Sebentar lagi dia datang. Dia yang membuatku berada dalam ombang-ambing emosi yang sulit kukendalikan.

Sudah semakin kurasakan ketika aku meluap dalam wadah yang sesak, ingin berontak.

Meskipun telah 14 tahun bersama, aku belum bisa juga menjadi sahabatnya, kadang-kadang, atau bisa juga dia menjadi teman yang terlalu menyenangkan, terlalu melenakan, membuai. Namun tak jarang hanya memberikan tekanan untuk muak yang tak tertahankan.

Cepatlah berlalu, dan menuju hari baru. Aku ingin bebas dari takut terjebak dalam kemelut emosi, tidak stabil dan fluktuatif. Aku ingin ‘aku’ yang dewasa. Yang trampil dan berwibawa, tanpa ekspresi emosi yang merusak suasana.
                                                                                                                                       
-------------
 catatan galau ketika PMS tiba         

Air oh Air,

Kembali kita ke Melinsum. Dusun kecil di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Dan sekarang ini aku ingin bercerita tentang AIR. Ya, air oh air.

Benar bahwa air di sini banyak, hanya saja bukan air tawar nan segar namun ‘air asin’ yang telah menjadi momok yang kehadirannya sudah menjadi suatu kebosanan. Bukan karena momok ini sudah tak menakutkan, masih tentunya, hanya saja dia terlalu sering datang sehingga kekuatan dari kebiasaan adalah kebosanan. Orang-orang di Melinsum sudah menjadikan momok air asin ini sebagai tamu rutin yang menyebalkan. Terlebih ketika purnama datang, bukan serigala jadi-jadian atau vampir dan setan-setan lain yang datang, namun momok air asin inilah tamu tetapnya.

Kebun kelapa di sekitar Melinsum yang sudah tak mau lagi berbuah..
Photo by: Haruki, 2012

Air asin yang rutin mendatangi sawah-sawah, rumah-rumah-rumah, kebun-kebun dan selalu berhasil menghancurkan segalanya. Tidak seperti bandang yang tiba-tiba datang dan kemudian hilang, air asin datang pelan-pelan dan perlahan pula hilangnya.


img source: here
Bahkan efek dari air asin ini, entah dipercaya atau tidak, dan malah sempat membuatku tertawa geli sekaligus getir adalah pada ayam.


“Gak hanya sawah mbak, semuanya tidak bisa di sini kalo udah terkena air asin. Kelapa tak mau berbuah, karet jadi mati, bahkan “ayam” pun kalo udah kena air asin, dia gak mau bertelor. Percaya atau gak, tapi kenyataannya begitu mbak!”


Aku teringat Bang Hadi pernah mengatakan hal ini pada kami. Aku tertawa. Aku prihatin juga. Bahkan ayam pun mulai ngambek di sini. Bang Hadi adalah seseorang yang tinggal di Melinsum ini dan selama aku dan teman-temanku di sana, dia adalah salah satu teman kami yang paling kocak, blak-blakan, namun tulus.

Ya, air asin alias banjir pasang atau banjir rob adalah tamu rutin di Melinsum.

Bukan hanya air asin yang merajuk, ternyata air tawar-pun begitu juga.

Banjir juga kah?

Ternyata, bukan. Air tawar merajuk dengan cara menjauh bahkan menghilang. Dan ini juga sangat merepotkan dan menyusahkan. Yahhh,...

Air bersih, sumpah di sini sulit. Tidak hanya di Melinsum, tapi hampir di beberapa desa di Kecamatan Sukadana ini. Di Melinsum sendiri, untuk berkepentingan dengan air bersih, jarak terdekat adalah sekitar 3 kilometer. Air untuk mandi, mencuci, masak dan minum diambil dari lokasi itu yang cukup jauh. Ya, kecuali jika berkenan untuk mandi atau minum air asin J.

Memang saat itu, ketika tinggal di sana musim kemarau sedang memuncak. Sumber air yang biasanya dapat mengalir sampai di rumah-rumah paling hilir pun tidak jalan. Sepanjang yang aku lihat, banyak keran-keran air yang sudah kering dan berdebu karena kelamaan tidak terpakai.

Meskipun dekat dengan hutan yang sepertinya masih lebat, namun air bersih selalu menjadi barang langka ketika kemarau. Karena daerah ini adalah daerah pesisir maka lupakan untuk membuat sumur.  Satu-satunya sumber air ya berasal dari gunung (hutan) baik sungai atau pun mata air yang banyak dialirkan ke rumah-rumah melalui pipa-pipa atau selang. Kemarau tiba dan debit air menurun drastis. Pipa-pipa dan selang air jadi pengangguran sementara. Meski sungai utama tidak kering, namun air-air seakan tidak mampu lagi merambat melalui pipa dan selang-selang itu.

Aliran sungai utama yang masih mengalirkan air menjadi tempat favorit berkumpul orang-orang setiap pagi dan sore. Tentunya mandi, dll. Jika kami pergi dari Melinsum – Sukadana atau sebaliknya, sering sekali terlihat motor-motor parkir di tepi jalan tanpa ada penunggu. Para penunggunya ternyata sedang ritual di sungai. Ya, itulah motor-motor orang-orang yang sedang mandi.

Selain barisan motor orang-orang mandi, di sepanjang jalan juga selalu (bahkan katanya hampir 24 jam) terlihat beberapa mobil bak yang memuat tangki air ukuran jumbo. Ternyata mereka itu adalah penjual air, meski ada juga yang memakai untuk konsumsi pribadi. Tangki-tangki air itu dijual di sekitar Kota Sukadana yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Kayong Utara, baik nantinya air dijual satu tangki besar langsung ataupun diecer. Aku pun pernah melihat di Sukadana, beberapa orang antri membeli air dengan membawa jerigen. Harga 1 jerigen air itu katanya sih 5000 rupiah.

Ya, itulah air. Di Melinsum, air menjadi satu masalah yang rumit. Baik air asin maupun air tawar seakan sedang melakukan protes bersama. Entah kepada siapa mereka protes?

Ritual mandi dan mencuci setiap pagi di Melinsum meninggalkan banyak kisah lucu dalam memoriku. Selanjutnya... ...



1 TAHUN VS 5 MENIT

Penyakit di laptopku ini sudah ada sejak lebih dari setahun yang lalu.


Dan baru sekarang aku menyadari betapa bodohnya aku. 

img source:here
Berawal pada suatu hari, tak sengaja aku mengotak-atik laptop yang akhirnya menjadikannya kacau. Seluruh shortcut yang ada di start menu dan di dekstop berubah jadi notepad. SEMUANYA. Jadi saat aku klik shortcut Ms Word ataupun Google Chrome, ataupun semua program di start menu, semuanya terbuka di notepad alias tidak dapat dibuka. Mungkinkah ini serangan virus mendadak?

Ya, aku sempat menyalahkan VIRUS untuk penyakit ini, namun kemudian aku merasa meski ini virus, namun kupikir tidak terlalu berbahaya karena kulihat data-dataku semua aman. Halahhh...

Bagaimana aku harus menjalankan laptopku kemudian?
Ternyata, aku terlalu kreatif sehingga aku berhasil menemukan cara untuk membuka program tidak dari shortcut di start menu, namun membuka langsung dari otak nya, di C/programfiles/ lalu pilih program yang ada. Atau cara kedua adalah dengan membuka file data dalam format yang sama, misalnya saja untuk membuka Ms Word, maka buka saja file data yang ada dalam format ini. Nah, baru setelah terbuka tinggal open new document deh. Kreatif kan. Tentu saja semuanya ini merepotkan sekali.

Cara itu aku lakukan selama satu tahun. Bayangkan satu tahun. Dan aku masih merasa bahwa 'aku dan laptopku' baik-baik saja. Hello Net???

Pernah juga, seorang teman mencoba membantu untuk memperbaikinya dan ternyata dia gagal. Dia bilang juga bahwa ini kerjaan Virus. 

"Wah, biasanya dengan cara ini udah bisa balik, tapi laptop lu mah kayaknya virusnya udah parah jadi udah gak bisa dibenerin, kalo mau install ulang aja" dia bilang. 

"Oh gitu yah, okelah biarin ajah, tengkyu" kujawab dan selesai sudah.... Mudah menyerah.. 

Install ulang?? No, thanks. Itu adalah hal terakhir yang akan kulakukan, ribet dan mahal pula harganya. Aku masih bisa survive dengan shortcut yang rusak ini. 

Satu tahun kemudian,....

Aku sadar bahwa semakin lama aku semakin bersahabat dengan kondisi ini. Hingga aku menemukan artikel di KASKUS hot thread beberapa hari lalu yang isinya beberapa tips untuk lebih mempercepat kerja Windows7 dan kebetulan pula laptopku saat ini lemotnya udah sangat parah. Salah satu tipsnya adalah membuka aplikasi disk cleanup yang ada di start menu - accesoriess- system tool - disk clean up. Ya, masalah dimulai dari sini. Tentu aku tidak bisa membuka. Kucoba dari C, namun gak nemu juga caranya. 

Entah kenapa aku tidak mau menyerah, aku mencari cara agar bisa membuka disk clean up ini dan akhirnya terpikir olehku untuk memperbaiki startmenu.

img source:here
Dari hasil googling singkat aku menemukan sebuah artikel yang membahas permasalah yang sama. Kucoba praktekkan panduannya dan hanya butuh waktu 5 menit dan,...AAAAAAAAAAAAAA....YESSSSSSS.....
Semua shortcut di start menu laptopku sudah sembuh, sudah nongol lagi. Ini semua tentang Iconcache.db. 

Bye - Bye Note Pad!!!   Not Again!!

Hanya tertawa-tawa sendiri sambil berpikir, "Betapa bodohnya aku setahun ini, Gak dari kemarin-marin napa?"

Pelajaran: Jika ada masalah komputer, jangan alergi duluan, tanya si GOOGLE, cari cara dan perbaiki sendiri. Siapapun kamu, pasti bisa. Karena aku yang gagap komputer ini saja bisa, meski harus nunggu dulu sadar satu tahun. 

SATU TAHUN VS 5 MENIT?!!! damnnnn..... 
--------------------------

ini dia artikelnya: 

Mengatasi Ikon Shortcut yang rusak/salah pada windows 7 (IconChache.db) - Masalah ikon folder shortcut yang tidak benar/rusak pada windows termasuk shortcut start menu maupun desktop akan membuat pengguna merasa tidak nyaman melihatnya/bahkan resah digunakan bagi pengguna yang belum tau sebab program shortcut tidak berjalan semestinya. Sebuah ikon shortcut tidak ditampilkan dengan benar karena sumber shortcut telah dipindahkan atau dihapus dan ini sering terjadi pada windows 7,  selengkapnya klik SINI   

Banyak juga artikel serupa, silakan browsing sendiri.

Rencananya hari ini adalah hari terakhir aku di Karyasari. Tinggal wawancara dengan beberapa orang saja dan sepertinya akan selesai hari ini.

Bangun pagi-pagi seperti biasanya. Dalam artian jam 7 itu juga termasuk pagi (^_^, enak sekali tidur di sana, berasa di rumah sendiri dan jadinya betah segalanya, termasuk tidur). Sarapan pagi plus teh hangat manis tiba-tiba sudah di meja depan saja. Tanpa menunggu terlalu lama, mangkok sarapan langsung bocor. Perlu diingat bahwa selama di Karyasari aku menjalankan program ngirit air yakni melalui pengurangan pemakaian air untuk mandi. Paling mentok banget jika sudah 2 hari mau gak mau harus juga. Udara yang cukup dingin membuat keringat enggan mengalir sehingga aku rasa mandi menjadi tak sepenting seperti saat aku di Darmaga.


Sekitar jam 9 aku dan Andi berangkat menuju Gunung Sari, menemui Pak Ujang. Pak Ujang yang sudah sepuh itupun terlihat masih sangat berkharisma, entah apa itu aku merasakannya. Beliau dengan senang bercerita banyak hal sampai hampir 2 jam kami bertukar cerita. Tapi entah mengapa aku belum bisa untuk menulisnya disini. 

Sehabis dari Gunung Sari dan Sindang Jaya, aku pulang ke rumah Andi. Dan seberapa lama kemudian datanglah Pak Asep dan Pak Hambali. Kami ngobrol banyak hal, ngalor ngidul tapi sungguh akrab dan mengasyikkan. Terasa bagai teman lama yang baru bertemu lagi, padahal aku baru dua kali itu bertemu Pak Asep dan baru beberapa kali bertemu Pak Hambali.

Setelah sore mereka pamit. Aku melanjutkan aktifitasku di rumah Andi.

Jam 5 sore tiba-tiba hujan turun rintik-rintik disusul mati lampu. Sudahlah, ngantuk jadinya. Sampai jam 8 malam masih gelap gulita dan aku tidur...

Hari terakhir, besok waktunya pulang

20 Desembet 2009

hari ke-4: Bukit Cengkeh <--------------selesai br="br">

Bangun pagi-pagi aku langsung mandi. Mengusir kantuk yang terlanjur betah di pelupuk. Pertamakali mandi di rumah Andi yang semi terbuka. Aku mandi dengan penjagaan Mama Andi, lagian Bang Harun dan Andi masih tidur ini. He..segarrr..

Sehabis mandi, sarapan dan kemudian jalan-jalan. Ditemani Puja, Rika dan Emil, aku berkeliling Taman Sari. Dari Kaler, kulon sampai perbatasan Sindangjaya. Dari spot pemukiman sampai kebun yang memisahkan Tamansari dan Sindangjaya. Cukup untuk mengeluarkan sedikit keringat juga dengan naik turun bukit dan jalan. Namun pemandangan Salak dan Halimun nun jauh disana sedikit membuatku lupa akan hal itu.

Bukit itu ditanami cengkeh, bukit yang cukup luas yang memisahkan Tamansari dan Sindangjaya. Bukit itu dimiliki oleh Pak Sanja’i yang orang Jakarta. Bukit itu sudah bukan menjadi milik warga setempat sejak lama, sekitar tahun 70-an. Dan saat ini kebun tersebut dirawat oleh warga setempat dengan pemberian upah. Kebetulan Pak Amak adalah pengurus kebun tersebut. Kebun tersebut boleh dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menanam tanaman apapun dengan syarat tidak merusak tanaman cengkeh yang ada.


Selesai jalan-jalan aku beristirahat di teras rumah dan mengobrol dengan mama Andi. Aku dengar bahwa sebentar lagi akan ada kegiatan kerjabakti. Memang sih tadi aku juga sempat melihat bapak-bapak yang bekerja bakti memperbaiki jalan di Sindangjaya. Tapi ini kerjabakti yang lain, yaitu mengambil tras atau tanah cadas sepertinya untuk dibuat halaman mesjid. Aku putuskan untuk ikut kerjabakti hari ini. Jadi bang Harun ke Gunung Sari, aku ikut kerjabakti dulu.

Kerjabakti diikuti oleh perempuan laki-laki, tua muda semuanya ikut ambil bagian. Tanah digali di bawah rumpun bambu. Lalu dengan berbagai cara tanah diangkut menuju halaman masjid, ada yang memakai ember (seperti yang aku pakai), ada yang pakai karung, pikulan kayu, dan gerobak. Selama 5 kali bolak-balik aku ikut membantu. Huahhhh, cukup capek juga. Tapi aku senang sekali, karena rasanya aku jadi lebih santai di sini.

Setelah di rumah aku nyalakan laptop dan bermain-main dengan Rika dan Puja. Aku sedikit ajarkan cara pakai laptop. Tapi karena mereka malu jadinya ya Cuma ngajarin main game. Hee..Siang hari aku ke Sindangjaya untuk wawancara, aku ditemani puja mewawancarai 3 orang ibu-ibu yang sedang duduk-duduk. Dari pertanyaan yang aku ajukan tidak ada variasi jawaban. Seragam semua. Karena memang kondisinya seragam sih.

Sorenya bang Harun pulang ke Bogor karena besok pagi harus ngajar. Maklum dia adalah asdos, asisten dosen. Malam ini aku sendiri deh..

Aku mengobrol dengan  Pak Sani’un yaitu kakek Andi tentang kondisi air disini. Tapi banyak kata yang aku tidak ngerti, karena bahasanya yang campur sunda. Tapi aku biarkan mengalir apa adanya. Semoga saja rekamannya nanti bisa banyak membantu. Hal yang tersimpan di memoriku adalah bahwa sumber air di Sindang Jaya dan Taman Sari dari dulu sampai sekarang berasal dari bukit disana yang saat ini ditanami cengkeh oleh pemilikinya.

Setelah malam tiba aku mantengin  laptop dan sempat pula ngobrol dengan Pak Amak tentang pengelolaan weslic dan sekitar bukit milik Pak Suja’i.  Pengelolaan weslic hanya berlangsung sampai weslic berfungsi. Sebenarnya ada semacam iuran untuk biaya perawatan tapi macet karena warga tidak mau membayarnya sehingga perawatan tersebut tidak ada. Yang mengelola weslic adalah panitia weslic yang  terdiri dari para pejabat dusun dan beberapa warganya.

Setelah ngobrol aku pun Lalu nonton tivi sampai ngantuk..


hari ke-3:terbuai lelap <--------------------->

Woahhhhh................

Back Again to Karya Sari

Hari ini sungguh tidak produktif. Tidak banyak kata yang bisa ditulis. Karya sari masih menyimpan pesonanya, diam, sunyi, ramah dan bersahabat. Angin pun masih berhembus semilir dan mentari siang masih menyengat ubun-ubun.

Aku berada di dalam ruang tamu rumah Andi siang itu ditinggalkan oleh Andi dan Bang Harun yang sedang keliling mencari responden. Aku berencana ke Gunung Sari sore hari ini, namun rencana tinggallah rencana. Semuanya melayang saat aku memenangkan keinginan mataku untuk terjepejam dalam buaian kasur yang sejuk.

Siang itu jam 2. Aku menunggu Andi sambil membaca-baca buku. Sudah 2 jam aku menunggu dan akhirnya panggilan tidur itu datang. Benar-benar tak tertahankan. Dengan niat tidur 1 jam 2 jam akhirnya menjadi tidur lebih dari 12 jam...

Benar-benar tidur yang lama. 15 jam aku tak sadarkan diri dalam lelapnya tidur. Tiba-tiba saja saat kubuka mata sudah jam 6 pagi.....

I dont know What Really happened

18 Des 2009


Hari yang penuhh...

Hari pertama mengenal KaryaSari lebih jauh. Tiba2 kepala terasa penuh. Baru berbicara dengan 1 orang tapi begitu banyak informasi baru yang memaksa berjubel di kepalaku. Ayolahhhh, lalu kuputuskan untuk pulang dulu kerumah Andi setelah aku wawancara dengan 3 orang ibu2 berdasarkan kuesioner yang telah kubawa. Padahal waktu masih sangat belia untuk dibilang siang.

Sampai disini ambil laptop lalu kubiarkan satu demi satu informasi yang berjubel tadi mengalir agar kepalaku agak kosong untuk nanti kuisi lagi dengan info baru.

Jalan menuju Gunung Sari tidak berbeda jauh dengan yang lain, terjal dan menanjak. Andi membawa motornya cukup apik sehingga aku merasa nyaman2 saja. Thanks a lot Andi. Sekitar 15 menit sampailah di depan sebuah rumah, cukup bagus untuk ukuran sekitar dengan lantai keramik warna hijau muda. Itulah rumah Pak Asep. Pak Asep adalah koordinator atau sesuatu yang berhubungan dengan PNU.  Sekilas kami lihat rumahnya sepi pertanda tidak ada orang di rumah tersebut. Lalu aku pun menurut Andi ikut jalan ke bawah untuk menuju MI (Madrasah Ibtidaiyah) tempat dimana Pak Asep menjadi guru. Gedung MI tidak terlalu jauh dari rumah Pak Asep, sekitar 50 meter an. Sampai disana, menunggu sekitar 5 menit dan muncullah Pak Asep.

Pak Asep cukup banyak menyampaikan informasi, dan beliau pula yang membawa banyak hal yang perlu kurekam. Setelah berkenalan dan menyampaikan maksud dan tujuan, kami mengobrol bebas.

Gunung Sari: Mata Air Citela dan Gunung Peuteuy, bagaimana kabarmu kini?

Dusun Gunung Sari terdiri dari 130-140 KK dengan masing-masing diasumsikan memiliki anak 4 orang (karena memang warga disana menganut sistem KB alias Keluarga Besar ^_^ canda Pak Asep - Pantas saja disetiap jalan kulalui tadi banyak bertemu anak2 kecil yang bermain-main di jalan). Sehingga jika dikira2 ada sekitar 1000 lebih jiwa di Gunung Sari sendiri.

Sumber air di dusun adalah dari mata air Citela yang berada di sebuah bukit yang lebih familiar dengan sebutan Gunung Peteuy.
Melalui program WSLIC (water Sanitation for Low Income Communities)-program dgn donor Bank Dunia yang dilaksanakan pemerintah- dibuatlah pipa-pipa saluran yang menghubungkan mata air Citela dengan perkampungan Gunung Sari. Program sekitar tahun 2006 dan cukup memudahkan masyarakat mengakses air untuk keperluan sehari-hari.  Gunung peteuy menjadi sumber air utama warga Gunung Sari. Sedangkan untuk sumber air lainnya yaitu sumur (namun hanya beberapa warga yang memilikinya).

Penggunaan air untuk masyarakat sendiri masih terbatas pada pemenuhan sehari-hari, untuk makan, minum, mandi, cuci, dan lain-lain selain untuk budidaya tanaman persawahan dan kolam ikan.

Dahulu, sekitar 20 tahun lalu, air sangat melimpah di Gunung Sari. Air dari mata air Citela mampu mengairi sawah dengan cukup sehingga memungkinkan musim tanam padi setahun 3 kali. Tidak pernah ada kasus kekurangan air karena air masih sangat melimpah. Sekitar tahun 90-an awal warga juga melakukan sistem minapadi yaitu memelihara ikan di sawah dengan hasil panen yang cukup lumayan selama sebulan sekali- sistem minapadi tersebut dikenalkan oleh mahasiswa dari IPB yang sekaligus memberi bantuan berupa bibit ikan sebanyak 25 kg dan beberapa alat teknis lain.

Beberapa masalah mulai muncul saat ini. Di saat musim kemarau debit air menurun tajam. Bahkan bak penampungan WSLIC (warga menyebutnya sebagai bak “weslic”) yang berjumlah 11 (atau mungkin lebih) menjadi berkurang isinya bahkan ada yang kering.  Padahal menurut Pak Asep pula pada waktu awal program WSLIC, hal seperti ini belum pernah terjadi. Dalam kurun waktu 2-3 tahun kondisi air sudah banyak mengalami perubahan, kalau seperti ini terus dalam waktu 3 tahun ke depan sumber air disini akan habis. “Saya heran, kemana perginya air tersebut?” kata Pak Asep, yang aku jawab dengan “ ke Jakarta kali pak” dengan senyum yang aku sendiri ga tau apa artinya.

Jika musim kemarau dan air di bak weslic sedikit atau habis, warga mencari air di tempat lain, misalnya di sumur (namun kadang pula sumurnya jadi kering/sedikit airnya jika musim kemarau), di sawah, dan tempat lain yang berair meski jaraknya cukup jauh. Warga menggunakan jerigen/ember dan wadah yang bisa digunakan untuk mengambil air tersebut.  Hal ini baru terjadi belum lama ini.

Masalah kekurangan air di musim kemarau ini menimbulkan banyak masalah, selain kendala dalam pemenuhan air sehari-hari, berdampak pula pada produksi pertanian yaitu sawah. Produksi padi yang dulu bisa panen 3 kali setahun berkurang menjadi 2 kali setahun karena air yang sangat terbatas, dulu irigasi menggunakan air dari Citela, namun semenjak debit sangat berkurang, pengairan jadi lebih banyak bergantung pada hujan yang tak menentu turunnya. Hasil panen yang berkurang berdampak pada subsistensi warga terhadap beras. Menurut Pak Asep, seharusnya minimal seorang petani harus bisa terpenuhi kebutuhan berasnya dari semenjak panen sampai panen berikutnya. Namun saat ini biasanya, 2 bulan setelah panen petani sudah kehabisan stok padinya dan harus beli di luar. Selain hasil panen yang berkurang, pengurangan debit air juga menyebabkan sistem minapadi tidak bisa dilakukan lagi karena air di sawah dangkal.

Penyebab pengurangan debit air disadari oleh pak Asep berasal dari memburuknya kondisi hutan di Gunung Peteuy. Banyak pohon yang sudah ditebang oleh masyarakat untuk berbagai keperluan.baik subsisten maupun komersil, sangat mengkhawatirkan kondisinya.

Diperlukan suatu tindakan yang nyata untuk menyelamatkan kondisi mata air Citela. Salah satunya adalah dengan penanaman pohon. Pak Asep pernah mengusulkan penanaman, di lahan seluas 6 Ha (aku lupa milik siapa) di dekat mata air Citela yang rencananya akan difungsikan sebagai lahan “konservasi”. Namun ada kendala saat pengusulannya karena alasan pohon yang ditanam khawatir nanti tidak boleh ditebangi/dipanen. Padahal menurutnya penanaman itu memang bertujuan untuk melindungi mata air, bukan untuk tujuan ditebang. “Sampai kapanpun, pohon2 di dekat mata air memang tidak boleh ditebang” jelasnya. ----diusulkan kmana?----

Tentang Gunung Peteuy sendiri, menurut informasi dari Pak Asep merupakan tanah tak bertuan, yang sejak jaman Belanda katanya sudah begitu. Masyarakat menggarap tanah di lahan tersebut sudah cukup lama. Pernah ada penanaman pinus dari pemerintah (Perhutani sepertinya?) namun digagalkan oleh masyarakat dengan menebang pohon2 pinus muda yang belum lama ditanam. Lahan tersebut akhirnya dibagi2kan secara bebas kepada masyarakat yang waktu itu ada, jadi masyarakat dengan bebas mematok tanah2 sebagai batas antar tanah2 sesamanya. Lahan tersebut akhirnya ditanami dengan berbagai macam tanaman dan pohon2 (sengon, pete, jengkol,dll). Kejadian ini sekitar tahun 70/80 an (nanti di cek lagi deh....)

Saat ini ada isu bahwa Gunung Peteuy merupakan wilayah Taman nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS)—menurut Pak Asep, kabar itu ia dapatkan dari TELAPAK--. Lalu beliau melakukan pengecekan ke pihak TN (masih agak ragu juga) tentang status Gunung Peteuy dan menurutnya Gunung tersebut TIDAK termasuk wilayah Taman Nasional. Jadi tidak ada masalah terlalu berat terkait status lahan. Bahkan rencananya akan ada usaha untuk menjadikan lahan di Gunung Peteuy memiliki SPPT dan sah menjadi milik warga. ----its great i think---

Lahan di gunung Sari sudah banyak yang menjadi milik warga luar desa. Seperti banyak kasus, banyak lahan yang dijual. Pembelinya kebanyakan berasal dari Jakarta (sepertinya warga senang memakai kata “orang Jakarta” untuk menyebut para pembeli itu, entah dari Jakarta benar atau tidak), bahkan ada kebun duren yang dimiliki orang Korea (kalau yang ini aku yakin pasti Korea betulan). Harga tanah dijual sangat murah menurutku, sekitar 5000 rupiah per meternya. Coba bayangkan kalau 1 juta saja, sudah 200 m2 lahan yang bisa didapat. Padahal uang 1 juta aku yakin sekali bukanlah nominal yang begitu berarti di kota. –aku sempat terpikir, boleh juga beli lahan di gunung,buat tanam Duren ^_^--

......................................

Dari Pak Asep, aku dan Andi lalu menuju rumah warga yang lain. Sasaranku adalah ibu-ibu, karena kalau bapak2 siang2 ke kebon. Lalulah aku pergi berjalan di pandu Andi mencari target. Waktu kami melihat 5 orang ibu-ibu yang sedang mengobrol di suatu teras rumah, kami mendatanginya. Dengan tatapan mengiring kami mendekat. Aku memperkenalkan diri sejenak, dan berkenalan dengan ibu-ibu tersebut. Karena aku cepat sekali lupa nama orang, maka hanya nama responden yang aku tulis yang aku ingat. Namanya ibu Yoyoh, umur 22 tahun, dialah responden keduaku, setelah mama Andi tentunya. Ibu Yoyoh terpilih jadi responden karena ditunjuk oleh yang lain. Sepertinya aku masih menjadi orang yang aneh dan menakutkan sehingga orang sungkan untuk kujadikan responden, bahkan salah satu ibu2 tersebut malah pulang... ‘_’..sedihnya. tapi its okay. Mulailah aku menyodorkan beberapa pertanyaan kepada ibu Yoyoh yang sedang menjaga anaknya dalam gendongan. Banyak pertanyaan yang dijawab bersama-sama karena memang kondisi jawaban juga yang sama. “Apakah Ibu punya Sumur?” dijawablah bersama-sama bak paduan suara “Tidaaaakkk”.....hehehehe

Setelah selesai, aku beranjak ke rumah sebelah, dan mulailah aku bertemu responden ku yang ketiga. Namanya Ibu Jubaidah, ibu berumur 56 tahun yang aslinya berasal dari Tasikmalaya. Tidak berapa lama aku tahu bahwa ibu Jubaidah adalah ibunya Pak Asep. Ibu Jubaidah banyak bercerita. Beliau lebih santai dalam menjawab beberapa pertanyaan yang aku ajukan. Mungkin karena memang beliau cukup bayak bergaul dengan orang-orang luar.

Menjelang siang aku dan Andi mampir ke kumpulan ibu-ibu yang sedang memasak, dan bertemulah aku dengan respondenku yang ke 4. Ibu Ikah, 24 tahun yang sangat pemalu. Cukup singkat waktunya. Karena sulit nyambung dan kelihatannya sibuk sekali. Lalu pulanglah aku dan Andi ke Taman Sari. Dalam perjalanan pulang, sempat kulewati bak weslic yang airnya meluap-luap. Seperti tidak terjadi apa2 dengan air disini.....

Sebelum pulang ke rumah, sempat ke Puraseda untuk membeli pulsa, melewati sungai Cianten yang membelah jalan. Beli pulsa 2000 sms IM3 biar ngirit, lagipula sinyal indosat paling kuat disini. Telkomselku bahkan tidak bisa dipakai jika sedang di rumah Andi.

Di rumah Andi makan siang dan istirahat, sambil menulis beberapa hal yang kuanggap penting. Menunggu sore yang hendak datang sesaat lagi untuk kembali lagi ke Gunung Sari.

Jam 14.45 kembali ke Gunung Sari, mencari responden lagi. Kali ini bertemu Pak Ibrahim (ditegaskan Ibrahim pake ‘a’ bukan ‘o’, biar tak sama dengan Boim sang teroris – bisa aja bapak satu ini). Bapak ketua RT yang baik dan ramah. Disini aku pake perekam...heeeeey, kenapa ga dari tadi ya...lumayan juga jadi tidak usah terlalu repot nulis2 dan ngobrol jadi cukup santai.

Ternyata banyak juga kuisionernya, sampai aku dan Pak RT capek ngomong. Hehehehehe. Tapi syukurlah selesai juga. Sore itu aku pulang, jam 5 , biar tidak ketinggalan Putri Sendok yang mau main di Indosiar. ^_^.

Sampai di rumah Andi, bang Harun tidur di kursi, sepertinya capek sekali. Sambil nonton tipi sambil ngetik. ..

Malemmm lagi
Dinginnn lagi
Ngantuk lagi

Bobo lagi.......

17 Des 2009

Karyasari: Catatan Perjalanan Pertama  < --before --- next---> hari ke-3: waktu lelap

Yang lain tentang Mata Air Citela klik sini dan sini

It’s a long way to KaryaSari

(Karyasari adalah desa yang terletak di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor)

13.00
Baru panas-panasnya matahari menyengat Dramaga. Seperti biasa, bising di jalan Raya Darmaga membuat gerah yang sangat. Berdua, aku dan Bang Harun go to KaryaSari, Desa di Leuwiliang, sebelah timur Darmaga. Jam 13.00 berangkat, angkot cukup penuh, cukup sebal juga karena tas daypackku tak mendapat tempat duduk diangkot kecuali di pangkuanku, pegel,....ditambah sopir yang nyetirnya ngasal banget, kasar, cukup sering ngebut juga untuk ukuran angkot. Untungnya jadi cepat sampai.

Sampai di Leuwiliang ganti angkot lagi ke arah Puraseda, cukup lancar berjalan sampailah di Karyasari. Perlu waktu beberapa detik untuk menyesuaikan mata berkeliling menyapu pandangan, sebelum akhirnya terpaut mata sekumpulan tukang ojek yang memang dituju. Dipanggillah 2 tukang ojek, naeklah kita menuju rumah Bapak Sani’un yang adalah kakeknya Andi (yang ternyata terkenal sekali “semua tukang angkot di Leuwiliang pasti tahu” kata bu Sana’ah).

Lokasi Desa Karyasari, Leuwiliang, Bogor.
img source: googlemaps

Jalan yang menanjak dan cukup tidak mulus memaksaku untuk memegang erat pinggiran motor Kang Parman yang sepertinya lebih jago daripada jago offroad sekalipun..pantat ikut bergoyang dan mental naek turun,..aha.. melewati beberapa spot rumah penduduk, berseling kebun-kebun dan dikelilingi bukit-bukit Halimun Salak yang terbentang.
Sangat familiar...

Akhirnya ojek Bang Harun yang tadi duluan berhenti di samping sebuah rumah, disusul ojekku yakni Kang Parman yang aku mintain tanda tangannya di kwitansi transport. Disambut Andi dan keluarganya yang langsung bersalaman dengan kami.  Jam menunjukkan 14.30

14.30

Setelah itu basa-basi di rumah (ruang tamu) bersama Pak Amak, aku ikut ngobrol meski tak seaktif Bang Harun. Basa-basi....duhhh laper,... dari siang belum makan, lalu tawaran itu datang. Makan siang menjelang sore. Sayur jamur tiram, bihun goreng, teri dan sambal tomat terasi....enak banget. Setelah makan, langsung semuanya menuju TV. Sekarang lagi musimnya “The Great Queen Of Seon Deok”, sambil nonton sambil ngobrol. Mama Andi di teras rumah sedang mengasuh Emil, sedang pak Amak keluar entah kemana

18.30

Setelah maghrib barulah aku beranjak dari depan TV, hendak sholat maghrib. Tetapi saat wudhu di belakang, OMG..... ternyata tamu-ku datang. He......dapet deh, emang sudah waktunya sih. Akhirnya aku bertanya sama Andi, warung terdekat tapi ternyata aku malah dikasih sama mama Andi,...terimakasih ibu,...

Setelah beres-beres aku ngobrol di teras bersama mama Andi, kemudian datang ibu Anah yang ternyata adeknya Pak Amak. Ngobrol asal, kenalan, bla....... Belum 10 menit Bang Harun dan Andi keluar. Katanya mau lihat kerja bakti plester jalan di Kaler (mungkin banget Pak Amak juga tadi pergi ke sana). Aku tidak ikut, dan memilih ngobrol di rumah. Ngobrol santai malam-malam, diselingi tawa riang anak-anak yang bermain (Anka, Emil, Dipa). Kami membicarakan banyak hal dari masalah keluarga sampai masalah panen duren.

Sedikit hal yang masih aku ingat :

Keluarga Andi (6 orang : Pak Amak, Mama Andi, Andi, adeknya no1 yang laki, Puja dan Emil). Mama Andi berasal dari desa tetangga lalu setelah menikah dengan Pak Amak tinggal di Taman Sari. Adek Andi yang pertama laki laki setelah lulus SMP bekerja di di Percetakan di daerah Senen-Jakarta sampai sekarang. Puja, adek Andi yang kedua sudah kelas 6 SD, cantik deh anaknya, rambutnya panjang dan kalem banget-mengingatkanku pada masa kecilku dulu-he. Emil masih kecil, baru 3 tahun. Pak Amak adalah kepala dusun di Taman Sari.

Ibu Anah (Sa’anah) memilki suami yang berasal dari Purwodadi yang telah menetap di Taman Sari selama 22 tahun dan memilki anak 4 orang. Anak yang paling kecil adalah Anka.  Anak tertua adalah “Ria” namanya. Setelah lulus SMA bekerja, Bu Anah bercerita bahwa Ria pengen banget kuliah tapi karena ada keterbatasan biaya hal itu belum dapat diwujudkan.

Menurut Bu Anah dan Bu Juju (Mama Andi) di Dusun Taman Sari belum ada yang mampu mencapai taraf perguruan tinggi. Lagi-lagi karena alasan klasik masalah biaya yang tidak terjangkau.Perguruan tinggi dan ‘mahasiswa’ merupakan hal yang langka di sini. Berita-berita negative seputar aktifitas menyimpang para kaum muda intelektual (seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran dan sebagainya) cukup membuat trenyuh dan kecewa. “kalo mahasiswa saja kelakuannya seperti itu, lalu nanti kepada siapa lagi anak-anak kecil seperti Anka dan Emil mau mencontoh?” , aku teringat sekali kalimat yang keluar dari Bu Anah tersebut.

Di tengah pembicaraan kami, tiba-tiba ada duren muda yang jatuh berdebum di halaman depan. Dan berkat duren itu pula pembicaraan mengalih ke masalah duren. Panen duren sebentar lagi, menurut perkiraan mungkin akan panen sekitar akhir Januari 2010. Jika musim panen duren, daerah sekitar sini menjadi ramai karena banyak pembeli yang datang. “Orang Jakarta banya yang kesini untuk pesan duren” katanya. Selain dijual di tempat, juga kadang-kadang dijual di Pasar Leuwiliang. Hasilnya cukup lumayan untuk menambah penghasilan. 1 buah duren harganya berkisar antara 15 -25 ribu tergantung pada ukurannya.

……………..

Obrolan pun berakhir saat Andi dan Bang Harun kembali, lagipula juga sudah cukup malam dan aku juga sudah mengantuk. Lalu akupun tidur sesudah membuat catatan ini.

16 Des 2009

Next : hari ke 2-karyasari: Romansa air dan hutan di Gunung Peuteuy

Selama dua minggu aku tinggal di dusun ini. Dusun ini adalah salah satu dusun di Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Sungguh suatu bagian perjalanan yang sangat berkesan untukku.

Rumah aku tinggal selama di Melinsum,
Photo by: Haruki
Ceritanya berawal ketika tiba-tiba saja aku bekerja sebagai intepreter dua orang mahasiswa dari Jepang yang akan penelitian di TN Gunung Palung. Ketika aku sedang terkena virus Japan Maniac dan getol-getolnya belajar bahasa Jepang, tawaran kerja itu muncul. Aku percaya kebetulan itu tidak ada, dan aku yakin ini bukan kebetulan. Yess..Pas banget, aku bisa dapat guru bahasa Jepang sambil kerja juga. Ternyata dua mahasiswa dari negeri sakura ini masih sangat muda, lebih muda dariku malah, hee, sehingga aku lebih suka menyebut mereka sebagai temanku daripada bosku. J. Meski tak sempat aku belajar bahasa Jepang dengan teman-teman baruku itu, namun yang kudapatkan malah lebih dari sekedar trip jalan-jalan di tempat baru yang belum pernah kukunjungi.


Kabupaten Kayong Utara adalah kabupaten yang baru terbentuktiga tahun lalu, 2009 dengan berbagai masalahnya yang terutama karena sebagian besar wilayah kabupaten ini merupakan wilayah Taman Nasional Gunung Palung. Konflik antara pembangunan wilayah dan areal konservasi menjadi dua hal yang selalu aku dengar. Terpikir olehku juga, ‘Kenapa daerah yang dulunya adalah Kecamatan Sukadana ini harus berdiri sendiri menjadi kabupaten baru?’ Entahlah, aku malas memikirkan urusan ini.


Salah satu lokasi penelitian teman-temanku ini adalah suatu dusun bernama Melinsum. Sebelum mendatangi tempat ini, aku sudah diberitahu kalau di daerah ini sulit air. Dan ketika pertama kali bertemu pegawai TN yang tinggal di desa yang sama bernama Mr.R, dia mengatakan bahwa memang air susah sekali, musim kemarau belum berakhir, bahkan untuk mandi saja harus ke sungai yang jaraknya hampir 4 kilometer dari rumahnya. Karena itulah akhirnya teman-temanku memilih untuk tinggal saja di Sukadana, ibu kota kabupaten yang terletak sekitar 13 km dari Melinsum, meski akhirnya juga kami hanya tinggal di sana sekitar 5 hari, hampir seminggu setelahnya kami tinggal di Melinsum. (OMG, Mister R, untill now I still can’t believe for what you said about us, I’m sorry but You really disappointed me)

Kami pun tinggal di Melinsum di rumah seorang penduduk yang sungguh sangat baik hati (aku benar-benar serius menuliskannya “baik hati”) bernama Pak Edi. Dia adalah seorang yang sangat sederhana kelihatannya, namun ketika sudah mengenalnya dia adalah seorang yang memiliki kekuatan dan cita-cita besar. Sangat yakin, suatu saat nanti Pak Edi akan menjadi ‘sesuatu’. Rumah Pak Edi adalah rumah panggung dari papan kayu berukuran tak lebih dari 5x10 meter yang sudah berumur puluhan tahun dengan beberapa papan kayu yang sudah lapuk. Jika siang hari kadang panas mentari khatulistiwa masih terasa menyengat dan di saat hujan katanya pasti bocor. Sungguh sangat sederhana. Namun kehangatan yang aku rasakan di rumah ini, sampai sekarang pun masih ada.

Rumah sederhana Bang Edi
Photo by: Haruki

Pak Edi dan keluarganya, istri yang biasa aku panggil Kakak, dan dua orang putrinya yang masih kecil: yang besar bernama Tessa baru masuk kelas 1 SMP dan adiknya ‘Indah’ masih berumur 5 tahun. Meski baru pertama kali bertemu-pun mereka semua menganggap kami adalah teman, sehingga kami pun tak segan, langsung akrab. Tidak ada fase malu-malu dalam hubungan-ku dengan keluarga ini. Bahkan di rumah kayu kecil milik Pak Edi ini, seketika menjadi seperti rumahku juga. Sungguh suatu keramah-tamahan tingkat dewa.

Tessa baru saja mulai belajar Bahasa Inggris, mungkin baru sepekan di minggu pertamanya di SMP. Tidak ada takut atau malu di dalam diri gadis kecil ini ketika kami baru berkenalan. Bahkan dengan antusias dia menghampiriku dan mengatakan ingin belajar bahasa baru itu. Bukan hanya itu saja, Tessa bahkan langsung mempraktekkannya dengan mencoba berbicara dengan dua orang teman Jepangku. Ya ampun, benar-benar hebat anak ini. Mungkin aku ketika seumuran dia, jika terjadi hal yang sama hanya akan malu-malu di ujung ruangan. Tapi Tessa, langsung mencari peluang yang ada. Great..

Bagaimana Indah? Gadis cilik ini juga tak mau kalah. Meski dia hanya malu-malu menggelendot di pangkuan Kakak, namun dia membisikkan ke ibunya “Orang Jepangnya ganteng-ganteng”. He3. Ternyata selera Indah cukup bagus juga. Memang temanku dari Jepang ini termasuk jajaran good looking enough. Mirip-mirip tampang bintang Korea yang lagi menjamur di Indonesia. Indah pun tahu itu.  

Jangan ditanya pengaruh Korea di daerah ini? Benar-benar dahsyat. Semua tentang Hallyu seakan merasuk jiwa (ini versi lebay). Drama korea (Boys Before Flower) menjadi tontonan wajib tiap malam, setidaknya di rumah Pak Edi, dengan penonton setianya adalah Kakak dan Indah. Tayangan musik K-pop juga menjadi tontonan rutin juga, terutama buat Tessa, meski dia juga tak tahu arti dari lagu-lagu yang sering dia dengar. Dan kondisi itu tentu juga berlaku hampir di semua wilayah ini. 

next : Melinsum- Air Asin VS Air BersihMelinsum-Air Asin VS Air Bersih

Beberapa hari ke belakang ini, aku selalui dihantui perasaan sumringah. Karena banyak hal yang membuatku geli akhir-akhir ini. Bukan Sule atau teman-temannya yang bikin aku selalu tertawa bahkan tak jarang terpingkal. Ini karena hantu. Benar-benar hantu atau setan, yang berkeliaran di seantero Indonesia saat ini. Semakin lama semakin kocak.

Salah satu yang menyebabkan ledakan memori kekonyolan adalah film horor terbaru bulan Oktober kemarin, berjudul “Bangkitnya Suster Gepeng” atau sejenisnya lah. Film ini saudara sekandung dengan “Mr. Bean Kesurupan Depe”, jika memang Pak KK Deeraj sebagai produsernya bisa mengandung. 

OMG, suster lagi? Tak cukupkah Suster Ngesot, Suster Keramas , dan sekarang? Suster Gepeng.
Apa coba. Penasaran juga, akhirya aku buka resensi dan review singkatnya. Sungguh benar-benar membuatku tambah terbahak. 

Ceritanya berawal dari ---bla bla bla...(tidak penting) dan kemudian (mulai bingung) si tokoh suster itu mati karena kejepit lift pada jaman penjajahan Jepang. Kamsutnya apa coba? 
Lift jaman Jepang? Emang ada? 

Benar benar, ini film komedi sekali. Ini sengaja atau tidak? entahlah.  Sengaja atau tidak tetap saja ini kocak. Mau nakutin kok malah bikin ketawa duluan. Hahahaha 
Dengan ini semakin mengukuhkan saja, bahwa film horor di Indonesia ini semakin lama semakin bergeser menjadi film komedi. Bahkan dari  judulnya saja sudah bikin ketawa. Coba saja daftarkan judul-judul film horor akhir-akhir ini. 

(Siapkan ekspresi bingung atau bahkan tawa, berapa kali pun dibaca tetap bikin ketawa) Selamat menikmati episode ‘dagelan nusantara’.

-Pocong mandi goyang pinggul
-Hantu puncak datang bulan
-Pocong minta kawin
-Dendam Pocong Mupeng
-Kuntilanak Kesurupan
-Pacar Hantu Perawan
-Pelukan Janda Hantu Gerondong

Silakan nambahin.. seakan tak ada habis-habisnya.



Meski banyak yang mengatakan bahwa jenis-jenis film ini adalah film kelas 3, namun tetap saja tak habis-habisnya muncul  selalu. Kelas 3 yang laris. Ya, karena di kelas 3 ini, bonusnya banyak. Katanya sih obat seger mata gitu. Apalagi bawa-bawa Jepang. Kebaca kan. Ketawa lagi.

Ide  ‘suster gepeng’ itu sendiri ternyata tidak ngasal, aku baca-baca sih memang ada cerita tentang hantu jenis itu di suatu daerah di Jawa Timur. →Oh gitu ya, aku baru denger. 

Sebenarnya bukannya film horor kita itu jelek. Bukan itu. Bahkan kadang film-film ini memperkenalkan berbagai daerah di negeri ini, ya tentunya yang terkenal adalah jenis hantu dan cerita-cerita horor lokal. Namun yang jadi masalah adalah, para pembuat cerita film nya terlalu over kreatif. Tambah sana-sini, ini-itu, bahkan ngalor-ngidul. Iya sih kreatif, ujung-ujungnya jadi komedi juga, plus bonus obat seger mata nya. 

Contohnya ya suster gepeng ini. Memang benar, kisah hantu itu benar-benar ada di suatu daerah. Namun cerita yang di film, sungguh tak masuk akal. Lift? Aku sampai googling, “Kapan lift pertama ada di Indonesia?”. Dan hasilnya, seperti yang aku kutip dari sini yang menyatakan bahwa lift pertama di Indonesia adalah lift yang ada di Hotel Indonesia (HI). HI sendiri baru diresmikan pada tahun 1962 oleh Presiden Soekarno. Lalu, lift yang menjepit si Suster Gepeng di jaman Jepang (1942-1945)itu lift apa?

Ya semoga saja aku yang salah. Siapa tahu memang jaman itu sudah ada lift. hehehe

Namun pertanyaannya adalah: jika film horor tidak dibikin seperti  ini, tanpa judul yang aneh, tanpa artis seksi, tanpa adegan-adegan penyegar mata, dan tanpa-tanpa yang lain. Apakah masih akan laku? 

Lumayan, Kali-kali aja buat hiburan....