatkan kalian supaya tidak tenggelam.” Tak lama kemudian ikan-ikan itu tenang dan berbaring diam. Tapi sayang, aku selalu terlambat. Ikan-ikan itu mati. Dan karena tidak baik untuk membuang apapun, aku membawa ikan-ikan mati itu ke pasar dan kujual dengan harga bagus. Dengan uang itu aku membeli lebih banyak jala supaya bisa menjala lebih banyak ikan. – ANONIMUS –“

Dibandingkan dengan buku karya Amy Tan sebelumnya seperti One Hundred Secret Senses, buku ini terasa lebih membingungkan. Tokoh yang terlalu banyak dan cerita-cerita dari tokoh tersebut membuat imajinasi pembaca (aku) menjadi buyar. Namun tentu saja hal ini bisa diatasi dengan tidak terlalu banyak membaca halaman-halaman buku ini dalam sekali waktu. Berbagai peristiwa yang diceritakan pun terkadang terasa tidak berhubungan satu sama lain.

Namun begitu, bahasa yang digunakan oleh Amy Tan untuk mengungkapkan sesuatu peristiwa merupakan salah satu hal yang membuat tulisan-tulisan-nya, termasuk juga Buku ini menjadi menjadi mempesona. Terlebih lagi dengan penterjemahan yang sangat baik ke dalam bahasa Indonesia, semakin mendukung kekuatan bahasa yang digunakan.

Kekurangan utama dalam fisik buku edisi Indonesia adalah kertas cetak yang digunakan terlalu buram dan kurang terang, sehingga membuat mata cepat lelah.

Lepas dari segala kurang dan lebihnya, buku ini merupakan daftar wajib buku yang seharusnya anda baca. Mungkin anda tidak akan tertarik pada awalnya, namun jangan menyerah dan teruslah membaca sampai anda tidak dapat lagi berpaling darinya. Itulah Amy Tan.


Note : anda bisa membaca cuplikan buku ini di Google Books dengan link di bawah ini :
(Sudiyah Istichomah)

(Catatan ini merupakan sebagian dari hasil saya melakukan PKL semasa kuliah tepatnya tahun 2008, sehingga yang tertulis dan dokumentasi juga merupakan gambaran kondisi saat itu)

Pemanenan getah damar

Pohon damar yang sudah bisa dipanen yaitu pohon damar yang berumur 15 sampai 20 tahun. Pohon damar yang siap dipanen sudah dibuat takik-takik atau lubang-lubang di batang pohon untuk keluarnya getah damar. Frekuensi pemanenan damar normalnya adalah tiap1 bulan (± 30 hari) karena pada saat itu damar yang dihasilkan sudah mulai mengeras dengan kualitas yang cukup baik. Namun seiring maraknya pencurian damar, waktu pemanenan damar menjadi lebih cepat menjadi 14 sampai dengan 20 hari.

Dalam sekali panen biasanya petani membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan pemanenan, tergantung luasan lahan yang dimiliki dan jarak lahan dari pemukiman. Jika pemilik lahan tidak bisa memanen sendiri damarnya karena sesuatu hal seperti lahan yang terlalu jauh atau lahan yang terlalu luas, biasanya sering memburuhkan kepada orang lain.

Untuk mendapatkan getah damar dilakukan dengan cara melukai kulit batang sampai kambiumnya (membuat takik). Bentuk takik adalah segitiga dengan ukuran awal sisi-sisinya sekitar 3-4 cm. Damar akan keluar dari kambium yang terluka tersebut dan mengumpul dalam takik yang dibuat selama waktu yang ditentukan. Getah damar yang sudah terkumpul dalam kurun waktu satu bulan telah siap dipanen.

Penentuan besar dan jarak takik dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut :

1. bentuk segitiga memudahkan pengumpulan damar dan memanennya, selain itu damar yang dihasilkan juga lebih bersih dari campuran kayu.
2. ukuran sisi takik awal 3-4 cm cukup untuk mengumpulkan damar dan untuk menghemat batang (agar luka batang tidak terlalu besar).
3. jarak vertikal antar takik 40 cm agar antar takik yang berdekatan tidak bertemu, selain takik berfungsi sebagai tempat pijakan kaki untuk naik ke atas, jarak 40 cm memudahkan untuk memanjat.
4. jarak horizontal antar takik 50 cm dengan tujuan agar takik tidak bertemu dan untuk penghematan batang.

Penghematan batang yang dimaksud yaitu agar batang yang dilukai/dibuat takik terlalu lebar (permukaan yang dilukai tidak terlalu luas) sehingga produktifitas damar dapat berlangsung dalam kurun waktu yang lama tanpa merusak batang damar.

Dalam pemanenan damar, alat-alat yang digunakan yaitu :

1. kapak yang berfungsi untuk mengerik/mengambil damar dari takik
2. ember/bakul yang berfungsi sebagai tempat penampungan damar yang sudah dikerik di pohon
3. ambon (tali dari rotan) yang berfungsi untuk membantu memanjat pohon
4. Bebalang yang berfungsi untuk menampung damar sekaligus untuk mengangkut
5. Karung yang digunakan untuk menampung damar

Teknis pemanenan damar yaitu sebagai berikut :


  1. Persiapan alat
  2. Damar yang berada di takik terbawah diambil dahulu. Damar diambil dengan kapak. Arah kapak adalah ke tiga sisi takik dengan tujuan agar damar yang diambil tidak pecah, ukurannya besar, utuh dan agar damar tidak jatuh ke tanah.
  3. Damar ditampung dengan bakul atau ember, takik yang sudah kosong dilukai kambiumnya untuk merangsang keluarnya damar lagi
  4. Setelah selesai dengan takik terbawah, maka selanjutnnya mengambil damar pada takik atasnya. Untuk takik yang tidak bisa dijangkau tanpa memanjat, maka digunakan ambon (tali dari rotan) untuk membantu memanjat.
  5. Ambon disimpul dengan ukuran sedemikian rupa sehingga dapat mengelilingi pohon dan menahan tubuh pemanen. Cara naik dengan menggerakkan ambon ke arah atas dan kaki berpijak pada takik di bawahnya
  6. Memanen damar pada takik-takik atas sampai selesai kemudian turun dari pohon
  7. Memindahkan damar dari bakul/ember ke dalam karung atau bebalang.
  8. Memanen pohon selanjutnya dan seterusnya sampai selesai


Damar yang dihasilkan berbeda pada tiap waktunya. Biasanya dalam sehari dihasilkan damar 35-40 kg damar per orang perhari. Jika produksi damar sedang baik pohon damar yang dipanen sekitar 10-12 batang pohon, namun jika produksi damar sedang jelek maka pohon yang dipanen bisa mencapai 20 pohon untuk hasil yang sama. Penurunan produksi tersebut kira-kira sebesar 30-40%.

Pemanenan damar biasanya dilakukan sendiri oleh petani pemilik kebun dengan keluarganya. Tetapi jika dalam hal tertentu tidak bisa dilaksanakan sendiri maka ia bisa memakai tenaga kerja dari luar. Pekerja pemanenan biasanya berasal dari warga setempat. Sistem pengupahan pekerja pemanenan berupa bagi hasil damar maupun upah dengan uang. Untuk sistem bagi damar biasanya perbandingan damar untuk pemilik dan pekerja adalah 1:3 atau 1:4.


Selain pemanenan damar dari pohon, masyarakat biasanya mengambil damar yang jatuh ke tanah atau lebih dikenal dengan lahang. Kegiatan ini pengumpulan damar yang jatuh ke tanah ini disebut ngelahang. Ngelahang biasanya dilakukan oleh ibu-ibu dan anak-anak. Pengambilan lahang boleh dilakukan di mana saja dan tidak dianggap mencuri. Hasil dari ngelahang untuk anak-anak bisa mencapai 1-2 kg perhari. Damar lahang biasanya berharga di bawah harga normal damar karena damar lahang umumnya bercampur tanah sehingga kualitasnya kurang baik, kecuali jika damar lahang bersih maka harganya bisa mencapai harga damar normal.
(Sudiyah Istichomah)

(Catatan ini merupakan sebagian dari hasil saya melakukan PKL semasa kuliah tepatnya tahun 2008, sehingga yang tertulis juga merupakan gambaran kondisi saat itu)

Jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang damar sampai saat ini (tahun 2008) dianggap tidak terlalu mengakibatkan kerugian besar, hanya menurunkan sedikit produktifitas damar. Menurut keterangan dan informasi dari petani hama-hama tersebut bersifat musiman setahun sekali dan tidak bisa dicegah, sehingga serangan hama tersebut dianggap hal yang wajar. Tidak ada perlakuan khusus untuk mengatasi hama ini, hanya dibiarkan saja sampai musim hama selesai. Musim hama biasanya pada bulan-bulan awal tahun bertepatan dengan musim semi daun muda.

Jenis-jenis hama yang menyerang yaitu
walang sangit yang menyerang daun, Kumbang wer-wer yang mengerat batang, dan ulat daun yang memakan daun muda. Sistem agroforest damar yang beraneka ragam dan kompleks memungkinkan untuk pencegahan serangan hama secara besar-besaran seperti pada hutan monokultur yang lebih rentan serangan hama. Hal ini disebabkan hewan yang bersifat hama tidak bebas berekspansi ke semua pohon yang bukan sumber makanannya.

Gangguan hutan lain selain hama dan penyakit dapat berasal dari manusia ataupun dari alam. Gangguan hutan dari alam yaitu angin puting beliung yang sering terjadi di daerah Pahmungan. Biasanya angin tersebut datang beberapa tahun sekali dan menumbangkan beberapa pohon termasuk damar. Pada akhir tahun 2006 terjadi angin puting beliung yang cukup besar dan menumbangkan banyak pohon damar. Kerugian yang diakibatkan angin ini cukup besar bagi petani.

Gangguan hutan yang berasal dari manusia yaitu adanya pencurian damar. Pencurian damar saat ini sangat marak dilakukan. Kerugian akibat pencurian ini sangat besar. Selain kerugian langsung berupa berkurangnya hasil produksi damar, efek pencurian berpengaruh pula pada perubahan pola panen damar yang dilakukan petani. Untuk menghindari kerugian yang cukup besar akibat pencurian, petani memperpendek waktu/jarak panen damar dari normal 30 hari mennjadi 15-20 hari. Perpendekan waktu tersebut mempengaruhi kualitas damar yang menurun dan pada akhirnya menurunkan juga harga jual. Namun hal ini tetap dilakukan petani dengan pertimbangan daripada tidak panen sama sekali.

Gangguan hutan lain adalah adanya penggembalaan liar. Kebiasaan masyarakat Pahmungan dalam memelihara ternak adalah dengan melepasliarkan ternak tersebut. Sering kali ternak tersebut masuk ke lahan agroforest damar dan kadang merusak/memakan tanaman muda milik petani. Kerusakan yang diakibatkan hewan ternak tersebut tidak berpengaruh terhadap produksi damar, sehingga petani tidak terlalu mengkhawatirkan masalah ini.

Pengendalian Gangguan Hutan

Upaya pengendalian gangguan hutan telah dilakukan oleh petani, terutama gangguan pencurian. Upaya pencegahan pencurian dilakukan dengan berbagai cara yaitu :

1. Pengawasan langsung : yaitu menengok kebun damar sesekali waktu, terlebih untuk kebun yang dekat dengan perkampungan. Untuk kebun yang jaraknya relatif jauh jarang ditengok karena dianggap lebih aman dari pencurian.

2. Pewarnaan getah damar dengan cat : yaitu pewarnaan getah damar dengan cat sebagai identitas damar. Misalnya damar milik A warna merah, B warna hijau, dsb. Warna yang digunakan biasanya kombinasi 2 warna. Penentuan warna berdasarkan kesepakatan bersama yang diputuskan dalam musyawarah petani. Mekanisme kerja : Jika warna damar tertentu milik A, maka jika dijual oleh selain A maka dipastikan damar tersebut adalah damar curian dan pembeli tidak boleh membelinya dan melaporkan kepada desa untuk ditindaklanjuti.

3. Pemberian denda untuk pencuri : yaitu pemberlakuan denda bagi orang yang terbukti telah melakukan pencurian damar. Besarnya denda ditentukan berdasarkan keputusan bersama.

4. Perubahan pola waktu panen : yaitu memperpendek selang waktu panen damar dari 30 hari menjadi 15-20 hari.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi gangguan pencurian, namun banyak kendala yang ditemui, antara lain :

1. Sebagian besar warga Pahmungan masih terikat kekerabatan yang erat, sehingga penyelesaian masalah pencurian sering didasari perasaan segan dan sungkan.

2. Sistem pengawasan yang tidak ketat masih memungkinkan terjadinya pencurian.

3. Sering kali pencuri dan pembeli damar saling bekerjasama dalam jual-beli damar sehingga aturan cat damar tidak berfungsi.

4. Peraturan denda yang tidak berjalan lancar.
Saat aku masih SD, mungkin kelas 6, aku masih sering menginap di rumah Budhe (kakaknya Bapak) yang rumahnya di kampung sebelah, tapi masih satu desa. Aku menginap untuk menemani mbak Ana, sepupuku yang masih kelas 4 SD. Meskipun lebih muda, namun aku tetap harus memanggil mbak. Silakan bertanya kepada orang Jawa.

Di sanalah aku punya banyak teman,anak-anak tetangga di sekitar rumah Budhe, sebut saja: Dewi, Wiyanto, Andi, Astri, Ayu, Rian, Oneri (baca: wanri), Royan, Wawan, dan dek Hari (khusus dek Hari, aku harus menulis namanya dengan sebutan ‘dek’ karena kalau tidak rasanya aneh banget). Kami sering sekali bersepeda tiap sore. Tentu saja sepeda yang dipakai adalah sepeda mbak Ana, karena aku sendiri tidak memiliki sepeda. Menyenangkan dan mengasyikkan sekali bersepeda. Ketika bersepeda, beberapa dari kami ada juga yang membawa bekal untuk di perjalanan. Dan yang tertulis ini adalah salah satu kisah petualangan bersepeda kami di suatu sore hari yang indah.

Kami berkumpul sekitar jam setengah 3 sore di pertigaan jalan, di depan rumah Wiyanto yang memang merupakan tempat paling strategis untuk berkumpul karena terletak di tengah-tengah kampung. Setelah semua kumpul, kamipun berangkat bersepeda. Aku dan mbak Ana menggunakan satu sepeda dan berboncengan, tentu saja bergantian boncengannya. Bersama-sama kami semua bersepeda di jalan desa, menyusuri daerah dukuh (kampung) sebelah yang masih dikelilingi kebun-kebun dan pepohonan besar. Aku senang sekali dan kami pun selalu bercanda. Gelak tawa kami tak pernah berhenti sepertinya, karena semua terasa menyenangkan. Kesenangan itu mungkin karena jalan yang kami lalui menurun, sehingga tidak terlalu lelah mengayuh meskipun jalannya cukup jauh.

Sampai di ujung suatu jalan, terdapat sebuah makam di sisinya. Kami tiba-tiba berhenti, dan beberapa anak turun dari sepeda. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku juga ikut turun dari sepeda. Di jalan tersebut tampak tanah yang menurun, dan tak terlihat ujungnya. Beberapa anak laki-laki mencoba untuk melihat jalan itu.

Tiba-tiba ada yang berteriak “Eh, cepet lewat kene wae! Neng ngisor ono kali! (eh, lewat situ saja yuk! Di bawah ada sungai)”.

“Medeni ki, aku wedi! (serem, aku takut!)” jawab kami, yang sebagian anak-anak perempuan.

Aku melihat di ujung jalan aspal itu, terdapat jalan tanah yang menurun dan mengarah ke kiri dari aspal, sepanjang 100-an meter. Jalan tanah ini berujung pada sebuah sungai kecil. Yang menakutkan adalah di sepanjang kiri jalan tanah tersebut adalah kompleks pekuburan kampung yang masih rimbun dengan pohon kamboja dan rumpun bambu. Sungai di ujung jalan pun terlihat menyeramkan karena seperti terimbuni bambu yang lebat sehingga suasana menjadi sangat suram.

Kamipun berunding sejenak. Pertimbangan yang kami ambil adalah, jika kami pulang melalui jalan berangkat maka jalan akan menanjak dan jauh, sedangkan jika kami meneruskan jalan tanah itu kami tidak tahu sampai di mana ujungnya. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan terus saja melewati jalan tanah dan menyeberang sungai kecil di bawah sana.

Karena jalan tanah dan agak basah, sulitnya minta ampun jalan di sana, apalagi dengan menuntun sepeda, karena kami tidak berani menaikinya. Aku menuntun sepeda dan mbak Ana sesekali membantuku. Sampai di sungai kami pun kami harus menyeberanginya dengan susah payah. Meskipun air tidak begitu dalam, namun menuntun sepeda di air tetap saja sulit karena sangat seret.

Suasana super serem! Bagaimana tidak? Di atas sungai banyak terdapat pohon-pohon besar, ada beringin juga yang terkenal angker dan kamboja di sela-sela makam. Aku sendiri takut, dan teman-temanku juga terlihat sekali takut, sangat jelas tergambar dari wajah-wajah tegang. Kami yang masih kecil ini pun merinding bersama.

Satu-persatu kami berhasil menyeberangi sungai. Aku pun berhasil. Namun ternyata kesenangan menyeberang sungai langsung hilang begitu melihat jalan di depan. Rasanya sial sekali. Setelah menuruni jalan tanah becek dan licin, menyeberangi sungai seram, kami juga harus melalui jalan tanah berbatu yang super menanjak. (Jika dipikir saat ini, wajar sekali jika menyeberangi sungai turun maka setelah itu harus naik  ). Kami harus menuntun sepeda ke atas. Rasanya capek sekali.

Ketika aku sudah di ujung tanjakan, terdengar teriakan-teriakan.
“Oi....oi......! Oneri tiba neng kali (oi....oi...!Oneri jatuh di sungai)”.

Aku dan juga lainnya langsung menoleh.

“Eh lha terus piye? (eh lha terus gimana?)” kata seseorang yang sudah di atas.
“Dhe e nangis lho, mbok ditulung (Dia nangis lho, tolongin dong)” jawab yang masih di bawah.

Aku hanya diam dan melihat ke bawah. Oneri terpeleset di sungai. Dia menangis, mungkin karena sakit terjatuh atau lebih mungkin juga karena ketakutan. Wajah menangisnya lucu banget, tapi aku tidak berani tertawa, tentunya hal ini tidak sopan dan aku juga tidak tega, meskipun jujur aku menahan tawa.

Akhirnya Oneri dituntun jalan oleh teman laki-laki, sepedanya juga dibawakan oleh teman. Aku sendiri hanya melihat kejadian itu dari atas, karena aku tidak mau turun lagi. Sungguh dari kecil sifat ini sudah ada pada ku. 

Perjalanan berlanjut. Di ujung jalan yang belum pernah kami lewati tersebut terlihat hamparan sawah yang menghijau, udara yang bersih, dan pemandangan yang indah. Kami berjalan menuntun sepeda menuju persawahan itu. Beruntung sekali ternyata areal persawahan tersebut kami kenal sehingga untuk pulang kita tahu arah dan jalannya.

Di bawah pepohonan rindang di tengah sawah, kami membuka bekal dan saling bertukar (Dewi membawa ayam  ). Saat makan, kami melihat tidak terlalu jauh di jalan raya ada rombongan kampanye PDIP sedang lewat dan bersorak-sorak. Kami ikut bersorak ria dan rasanya senang sekali berada di tengah teman-teman dan alam indah.

“Di malam ini , aku tak dapat
Memejamkan mata, terasa berat,....
Dongeng sebelum tidur...”

Lagu dari Wayang yang sedang tren itu mengiringi perjalanan kami pulang, di sela-sela nyanyian angin di hamparan sawah dan tawa ceria kami.
(Sudiyah Istichomah)

Agroforest damar di Pahmungan seperti pada umumnya agrofrest damar di sepanjang Pesisir Krui mengembangkan spesies damar (Shorea javanica) sebagai spesies utama dan spesies bukan damar yang terdiri dari berbagai jenis/spesies pohon buah dan herba sebagai pelengkap. Spesies bukan damar yang dikembangkan oleh masyarakat adalah spesies yang dianggap berguna oleh masyarakat, misalnya durian, duku, cengkeh, petai/tangkil dan sebagainya.

Pengadaan benih dan bibit pada agroforest damar dapat dikelompokkan menjadi 2
berdasarkan sumbernya, yaitu pengadaan benih/ bibit dari lahan agroforest dan pengadaan benih/ bibit dari luar. Pengadaan bibit dari luar biasanya berasal dari bantuan pemerintah ataupun dari pembelian. Biasanya bibit damar berasal dari biji dan juga cabutan/anakan alami.

Biji damar diambil saat musim biji sedangkan bibit cabutan dapat diambil kapan saja. Musim bunga (biji) umumnya sekitar 5 tahun sekali, seperti pada umumnya pohon-pohon dari famili dipterocarpaceae. Biji damar hanya dapat bertahan selama beberapa hari saja, sehingga untuk mengatasi persediaan bibit, damar dibibitkan dalam suatu bedeng, sekaligus berfungsi sebagai tempat pembibitan jenis-jenis tanaman lain.

Pembibitan damar (Shorea javanica)

Pembibitan damar dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Lokasi pembibitan damar biasanya di sekitar rumah ataupun di dalam bidang agroforest dalam jumlah dan luasan tempat yang sangat bervariasi tergantung masing-masing petani. Pada jaman dahulu pembibitan dilakukan dengan langsung menanam bibit/biji ke tanah, namun saat ini petani lebih banyak menggunakan polybag karena lebih mudah dan praktis.

Ilustrasi pembibitan damar langsung tanpa polybag

a.dari biji : biji diambil lalu ditanam dalam tanah yang dipersiapkan untuk pembibitan.
b.Dari cabutan / anakan :
- dicabut langsung lalu ditanam dalam pembibitan
- diambil sekaligus tanahnya lalu ditanam beserta tanahnya dengan tujuan agar akar damar tidak rusak

Pembibitan :
Media : tanah (langsung tanpa ayakan dan tanpa campuran pupuk)

Cara penyemaian :
- Persiapan media, tanah dimasukkan dalam polybag ukuran setengah kilogram
- Menyiapkan bibit dapat berupa biji ataupun anakan dari cabutan. Biji/anakan dimasukkan dalam polybag, masing-masing 1 biji/anakan per polybag.
- Polybag yang sudah ditanami biji/tanaman disusun dalam baris-baris ukuran 1mx4m.
- Tempat persemaian yang digunakan harus teduh agar benih cepat tumbuh dan mencegah kekeringan. Untuk peneduh digunakan daun kelapa/daun tepus sebagai atap.
- Perawatan bibit meliputi : penyiraman setiap sore hari (sekitar pukul 4-5)
- Pembersihan gulma/tanaman pengganggu dilakukan jika muncul (namun di beberapa lokasi yang dikunjungi, terdapat pula bibit-bibit damar yang kurang terawat dalam artian banyak ditumbuhi oleh gulma/tanaman pengganggu).
- Bibit yang berumur sekitar 1 tahun sudah siap untuk ditanam.

Perbandingan hasil bibit dari biji dan cabutan yaitu bibit dari biji lebih mudah tumbuh, dari pengamatan didapatkan bahwa untuk bibit berumur 6 bulan tinggi rata-rata untuk bibit dari biji adalah 50cm sedangkan untuk bibit dari cabutan adalah 25 cm. Selain itu daun pada bibit dari biji juga lebih besar dan banyak. Menurut petani, prosentase hidup bibit dari biji lebih besar dari cabutan yaitu sekitar 80% dibanding 50%.

PEMBUATAN TANAMAN

Lahan agroforest damar di Pekon Pahmungan termasuk lahan jenuh (sudah penuh/dengan susunan yang sudah lengkap) sehingga penanaman yang dilakukan lebih bersifat penyulaman untuk regenerasi tanaman atau mengganti tanaman yang mati dan mengisi sela-sela lahan yang terbuka.

Penanaman biasanya dilakukan pada musim hujan. Pohon yang ditanam adalah jenis damar ataupun selain damar, biasanya dari jenis buah-buahan. Untuk jenis tanaman kayu lain yang dijumpai di lahan agroforest seperti sungkai dan jenis lain biasanya tumbuh liar dan dibiarkan saja oleh petani karena tidak mengganggu tanaman inti (damar).
Pemeliharaan Tanaman dan Tegakan

Pemeliharaan Tanaman dan tegakan di agroforest damar cukup sederhana. Untuk tanaman damar muda, cukup dilakukan pembersihan gulma yang sering tumbuh di sekitarnya. Pembersihan dilakukan dalam waktu yang tidak tetap, biasanya setengah tahun atau satu tahun sekali. Setelah tidak terganggu oleh gulma, damar dibiarkan begitu saja sampai umur produktif.

Tegakan yang sudah tumbuh biasanya tidak dilakukan pemeliharaan secara khusus, tetapi dibiarkan begitu saja. Namun ada juga sedikit petani yang memelihara bidang agroforest mereka dengan membersihkan tumbuhan bawah secara rutin sehingga lantai hutan lebih bersih. Perlakuan umum terhadap agroforest damar ini menjadikan lahan agroforest damar lebih menyerupai hutan alam dimana terdapat jenis-jenis pohon dan tumbuhan bawah yang cukup banyak. Pada beberapa tempat, tumbuhan bawah bisa sangat rapat dan mencapai lebih dari 1,5 m. Petani biasanya tidak akan menebang atau membuang tanaman liar yang dianggap tidak merugikan/tidak mengganggu damar.

(Tulisan yang tertulis ini merupakan sebagian dari hasil Praktek Kerja Lapang saya selama kuliah, yaitu tahun 2008, jadi yang tertera adalah kejadian pada tahun 2008)