14 Mei 2013

Pagi pertama di Lembah Bada, 

Menuju Desa Tuare


Pagi pertama di Lembah Bada. Udara sungguh dingin. Mata yang masih sepat dan keinginan untuk lebih merapatkan selimut di badan sungguh sangat menyiksa. Jika di kamarku sendiri di Bogor sana, pasti sudah aku mengalah pada hasrat melanjutkan mimpi di kasur hangat pagi hari.

Kubuka selimut dan dingin mulai menyadarkanku. Kulihat jam : 6.10. Kaget ! Aku masih merasa belum terlalu lama mendengar alarm yang kusetel menyala jam 4 pagi. Harusnya ini masih jam 5an. Sepertinya teori relativitas waktu sangat berlaku di dunia mimpi, di alam tidur. 5 menit di alam mimpi sama saja dengan 2 jam di alam nyata. Dengan terburu aku mengejar kamar mandi, bukan untuk mandi, hanya mencuci muka sekadarnya saja. Mana mungkin aku berani mandi di tengah udara sedingin ini.

Setelah berberes-beres aku menuju teras. Waktu sudah tinggal beberapa menit menuju jam perjanjianku, jam 7. Kubawa tasku, dan kuletakkan diteras rumah. Sudah ada seorang bapak dan Ibunya Vexia di sana. Kami berbincang sekadarnya. Kembali teh hangat menyapaku di pagi hari. J . Sambil melayangkan pandangan ke sekeliling: Kantor polsek dengan halamannya yang luas, rumah-rumah berjajar rapi di sepanjang jalan dengan pagar bambu rendah berwarna putih – biru, dan nun jauh di batas cakrawala bukit-bukit yang membentuk pagar di sekeliling lembah ini. Tersadar kembali: “Aku berada di dasar “mangkuk” pegunungan bernama Lembah Bada.

Tepat jam 7, seorang anak muda datang, namanya John Fernando (berasa di Telenovela J). Rupanya dia yang akan mengantarku ke Tuare. Segeralah aku berpamitan dengan seluruh penghuni rumah yang saat itu ada. Saatnya berangkat. Tas besar ditaruh di depan John, diselipkan diantar setang dan jok motor bebeknya. Tas kecil berisi elektronik kugendong sendiri. Kamipun meluncur.

Jalanan masih sama, berbatu dan di beberapa tempat tergenang air, namun masih aman. Masih di Gintu, kulihat ada bangunan masjid. Sungguh mencolok di antara gereja-gereja yang banyak kutemui di sepanjang perjalanan tadi. Kudengar-dengar memang muslim di Gintu adalah yang paling banyak di antara di desa-desa lain yang didominasi oleh Nasrani. Kemudian kulihat jembatan. Di bawahnya Sungai Leiriang mengalir, deras dengan air berwarna coklat keruh. Hujan di gunung membawa endapan tanah kata John. Jalan mulai becek dan berlumpur di mana-mana. Dua kali aku terpaksa harus turun dari motor karena jalan terlalu licin dan berlumpur. Bahkan ketika aku berjalan kakipun agak sulit juga. Sungguh tidak terbayangkan jika aku harus berjalan di sini semalam. Tidak menyesal aku menunda berangkatku.

Kami melewati Desa Lengkeka, Kageroa, dan baru sampailah di Tuare. Cukup jauh juga jaraknya, 20 km-an. Selama 30 menit perjalanan sepeda motor.  Di depan sebuah bangunan gereja aku diturunkan oleh John. Kemudian berjalan menyambut seorang perempuan, sekilas tampak masih muda. Ternyata itu Ibu Femi, Pengurus Daerah (PD) AMAN di Bada. Setelah berkenalan sekilas, aku diantarkan masuk ke sebuah rumah yang ternyata adalah penginapan milik saudara Ibu Femi.

Sawah di depan penginapanku di Tuare
Kamarku berada di yang paling depan, atau lebih tepatnya di paling belakang. Bagaimana ya? Boleh dibilang teras rumah ini justru berada di bagian belakangnya. Dan di teras belakang inilah kamarku berada. Bukan tanpa alasan kurasa, pemandangan dari teras sungguh indah. Menghadap di depan hamparan sawah sepanjang kurang lebih 500 meter yang kemudian dihadang oleh bukit yang masih dirimbuni pepohonan, begitu juga di samping kanan dan kiri, sawah dan lalu bukit menghadang. Teras rumah ini, seperti berada di lantai dua. Sawah berada sekitar 4 meter di bawah teras. Pemandangan yang menyejukkan. Rasanya di tempat seperti ini, inspirasi untuk menulis tidak akan lari kemana.


Setelah meletakkan barang-barang di kamar yang sungguh nyaman (selimut tebal di ranjang sudah menjanjikanku malam yang indah, heheheee), aku mulai berbincang dengan Ibu Femi. Kusampaikan maksud dan tujuanku. Ibu Femi sendiri sudah mengetahui dari Pak Rizal, jadi tidak terlalu sulit untuk berkoordinasi. Tidak kusia-siakan waktuku, langsung aku membuka laptop dan kutunjukkan sebagian hasil tulisan yang sudah ku kumpulkan dari file-file yang diberikan Kipli. Tidak terlalu lama, mungkin hanya sekitar sejam dan kemudian aku dipersilahkan sarapan pagi. Pas banget ketika aku memang sudah lapar.

Setelah sarapan kemudian kulanjutkan catatanku. Ibu Femi mengatakan bahwa di Bada, pengurus adat sudah memiliki sebuah dokumentasi seluruh peraturan adat. Dokumen ini telah dibuat beberapa tahun yang lalu oleh majelis tertinggi adat di Bada, bernama MHTB – Majelis Hadat Tampo Bada. Kutanyakan mengapa Hadat? Ow, ternyata itu gabungan dari kata ‘hukum’ dan ‘adat’, jadilah ‘Hadat’.
Ibu Femi kemudian keluar sebentar untuk mengambilkan sebuah buku tentang panduan adat. Sekitar setengah jam kemudian Ibu Femi muncul dengan dua buah buku berukuran besar yang cukup tebal. Meskipun berbeda, namun kedua buku sama-sama berisi tentang Pedoman Hadat Tampo Bada, hanya tahunnya saja yang berbeda. Buku yang terbaru lebih tebal karena dibuat dalam dua bahasa, yaitu: Bahasa Bada dan Bahasa Indonesia. Sedang yang satunya lagi hanya dalam Bahasa Indonesia.

Pototowia Ada Tampo Bada’

 
Buku ini berisi tentang peraturan yang dipegang oleh masyarakat adat Bada, berisi seluruh adat dan aturan yang mengikat masyarakat Bada dari lahir sampai mati, dari pengaturan individu, keluarga, masyarakat, sampai hubungan dengan alam sekitar termasuk pengelolaan sumberdaya alam. Cukup alasan untuk berkata Wow... Kupikir pekerjaanku akan menjadi lebih terbantu. Dokumentasi tertulis memang yang paling keren. Karena itulah aku suka pekerjaan menulis. Rasanya tak lekang  oleh waktu. Hehehe
-------
Kulihat di sebelah barat, mungkin sudah hampir perbatasan TN, kulihat ladang-ladang terbuka. Ternyata itu adalah ladang padi gunung (huma) yang baru saja dipanen oleh pemiliknya. Itu adalah praktek ladang berpindah yang memang masih ada di sini. Kudengar juga suara-suara mesin chainsaw di kejauhan.
......
Hari ini adalah waktu rombongan Kipli yaitu UKP3 (Unit Kerja Percepatan Pemetaan Partisipatif) datang. Tim yang terdiri dari 15 orang ini, direncanakan hadir siang hari. Bahkan mereka sudah memesan makan siang. Namun aku tidak yakin juga, mengingat perjalananku kemarin yang sungguh lama. Ibu Femi kembali kepada kesibukannya mempersiapkan kegiatan ini.
......
Setelah makan siang sekitar jam 2, aku ingin berjalan-jalan melihat desa.  Kak Ratih menemaniku berjalan-jalan di desa. Kak Ratih, saudara sepupu Ibu Femi dengan sangat baik mengantarku berjalan-jalan. Jika bertemu dengan masyarakat setempat sering kali Kak Ratih mengobrolkan sesuatu yang aku yakin pasti menanyakan siapa aku. Maklum, orang baru.
Banyak yang kulihat: rumah-rumah kayu dan sebagian kecil bertembok yang dibatasi pagar bambu dicat putih, sawah-sawah yang menghijau di sekeliling permukiman, Sungai Tuare yang hanya selebar 3 meter yang kemudian bermuara di Sungai Leiriang, dan kebun-kebun milik masyarakat yang ditanami Kopi dan Kakao. Satu hal yang menarik perhatianku adalah tiga ekor kuda yang sedang merumput di areal sekitar sawah. “Eh, Kuda buat apa di sini?”tanyaku pada Kak Ratih.

Ya, Kuda adalah alat transportasi orang-orang Bada dulu, sebelum dikalahkan oleh popularitas si “kuda besi” atau motor. Untuk bepergian ke suatu tempat, orang-orang Bada menggunakan kuda yang ditunggangi. Wahh, terbayang film-film koboi dan film kolosal jaman dulu. Sayang sekali kurasa, sepertinya berkuda adalah sesuatu yang menarik. Kuda-kuda yang merumput itu adalah sisa-sisa kuda yang masih ada di Bada. Katanya sih, sudah tidak dimanfaatkan lagi sebagai alat transportasi, hanya dipelihara saja.

Di jalan aku berpapasan dengan bapak-bapak yang membawa hasil buruannya di sawah: 3 ekor belut gemuk dan seekor katak sawah. Yummy, lauk buat nanti malam ini pastinya.  Kak Ratih menunjukkan padaku beberapa orang di kejauhan yang sedang memancing di suatu kolam. Kemudian dia menceritakan kebiasaan orang-orang di sini. Jika sore, kadang-kadang suka memancing atau bermain voli. OMG! Volley again. Di mana-mana voli. Aku teringat perjalanan di Riau, dari sepanjang hulu sampai hilir, semua orang bermain voli. Laki perempuan, tua muda semua bervoli. Di sini juga begitu, meski tidak seramai di Riau. Mengapa olah raga ini begitu populer di luar Jawa? Kurasa di Jawa, voli tidak sebegini hebohnya. Sayangnya aku tidak bisa bermain voli, jadi semua ajakan bervoli kutolak kecuali jika hanya sebagai penonton.

Hampir di perbatasan desa, di jembatan yang melintasi Sungai Tuare, di dekat kantor Polhut Lore Lindu yang tidak dihuni penjaganya, aku mengajak kembali. Waktu sudah pukul 4, saatnya kembali ke kamar.  Namun kemudian ada tiga ekor anjing kecil di depan sebuah rumah, 2 rumah sebelum penginapanku. Anjing-anjing itu mirip sekali dengan si Lero yang di Gintu. Kemudian kudatangi rumah itu yang ternyata adalah rumah saudara Ibu Femi. Di teras rumah sudah ada Ibunya Ibu Femi, dan 3 orang lagi saudaranya plus beberapa anak kecil. Kamipun berbincang. (Aku baru tahu kalau ‘Lero’ bukan nama si anjing di Gintu, ini hanya nama olok-olok karena itu adalah nama seseorang. Dan ternyata memang benar si anjing di Gintu bersaudara dengan yang di Tuare ini). Sambil berbincang kami memakan langsat (atau duku?). Sepertinya sedang musim langsat di sini. Bahasa Bada yang sama sekali tidak kumengerti mendominasi obrolan ini. Kerjaku hanya senyam-senyum saja. :D . Jam setengah 5 aku kembali.

Kipli dan rombonganpun akhirnya tiba di Tuare

Kudengar berita jika rombongan UKP3 si  Kipli baru berangkat jam 10 dari Tentena. Kurasa mungkin akan tiba sekitar jam 6-7, seperti aku kemarin. Hemm,...  Kubuka laptop kembali mulai menulis apapun yang bisa kutulis. Belum berapa lama kemudian terdengar suara gaduh. Ternyata rombongan sudah tiba. Ada 15 orang yang datang dengan 3 oto avanza. “Kipliiii”.... Akhirnya datang juga.

Dari 15 orang itu, hanya ada 1 orang perempuan yang pada awalnya kupikir juga laki-laki. Namanya Mala dari Palopo.  Mala sangat boyish gayanya. Mendengar Palopo aku teringat Lamasi. Sungai Lamasi yang kukenal meski tak pernah kukunjungi. Selain Mala, 14 orang lainnya termasuk Kipli semuanya adalah laki-laki. Mala seperti berada di sarang penyamun, hehehe. Atau jangan-jangan Mala adalah Bos para penyamun ini. J. Tim UKP3 itu adalah (aku mencontek dari buku tamu Pak Sekdes, karena meskipun berkenalan aku hampir lupa semuanya): Martidep (NTB), Syafruddin (Sulsel), Riky (Bengkulu), Oldy (Jambi), Badri (Kalsel), Ramadhan (Sumut), Abe (Malut), Petra (Ambon), Yogi (Kalbar), Asep (Bogor), Petrus (NTT), Kostan Magablo (Papua), Mizwar (Sulteng). Malam ini sepertinya perwakilan dari nusantara berkumpul di Tuare. So sweet.

Perkenalan, perbincangan, disusul makan malam pun dilakukan. Aku ikut saja mengobrol meski hanya sedikit-sedikit. Ibu Femi dan panitia acara sibuk melakukan persiapan untuk acara malam. Ya, malam ini akan ada upacara penyambutan sekaligus diskusi tentang adat di balai desa. Ketika jam setengah sembilan kami berangkat menuju balai desa. Hujan gerimis yang cukup rapat menambah dingin malam ini.

Upacara penyambutan, diskusi, dan Derooo,.....

Sekitar jam 9 acara baru benar-benar dimulai. Sambutan-sambutan, perkenalan, dan kemudian ada acara upacara adat “Metu newui” (moga bener), yaitu penyambutan orang yang pertama kali datang ke Bada. Kira-kira gambarannya sebagai berikut ini:

·         semua tamu berjajar lurus satu baris. Barisan ini kemudian berhadapan dengan barisan penduduk lokal sejumlah tamunya. Jadi masing-masing orang, tamu-penduduk lokal saling berhadapan.  Penduduk lokal membawa sebuah bakul/kranjang kecil bulat berdiameter sekitar 30 cm berisi beras dan juga dua butir telor. Beras mengisi separuh bakul dan telor diletakkan di permukaan tengah beras.
Simbolisasi dari bakul, beras dan dua telor adalah:
1.       Dinding bakul diibaratkan bukit-bukit, gunung-gunung yang mengelilingi Lembah Bada
2.       Beras separuh di dalam bakul berarti bahwa di tengah-tengah gunung-gunung terdapat sebuah lembah yaitu Lembah Bada yang subur dan memberikan kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya. Warna putih beras juga berarti hati yang bersih dan suci.
3.       Telur dua butir berarti bahwa inilah lauk-pauk yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Upacara penyambutan
·         Kemudian bakul dipegang bersama oleh penduduk dan si tamu. Seperti posisi memberikan bakul kepada si tamunya. Ketika dipegang bersama itulah pemimpin adat mulai membaca doa dalam Bahasa Bada yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Pada intinya menyambut kami dan menganggap kami sudah seperti saudara sendiri.

·         Setelah selesai doa dibacakan kemudian tamu mencicipi beberapa butir beras di dalam bakul, sebagai tanda bahwa si tamu sudah menjadi bagian dari masyarakat lokal.
·         Upacara penyambutan selesai.

Kemudian dilanjutkan acara diskusi. Sebelum diskusi para nara sumber menyampaikan tentang pengelolaan wilayah adat di Bada. Bapak Apo Wengkau menyampaikan tentang pembagian wilayah: Wumbu wana, wana, dll. (Aku sudah memiliki catatan tersendiri tentang ini). Jam sudah jam 10 malam.
Tanya jawab berlangsung cukup ramai. 14 teman-teman UKP3 aktif bertanya, meski tidak semuanya karena waktu terbatas. Beberapa warga lokal juga ikut memberikan pertanyaan dan tanggapan-tanggapan. Nara sumber, baik dari pemangku adat, pemangku desa, dan dari AMAN memberikan penjelasan. Aku?...  Sebenarnya aku ingin juga banyak bertanya, tapi kupikir aku harus memberi kesempatan pada teman-teman yang hanya akan semalam saja di Bada. Aku masih punya waktu lebih dari 1 minggu di sini. Saatnya jadi pengamat.
Tetua lembaga adat Desa Tuare
dan seorang peserta  


Sejumlah pertanyaan yang muncul: tentang adat, pelanggaran adat, sanksi dan denda, serta bertukar cerita tentang adat di masing-masing daerah. Satu pertanyaan yang muncul dari seorang warga lokal yang berasal dari Desa Kageroa adalah tentang apa manfaat dari adanya pemetaan, jangan sampai pemetaan yang telah dilakukan malah membuat konflik antara TN dan masyarakat, atau malah mendorong masyarakat merambah hutan, dll. Kupikir pertanyaan ini sangat mendasar. Namun Ibu Femi langsung menjawab “Pasti Bapak tidak mengikuti Lokakarya di Kageroa beberapa waktu yang lalu”. Dan, ya, ehmm,....  Memang biasanya seperti ini. 

Sosialisasi tentang suatu program memang harus dilakukan terus-menerus. Informasi yang menurut kita sudah tersampaikan terkadang tidak dapat mencakup apa yang telah kita asumsikan. Acara malam ini bisa dikatakan sosialisasi lanjutan juga. Ya, minimal si Bapak yang tidak ikut lokakarya itu, malam ini bisa mendapat jawaban tentang pertanyaannya. Salut juga buat si Kipli yang bisa menjawabnya dengan baik. (Lagipula ini kan pekerjaan Kipli, jadi pasti dia sudah sangat terbiasa dengan pertanyaan2 mendasar seperti ini). Good job Kipli. J

Jam 11 malam acara diskusi ditutup. Sebagai acara penghujung dilakukanlah “Dero”. Aku sudah diberi tahu oleh Kipli dan Mala bahwa acara-acara di Sulteng ini biasa ditutup dengan “Dero”, menari bersama dalam lingkaran. Dan akhirnya kucoba juga “Dero”. Hampir seluruh orang yang ada di balai desa bergandengan tangan membentuk lingkaran yang besar dan menari bersama. Tarian berkeliling dengan irama kaki 2-2 (entahlah, 2-2 hanya sebutanku saja, aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya J). Musik mengalun kencang dan kami menari bersama. Sekitar 5 menit pertama kugunakan untuk belajar langkah kaki 2-2, dan kemudian aku berhasil mengikutinya. Selama lebih dari 30 menit aku ikut ber”dero” sebelum akhirnya menyerah karena capek. Badan yang tadi kedinginan sekarang sudah menjadi hangat. Orang-orang berkeringat di tengah malam yang beku. Sungguh manis sekali kurasa. Jam 12 malam acara selesai. Kami semua pulang.

Suasana meriah Dero

Aku satu kamar dengan Mala. Sebelum tidur, sempat kami mengobrol. Ketahuanlah jika Mala itu fans Ariel. Hahaha... Pesona Ariel memang dahsyat. Mala yang sangat tomboy ini pun terpesona oleh Ariel. Tidak heran.

Suasana di luar kamar ramai, orang-orang masih berdiskusi di teras. Diskusi serius, juga diskusi bercanda. Aku hanya ikut sebentar dalam diskusi bersama Kipli dan Bu Femi. Ketika jam sudah menunjukkan jam 1.10 aku pamit untuk tidur. Besok pagi rencana ikut berjalan-jalan ke hutan bersama rombongan UKP3. Siapkan energi untuk esok hari.


Matikan lampu, Say good night to my roommate Mala, dan untukku sendiri お休みなさい。


journey 3: perjuangan si OTo <---before ----="" next----=""> journey 5: Bonde, Sepe, Megalith Palindo


13 Mei 2013

Selamat berjuang ‘Oto’

Sungguh hari yang panjang dan melelahkan. Episode hari ini diisi dengan perjuangan si “oto” menembus Tampo Bada. Tujuh jam yang melelahkan. Terbukti sudah kata orang-orang “Selamat menikmati perjalanan”.

Rutinitas pagi seperti biasa. Bangun jam 6 mandi, makan, berbincang. Orang-orang sudah mulai berangkat training. Kecuali training keuangan yang memang belum dimulai. Berkenalan aku dengan beberapa teman-teman kader AMAN yang muda-muda. Ada Desna dan Tisen serta Vina, semuanya berasal dari Bada. Vina berasal dari Kageroa, Desna dan Tisen dari Bewa. Cukup banyak berbincang dengan Desna dan Vina. Mereka menceritakan betapa ‘serunya’ perjalanan dari Bada ke Tentena. “Tidak jauh kok, cuman 3-4 jam kalo tidak hujan”. Lalu ketika hujan? Kutanya. Dijawablah dengan senyuman “Yah bisa 8 jam-an, kadang juga harus bermalam”. Ehhhhhh,,....  Aku langsung shock mendengarnya. Kok bisa 3-4 jam bisa menjadi berlipat2 seperti itu. Kemarin sempat kulihat pula Desna dan Tisen yang baru datang dari Bada dengan motor dan celana yang penuh lumpur. Tapi tidak kukira akan sefantastis itu.

Jalan Tentena-Bada rusak parah
Jam 10 tepat mobil jemputanku datang. Desna membangunkan aku dari tidur ayamku dengan teriakan “Kak itu oto kakak su tiba”. Eh, oto? Mobil kaliii. Langsung teringat sms Pak Rizal yang bilang akan mencarikan oto dari Tentena. Bingung sih, tapi aku ngerti. Oto adalah sebutan untuk mobil. Aku langsung berburu membawa tasku yang meskipun hanya satu tapi beratnya menyaingi karung beras penuh. Kulihat ada mobil jenis L-300 yang menungguku. Heh? Dari awal kupikir mobil jemputanku adalah mobil kecil yang orang-orang sini menyebutnya ‘oto avanza’. Jadi aku agak shock juga ketika aku melihat L-300 itu, yang disebut ‘oto besar’. Hehehe,.. Tapi tidak masalah. Show must go on. Masuklah aku ke oto itu dan sudah ada sepasang nenek-kakek di dalamnya. Mereka juga mau ke Bada. Sebentar kami berbincang-bincang dan oto-pun berjalan.

Oto berjalan memasuki permukiman, menjemput penumpang. Jujur aku teringat pada L-300 di Jawa sana yang jika membawa penumpang sungguh ‘terlalu” (dengan gaya Rhoma tentunya J ). Jadi jiper juga. Tapi sudahlah, nikmati perjalanan. Penumpang yang dijemput pertama adalah seorang Ibu muda bersama dua anak perempuannya yang berumur 5 dan 10 tahun. Penumpang kedua adalah sepasang muda-mudi yang terlihat jelas pacaran karena sepanjang perjalanan mereka mesranya membuat ibu-ibu pada ngiri (hahaha.. ini pernyataan bukan dariku, ibu yang sebelumnya naik sempat bilang padaku di tengah jalan tentang hal ini J). Selanjutnya ada sepasang bule Perancis bersama guidenya yang orang Toraja. Bule ini mau berjalan menuju Palu membelah wilayah Bada. Selanjutnya ada Ibu dengan seorang anak perempuan 7 tahunan dan sepasang kakek nenek lagi. Selain bule dan guidenya dan tentunya aku, semuanya adalah orang Bada. Lengkaplah sudah personel di oto besar ini, 16 orang plus sopir. Oiyah, Sopir bernama Bang Chitra. Doi memang spesialis mobil angkutan ini PP  Bada –Tentena.

Hanya sekitar berjalan satu jam dengan jalan aspal yang lumayan baik, kemudian mobil berhenti. Kulihat ada portal yang dijaga petugas berseragam bertuliskan dinas perhubungan. Nenek di sebelahku bernama Nenek Esther mengatakan bahwa perjalanan yang sulit baru mau dimulai. Inilah akhir jalan aspal bagus. Yahh, mari kita mulai.




Salinan dari HP:

10.00 – berangkat dari Tentena
11.30 – Jalan aspal mulai berakhir, masuk portal, sopir bayar pungutan
11.45 – Mobil pasang rantai ban, jalan mulai becek
12.11 – Sudah 20 menit menunggu truk yang terjebak lumpur
12.15 – Again! Avanza mogok, truk yang tadi sulit naik
01.51 – pasang rantai lagi yang tadi sempat dicopot. Mulai gerimis
02.38 – sudah 10 menunggu di jalan becek, sempat disuruh jalan kaki karena tidak memungkinkan. Ada 2 avanza terjebak lumpur
02.49 – Baru 5 menit jalan ‘dangdutan’, sudah harus antri lagi, lumpurrr...
04.40 – Istirahat di Maley Bada. The only warung. Indomie dan telor rebus J
06.12 – Sampai Bomba. Gerimis. Penumpang mulai turun.ehem,.. Someone reminds me of my –x. Hehehe
6.50 – Sampai di Gintu. Hujan deras. Tidak bisa naik ke Tuare malam ini. Nginap di saudara Ibu Femi.
----------------------------------------------------

Oto bergerak dengan gerak yang diperlambat, beberapa kali miring-miring membuat hati deg-degan. “Belum ini, belum,...” Nenek Esther berkata. Yahh, nikmati saja perjalanan ini. Aku pikir perjalanan ini akan seru sekali, makanya aku mulai mencatat setiap waktu dimana terjadi hal-hal yang luar biasa. Awalnya aku ingin menulis di buku saja, namun melihat kondisi jalan yang dangdutan ini dan memang telah kucoba sebelumnya, kusimpulkan bahwa itu bukan ide yang baik. Kupilih saja menulis di hape (Saat-saat seperti ini selalu membuatku sadar bahwa teknologi itu memang diperlukan).


Akhirnya tiba juga di Lembah Bada. Lembah putih yang dikelilingi oleh bukit-bukit pegunungnan, yang dulu katanya adalah danau dan yang  pertama kali ditemukan oleh Wiri Bangko entah di tahun kapan.
Kulihat langit menjadi jingga dan nun jauh di bawah sana terlihat titik-titik kecil rumah dan petak-petak sawah di suatu lembah yang memang benar-benar seperti berada di dasar “mangkuk” di tengah-tengah bukit-bukit yang menjulang. Waktu menjelang jam senja.

“Yatta! Inilah Bada!”  aku bersorak dalam hati.
“Akhirnya sampai juga di Bada” Kata Nenek Esther.
“Nanti saya yang pertama kali turun, itu di bawah desa saya, Desa Bomba” Kata Nenek di belakangku.
“Pak Sopir berhenti sebentar, mau ambil foto sebentar di sini” “Hey Tom, You can take the picture here, from the car, You don’t need to go outside.” Kata abang-abang guide kepada sopir dan juga bule-nya.

......Selamat datang di Lembah Bada


Melihat lembah Tampo Bada (Tampo dalam bahasa Bada berarti “tanah”) memang membuat semua orang bersemangat. Setelah perjalanan melelahkan hampir selama 8 jam, akhirnya kami bisa sampai juga di lokasi tujuan.

Pikiran-pikiran buruk, pertanyaan-pertanyaan yang pernah muncul dihatiku: “Buat apa sih aku melakukan ini? Apa benar pilihanku? Rasanya aku ingin pulang?” Dan semua ragu yang kadang membuatku gelisah, semua terasa hilang begitu saja. Senja dan langit jingga di barat sana, di atas bukit-bukit yang memantulkan warnanya, dan lembah Bada di bawah sana, seakan memberikan semua jawaban tanpa pernyataan yang jelas. Aku hanya tahu, merasakan tanpa bisa menjelaskan. Aku beruntung bisa di sini. Inilah mimpi yang dulu pernah ada. Sesaat aku bilang aku rindu pulang, rasanya rumahku sudah menanti di depan sana. Perasaan sama yang pernah kutemukan ketika dulu pernah melakukan perjalanan di Liwa-Krui-Lampung Barat. Yang orang bilang itu Deja-vu, saat ini kurasakan.
-----
Desa pertama yang menjadi pintu gerbang permukiman Bada adalah Desa Bomba. Mobil berhenti sebentar di portal masuk desa. Bang Chitra, sopir yang tak kenal lelah itupun membayarkan sejumlah pungutan pada penjaga portal, kemudian menurunkan beberapa barang dari atap mobil. Barang titipan rupanya. Hanya 3 menit. Mobilpun berjalan lagi.

Ketika sepasang kakek-nenek yang duduk di belakangku turun, langit masih bercahaya remang. Tidak kulihat jam, namun kuperkirakan sekitar jam 6 lewat belasan menit. Barang-barangpun diturunkan. Mobil berjalan lagi. Penumpang yang kedua turun adalah Guide dan 2 orang bule Prancis di sebuah penginapan di desa Pada, desa ke-dua. “Bye-bye. Terima Kasih.” Kata Silvy, si bule yang perempuan. Ibu dan 2 anak perempuannya juga turun di Desa Pada. Mobil menjadi lebih lengang, Nenek Esther bilang bahwa selanjutnya yang turun adalah aku. Aku turun di Desa Gintu.

Mobil melaju pelan, di tengah jalan aspal dan bebatuan. Tidak terasa mobil berhenti, kutengok melalui kaca mobil sebuah rumah yang ramai. Ada sekitar 5 orang di sana yang terlihat.

“Saya turun di sini ya Bang?” tanyaku.
“Iya mbak. Sebentar saya bantu menurunkan tasnya” Bang Chitra menjawab.

Kubayarkan ongkos perjalanan sebesar 50 ribu sambil mengucapkan terimakasih. Tidak lupa tentunya minta paraf untuk keperluan kuitansi. Hehehe.... Aku mulai melangkah masuk menuju rumah yang kutuju dan mobil kembali melaju. Terimakasih untuk perjalanannya yang sangat mengesankan. Jam 7 malam.

Aku menuju ke rumah itu, rumah adiknya Ibu Femi. Kuperkenalkan diriku pada seorang bapak yang kulihat pertama kali. Kusampaikan maksud dan tujuanku. Aku dipersilahkan masuk. Rumah yang hangat. Di dalam rumah ternyata lebih banyak lagi orang yang kutemui. Mereka sedang menonton TV di ruang tengah. Aku yakin sekali mereka menonton sinetron (kudengar suara-suara khas orang marah dan menangis, khas sinetron kita). Suguhan teh manis panas pun muncul. Langsung saja kusruput. Ehm,.... sungguh hangat dan nikmat. Di luar hujan semakin deras mengguyur malam.

Ibu Femi tinggal di Desa Tuare, Kecamatan Lore Barat. Desa ini adalah desa paling ujung sebelah barat, berbatasan langsung dengan TN Lore Lindu. Jalan menuju desa ini katanya kurang bagus, dan tidak banyak mobil umum yang mau ke sana. Karena itulah aku turun di Gintu. Pak Rizal mengatakan agar aku turun saja di Gintu, di rumah yang depan Kantor Polsek Lore Selatan, rumah adeknya Ibu Femi. Nanti minta orang di rumah itu untuk mencarikan orang yang bisa mengantarkan aku ke Tuare naik sepeda motor. Perjalanan kurang lebih 20 menit.

Aku berkenalan dengan sebagian orang-orang di rumah itu, namun karena banyaknya orang, justru aku tidak bisa mengingat satupun nama. Hanya Vexia si anak kecil dan seekor anjing kecil berumur 1 bulang  bernama Lero yang masih kuingat. Oh Tuhan, tolong di update memori ku ini... J

Tuan rumah mengatakan bahwa apakah aku ingin naik ke atas malam ini juga atau besok pagi saja. Aku ingin malam ini saja bisa ke Tuare, agar cepat sampai dan aku bisa memulai pekerjaanku. Mereka bilang bahwa ke Tuare malam ini bisa saja, namun agak sulit jalannya, berlumpur dan becek, apalagi saat ini hujan. Aku tetap ingin berangkat malam ini saja.

Sambil menunggu orang yang akan mengantarkanku ke Tuare, aku kembali pada teh panas yang mulai hangat sembari berbincang dengan adeknya Ibu Femi. Ketika orang yang akan mengantarku tiba dan ketika aku ditanya apakah sudah siap, Aku malah menjadi ragu. Hujan yang tadi sempat mereda, kembali mengguyur lagi dengan lebih ganas. Ada dua hal yang kemudian kupertaruhkan :

“Apakah aku ingin cepat sampai tujuan dengan resiko jalan di tengah hujan, basah dengan skenario terburuk adalah sakit?”
“Menunggu besok pagi, menginap di Gintu dulu dengan resiko akan ada waktu yang tidak bisa dikejar?”
 
Aku akhirnya memilih pilihan ke-2. Bagiku, sakit menjadi momok paling mengerikan jika sedang bekerja di lapangan. Aku tidak ingin berkompromi dengan anugrah Tuhan yang paling mahal ini. Kuputuskan menginap di Gintu dan ke Tuare besok pagi. Perjanjian dengan pengantar, jam 7 pagi besok kami berangkat. OKEy..

Akhirnya menginap juga di Gintu,..


Aku diantar menuju kamar yang akan kutempati. Ehm, kamar yang luas, harum pula. Sepertinya aku akan nyenyak tidur malam ini. Aku pergi mandi, membersihkan badan. Meskipun udara sungguh dingin luar biasa, tapi mandi menjadi wajib.  J . Selesai mandi, aku diajak makan malam.

Sebenarnya aku ingin langsung ke kamar, membuka laptop, menulis catatan harian dan tidur. Tapi itu sungguh “tidak aku” banget. Karena itulah aku keluar kamar, ikut nimbrung orang-orang yang sedang mengerumuni TV. Dan sesuai dugaanku, memang mereka sedang menonton sinetron, di Indosiar pula, yang kutahu terkenal dengan “elang dan naga terbangnya”. Hahaha....

Niat yang pada awalnya hanya menonton 10 menitan sambil mengobrol, gagal sudah. Ini semua gara-gara sinetron Indosiar berjudul “Merebut suami dari Simpanan”. OMG! Judulnya saja sudah gak banget, apalagi ceritanya. Namun karena semangat para penonton, aku ikut juga terlarut dan jadi menonton penuh 1 episode selama hampir sejam.

Akhirnya saatnya kembali kamar. Hidupkan laptop. Tulis catatan harian dan catatan keuangan hari ini. Cek-cek kuitansi dan nota-nota. Charge semua yang perlu di-charge. Selesai. Tidur nyenyakkk..
Sungguh lelah hari ini. Saatnya menutup mata. Jam 10.30


お休みなさい!Selamat tidur! Good night! 


Dalam pagi secangkir kopi
Terdengar lagu "Bawalah aku selalu ke langit biru"
Seperti si empunya lagu mem'boomerang'kan hati dan pikiranku

Hampir saja aku lupa,
Batas biru yang terbatas di atas langit yang kujunjung saat ini
Tiupan angin lembah yang selalu membelaiku
Hijaunya bukit yang memangkas horizonku,

Tengadahku di atas tak berbatas, biru,....
Awan-awan putih seakan kembali membawa metafora yang kembali hidup,
Dalam jiwa yang hampir saja tumpul

Rasanya ingin pulang
Dalam kedamaian ini selamanya,
Entah dimanakah? Aku ingin selalu berada di bawah langit biru ini.

Langit Lembah Bada yang menaungiku saat ini
Selalu akan menjadi boomerang yang selalu kembali lagi padaku
Sejauh apapun aku melemparkannya dalam kenangan menghilang

Dia akan selalu mengingat.
Dingin ini, hijau ini, biru ini, putih ini, lembah ini,...


20 Mei 2013 di Lembah Bada, Tuare

Langit Bada yang selalu membuatku jatuh cinta


12 Mei 2013

Tentena, Hari II 


Danau Poso yang diselimuti mendung
Hari ini kumulai jam 8.00 pagi. Tidak terasa sudah cukup ramai di luar kamar yang kutempati bersama Weni. Kudengar beberapa orang berbincang, dan kudengar pula bahwa Pak Rizal dan Bu Rukmini sudah datang sekitar jam 5 pagi tadi, bersama keluarganya, anak-anaknya. Setelah mandi dan membersihkan badan , aku ingin berkenalan dan menyapa rombongan yang baru datang, namun pas aku dekatin, semua orang sedang terkapar kelelahan. Wajar saja, mereka sepertinya sangat kelelahan.

Tidak berapa lama kemudian, jam 9 aku berkenalan dengan Bu Rukmini dan juga Pak Rizal kusampaikan maksud dan tujuanku, tentang project buku yang harus kuselesaikan bulan Mei ini dan juga rencana draft yang seharusnya ada untuk soft launch di tanggal 15. Pak Rizal menyampaikan bahwa rencana kedatangan dan tujuanku sudah diketahuinya dari Kipli. Bahwa aku adalah penerus pekerjaan Mbak Rina pun dia juga sudah tahu. ia juga sudah menyurati pengurus AMAN di Tampo Bada untuk membantu mengurus segala keperluanku. Yap, intinya semua tinggal berangkat.

Kutanyakan pula apakah ada dokumen-dokumen tentang Tampo Bada yang dimiliki Pak Rizal, namun sepertinya dia tidak membawa dokumen2 yang sudah ada. Kemungkinan masih bercecer di beberapa orang dan belum terkumpul jadi satu kesatuan.  Pergantian orang yang menangani suatu hal juga kurang diimbangi dengan transfer informasi sehingga terkadang informasi di orang lama tidak tersalurkan di orang baru. Kurang tahu juga. Tentu saja hal ini cukup mengkhawatirkanku mengingat aku harus membuat draft untuk soft launch dengan deadline yang seharusnya sebelum aku berangkat ke Palu, namun karena minimnya data yang kupegang, akhirnya deadline mundur juga. Pak Rizal mengatakan sebisa mungkin akan mencarikan transportasi untuk ke Bada hari ini. Kemungkinan siang, karena pagi hari orang-orang bersembahyang di gereja.


Tidak terlalu lama kami berbincang, kemudian Ibu Rukmini yang setelah berkenalan tadi keluar ruangan, masuk kembali dan mengajak kami makan pagi. Sarapan pagi dengan menu nasi goreng dan ikan pindang asin. J . Enak. Mengganjal perut yang memang sedari bangun tidur sudah keroncongan minta diisi. Semangkok sambal merah benar-benar menguji imanku. Tapi untungnya, aku masih kuat menahan godaan si merah ini. Ngeri juga dengan tragedi Pare.

Setelah makan pagi Pak Rizal dengan keluarganya pergi menuju Penginapan Dolido. Rupanya hari ini ada training yang diadakan oleh PW AMAN Sulteng yaitu training untuk kadernya (disebutnya training CO).  –Pantas saja Pak Rizal menyuruhku untuk ke Tentena Sabtu. Jika tidak, tentu saja aku harus berangkat sendiri ke Tentena karena semua pengurus AMAN di Palu pergi ke acara ini—Aku menyusul ke Dolido juga, sambil menunggu siang yang akan membawa si mobil yang akan membawaku ke Bada—heeh. Sekitar jam 9.30 aku bersama Weni, Hendra, Pak Bata (PW Aman tanah Luwu, Pak Ian (PW Sulsel), dan Pak Rizal yang kembali lagi menjemput kami.

Danau Poso dan Losmen Dolidi

Penginapan Dolidi terletak tepat di tepi Danau Poso. Dan aku baru ngeh, baru sadar jika di rumah Bu Tanti juga di tepi danau ini. Wajar sih, kemarin datang malam dan tidak terlihat apapun. Dari jalan raya, penginapan ini kurang terlihat. Hanya ada papan nama berukuran sedang yang menunjukkan namanya “LOSMEN dan MOTEL DOLIDI”. Jalan kecil, seperti gang sepanjang 15 meter menghubungkan jalan dengan losmen ini. Losmen Dolidi terdiri dari bangunan untuk kamar-kamar dan sebuah aula pertemuan. Semuanya dari kayu, kecuali lantai teras depan yang diporselen. Ada 10 kamar berukuran kecil kurasa, dengan dua tempat tidur. Aku dengar peserta training  berjumlah 20 orang. Jadi dipilihkan tempat ini sebagai lokasi training sekaligus penginapan peserta. Pemandangan danau Poso (aku yakin sebenarnya ini sungai, karena si Bapak Awusi yang kemudian aku kenal mengatakan, danau ini bermuara di laut. Iya kan, sungai) sangatlah indah. Apa ya? Yang danau-danau begini memang bagiku selalu indah. Danau Poso yang airnya berwarna kehijauan bening. Dasarnya pun nampak. 

Hanya saja aku tidak melihat ikan-ikan yang berenang bebas. Ada juga ikan di keramba milik penduduk yang tinggal di sepanjang tepi danau ini. Meskipun begitu, tepi danau di seberang tidak kujumpai adanya rumah atau pondok. Yang ada adalah persawahan yang ditanami padi dan juga di beberapa tempat jagung. Setelah kuperhatikan dengan seksama, wajar saja demikian. Seberang danau tidak menyisakan tanah datar yang cukup untuk pemukiman. Hanya sedikit dataran dan setelah itu tebing-tebing yang lumayan tinggi. Jika ingin membuat rumah di lokasi ini pasti repot sekali.


Tepian Danau Poso yang ramai dengan rumah-rumah


Training CO AMAN Sulteng


Sekitar jam 10.30 acara training pun dimulai. Aku ikut saja duduk di aula itu, sebagai pengamat. J . Sempat juga Pak Rizal mengenalkanku sebagai seorang peneliti yang akan menulis tentang hutan adat di komunitas adat Bada. Ehm, terharu juga mendengarnya. Aku peneliti lhoh. Hehehe.. Kadang aku merasa masih seperti ketika mengerjakan skripsi saja. Memang sama sih apa yang dikerjakan: “meneliti sesuatu”. Namun rasanya disebut begitu, masih agak asing.

Acara training tersebutpun dimulai, perkenalan singkat antar peserta, dan kesepakatan awal tentang tata tertib selama training. DI training ini hanya ada seorang anggota perempuan yaitu Ibu Asma. Dia cukup vokal juga. Gaya-gaya Sulawesi lah, cukup mencolok di antara peserta laki-laki. Aku sempat berkenalan dengan beberapa peserta training yang berasal dari komunitas adat di Sulteng ini, namun tidak semuanya aku ingat namanya. Yang aku ingat jelas adalah Pak Marten xx (nama marganya lupa. Marga menjadi penting ketika ingin mencari seseorang, karena satu nama bisa dimiliki oleh beberapa orang). Pak Marten ini adalah perwakilan dari PD Bada. Dia datang bersama dengan seorang lagi temannya. Desa Pak Marten adalah Desa Pada, di Kecamatan Lore Selatan. Sempat aku mengobrol beberapa menit ketika istirahat training jam 1-an.  Tidak banyak hal yang kami obrolkan, hanya sekedar mengenal komunitas adat Bada.

Sebenarnya adanya Pak Marten ini sempat kujadikan sebagai plan B ku ketika aku terpaksa tidak bisa secepatnya datang ke Bada (Baru saja Pak Rizal mengatakan bahwa aku tidak bisa berangkat ke Bada hari Minggu karena tidak ada mobil yang naik. Orang-orang pergi  ke gereja). Sambil mengerjakan draft, aku bisa menggali informasi mengenai hutan adat Bada dari Pak Marten ini.  Namun setelah melihat jadwal training yang belum lama disepakati, hal ini menjadi sulit. Training dilakukan penuh dari pagi sampai malam jam 10. Otomatis aku tidak memiliki cukup waktu untuk berdiskusi di waktu istirahat yang itupun sangat terbatas. Langsung aku meminta Pak Rizal untuk bisa berangkat secepatnya ke Bada. Ibu Tanti pun membantuku untuk mencarikan mobil. Tidak berapa lama dia menelepon, dan dapatlah aku mobil untuk ke atas. Katanya mobil akan menjemputku jam 10 pagi.

Sekitar jam 3 aku sempatkan berbelanja beberapa keperluan di lapangan seperti P3k dan buku2 tulis. Kebanyakan toko-toko tutup karena Minggu, namun ada satu swalayan cukup besar yang buka. Berjarak sekitar 50 meter dari penginapan. Aku ditemani oleh Raka, anak laki-laki Bu Tanti yang masih kelas 1 SD. Anak yang ramah dan cepat akrab. Sampai akhirnya kembali ke Dolido, aku masih ditemani dan sekarang menemani Raka yang ditinggal Bu Tanti entah kemana untuk suatu keperluan. Lumayan lama, sejam.

Training berakhir sekitar jam 5 sore. Kulihat beberapa orang berfoto di tepi danau, aku pun ikutan. Saatnya narsis. Tapi selalu saja momen2 seperti ini jarang memberiku hasil foto yang bagus. Heuhh, Salah kamera atau salah muka ini? Heee... Ingin secepatnya kembali ke tempat ku menginap di rumah Bu Tanti. Namun tidak mungkin juga, hujan deras sedangkan mobil yang mengantar kami tidak ada. Jadilah aku menunggu hujan, bersama juga teman2 lain yang menginap di rumah Bu Tanti. Baru jam 7 aku, Weni, Hendra bisa kembali. Sampai di kamar, sudah kulihat Ibu Salma. Aku sudah berkenalan sore hari dengan Ibu Salma. Dia adalah trainer untuk keuangan. Memang ada dua training di sini, yaitu training CO dan training keuangan. Tempat yang dipakai untuk training keuangan yaitu di rumah Ibu Tanti yang memang cukup luas. Malam ini, kami bertiga di kamar: aku, Weni, Ibu Salma. Ibu Salma ini pernah bekerja di sebuah yayasan yang mengurus tentang perempuan dan anak-anak korban bencana dan kekerasan. Malam ini kami banyak bercerita tentang hal itu. Pak Rizal dkk masih di Dolido melanjutkan training sesi malam. Sungguh, sangat rajin sekali. Hehehe..

Kantuk pun datang dan aku tertidur dengan pulas. Jam 9.30.

Sesaat aku lupa dengan Yamapi.... Tunggu di akhir bulan yakk..

hehehehe.... 

Catatan ini berisi tentang hari-hariku sejak hari pertama berangkat dari Bogor menuju Tampo Bada’ sampai pulang lagi ke Bogor. Corat-coret dari apa yang kulihat, kurasakan, kudengar dan memberikan kesan di hatiku. Mungkin saja banyak curhatan atau mungkin lanturan ngalor-ngidul,  tapi itu semua adalah bagian dari perjalanan ini. Terimakasih untuk AMAN yang telah memberi kesempatan dan kepercayaan ini. Terimakasih juga buat Mbak Itok J, Kipli, Mbak Mina,dll. Juga semuanya teman-teman di Sulteng yang baru kutemui di sini: Pak Rizal dkk, Ibu Femmy dkk, dst. Banyak cerita kalian di sini. Hehehe,... Mungkin saja kalian membacanya.

11 Mei 2013

Awal perjalanan

Pesawat pagi membuatku harus berangkat dari kosan jam 1 pagi untuk mengejar bus DAMRI pertama di jam 2. Beruntung aku memiliki seorang teman yang paling bisa diandalkan untuk hal-hal seperti ini, mengantarkanku di pagi buta. Thanks Bucok. J Meskipun hari masih sangat pagi namun bandara sudah penuh dengan orang-orang yang entah pada mau kemana. Antrian check-in jam setengah 4 pagi ini pun mengular. Aku memilih untuk mengambil antrian tanpa bagasi, lagipula barang-barangku sedikit saja. 

Rencana tidur di pesawat selama 2,5 jam penerbangan gagal sudah. Tepat di sampingku duduk ibu-ibu yang membawa anak bayinya yang baru berumur 1 tahun yang rewelnya minta ampun. Hampir sepanjang perjalanan menangis teriak-teriak. Ehmm,.. yasudahlah. Akhirnya tetap saja terjaga sampai akhirnya mendarat di Bandara Mutiara, Palu jam 8.40 WITA (ketika itu aku belum sadar ada beda waktu 1 jam dengan WIB, jamku masih jam 7.40).

Aku janjian dengan Pak Rizal jam set.9 sehingga aku santai saja turun dari pesawat dan menuju bandara. Ketika masuk bandara kudengar suara perempuna memanggil “Nonett”. Eeehhh, siapa ya? Kupikir aku salah dengar, tapi ternyata ketika kulihat arah suara terdengar. “Wee, Mbak Imas dan Ifa”. Entah kenapa tapi rasanya aku senang sekali, rasanya seperti ada yang menantikan aku di sini.hehehe.. Mbak Imas, teman sekosan dulu dan anaknya yang masih 4 tahun si Ifa, sudah lama sejak Mbak Imas lulus S2 nya di IPB hampir setahun lalu. Senang sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk istirahat sementara, membayar utang tidur 2-3 jam di rumah Mbak Imas saja, karena lebih santai, lagipula suami Mbak Imas juga lagi di Jawa, jadi hanya ada Mbak Imas dan anak-anaknya saja di rumah. Kuhubungi Pak Rizal dan dia bilang “OK”. Kupikir ini juga lebih meringankan dia di jadwal AMAN PW Sulteng yang kuketahui belakangan sedang super sibuk.

Awalnya kupikir akan berangkat ke Bada besok pagi dalam sekali trip. Namun siang harinya, selepas aku beristirahat, Pak Rizal menelpon dan menyarankan aku untuk berangkat ke Tentena, Ibu Kota Kabupaten Poso hari ini juga, jam 2 siang, bersama dengan teman-teman AMAN PW Sulteng yang akan mempersiapkan Muswil-nya. Okelah, mari kita berangkat. Karena waktu yang mepet, aku minta dijemput saja di rumah Mbak Imas dan ketika itu juga sedang hujan cukup deras. (Palu memang beberapa hari terakhir sedang hujan. Jika siang minta ampun panasnya, meskipun katanya ini belum, selesai hujan barulah panas berkurang. Dari jadwal jam 2, ternyata aku baru dijemput jam 4 sore. Ehm, molor 2 jam euy.

Di dalam mobil travel yang berukuran sedang dengan jumlah seat 9 plus ruang belakang untuk menaruh barang akhirnya kami berangkat. Hanya ada 4 orang penumpang: Aku, Weni, Hendra, Pak Dede. Mobil travel itu terasa sangat longgar dan nyaman. :) . Perjalanan menuju Tentena memakan waktu sekitar 8 jam, sehingga perkiraan akan sampai di lokasi jam 12 malam. Dan perkiraan ini tepat sekali, kami sampai di rumah Ibu Tanti dia pengurus AMAN di daerah sini.

Jangan tanyakan apa saja di perjalanan karena hampir sebagian besar waktu adalah malam yang gelap gulita. Yang kuingat hanyalah jalan yang berliku-liku, tebing-tebing curam, jurang terjal, batuan gamping, pohon-pohon kelapa dan hutan kering. Tidak banyak rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan, asumsiku karena sebagian besar kulalui jalan dalam gelap, tak ada lampu atau penerangan rumah yang terlihat. Ada beberapa kali melewati pusat pemukiman namun juga tidak terlalu ramai. Kami makan siang di sebuah warung yang sepi, mungkin memang warung khusus penumpang travel. Lauk Ikan goreng yang enak banget karena aku sudah lapar dan sayur – sayur yang semuanya pedas. Sepertinya butuh lebih banyak usaha untuk menghindari cabe di sini.

Tentena, Hari I


Ketika tiba di rumah Bu Tanti, sudah berkumpul beberapa bapak-bapak yang kuketahui setelahnya adalah anggota AMAN. Aku tidak sempat berkenalan karena ketika membereskan barang, mereka sudah siap-siap akan pergi entah kemana. Pak Dede juga ikut bersama mereka. Aku, Weni, Hendra dan Bu Tanti meminum teh hangat buatan Bu Tanti yang cukup memberikan kehangatan di malam yang dingin ini. Kami berbincang-bincang bebas, berkenalan, namun selebihnya teman-teman baruku ini mengobrolkan perihal Muswilnya, pemilihan PW, dan hal-hal lain yang tidak jauh dari Muswil. Aku lebih banyak mendengarkan saja karena mereka serius sekali membicarakannya. Ehmm, Muswil di AMAN heboh juga ya.. hehehehe..

Karena sudah jam setengah 2, kami pamit istirahat. Meskipun sepanjang perjalanan aku tidak melakukan apa-apa, tapi rasanya capek juga. Kubuat catatan ini meskipun kurasa hari ini aku belum mendapatkan data-data untuk buku CBFM. Pemanasan dulu hari ini.

Besok rencana berangkat ke Bada. Kemana dengan siapa, belum ada rencana. Tunggu besok.


(Rencana mau ketemu Cungur barang sebentar gagal dilaksanakan. Padahal sudah kangen banget dengan doi. Yoilah, nanti saja kalau sudah di Bogor)





Menjelang akhir Mei, di suatu pagi  dalam perjalanan menaiki angkutan umum L-300 jurusan Kediri - Jombang, di dalam mobil yang penuh sesak yang bahkan pintupun tak dapat tertutup sempurna, terdesak oleh penumpang yang dipaksa memenuhi angkutan yang berjalan merangkak dengan suara memekak, aku melihat sesuatu yang menarik.

Dua orang bapak-bapak paruh baya dan beberapa ibu-ibu seakan asyik memperbincangkan sesuatu hal dalam bahasa Jawa yang akrab. Apa yang mereka bicarakan, tentu aku mengerti. Bahasa Jawa adalah bahasa ibuku. Jika biasanya angkutan umum adalah mesin tidurku yang paling ampuh, maka saat itu perhatianku tertuju pada orang-orang itu, aku tidak tidur. Bukan apa yang mereka perbincangkan dengan asyik itu, tapi fakta bahwa mereka ternyata belum pernah kenal sebelumnya.

Terbersit dalam pikiranku.
"Orang baru pertama kali bertemu, bisa-bisanya langsung akrab begitu. Ngobrol ngalor ngidul tentang rumah, anak, pekerjaan bahkan sampai membahas persoalan negara yang bisa bikin pusing".

Seketika aku ingat cerita dosenku, beberapa tahun yang lalu. Dia bercerita bahwa salah satu perbedaan antara generasi anak muda sekarang dan generasinya dulu adalah kebiasaan beramah-tamah di angkutan umum. Jika dulu angkutan umum bisa menjadi salah satu sarana beramah-tamah dan berkenalan dengan orang baru, maka saat ini angkutan umum hanya sekadar sarana transportasi terlebih di kota besar . Jika generasinya dulu saling menyapa dan berbincang di angkutan umum, generasi muda saat ini cenderung asyik dengan dunianya sendiri.


Ngobrol akrab dengan orang yang baru ditemui dalam angkot atau bus kota bagiku (dan aku berani mewakili generasiku) saat ini sungguh tidak terbayangkan. Jangankan ngobrol, untuk menyapa, tersenyum, atau bahkan melihat pun terkadang enggan. Aneh juga rasanya bagiku untuk tiba-tiba mengajak ngobrol orang yang sama sekali asing.  Dan mungkin ketika aku melihat orang lain yang melakukan hal itu pun, pasti aku akan berpikir bahwa orang itu  orang "aneh". 

Ada cerita unik tentang keramahan yang dianggap "alien" ini. Suatu ketika Roma, temanku bercerita. Dia sedang berada di angkot 03 kota Bogor, dalam mobil angkot yang sempit dipenuhi orang-orang muda,  tidak ada interaksi antara manusia di dalamnya kecuai sentuhan fisik karena harus umpek-umpekan dalam bangku mobil yang dipaksa harus berformasi 4-6. Lalu ada seorang gadis SMA yang menaiki angkot itu. Gadis SMA tersebut membawa sebungkus gorengan. Sebelum memakannya, dia menawarkan gorengannya itu ke seluruh penghuni angkot. Jadilah gadis itu "Alien" di dalam angkot, dianggap aneh. Bukan berarti jelek, hanya saja aneh, tidak umum. Dia menjadi mahkluk asing di tengah-tengah penghuni planet angkot yang sibuk bermain gadget, memencet-mencet keypad, mengelus-ngelus screen, menulikan telinga dengan headsetnya, atau sekedar melamun dalam dunia lelah yang menindas.

Bandingkan dengan ibu-ibu kita, nenek-nenek kita, generasi sebelum kita. Pernahkah melihat nenek ketemu nenek di angkutan umum, tidak saling kenal sebelumnya, tiba-tiba menyapa, menanyakan tujuan, menanyakan kerja, keluarga, dan pada akhirnya ngobrol ngalor ngidul jika tidak kecapekan dan kemudian tertidur.  Atau ibu-ibu yang hanya sekedar bertanya "Mau kemana Bu? Anaknya lucu ya, udah umur berapa? Oh iya harga bawang sekarang naik ya?.....". Keramahan yang muncul begitu saja, mengalir seperti sebuah ritme lagu yang mengalun mulus. :)

Masih di angkutan L-300 dari Kediri menuju Jombang, aku bertanya dalam hati.
"Kenapa ya? Kok bisa ya? Apa yang membedakan kami? "
Entahlah. Bisa saja aku menuding perkembangan teknologi, menuduh sistem pendidikan, perkembangan masyarakat, atau apapun lah yang menyebabkan perbedaan dan gap generasi ini. Bagiku itu tidak terlalu penting.

Aku, sebagai penghuni generasi masa sekarang yang hampir tidak mengenal alien bernama "keramah-tamahan dalam angkutan umum" merasa bahwa sesuatu yang asing tersebut adalah keindahan. Benar-benar indah. Ada semacam rasa rindu, rasa ingin pulang, rasa deja-vu dan rasa damai ketika aku bisa menyaksikan orang-orang beramah-tamah dalam angkutan umum itu. Aku tersenyum, mencoba semanis mungkin tersenyum. Ingin rasanya aku ikut bergabung dengan obrolan-obrolan di mobil L-300 kala itu, namun aku sungkan. Mungkin efek beda generasi :).

Hingga tiba akhirnya Bapak-bapak di sampingku bertanya padaku;

"Adek ini dari mana asalnya?,...."

---- Catatan perjalanan Kediri-Jombang Akhir Mei 2013------