Title: 下町ロケット/ Shitamachi Rocket/ Downtown Rocket
Genre: Drama, Corporate
Episodes: 10
Broadcast period: October - December 2015

CAST

Abe Hiroshi as Tsukuda Kohei
Tsuchiya Tao as Tsukuda Rina, Kohei's daughter
Tatekawa Danshun  as Tonomura Naohiro
Yasuda Ken as Yamazaki Mitsuhiko
Yamazaki Ikusaburo as Mano Kensuke
Baisho Mitsuko as Tsukuda Kazue, Kohei's mother
Kikkawa Koji as Zaizen Michio
etc...


Oke, setelah beberapa lama sejak terakhir aku membuat review dorama, kali ini aku akan sedikit mereview salah satu dorama terbaik tahun 2015 kemarin yaitu Shitamachi Rocket. Dorama yang juga menyabet penghargaan sebagai drama terbaik di Television DramaAcademy Award ke 87 ni membawa nama Hiroshi Abe yang sudah tak diragukan kemampuannya dalam berakting. Dan yang menjadikan dorama ini berkesan bagiku secara pribadi adalah kekuatan optimisnya, kepercayaan akan sebuah mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan, setinggi apapun mimpi itu. Yoi, Shitamachi Rocket adalah kisah penuh semangat dan inspirasi menggapai impian, setinggi rocket terbang di angkasa luas, mimpi  pun tak terbatas. Jadi, jika kamu belum pernah nonton Shitamachi Rocket maka kamu harus nonton. Review ini berisi spoiler, jadi kalau kamu belum nonton silakan nonton dulu baru baca review selanjutnya ya, dan kita bisa diskusi bareng. Hehehe.

Baiklah, mari kita mulai!


Cerita

Shitamachi Rocket adalah cerita adaptasi dari novel  karya Jun Ikeido dengan judul yang sama yang juga memenangkan 145th Naoki Prize di tahun 2011. Shitamachi Rocket, seperti judulnya adalah cerita tentang Tsukuda Kohei seorang ilmuwan yang kemudian berubah haluan menjadi direktur perusahaan kecil berkaryawan 200 orang yaitu Tsukuda Manufacturing yang diwarisi dari ayahnya. Di perusahaan kecil ini Tsukuda tetap mempunyai mimpi besar yaitu menerbangkan roket ke luar angkasa dan dia berhasil. Cerita yang luar biasa kan! Dorama ini juga dibagi dalam 2 arc/ bagian yaitu bagian roket dan medis. Bagaimana ceritanya sebuah perusahaan kecil dengan mimpi besar akhirnya bisa menjadi perusahaan yang sangat diperhitungkan kemampuan teknologinya di Jepang, bahkan menjadi perusahaan yang menjadi bagian penting dari misi luar angkasa terbesar di Jepang? Sumpah keren! Dan, menurut aku dorama ini cukup baik menyampaikan isi ceritanya.

The Shitamachi Rocket!



Plot

Kisah ini berawal dari kegagalan peluncuran roket Seiren yang direncanakan akan menjadi roket pertama Jepang. Tsukuda Kohei adalah ilmuwan berbakat yang mengembangkan sistem roket Seiren akhirnya mengundurkan diri dari JAXS tempat bekerjanya sebagai bentuk pertanggung-jawabannya. Dia memutuskan untuk mengambil alih perusahaan keluarga sepeninggal ayahnya, yaitu sebuah perusahaan kecil Tsukuda Manufacturing (Mfg) yang bergerak di bidang manufaktur. Meskipun perusahaan kecil, Tsukuda Mfg memiliki produk-produk unggulan berteknologi tinggi dan paten.  Skill tenaga kerja dan riset di Tsukuda menjadi senjata utama perusahaan ini, selain tentu saja kepemimpinan Tsukuda yang sangat kharismatis.

Tsukuda Kohei masih menjadi peneliti JAXS

Masalah pertamapun muncul yaitu tuntutan pelanggaran paten dari perusahaan besar Nakashima atas mesin bernama Stella yang dianggap mirip dengan salah satu mesin milik Nakashima. Tuntutan hukum tersebut memperburuk  keadaan perusahaan yang memang sedang dalam kondisi kesulitan keuangan karena besarnya dana riset perusahaan. Bantuan pinjaman modal dari Bank pendukung pun ditolak. Pengacara yang menangani kasuspun payah di pengadilan.  Dililit oleh masalah berat ini, Tsukuda bertemu dengan pengacara handal Kamiya Shuichi dari mantan istrinya (Izumi Saya) yang juga pegawai di JAXS. Seperti keajaiban, Tsukuda memenangkan kasus ini dengan uang ganti rugi yang cukup besar! Ya, memang kita harus selalu percaya bahwa sesulit apapun masalah pasti ada jalan keluarnya dan jalan itu kadang-kadang lebih indah dari yang bisa kita bayangkan.  

Di lain pihak, perusahaan raksasa Teikoku Heavy  Industries memiliki misi ambisius untuk menerbangkan roket domestik yang seluruh bagiannya diproduksi di satu atap. Dalam 1 tahun, tim roket Teikoku yang dipimpin oleh Zaizen Michio harus bisa membuat roket pertama Jepang terbang di luar angkasa. Berkali penelitian dilakukan dan berkali pula masalah muncul di proses pembakaran awal yang disebabkan oleh bagian valve. Setelah kesekian kalinya, Keji Tomiyama, peneliti utama Teikoku menemukan solusi untuk sistem valve itu. Namun, yang menjadi kejutan adalah ketika mendaftar paten untuk sistem valve itu, Teikoku ditolak karena sudah ada paten serupa sebelumnya. Siapakah yang memiliki paten untuk komponen terpenting dalam roket itu? Ya, dia adalah Tsukuda! Perusahaan kecil itu telah memiliki teknologi tinggi yang bahkan baru dimiliki oleh perusahaan raksasa Teikoku. Di sinilah dimulai drama tentang roket dimulai.

Tsukuda Mfg 


Teikoku Heavy Industries, perusahaan rakasasa dan project roketnya.

Mimpi Tsukuda untuk bisa menerbangkan roket sendiri tidak pernah hilang. Mengetahui bahwa alat temuannya adalah komponen penting dari sebuah roket, Tsukuda memberanikan diri untuk mengajukan perusahaannya sebagai pemasok valve untuk roket Teikoku. Tentu ini hal tidak mudah dan penuh dengan liku-liku. Tapi, dengan skill tinggi dan kualitas produk yang prima serta semangat membara seluruh anggota perusahaan Tsukuda, akhirnya Teikoku menyetujui Tsukuda Mfg menjadi bagian dari project roket. Pada waktu yang ditentukan, roket pertama Jepang berhasil diluncurkan dengan sempurna, membawa mimpi dan juga harapan dari banyak orang, dan Tsukuda Mfg menjadi bagian dari sejarah besar itu.

Arc kedua pun dimulai yaitu munculnya saingan baru, perusahaan Sayama yang pimpinannya Shiina Naoyuki adalah jebolan NASA. Sayama mengancam mengambil posisi Tsukuda sebagai supplier valve untuk roket Teikoku. Selain itu, muncul tantangan baru juga yaitu permintaan dari Mano Kensaku, dokter Ichimura dan Sakurada-san yang meminta tolong Tsukuda Mfg mewujudkan mimpi mereka membuat alat katup jantung buatan bernama GAUDI untuk anak kecil yang bermasalah dengan kelainan jantung. Nah, bagaimana arc kedua ini  berlangsung aku akan skip ya, tapi yang jelas arc kedua ini gak kalah serunya dengan yang pertama. Dan lebih serunya, di arc kedua ini, jumlah villain-nya lebih banyak dan juga lebih menyebalkan.


Cast

Keren dan pas mantap jaya! Hiroshi Abe tentunya selalu prima dalam akting perannya. Tsukuda yang ambisius, kharismatis, optimis dan humanis sangat terpancar dari Hiroshi Abe. Ya, selain tentunya karena memang si Om yang tingginya 189 cm ini sangat gagah perkasa meski cuman berdiri saja.  Hehehe. Fisik sangat mendukung. I love you Om!

Pemeran kedua yang menarik perhatianku adalah yang memainkan Shiina Naoyuki.  Kenapa? Soalnya aku setengah mati kesal sama orang ini. Nyebelin dan licik banget. Cara kameramen mengambil ekspresi dia yang difokuskan ke mukanya  (di-zoom segedhe layar) mungkin yang membuat efek seringainya tambah kena. Sumpah, keselnya mirip sama kesalnya nonton tokoh jahat di sinetron Indonesia. Lebay alias berlebihan.

Pemeran Zaizen-san yaitu Kikkawa Koji juga bagus.  Semakin dilihat semakin kalem si bapak ini. Dan tentu saja juga semakin oke. Kalau dilihat dari umurnya si bapak ini sudah 50an tahun tapi coba lihat bodinya dengan suit yang selalu dipakainya. OMG, he’s perfect! Eh, kok malah fokus ke badan si bapak. Hehehe. Dalam aktingnya yang tidak terlalu banyak, Kikkawa Koji-san berhasil membuatku terpesona dengan kebijaksanaannya. Awalnya sih rada tidak suka tapi lama-lama charm-nya keluar juga.  

Zaizen Michio


Tao Tsuchiya as Tsukuda Rina

Para petinggi Tsukuda Mnf juga pada keren aktingnya yaitu Yasuda Ken (tentunya), Tatekawa Danshun, Soko Wada, Ayumi Tanida, semuanya juga keren aktingnya. Si cantik Tao Tsuchiya juga lumayan bagus di sini. 

Yang ganteng selain Hiroshi Abe adalah Yamazaki Ikusaburo. Selain ganteng, dia juga berakting lumayan baik. Dia bisa memainkan Mano yang nyebelin kemudian berubah menjadi Mano yang lovable banget. Bedanya apa? Ya, benar! Kumisnya dihilangkan membuat dia jadi imut banget. Ada yang setuju denganku? Meskipun agak sedikit kurang natural ketika karakter  Mano Kensuke yang keras kepala tiba-tiba berubah drastis 180 derajat menjadi baik banget.

Setting, Kostum

Untuk ukuran dorama, seluruh setting di dorama ini keren  banget. Mau jalan-jalan di dalam pabrik? Bisa banget. Mau lihat ribuan pekerja perusahaan? Ada juga scene-nya. Pokoknya paket komplit deh. Meskipun ada sedikit kurang greget dikit di cgi pas mesin roketnya dinyalakan, tapi ya tidak mengurangi dari estetika dorama ini sendiri. Great job!

Suka banget lihat cowok pake suit. Seragam kerja juga rapi dlihat di sepanjang dorama. Sampai aku memperhatikan jika tiap perusahaan punya seragam masing-masingnya. Well done tim kostum.

OST
Suka OSTnya, cukup intens di bebarapa bagian dan menambah ketegangan dari kisah yang disampaikan. 


Sudah cukup sekian sepertinya. Pokoknya Shitamachi Rocket wajib ditonton deh.


9/10




More about Shitamachi Rocket: d-addictsasianwiki


Gak nyadar kalau hari ini tanggal 21 April sampai aku buka-buka medsos dan banyak melihat postingan cewek-cewek berkebaya dengan keterangan 'Selamat Hari Kartini'. Oiya ya, sekarang hari Kartini. Ah, tapi mungkin hari ini akan sama aja, gak ada spesial-spesialnya bagiku yang sedang liburan, mendedikasikan waktu untuk 'almost doing nothing in particularly'. Yah, yang special mungkin hanya filmnya si ganteng Chicco Jerikho 'Surat Cinta Untuk Kartini' yang tayang perdana hari ini. Tapi, kebetulan oh kebetulan, ada yang kebetulan terjadi hari ini, di hari Kartini ini. Apa itu?

Pagi tadi ditemani segelas kopi, kubuka e-kanvas di iPad, mencari-cari inspirasi nggambar apa hari ini? (OMG, I love it so much. Keep up date with my doodling and drawing di akun ig @sudiyah262 ya. Hahaha). Dan, ketika kubuka album foto, kulihat gambar bunga Anyelir atau Carnation. Warna ungunya yang cerah memberikanku rasa yang menyenangkan. Okay, dialah inspirasiku hari ini dan kugambarlah dia. 

Aku mencari-cari tag yang tepat untuk hasil gambarku dan bertanyalah aku ke si Google. Banyak arti dan makna yang hampir semuanya bagus-bagus sih, gak jauh dari ungkapan cinta dan kasih sayang. Namun satu yang paling kena di rasaku yaitu 'Carnation is the symbol of the undying love of a mother', bahwa Carnation adalah simbol cinta abadi sang Ibu. Owh, manis banget gak sih! Aku langsung jatuh hati. 

Bunga Anyelir ini khusus kupersembahkan untuk Ibuku dan semua Ibu di seluruh dunia. Kasih sayang seorang Ibu memang menjadi legenda di seluruh semesta. Nggak ada yang abadi katanya, tapi untuk cinta seorang Ibu, aku bisa meragukannya. Menjadi Ibu adalah hak istimewa seorang perempuan. Jika Kartini adalah simbol emansipasi di nusantara, maka Ibu adalah simbol cinta di seluruh dunia. Kartini pun juga seorang Ibu, maka Carnation ini juga untuk kamu. 

Dan, tidak melulu harus 'bereproduksi' untuk bisa menjadi seorang Ibu, seperti pula tidak semua yang 'bereproduksi' layak menjadi Ibu.  😌

Jadi kebetulannya apa? Ya kebetulan karena Ibu Kita Kartini. 

Selamat Hari Kartini! (Eh, bukan hari Ibu ya. 😄)





"Kalau pengen ngrasain nikmatnya malam minggu, maka jadilah orang kantoran.", seorang kawan pernah berkata.

Kok bisa? Bukannya dari Senin sampai ketemu Senin lagi hari masih begitu-begitu juga. Lalu, kenapa akhir pekan jadi istimewa?

Ah! Aku ingat sebuah perumpamaan lama, "Jika ingin membuat dirimu lebih pintar, maka beradalah di antara orang bodoh.".

Jika ingin Sabtu-Minggu menyenangkan, jadikan hari lain menjadi tidak menyenangkan!

Nah, nyambung kan.

Ngopi dulu yuk. (Doodle ala-ala, ku, Mau rekues boleh lho :P )

Aku jadi berpikir lagi, kenapa aku merasa apa yang para orang kantoran itu rasakan. Weekend terasa jadi sangat dirindukan. Ah, jangan-jangan.... Ah, itulah, tak perlu kutuliskan.

Tapi,... Ini tapi, jika saja bisa menjadikan setiap hari menyenangkan layaknya akhir pekan, bukankah pasti akan keren?! "Everyday is weekend seperti itu.  Kkkk (ini bunyi ketawa nyinyir becanda ceritanya.)

Ketika Senin sampai Jumat, dari pagi sampai sore menjadi wajib bagiku untuk duduk manis di depan meja dan menghadap layar komputer, entah mengerjakan apapun itu demi karir yang katanya akan membawa kepada masa depan yang lebih pasti, aku merasa malah kepastian itu membuat aku jadi was-was. Lha kok bisa?

Dan ketika Jumat sore tiba, dan rasanya seolah hidup mengembalikanku pada warna-warna tak terduga, aku menjadi deg-degan, excited lah. Ah, mau ngapain ya akhir pekan ini? Naik gunung Salak pasti asyik, ngikut teman-teman manjat tebing keknya seru juga, jalan-jalan ke kota dan bereksperimen aneh-aneh kayaknya juga lumayan, atau bisa juga di kamar aja nonton dorama, nulis review dan ber-fangirl-ria di fandom Jpop? Seru banget pastinya! Gilak! Banyak banget rasanya yang ingin kulakukan di 2.5 hari dari 7 hari yang ada. Aku selalu bersemangat.


Lagi kangen juga sama emak Roma. :) Naik gunung kapan lagi euy?

Was-was di 5 hari sebelumnya kenapa? Karena bosan. Boredom, bosan adalah momok (atau teman) yang selalu menyertaiku selama ini. Entah setan (atau malaikat) yang selalu menjadi pengikutku untuk apapun yang kulakukan dari dulu yang menuntut pola, sesuatu yang bisa ditebak. Itu kurasa enggak asyik, kurang hidup. Bayangan harus menghabiskan waktu tanpa jejak itu menyakitkan imajinasiku. Sumpah ngeri! Meskipun ada sudut hati yang berbisik, "Songong banget lu! Kapan belajar serius dan menjadi orang dewasa?!", katanya. Tapi suara itu lemah sekali sehingga aku abaikan saja.

Ups! Tapi jangan salah, bosan yang kurasakan adalah tentang rutinitas ya, polanya. Ini beda dengan apa yang pekerjaannya sendiri. Aku jatuh cinta dengan dunia riset sejak dulu dengan satu alasan bahwa riset itu membawa sesuatu yang kita belum tahu, gak ketebak, dan itu seru. Jadi, aku tegaskan dulu bahwa aku mencintai pekerjaanku. Dan aku merasa, aku bisa bertanggung-jawab untuk output dan jadwal yang telah aku sepakati. Semoga paham maksudku. 


Aku berandai, lalu bagaimana ketika aku bisa mewujudkan semboyan 'everyday is weekend' itu? Tiap hari libur terus?

Nah, aku jadi kepikiran juga. Ketika sesuatu itu acak dan tidak membentuk suatu keteraturan atau tidak berpola, maka ada yang menyebut ini sebagai pola acak. Persis sama dengan ungkapan 'tidak memilihpun adalah sebuah pilihan'. Tunggu dulu, tiba-tiba aku kepikiran.

Apa!!! (nada lebay sinetron kita sambil melotot) Jadi, selama ini---- Ya, benar banget Net (ngomong ke aku sendiri), "Kita itu tidak pernah bisa bebas dari pola seperti halnya kita tidak bisa bebas dari pilihan." Selama kita hidup, kita akan dihadapkan pada semua itu. Jikapun kamu bisa liburan sepanjang waktu, kamu akan bosan dengan liburanmu itu!  Hahaha… Meskipun liburan itu dibayar? (Mana ada? Yang seleb liburan itu di tipi-tipi? Eh, itu juga kerja neng!) Mangkanya para pengangguran itu banyak yang setres karena terlalu banyak waktu luangnya.

Intinya, muncul persamaan yang menarik nih. Jika kerja di weekday sama dengan membosankan, dan ketika setiap hari libur terus-terusan juga membosankan. Maka,
Every day is weekend = Everyday is weekday.
Weekend = weekday
Ha ha ha.. Balik lagi kan jadinya. Weekend sama weekday itu gak ada bedanya. Sama saja.. Toh waktu masih 24 jam sehari dan ya begitu-begitu saja. Lalu apa bedanya? Tentunya kita yang bikin beda, rasa kita sebagai manusia. Aku agak ragu ketika berpikir apakah si Mamet, kucingku itu punya weekday dan weekend. Bagi dia ya sama aja, makan tidur pup, makan tidur pup, tiap hari begitu.

Kenalin, ini Mamet yang (mungkin) gak tahu konsep weekday-weekend. 


Kita sebagai manusia bisa bikin hari-hari kita jadi tidak membosankan. Bagaimana? Menurutku sih ya dengan mengkombinasikan antara aktivitas kehidupan kita yang beragam itu dengan seimbang. Orang kan macam-macam ya. Dan sah saja ketika masing-masing orang memilih cara mereka sendiri. Kalau boleh bikin proposal sih ya, bisa nggak sih jam kerja kantoran dikurangi? Hahaha…Kan seminggu ada 7 hari, kenapa nggak fifty-fifty?

Ada yang tahu kah, siapa dulu yang nyiptain sistem 5:2? Siapakah  yang memulai mitos weekday dan weekend? Siapakah yang menjadikan Senin menjadi momok banyak orang ngantor?

Mari kita akhiri teror 'I hate Monday' ini. Jadikan tiap hari menjadi berwarna-warni. We can work anywhere and anytime we want. Ambil secangkir kopi, ngudud bagi yang suka dimanjakan nikotin, atau sekedar mengawang menikmati angin di Senin pagi. Free your self.


I love everyday! 


SEE YOU ON TOP! 


Doodling, bahasa gaulnya corat-coret, menjadi semacam hal yang menyenangkan kulakukan akhir-akhir ini.  IPad  yang biasanya ngganggur di kamar akhirnya jadi lebih sering bekerja. Berbekal aplikasi gratis dan ujung jemari, aku mulai corat-coret. Dan, ternyata menyenangkan banget. Tidak banyak waktu, paling lama 30 menit-an untuk menggambar satu doodle. Inspirasi datang dari mana saja, mulai dari foto, kenangan, dan bahkan obrolan dengan orang-orang. Dan tak kusangka, hasilnya membuatku senang. Ya, terlepas bagus atau tidaknya hasil corat-coret itu. Tapi, yang jelas aku senang. Bersama dengan hashtag #dailydoodle, adalah keinginan saat ini agar aku bisa meluangkan paling 15-30 menit setiap harinya untuk doodling. Kenapa? Karena ini seperti semacam healing, mengembalikan lagi semangat menjalani waktu. Berimajinasi dan berkreasi tanpa batas.

Di bawah ini adalah beberapa hasil doodle-anku beberapa hari terakhir. Gimana menurut kalian?





Yang mau lihat-lihat hasil lainnya dan untuk update bisa follow aku instagram aku di @sudiyah262. Let's have fun! 

Title: SHARK 2nd Season
Genre: Drama, Music
Episodes: 11
Broadcast period: April -2014
Theme song: Sono saki e... by Johnny's WEST


CAST
Shigeoka Daiki as Irie Saku
Abe Aran as Sato Yuto
Yasui Kentaro as Shindo Kota
Hagiya Keigo as Ogawa Haruya
Hamada Takahiro as Hagiwara Kai
etc.




Sudah nonton Shark season 1? Berarti wajib nonton Shark season 2. Meskipun cerita di season 2 ini fokus cerita berganti menjadi kisah grup band lain, tapi ini tetap terkait dengan cerita season sebelumnya. Tapi, yang mau langsung loncat ke season 2 juga nggak masalah.

Sinopsis

Malam konser terakhir  band indie Shark telah beberapa waktu berlalu, dan impian untuk debut di bawah major label harus ditunda beberapa lama, menunggu suara Mizuki sang vokalis kembali.  Band-band baru bermunculan dan meraih sukses di pasaran, salah satunya adalah Cloud 5. Cloud 5, band beranggotakan 4 orang yang dipimpin oleh Irie Saku (bass) telah sukses di debut perdananya. Lagu Cloud 5 sering diputar dimana-mana, fans mereka semakin banyak, dan di bawah label Wonder Records, Cloud5 menjadi band yang sangat populer. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk suatu ke-profesionalan. Menjadi band dengan major label adalah babak baru dalam perjuangan sebuah band yang bahkan lebih berbelit dan kadang lebih menyakitkan.  Bagaimana menjaga idealisme musik, bagaimana menghadapi perbedaan antar anggota, dan persaingan yang sengit. Namun, tentu saja banyak hal yang akan terus diraih dibalik semua perjuangan ini.


Menguliti Dorama, Review

Setelah menonton dorama Shark season 1, rasanya penasaran sekali untuk menyaksikan kelanjutanan perjuangan Mizuk dkk. Awalnya agak kaget juga, ternyata fokus cerita dari Shark season 2 bukan lagi band Shark, melainkan band lain Cloud5. Banyak beberapa  komentar dan review yang menyebutkan bahwa Shark season 2 ini lebih membosankan, tapi menurut aku pribadi, justru Shark season 2 lebih bagus. Konflik dan ceritanya lebih dalam dan rumit. Mungkin juga aku terlalu terpesona dengan Abe Aran dan Shigeoka Daiki. So, mari dibahas sekilas.

Ide Cerita (Spoiler Alert)

Bagus. Nah, aku mau lanjutkan lagi dari sinopsis sebelumnya.

Jika di Shark 1 menonjolkan cerita perjuangan band Indie untuk bisa debut dengan major label, maka di season 2 ini lebih fokus pada hal-hal yang terjadi setelah suatu band mendapatkan label.  Tokoh utama adalah Irie Saku, basis sekaligus leader dari band Cloud 5 yang beranggotakan Shindo Kota (gitar), Sato Yuto (Vokal), dan Ogawa Haruya (drum). Saku dan Kota berteman dekat sejak SMA, bahkan bersama dengan Yonezawa Makoto yang juga teman sekolahnya dulu, mereka bertiga tinggal bersama di satu rumah. Setelah kesuksesan debut Cloud5, permasalahan mulai muncul ketika Kota mulai merasa bahwa Cloud5 telah kehilangan idealismenya dalam bermusik. Berbeda pendapat dengan anggota lain, Kota sering mengancam akan keluar. Saku, yang ingin memperjuangkan musik Cloud5 dan juga persahabatannya dengan Kota dan anggota lain menjadi di simpang jalan.

(Di sini terasa banget susahnya jadi pemimpin kalau harus mengambil keputusan. Tidak mungkin mengambil keputusan tanpa ada resiko. Aku suka banget kebingungan-kebingungan yang dialami Saku. Terutama saat dia harus berkompromi dengan idelisme dan keprofesionalanya.)

Saku dan Makoto di apartemen mereka (img: here)

Suatu hari Kota terlibat perkelahian sehingga dia harus diskors beberapa waktu dari aktivitasnya di Cloud5. Di saat itulah Ichika, sang manager yang juga manager Shark, meminta gitaris Shark-Hagiwara Kai untuk menggantikan sementara posisi Kota.  Tidak mudah pada awalnya, namun Hagiwara Kai berhasil menjalin interaksi yang baik dengan Cloud5. Hingga kemudian Kota kembali lagi aktif di Cloud5 dan Kai kembali ke Shark.

Konflik antara Kota dan anggota lain terus berlanjut hingga pada akhirnya Saku memutuskan agar Kota meninggalkan Cloud5. Kai diminta untuk menggantikan posisi Kota secara permanen. Kai menghadapi konflik batin, dia harus memilih antara Shark atau Cloud5? Di saat yang bersamaan, muncul pesaing baru yaitu band Behind The Scene (BTS) yang menjadi sangat terkenal saat Cloud5 mulai terpecah. Bagaimana mereka mengatasi semua ini?  Itu menarik sekali.

Seru banget kan ceritanya! Menurutku, ini terasa lebih realistis dan emosional. Liku-liku perjalanan sebuah band profesional terasa banget di sini. Hanya saja ada satu yang agak mengganggu di tengah-tengah serunya cerita Cloud5, yaitu cerita cinta segitiga Saku-Makoto-Kota. Aku merasa, itu nggak penting banget, malah mengganggu dan terasa ada jarak dengan cerita utamanya.  

Meskipun nasib band Shark seakan semakin suram di season ini, tapi ya sudahlah, aku tidak terlalu kecewa. Kenapa? Karena banyak lagu-lagu bagus dan juga ada Abe dan Daiki. Hehehe… Para fans Shark gak perlu kecewa juga karena mereka bakal nongol kok meski sebentar. 

Plot

Tidak terlalu beda dengan season 1, Shark season 2 memiliki alur maju yang enak diikuti. Mungkin bedanya adalah di season ke 2 ini lebih nyantai, tidak seperti sebelumnya yang lebih cepat. Itu tidak menjadi masalah sih, sama-sama bagus kok. Dan yang paling menyenangkan adalah klimaksnya di episode terakhir nonjok banget. Pas dan puas! Ups, bocoran dikit, ada ending clifhanger yang mungkin menjadi pertanda akan ada season 3. Yah, meskipun itu sudah 2 tahun lalu sih ya. Hehehe.

Cast

Siapa sih cewek yang tidak suka para JE boys?  Dorama ini tentu juga bertabur para JE Boys yang memanjakan mata. Selain enak dipandang, beberapa dari mereka juga juga bisa berakting. Beberapa akan aku sorot.

Daiki Shigeoka. Aku suka sekali dia sebagai Irie Saku. Menurutku, pas sekali dia dengan karakter Saku yang tegas meskipun berhati lembut. Awalnya aku berpikir, wajah dia terlalu imut untuk jadi leader band. Tapi, lama-lama dilihat dia makin kelihatan kharismanya. Yoii…

Daiki Shigeoka as Irie Saku (img: here)
Abe Aran.  Hemm, adeknya Yamapi ini mah nggak perlu banyak alasan kenapa harus disukai. Imut banget. Senyumnya itu lho! Meleleh hatiku. Tapi, dibalik wajahnya yang modal banget itu, dia juga jago akting. Vokalis yang playboy, ceria, dan sungguh menarik perhatian. Abe--- I love you! Hahaha..

Abe Aran as Sato Yuto

Hamada Takahiro. Di season 2 ini dia jadi ganteng. Sebelumnya, di  Shark 1, Kai nggak seganteng saat jadi gabung di Cloud5. Pilihan yang bagus Kai. Bahkan, Samantha pun suka sama Kai. Kai-kun! Ops, ngomongin akting sih, ehem ya bagus sih, meski rada biasa. Hehehe.

Hamada Takahiro as Hagiwara  Kai 

Yasui Kentaro. Nah, ini nih yang bikin sebel sepanjang episode. Sekilas memang dia mirip Akanishi Jin, sedikit aja, tapi Yasui Kentaro mendapat peran sebagai Kota yang selalu membuat masalah. Yah, rasa sebalku ke dia adalah bukti bahwa dia punya kualitas akting yang cukup baik pula.

Yasui Kentaro as Shindo Kota 
Dan lain-lain, tidak kubahas karena nanti kepanjangan pastinya. Sorry Haruya, you didnt get my attention. Eh, satu lagi karakter pendukung yang lucu, namanya Ivan yang meranin Samantha, cewek or cowok yang bekerja sebagai asisten Matsuyuki, produser Cloud5. Dia lucu banget, sumpah. Itu lho, yang suka sama Kai-kun.

Setting

Ya, suka sih. But, nothing special. Intip review-ku untuk Shark season 1 untuk melihat penilaianku, soalnya nggak beda jauh. Hehehe.

Kostum

Ini lebih baik dari season 1. Kenapa? Karena mereka lebih sering ganti baju. Tidak seperti sebelumnya yang sampai episode terakhir para pemainnya nggak pernah ganti baju. Suka banget stylenya Daiki dan Abe. Paling rambutnya Abe yang rada-rada alay gimana gituh. Tapi, gak apa-apalah. 

Musik

Bagus. Aku suka semua lagu-lagu mereka. Paling suka lagu No Way Out, lalu Break Out. Sono Saki e yang juga lagunya si Johny West juga lumayan bagus. Yah, untuk ukuran lagu-lagu band yang anggotanya ganteng-ganteng gini sih, pasti lagunya jadi bagus. Suara Abe Aran juga so cute.

--
Mungkin, sudah dulu. Nanti kepanjangan malah malas baca. Intinya sih, Shark 2 bagus. Masih cocok buat nonton maraton karena per episode cuman 23 menitan, kecuali untuk episode terakhir. So, for you all the Johnny Boys’ fans, you should watch this dorama! It’s so yummy!

More info: d-addicts 

Skor  8.5/10




It's time to move on! O jikan desu!

Rasa gelisah, rada-rada takut, tapi juga bersemangat rasa-rasanya menjadi rutinitasku beberapa minggu terakhir. Pertanda babak baru dalam perjalananku harus segera dimulai. Ini pasti menyenangkan! Masih dengan hati berdebar-debar aku menjadi was-was, kejutan apa di depan sana? Mari kita songsong petualangan baru. Badai dan hujan tidak jadi penghalang, karena pemandangan di puncak sana sungguhlah sangat indah, dan kasur sehabis turun gunung adalah yang terbaik. Go for it!


Sunset at the Cedar Hill @sudiyah262


Ada saat aku terbakar oleh gairah
Ada saat aku takut akan kesenyapan
Ada saat aku terhanyut oleh kehangatan
Ada saat aku membeku oleh hempasan garis hujan

Jalan setapak beku berlumpur menuju rumahku
Sebuah teka-teki tak terkuak
Kehidupan yang kukenal bagai ibuku sendiri
Atau keperkasaan bapak ketika ia hanya murung dalam diamnya

Menjelma dalam kokohnya misteri
Bersembunyi di balik pekat halimun ini
Bersenandung lewat gemerisik sepoi dan lantunan melodi

Aku memujamu
Tak sungkan aku bersimpuh di tanahmu

Gumamku adalah rayuan
Dalam lirih lagu bisikan
Lamunku adalah kekaguman
Dalam imajinasi tak terbatas bayangan
Sentuhanku adalah pelukan
Dalam hangatnya mentari siang

Ingin ku merayuMu Tuhan
Di sini
Saat ini juga


(Saat kugenggam segelas plastik kopi hitam di puncak Salak 2, tiba-tiba menyeruak dalam ruang pikir. Beruntung benar punya banyak kawan yang punya hobi sama. :) )







Title: Omotesando Koukou Gasshoubu! /High School Chorus
Genre: Youth, Music, School
Episode: 10
Broadcast period: 2015 July - September
Theme song: Sukida by Little Glee Monster

CAST:

Bagi yang doyan dorama musikal, Omotesando Koukou Gasshoubu! sepertinya menjadi wajib hukumnya. Kenapa? Nah, ada sejumlah poin menarik kenapa dorama ini menjadi laik ditonton dan dinikmati. Bahkan, aransemen vokal di dorama ini dapat penghargaan spesial lho dari Television Academy Award. 

Sebelum baca reveiwnya, simak dulu sinopsis singkat dari d-addicts (Inggris ya :P) 

Sinopsis 

Set in a high school chorus club that faces dissolution, this school drama tells the story of an unconventional high-school girl and how her determination to save the club changes the chorus members and the teacher.

Makoto who has moved from Kagawa prefecture to Omotesando high school in Tokyo is looking forward to joining the once-famous chorus club she had always admired. As she arrives, however, things are not as she had expected. The club hardly has any members, and its instructor - Ariake - who first taught Makoto the joy of singing is a mere shadow of his former self living in misery. Despite the unexpected reality, Makoto is determined to achieve her "goal" in the chorus club where her parents enjoyed their students life. However, her classmates react to her efforts to recruit new members with only hostility, with some even telling her to stop being engaged in the club. -- TBS

REVIEW - Menguliti Dorama

Awalnya, aku tidak terlalu tertarik menonton dorama ini, tapi setelah aku melihat daftar pemenang di TV academy award musim kemarin, ada beberapa kali dorama ini nongol sebagai pemenang, misalnya aktris muda belia Yoshine Kyoko yang berhasil menyabet gelar sebagai pemeran terbaik wanita dan juga penghargaan khusus untuk musiknya. Dan ternyata, aku tidak kecewa. Dorama ini memang cukup bagus. 

Ide Cerita
Sebenarnya sih ceritanya sederhana banget kan, seorang gadis SMA yang hobi menyanyi, datang ke sekolah baru dan menjadi inspirasi aktifnya chorus atau gasshou atau padusa  (paduan suara) di sekolah barunya. Dengan latar cerita, dia ingin menyelamatkan orang tuanya yang hampir bercerai dengan mencoba menemukan lagu cinta yang mungkin bisa mengingatkan orang tuanya tentang masa muda mereka. Yeah, gitu deh. Cerita ini juga diselingi dengan kisah cinta ala remaja dan juga romansa keluarga. Cerita yang sederhana tapi sangat mudah dinikmati dan juga sangat manis. 
Ada beberapa hal yang mau disampaikan oleh dorama ini sepertinya, dan berikut ada sejumlah hal yang menjadi catatanku: 

  1. Follow your passion! Ikuti panggilan hatimu. Kagawa Makoto yang mencintai bernyanyi di sebuah chorus terus  tanpa menyerah mengejar panggilan hatinya. Hingga akhirnya dia bisa menjadi inspirasi orang-orang di sekitarnya. Enjoy yourself by follow your passion!, gitu kali ya. 
  2. Family is everything. Yup, keluarga itu bagaimanapun juga adalah keluarga, sebaiknya tidak berpisah. Apapun yang terjadi mereka adalah yang selalu ada buat kita. Ikatan dalam sebuah keluarga tak tergantikan. 
  3. Friendship is never die! Apa sih yang bisa ngalahin serunya, indahnya dan berwarnanya persahabatan saat remaja?! Ya, jika orang bilang masa SMA adalah masa paling bahagia, aku setuju saja. Persahabatan anak-anak di Ometesando Gasshou cukup bisa menggambarkan indahnya masa itu. Eaa...
Lagi pada latihan nyanyi. 
  1. Sing with your soul! Khusus bagi yang doyan nyanyi, maka ketulusan menjadi modal penting agar lagu kita dapat kita nyanyikan sepenuh hati dan sampai pada mereka yang mendengarkan. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak gasshou ini bagus banget. Di beberapa lagu aku bahkan sampai menangis terharu. Lagu di episode 6 dan lagu terakhir 'Ai no Uta' adalah lagu yang kena banget. 
  2. Enjoy love while you're young. Nikmati cinta monyet. Yohai, mumpung muda nikmati cinta. Cinta saat kita muda adalah cinta tanpa syarat. Karena semakin dewasa, cinta kadang berubah jadi itung-itungan untung rugi untuk investasi masa depan. Kalau pas SMA kurasa perasaan itu lebih bebas, maka ungkapkan dan nikmati masa-masa itu. Ada cerita cinta segitiga Makoto - Natsume - Yuria; cinta segitiga luar biasa Rina - Daisuke - Tasuku, Cinta tak berbalas aka friend zone Rentaro - Miko, dan lain-lainnya. Aih, jadi ingat ceritaku sendiri. :)
Makoto dan Natsume, cute banget kan. (img: here)

  1. Ada yang mau nambahin?
CAST
Para pemerannya seger-seger. Orang-orang muda yang penuh dengan gairah muda dan juga ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Hehehe... Yang pasti Shison Jun berhasil mencuri perhatian sebagai seorang flower boy di sini. Aktingnya lumayan baik dan tatapan matanyan itu lho, dalem. Yoshine Kyoko sudah dapat penghargaan jadi ya, pasti lah bagus. Semangatnya itu seakan ikut memberiku semangat juga. Yoshimoto Miyu yang merani Tani Yuria cantik banget, sumpah. Akting antagonisnya di separuh episode awal keren. (Btw Shison Jun dan Yoshimoto Miyu nanti reunian di 5 to 9, ada adegan kissing juga, yuhuu...super spoiler.) Anak-anak gasshou lain juga oke. 

Ariake Sensei (img: here)

Lalu bagaimana dengan sang guru Ariake Sensei? Shirota Yu jelas lebih ganteng sekarang dibanding dulu. Biking melting deh lihat bodinya yang tinggi besar itu, hahaha... "30, guru, single:, Kalau gurunya kayak gini, bakal rajin sekolah pastinya. Ibu Kepala sekolah aku juga suka, rasanya ngayomi gitu. 
Cast lain gak perlu dibahas ya karena nanti kepanjangan. :P
Euy, Nakashima Mika juga akan main lho jadi bintang tamu di salah satu episodenya. Keren banget deh pokoknya. Dia juga cantik banget. 

Nakashima Mika bareng sama anak-anak gasshou. (img: here)


Setting
No Komen! Bagus kok, Tapi tak banyak yang bisa diomongin. Ya, kalau paling memorable ya pastinya halaman sekolah yang jadi tempat memorinya orang tua Makoto yang juga jadi tempat latihan anak-anak gasshou. 

OST dan Lagu Tema
Nah, ini adalah bagian paling menarik soalnya ini dorama musikal. Karena di tiap episode ada minimal 1 lagu. Karena sudah ada yang bikin daftar lagunya langsung saja ya kunjungi halamannya di sini, siapa tahu kamu mau kepo. :) 

Secara keseluruhan aku menikmati nonton dorama ini. Coba deh kamu juga nonton dan nikmati lagu-lagu indah yang dinyanyikan oleh Omotesando Koukou Gasshou! 

My personal score: 8/10 
Yang mau ngintip website resminya : TBS 
Lebih lanjut bisa lihat juga di: d-addicts ; asianwiki
Yang mau nonton: cari link-nya sendiri ya. hehe

Beberapa hari yang lalu aku nonton di bioskop untuk ke-2 kalinya filem 'The Revenant'. Ya memang itu adalah filem yang sangat bagus hingga untuk nonton lebih dari sekalipun sangat worthed atau nggak ada ruginya. Bukan sekali itu saja aku nonton satu film sampai lebih dari satu kali, yaitu 2 kali. Belum pernah juga sih aku nonton sampai 3 kali ulangan. Nah, aku jadi ingin mendaftar sejumlah film yang pernah kutonton ulang itu. Berarti, film-film berikut ini bagus menurut penilaianku, sehingga mengeluarkan duit dobel untuk nonton cerita yang sudah kita tahu pun rasanya gak rugi. Yah, meskipun nonton ulang bisa jadi karena diajakin atau digratisin sih, sikon saja itu. Tapi yang jelas, film-film ini mayan bagus lah buatku. 

  1. THE REVENANT 


Kalau mau tahu tentang filmnya buka ada di imdb.    
Kenapa? Karena film ini sangat indah visualisasinya. Meskipun ceritanya rada-rada gory dan sadis, tapi keindahan sang Mother Nature dan juga kejamnya human nature seakan menghipnotis banget. Musik garapan Sakamoto Ryuichi juga indah meskipun mencekam. Pokoknya indah banget deh. Rugi gak nonton film ini. Ya, tinggal tutup mata aja sih pas adegan berdarah-darahnya. Haha.. Terimakasih buat teman nonton yang ke-2 ya, yang sudah bela-belain nonton ini, padahal sebenarnya aku yang ngebet. 









2. CHAPPIE

Tentang filmi ini -> imdb
 Nah, kalau Chappie ini awalnya nonton gak sengaja karena memang bingung lagi mau nonton apa, dan kebetulan banget waktu itu ada yang bayarin. Yuhuu.. gretongan. Dan ternyata, film yang bercerita tentang robot polisi lucu dan lumayan bagus. Ceritanya cukup membuat kita terharu dan terhibur lah. Selain itu, duo rap rave group dari Afrika Selatan  'Die Antwood' yang ikut main di sini, ternyata unyu banget, lagunya juga easy listening. Jadi deh, abis nonton Chappie langsung kepo sama mereka. Nah, nonton yang ke-2 kalinya itu gara-gara teman ngajak nonton terus film yang dipajang waktu itu gak ada yang menarik, akhirnya kusarankan saja Chappie meski aku sudah nonton dua kali. dan yap! teman-temanku juga pada suka. Tuh kan.. bagus. 






3. COMIC 8, Casino Kings Part 1. 

Tentang Comic 8 -> imdb
Kalau cerita nonton 2 kali film ini sebenarnya gak beda jauh sama Chappie, gara-gara diajakin lagi nonton dan ternyata gak ada pilihan lain. Memang, Comic 8 adalah salah satu film komedi unggulan di Indonesia, lucu banget,  eh, lucu aja sih. Tapi aku suka. Ceritanya ala ala action gitu tapi kocak. Dialog-dialognya juga cukup cerdas dan ngocok perut. Yaiya lah ya, secara mereka para komik professional. 











Lhah, terus apa lagi ya? Kok aku lupa. Kayaknya itu dulu deh, sejumlah film yang sempat kutonton 2 kali. Nanti kalau udah ingat disambung lagi.