Img source: here

Raskin (Beras Miskin) diwacanakan akan dihapus. (Baca beritanya di sini) Beras yang dijual dengan harga super murah dengan kualitas super buruk ini apakah memang lebih baik dihapus atau dipertahankan?

Saya jadi ingat kisah Pak Mustofa dari Kelompok Tani Organik Al-Barokah di Ketapang - Kab. Semarang, satu dari produsen beras organik terbaik di negeri ini. Dia mengatakan bahwa, petani di kelompok tani itu juga mendapatkan bantuan 'Beras Miskin' ini. Padahal mereka itu produsen beras kelas 1! Aneh bin ajaib. Tapi gak boleh nolak bantuan kan, jadinya ya raskin dijual lagi atau kalau tidak ya jadi pakan ayam.

Jujur, emak saya sendiri di kampung juga dapat jatah raskin, soalnya para tetangga banyak yang tergolong kaya sedang rumah kami masih sama seperti 30 tahun lalu. Hehehe.. Tapi ya tentu saja, emak saya gak mau mengkonsumsi raskin. Siapa juga yang mau, wong berasnya sering berulat begitu. Ngeri kali.... Paling sering ya dijual lagi ke pasar, eh sebenernya sudah ada tengkulak yang sering datang ke rumah untuk ambil beras ini. Buka kartu deh.

Kenapa gak nolak saja? Aku pernah nanya gitu juga ke si Emak, dan dia jawab,"Mengko yen ora ditompo paling-paling dipangan karo petugase." (Nanti kalau tidak diterima, palingan dimakan sama petugasnya - alias dikorupsi.) Hadeuhh.. Memang jujur-jujuran, korupsi raskin sudah seperti rahasia umum, mulai dari harga yang sedikit dilambungkan, jatah yang sedikit dikurangkan, atau malah sekalian diembat.Hayo yang punya cerita dari kampungnya tentang korupsi raskin sini aku mbok dicritain.

Balik lagi ke Raskin yang akan dihapus. Ada yang bilang bahwa sebenarnya ada pihak-pihak yang membutuhkan bantuan beras ini. Siapa? Masyarakat miskin katanya. Tidak bisa salah juga. Mereka yang secara finansial tidak mampu membeli beras normal dalam arti sesuai harga pasar pasti akan terbantu jika ada beras yang harganya di bawah standar. Jika memang niat baik pemerintah adalah membantu mereka-mereka ini, ya bagus itu. Aku tidak bisa tidak setuju.

Tapi, masih ada tapinya. Kenapa kualitas beras bantuan untuk kemanusiaan ini sangat tidak manusiawi? Beras yang pecah, kotor, apak, kadang berbonus ulat dan kutu masih layakkah dikonsumsi? Untuk melihatnya saja aku malas, apalagi memakannya. Bahkan kurasa ayampun kalau tahu beras model begitu, enggan makannya. (Maaf ya Yam, aku sok-sokan jadi kamu. Padahal mungkin kamu tetap saja nyaplok tak peduli itu beras miskin ataupun beras kaya. Nyatut bentar ya untuk efek lebay.)

Kalau mau serius mau mbantu kok rasa-rasanya aneh. Niat apa enggak? Seperti salah satu tetanggaku yang sering memberi makanan yang 'hampir' basi ke rumah. (Sial! Dikiranya recycle bin apa ya!) Ya, kami terima wong dasarnya Wong Jowo itu kalau dapat rejeki harus nerima, gak boleh nolak. Ini juga demi rukun hidup bertetangga. Tapi ya itu, siapa juga yang mau makan begituan. Paling banter ya dikasih ke bebek atau ayam di kandang belakang. Kalau para unggas sudah tak mau lagi, ya masih bisa jadi pupuk untuk nyuburin tanah di kebon belakang yang ditumbuhi rumpun pisang. Niat baik itu tak selalu jadi baik, mungkin benar.

Apakah aku punya solusi? Tentu saja tidak. Aku kan bukan ahli pangan, ekonomi, pertanian, dll. Hehehe.. Kabur.... Mungkin bukan solusi tapi sedikit pemikiran. Kurasa memang bantuan beras mungkin perlu, tapi kualitasnya juga wajib ditingkatkan. Sedih rasanya melihat beras tak layak makan dijadikan bantuan. Bagi saya itu seperti penghinaan terhadap kemanusiaan. Lebih dari itu, dibanding beras miskin -(nama raskin sendiri kok agak gak enak di telinga ya, terdengar diskriminatif dan merendahkan. hehehe.. aku tersinggung) - kenapa bukannya subsidi untuk para petani kita ditingkatkan. Subsidi yang aku maksud tidak melulu duit, bisa apa saja yang bisa membantu mereka semakin produktif dan sehat. Harga beras dipasaran juga perlu dipantau agar tetap wajar dan normal. Orang-orang diberdayakan biar hidupnya makin sejahtera sampai tak doyan lagi melihat wujud 'beras berulat'.

Betewe, apakah kita ini masih impor beras? Atau kita ini ngekspor beras? Jangan bilang kita ngekspor beras bagus, impor beras murah, petani tercekik, dan beras buruk dikasih ke rakyat? Ini pikiran buruk aku, semoga saja enggak begitu. Sudah-sudah, suujon itu dosa!..

Soal raskin ini membuatku terpancing nulis uneg-uneg sepanjang ini. Padahal awalnya aku hanya ingin pajang di status fesbuk sambil mancing komen dari temen-temen di dunia sosmed sana. Eh, jadinya kepanjangan untuk sebuah status. Jadinya kularikan ke blog saja.
Oh raskin... Balada si Raskin! Begitu miskinkah rakyat Indonesia sampai diberi makan oleh  pemerintahnya dengan beras berulat? Alamak.. Sedih sekali hatiku.

Ah, jadi inget emakku lagi yang tiap bulan berjatah dan menjatah dalam lingkaran setan bernama 'raskin' ini.

Kalau menurut kamu bagaimana?

Tidak cuma sekali-dua kali tapi sering dan bahkan hampir selalu, aku tidak bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Di saat aku harus menulis laporan kerja, tiba-tiba ada hasrat nulis puisi, balik lagi ke tugas, trus pingin ngisi blog, belum selesai blog pengen lanjutin tugas lagi, trus mampir nyanyi sambil gitaran 1-2 lagu, bikin kerjaan lain lagi, seterusnya begitu. Mampir sana-sini selalu begitu. Kenapa ya? Aku jadi bingung sendiri nih, apa ini yang disebut multi-tasking? Aih, padahal alibi saja untuk menutupi aku yang selalu gagal fokus.

Aku mendefinisikan diriku sebagai orang yang berbakat multi-tasking. Hehehe... Aku bisa melakukan banyak pekerjaan sekaligus, bahkan hari ini aku mengerjakan sampai lebih dari 8 hal yang berbeda:
1. Bikin surat
2. Bikin powerpoint untuk presentasi
3. Nulis 1 puisi
4. Merampungkan 2 sketsa gambar
5. Nulis 2 artikel di blog (termasuk tulisan gajebo -gak jelas bo'!- ini)
6. Merapihkan file-file yang berserakan dan membuat back-upnya
7. Nulis laporan
8. Baca berita dan browsing segala rupa informasi penting dan gak penting.
9. Main sos-med dan forum diskusi
Dan lain lain

Nah, tapi yang jadi masalah adalah tidak semuanya selesai! (Ada beberapa yang selesai juga sih. Hehehe) Aku tidak bisa bekerja di satu hal saja sampai satu hal itu selesai. Susah bagiku untuk tetap menjaga mood di satu hal. Jadi aku selalu menclak-menclok kemana-mana. Bikin tulisan baru separo, menclok ke yang lain, pindah lagi, balik lagi dan begitu seterusnya. Jadi, meskipun aku bisa kerja banyak hal di satu waktu, tapi alokasi waktunya tetap saja tidak terlalu beda dengan yang mengerjakan satu-satu. Hehehe.. Gampangnya sih sebenarnya aku tipe orang yang fokusnya tidak fokus. Hayo, apaan itu?

Apakah aku terganggu dengan itu?
Kadang iya tapi kadang juga enggak.

Ketika dikejar deadline, kebiasaanku ini juga suka muncul gak tahu aturan. Masa ketika aku harus menyelesaikan laporan yang semakin mencekik, aku malah tiba-tiba ingin nulis puisi? Atau malah inspirasi menggambar datang? Dan aku lebih sering kalah dengan mereka-mereka itu. Sampai aku marah-marah pada diriku sendiri, tapi juga memuji-muji diri sendiri. (Soalnya puisi atau gambar yang kubuat jadi bagus. hehehe)

Lebih seringnya adalah aku mengkonsumsi waktuku untuk mengerjakan tugas kerja dan hobi yang bermacam-macam tanpa ada urutan jelas. Pindah-pindah sesuka hati. Dan semakin ke sini aku semakin terbiasa dengan cara itu.

Meskipun ke-gagal-an fokus yang ada padaku ini sudah terlanjur akut, aku masih ingin tetap memegang satu prinsip dasar yang penting: Tepat Waktu! Aku selalu percaya bahwa apapun itu, lebih baik tidak sempurna asal tepat waktu daripada sempurna tapi telat. Seperti saat dulu masih ngampus, kalau mengumpulkan tugas tepat waktu meskipun hasil kopas (hehehe..ngaku) bisa dapat nilai 7. Kalau ngumpulinnya telat, meskipun hasilnya sempurna tapi nilainya dikurangi (karena telat). Biasanya dikurangi 3, jadi meski dapat nilai sempurna 10 tetep jadinya 7. Sama saja! Hahaha.. 
Nah, aku juga begitu. Meskipun aku kerja dengan cara yang acak, tapi biasanya tetap kuselesaikan jika memang waktunya harus selesai. (Pernah juga sih telat sekali-kali. ;) ) Jadi jangan heran, jika aku selalu mengerjakan satu hal, sedikit-sedikit, berselang-seling, dan tak pernah fokus. 

Dulu pernah juga agak marah dengan diriku tentang ini, tapi kemudian aku semakin kenal diriku dan berdamai dengannya, bahwa aku memang begini. Apakah aku menyerah? Ini bukan urusan menyerah atau tidak mau merubah kebiasaan. Aku rasa ini sudah menjadi gaya atau style yang tiap orang pasti beda. Aku berasumsi bahwa memang dari otakku kerjanya acak, tidak beratur seperti juga kondisi meja kerjaku yang isinya campur-campur. 

Jadi ingin bertanya lagi, "Aku ini multi-tasking atau cuman gagal fokus?" 


Aku dan ruang kerjaku :)



Kau yang dulu pernah bertahta Dewa
Kini tertelan kabut kelabu

Aku yang tak pernah berani menatapmu
Kini terang-terangan menantangmu dengan telanjang mata

Kau tak kuasa menembus tabir
Bahkan bulan malampun lebih bersinar

Sesekali kau nampakkan wujud di sumur langit
Satu lubang dalam yang berhasil kau singgahi
Satu titik yang mampu kau silaui
Melihatkan lapisan kelabu yang berangsur putih
Sebuah lubang di langit
Dan kau di dalamnya
di dasar sumur itu
di atasku


Apa kamu pernah tak sengaja buka website xxx di Ipad lalu tak sengaja memasukkannya ke daftar bacaan atau reading list. Waduh! Bahaya! Bagaimana jika ada yang melihatnya? Ketahuan kan kalau kita buka-buka website aneh-aneh. Harus segera dihapus ini! Gimana cara menghapusnya? Tak ada tanda-tanda untuk penghapusan. Ah, coba hapus di history and data. Erased - Terhapus! Cek lagi di reading list,.. Eeeehhh,.. masih ada juga! Ampun Emak,... iyeu kumaha atuh ngehapusna? Hehehe... Secuil latar belakang pengalaman newbie Ipad lagi. Hehehe...

Untuk pengguna baru, mungkin hal-hal sederhana semacam ini bisa membuat pusing kepala. Tentu saja ini tidak berlaku bagi mereka yang doyan nanya ke Google. Nah, akupun sempat pusing kepala karena telat nanya ke Google. Padahal gampang banget menghapus reading list. Gimana caranya?

"Untuk menghapus bookmark, tinggal tarik bookmark ke kiri. Setelah itu muncul pilihan 'delete'. Tinggal hapus deh."

Yang masih gak ngerti juga, lihat video di bawah. (Orang yang bikin video ini pasti tahu banget ya jika banyak newbie Ipad yang kebingungan sama hal-hal sederhana kayak gini. Makasih bro!)






Padahal begitu doang, tidak sampai 1 menit beres. Hehehe.. Pengalaman baru yang sempet bikin keringat dingin netes-netes seember.

Enjoy your gadget!

Img source: here

"Bersenang-senanglah. Karena hari ini akan kita rindukan di hari nanti. Sebuah kisah klasik untuk masa depan."



Mendengar lagu ini membawaku kembali pada masa-masa yang tak terulang. Pada waktu ketika aku menjadi bagian dari sejarah bagi hidup sejumlah manusia yang juga menjadi bagian sejarahku. Orang-orang yang kusebut teman dan sahabat. Orang-orang yang bahkan mungkin dalam kurun waktu tertentu di masa lalu itu, lebih dekat dari keluargaku sendiri. Ah, rasanya jadi rindu. Bahkan dulu ketika aku menyanyikan lagu ini bersama kalian, aku sudah membayangkan hari ini. Hari ketika aku sendiri, menuliskan betapa rindunya aku akan sepotong kisah yang aku tahu tak mungkin ada lagi.

Sedihkah aku? Mungkin tidak. Justru aku bahagia. Aku bahagia karena aku bisa puas menghabiskan waktu itu bersama kalian, bersenang-senang dan gila bersama. Tak ada yang kusesalkan karena aku merasa memiliki 'sebuah kisah klasik' yang bisa kubanggakan saat ada yang bertanya, "Apa yang kamu lakukan dulu?". Dan lewat kisah yang kusampaikan, akan selalu muncul kalian, orang-orang yang pernah membuatku merasakan ikatan, yang mereka sebut persahabatan. 

Ketika tak sengaja aku mendengar lagu ini, muncul mereka di otakku: 2.3 , PERSADA, paskib 009, X-MPCA 04, L-IPB KJ, The Divas Company, dan sejumlah kawan lain terutama mapala se-Indonesia yang pernah kutemui. Kalian membuat waktuku menjadi meriah kawan! 

2.3 , Kelas terbaik di masa abu-abu yang penuh warna


2.3 , teman di kelas juga teman di gunung. :)


PERSADA - You rock guys!


Paskib 009. Selalu di hati juga.


x-mpca 05. Apapun yang terjadi, aku cinta kalian kawan..


Lawalata IPB - KJ 06. Kita tetap jadi angkatan yang paling KJ ya.. Kagak Jolas.. hehehe


TWKM 06. Pernah suatu masa aku juga sempat gila bareng kalian.


The Divas. Udah gak tahu deh, mau ngomong apa tentang kitah.. :)


Memang benar waktu tak akan kembali, tapi kita bisa bernostalgia. Bertukar cerita dan membayangkan masa lalu yang kita bagi. Mungkin saat ini jarak aku dan kamu jauh terbentang. Aku di sini dan kamu di sana. Aku hanya tukang tahu sedang kamu pengusaha kaya. Aku artis dan kamu kyai. Ah, peduli apa! Waktu ini bukanlah milik kita. Biarkanlah roda jaman menggilas kita, seperti kata Ebiet G Ade. Tapi waktu yang pernah kita bagi di masa lalu adalah nyata. Itulah milik kita. Hingga jika suatu saat kita bertemu lagi, tak perlu kau risaukan masa kini, karena kita masih punya masa lalu yang akan selalu menjadi harta kita, kisah klasik kita, yang jauh lebih berharga daripada pilihan hidup saat ini yang seperti tak pernah peduli.

Aku merindukan kalian. 

"Mungkin diriku masih bersama kalian. Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian." - Sheila On 7


(Sedikit mewek dan berkaca-kaca tapi karena bahagia. Hiks-hiks-hiks..)








Tentang bunga atau lebih senang kusebut kembang. Betewe kembang itu awalnya bahasa apa ya? Jawa atau Indonesia atau malah Sunda? Ada yang tahu? Silakan tinggalkan komennya di bawah. :) Ada gak sih wanita yang tak suka kembang? Kayaknya gak ada ya? Kalau kamu suka gak sama kembang? Aku? Ya pasti suka karena aku juga wanita. Hehehe... Malah kemana-mana. 

Nah, di sini aku ingin sedikit bercerita tentang kembang di Kota Mawar - Portland - The City of Rose. Ibu kota negara bagian Oregon di Amerika Serikat ini memang bisa dikatakan sebagai Kota Kembang-nya negeri Paman Sam. Tidak hanya kembang mawar warna-warni segala rupa yang bisa ditemui di sini, tapi juga banyak sekali kembang lain yang hidup di tanah ini, dari bunga budidaya sampai bunga liar yang tumbuh di gunung-gunung hingga di tepi jalanan. 

Pesona bunga di Portland dan umumnya Oregon, telah membuatku jatuh hati. Betapa tidak? Bunga segala rupa menghias di halaman-halaman perumahan tempat aku tinggal. Jalanan menuju stasiun kereta dihiasi oleh bunga liar di tepiannya. Bahkan bukit kecil di belakang tempat kerja juga dihampari oleh rerumputan berselipkan bunga indah memanjakan mata. Ah, rupanya aku datang di kota ini saat akhir musim semi, waktu sempurna untuk menyaksikan semarak bunga di sini. Aku disuguhi pemandangan indah sejak pertama kali menginjakkan kaki di benua baru ini. 

Sungguh seluruh rasa dan indra dimanjakan olehNya. Terimakasih Tuhan, untuk kesempatan dan untuk kehidupan, serta untuk hati yang masih dan semoga selalu terbuka. 

Berikut aku coba bagi sejumlah wajah-wajah ayu kembang-kembang di Portland dan sekitarnya. Siapa tahu, mungkin ada yang terinspirasi atau sekedar mensyukuri ciptaan di bumi yang sama-sama kita tinggali ini. 

Bunga Chicory yang banyak tumbuh di pinggir jalan.


Bunga Daisy yang banyak tumbuh di bukit belakang kantor WFC


Bunga liar di tepi jalanan.


Bunga liar - Mt Hood


Bunga liar - Mt Hood


Bunga liar - Mt Hood


Bunga liar d Mount Hood


 Bunga Anyelir di depan rumah tetangga di Cedar Mill

 Bunga Viola di halaman belakang rumah tempat tinggalku

Ke-eksklusif-an Apple

Brand berlogo Apel ini memang masih menjadi brand yang prestisius. Meski banyak muncul brand-brand baru, tapi si Apel krowak ini masih banyak diagung-agungkan orang. Ada yang bilang ke-eksklusif-annya yang membuat keren. Bisa jadi! Jika yang lain-lain cenderung sama maka tidak untuk Apple. Bentuk colokannya lain, fitur-fiturnya lain, store-nya lain, dan lain-lain yang lain lagi. Hahaha... Mungkin yang sama dengan yang lain hanyalah lubang untuk headset-nya.

Aku bisa saja menggunakan gadget merk lain, seperti S*msung, D*ll, A*er, dan lain-lainnya tanpa kesulitan karena sekali menguasai penggunaan satu brand maka yang lain juga relatif sama. Tapi tidak untuk Apple. Perlu tutorial dan waktu khusus untuk bisa menggunakan gadget ini. Sudah begitu, tidak disediakan buku panduan di dalam kotak pembelian baru. Yahh.. harus inisiatif belajar sendiri.

Sebagai newbie alias pengguna baru Ipad, aku merasa perlu untuk tahu apa saja sih yang bisa dilakukan si Ipad ini. Biar harganya terbayar, meski relatif mahal tapi manfaat dan fitur-fiturnya lebih unggul. Percuma saja punya gadget canggih kalau yang punya tidak ikutan canggih. Maka dari itu, di erat gadget pintar yang sudah menjamur, para pengguna gadget juga harus ikut pintar. Jangan terjebak oleh gengsi-gengsian - yang penting punya - tapi tidak tahu menggunakannya.

Gagap teknologi (gaptek) yang kurasakan pertama kali adalah ketika membuka Ipad yang baru saja kubeli. Kucari-cari tombol untuk menghidupkan, ah tidak terlalu sulit. Masih wajar. Lalu kucari lubang colokan untuk charger. Ketemu! Bukan masalah. Ada tombol samping untuk mengatur volume suara. Sip.. Setelah Ipad nyala ada panduan untuk aktivasi akun. Gampang! Dan tibalah kemudian hal-hal baru dimulai, dari mengunduh aplikasi yang kuinginkan, mengatur setingan, dan lain-lainnya. Seru! Ternyata ke-gaptek-anku terhadap Apple membawaku pada petualangan menemukan sesuatu yang baru.

Dan untuk petualangan yang seru itu, aku berniat untuk mendokumentasikan apa saja yang telah kulalui untuk lebih mengenal si Ipad yang kunamai 'Sekoya'. Pingin tahu apa saja? Klik tag 'Ipad' di blog ini. 


Img source: here



Dulu waktu aku masih abege, Halloween adalah kisah di negeri antah berantah yang hanya kubaca di novel Fear Street-nya RL Stine, di film-film keluaran Hollywood ataupun di cerita-cerita yang saat itu rasanya sangat jauh. Nah, karena kebetulan aku di sini pas Oktober, saatnya Halloween. Hari libur paling meriah di Amerika Serikat. Dan aku, yang sebetulnya penakut ini, malah ikut menikmati suasana Halloween yang sudah terasa sejak minggu ke-2 Oktober. Halaman-halaman rumah dipasangi hantu-hantuan, patung nenek sihir, sarang laba-laba palsu dan labu-labu orange dan putih yang beberapa di-antaranya diukir jadi lentera 'Jack-o-lantern'. Wow I love it!


Di depan kios, jualan hantu


Balon hantu di halaman tetangga


Aku bahkan ikut membuat satu ukiran labu bersama teman-temanku di WFI. Tak butuh waktu lama, hanya satu jam kemudian labu yang kuukir selesai. Wahh,.. senang sekali rasanya. Puas deh. Ah, jadi mikir, "Kapan ya bisa Halloween-an lagi di sini?". Hehehe... Next time lah  ya.. 

 
Teman-teman dan aku serta karya labu ukir kami :)
 
Jika Amerika punya Salmon, maka Indonesia punya Chitra chitra sebagai maskot restorasi sungai. Benarkah?

Tulisan ini adalah salah satu jawaban dari pertanyaanku di artikel tentang Salmon (baca: Salmon, Primadona Ikan di Pacific North West). 

Di tulisan sebelumnya, aku membahas tentang Ikan Salmon, yang menjadi maskot restorasi sungai di Amerika Serikat karena masuk dalam kategori satwa terancam punah menurut Endangered Species Act. Status Salmon tersebut mewajibkan pemerintah dan juga warga negara untuk ikut serta melindungi Salmon dengan salah satu caranya adalah memperbaiki tempat hidup atau habitat Salmon, yaitu sungai.

Berangkat dari itu, aku menjadi terpikir, adakah sesuatu maskot yang bisa mendorong adanya restorasi sungai di Indonesia? Kemudian aku teringat dengan geger tahun 2011 kemarin saat ditemukannya Bulus raksasa di Sungai Ciliwung Jakarta, tepatnya di daerah Tanjung Barat (Baca berita: penemuan bulus raksasa Ciliwung). Bulus berukuran panjang hampir 1,5 meter yang memiliki nama ilmiah Chitra chitra javanensis adalah satu dari sekian banyak satwa penghuni Sungai Ciliwung yang masih bertahan sampai saat ini. Dan kemungkinan besar bulus ini bisa menjadi maskot restorasi sungai di Indonesia, khususnya di Jawa yang menjadi habitat utamanya. Inisiasi ini juga sudah dimulai oleh Komunitas Ciliwung.

C. chitra javanensis yang ditemukan di Ciliwung Jakarta November 2011 (img source: here)

Chitra chitra javanensis adalah salah satu subspecies dari Chitra chitra atau nama internasionalnya adalah Asian narrow-headed softshell turtle (Kura-kura Asia dengan tempurung lunak dan dan kepala menyempit).  Urutan taksonomi bulus ini adalah sebagai berikut:

Kingdom: Animalia , Phylum: Chordata, Class: Reptilia, Subclass: Anapsida, Ordo: Tertudines, Sub-Ordo: Cryotidora, Family: Trionychidae, Genus: Chitra, Species: Chitra chitra, sub-species: Chitra chitra javanensis.

Genus Chitra: (A) C indica (Bangladesh); (B) C vandijki (Myanmar); (C) C chitra chitra (Malaysia); (D) C chitra javanensis (Indonesia). (McCord et.al 2002)






Sebaran bulus ini adalah di Pulau Jawa dan juga Sumatra bagian selatan. Bulus Chitra chitra menghuni wilayah perairan air tawar yaitu sungai-sungai. Mereka biasanya berada di bawah lapisan lumpur/pasir sungai.  Spesies bulus ini masuk dalam ketegori Critically Endangered menurut IUCN dan Red List Appendix II dalam CITES. Di Indonesia sendiri dalam PP no. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, species Chitra yang dilindungi adalah Chitra Indica atau Labi-labi Besar yang tentunya berbeda spesies dengan Chitra chitra. Aku tidak bisa menemukan adanya peraturan nasional yang melindungi C. chitra.


Sebaran C. chitra javanensis (McCord et. al 2002)

Ancaman utama kelestarian bulus ini adalah perburuan dan juga rusaknya habitat. Diketahui bahwa perburuan bulus ini banyak dilakukan di daerah Pasuruan – Jawa Timur dan juga beberapa kali di Bengawan Solo – Jawa Tengah. Sebagian besar perburuan dilakukan untuk jual-beli koleksi reptil. Pencemaran sungai yang masih marak berlangsung saat ini juga menjadi ancaman bagi bulus Chitra chitra yang menyukai perairan air tawar yang bersih.

Penemuan bulus raksasa C. chitra javanensis di Sungai Ciliwung menjadi bagian penting dalam upaya restorasi sungai Ciliwung yang dimotori terutama oleh jejaring Komunitas Ciliwung yang kemudian  menetapkan tanggal 11 November yang bertepatan dengan penemuan bulus sebagai Hari Ciliwung. Lalu, setelah 3 tahun sejak November 2011, bagaimana perkembangan restorasi Ciliwung dan bagaimana juga nasib bulus raksasa ini?

Saat aku menulis catatan singkat ini, aku belum banyak menemukan perkembangan berarti terkait riset ilmiah tentang Chitra chitra javanensis yang juga oleh masyarakat lokal disebut Senggawangan. Setelah mencoba berselancar di dunia maya dengan kata kunci ‘Chitra chitra javanensis’, ‘senggawangan’, dan lain-lain yang sekiranya terkait dengan isu bulus raksasa, namun hasilnya tidak terlalu banyak. Menurutku sudah sewajarnya jika hewan langka bahkan dilindungi, harus mendapatkan perhatian lebih terutama juga karena ancaman yang dihadapi cukup berat. Jika tidak ingin menyusul kepunahan species yang juga terjadi di Ciliwung, yang telah memakan korban punahnya 90% spesies ikan asli akibat rusaknya habitat, serangan ikan non-asli invasif, dan eksploitasi.

Upaya untuk melindungi Chitra chitra javanensis terkait langsung dengan restorasi sungai. Langkah yang telah diambil oleh para penggiat Komunitas Ciliwung dengan menjadikannya maskot Ciliwung menurutku sangatlah tepat. Maskot membuat sesuatu menjadi lebih menarik dan bertujuan. Orang akan lebih tertarik dengan suatu tujuan yang ‘nyentrik’ daripada tujuan mulia yang terkadang dinilai ‘basi’ dan terlalu mengawang-awang. Menyelamatkan Bulus Raksasa dari ancaman kepunahan menurutku lebih menarik daripada hanya slogan membersihkan sungai untuk kebaikan bersama. Meskipun pada prakteknya, penyelamatan habitat bulus akan sama artinya dengan restorasi sungai itu sendiri. Seperti orang berjualan, diperlukan branding yang kuat, begitu pula dengan restorasi sungai.

Belajar dari Pacific North West, pantai barat Amerika yang saat ini juga banyak melakukan proyek restorasi sungai, Salmon adalah maskot utama. Perlindungan habitat Salmon telah membawa efek yang kuat terhadap upaya perbaikan kualitas sungai dari hilir sampai hulu, mulai dari program penghijauan daerah riparian hingga proyek besar perobohan dam/bendungan yang nilai dalam dolarnya sangat spektakuler. Salmon telah berhasil menjelma menjadi ikon sungai sehat di sini. Jika Salmon bisa,  Chitra chitra javanensis juga bisa kan?


Referensi:

McCord WP, Prtichard Peter CH.2002. A Review of The Softshell Turtles of The Genus Chitra, With The Description of New Taxa From Myanmar and Indonesia (Java). Centre for Herpetology, Madras Crocodile Bank Trust, Hamadryad Vol. 27, No. 1, pp. 11 – 56. (link)

[IUCN] International Union for Conservation Nature.The IUCN Red List of Threatened Species: Chitra chitra. (link)

Berita:



Musim gugur pertama
Melahirkan kekaguman
Warna-warni negeri mimpi
Bercahaya diterpa surya dunia
Menjelma nyata

Aku terbangun
Dari tidur hangat di pagi beku
Menggigil tertiup bayu
Langkah ragu, sesaat membisu
Seketika cahaya menerpaku

Tersadarkan aku
Terpesonakan aku

Bersama pagi di musim gugur pertamaku di negeri mimpi
Tuhan hadir menyapaku lagi