Wahai para pecinta kucing atau yang mengaku 'cat lover', pasti kalian sudah gak asing lagi dengan (mungkin) satu-satunya kafe kucing di dunia: Nekorobi Cat Cafe di Tokyo, Jepang. Meskipun dengan harga yang tidak murah (bahkan untuk ukuran orang Jepang), cafe unik ini tetap eksis bahkan menjadi salah satu 'hal yang wajib dilakukan' di Tokyo. Saat aku browsing dengan keywords 'must to do things in Tokyo', nama Nekorobi Cat Cafe menjadi salah satu top tennya. Dan akhirnya aku ke sana juga.

Nekorobi terletak di lantai 3 sebuah gedung. Dengan papan nama yang tidak terlalu mencolok dan agak susah dilihat di keramaian Ikebukuro. Nekorobi menempati satu ruangan yang tidak terlalu besar, mungkin kurang dari 10x10 m. Di dalam ruangan bercat  krem itu, aku langsung disambut seketika aku membuka pintu ruangan. Gadis muda yang kawaii alias imut langsung menyapaku dan menjelaskan sekilas peraturan serta tarif di sana. (Aku yakin gadis muda inilah yang pernah kulihat di tivi, di program "Sabtu...Minggu...Setengan Satu...." yang dibawakan Asri Welas. Waktu itu kebetulan sedang ada liputan tentang kafe kucing di Tokyo. Pasti ini! Hehehe).

Aku sempat mengunjungi kafe ini minggu kemarin (Desember 2014) di suatu malam yang cukup menggigilkan badan, saat musim dingin di negeri Sakura telah menjelang. Terletak di daerah Ikebukuro yang ramai, cafe ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 menit-an dari Stasiun Ikebukuro. Bagi pelancong baru, sangat aku sarankan untuk selalu mengaktifkan aplikasi googlemap selama di Tokyo dan sekitarnya. Terakhir kali aku di Ikebukuro, aku berputar-putar tidak karuan di jalan-jalan malam yang super ramai dan berkerlap-kerlip hampir semuanya terlihat mirip. Selama hampir satu jam aku tidak bisa menemukan letak Nekorobi yang memang agak 'nyelip' di antara keramaian Ikebukuro. Beruntung aku bertemu seorang baik yang membantuku. 

Di ruangan hangat Nekorobi, ada 14 kucing manis yang menyambut para pengunjung. Semuanya bersih dan wangi. Wajar sih, mahal banget pasti perawatannya. Ada beberapa tempat tidur kucing yang sedang dipakai oleh penghuninya. Beberapa tamu yang datang sedang bermain dengan kucing, sekedar mengambil foto-foto dan ada beberapa tamu yang menikmati minuman hangat dari vending machine yang ada di ruangan itu. Aku? Tentunya hunting foto-foto unyu dari para neko itu! 

The Cats

Dari semua kucing di sana, paling kece adalah Haruki. Dengan badan besar dan bulu yang panjang serta tatapan tajam, Haruki menjadi kucing paling ganteng di sini. Cool!

Sebelum masuk dan setelah keluar ruangan, para tamu harus mencuci tangan dulu. Tas, barang bawaan dan jaket harus dilepas diletakkan di loker yang telah disediakan. Setiap tamu akan diberi name tag yang bertuliskan jam kita masuk kafe. Nanti pas selesai, jam masuk itu akan jadi patokan berapa biaya yang harus kita bayarkan. Untuk satu jam berkunjung ke Nekorobi, kita perlu membayar 1100 Yen atau sekitar 110 ribu rupiah. Fasilitas yang bisa didapatkan adalah bermain dengan kucing dan menikmati minuman dari vending machine. Awalnya kupikir di kafe ini, pengunjung bisa memesan makan dan minum layaknya kafe biasa. Tapi ternyata enggak! Yang ada hanya kucing. Ha ha ha... Namanya juga Kafe Kucing ya! 

Meski mahal tapi aku senang bisa ke sana. Soalnya jarang-jarang kan bisa ke sana. Bisa pamer foto juga dengan para Cat Lover lain yang pasti ngiri banget meluk-meluk kucing yang mungkin saja paling mahal di Ikebukuro. 

Ada yang mau ke sini dan selfie bareng Haruki, Kinako, Kiyomori, dkk? Datang ke Nekorobi Cat Cafe di Ikebukuro - Tokyo!

Nekorobi Cat Cafe juga punya website yang bisa kamu kunjungi. Cek ini http://www.nekorobi.jp

Haruki and I





Di suatu pesta atau mungkin hajatan atau bisa jadi festival, dalam sebuah ruang gedung yang cukup besar yang mungkin berisi sekitar ratusan orang, aku di sana. Ada sebuah panggung di hadapan barisan kursi-kursi undangan dan seseorang berdiri di atasnya, memegang mikrofon berkabel tanpa tiang dan menyanyi: karaoke! Satu persatu orang menyanyi, menyumbangkan lagu untuk acara itu. Suara tak selalu merdu bahkan nyaris sumbang meski tak kuingat jelas bagaimana suara mereka. Lalu kulihat kakak laki-lakiku di sana, Mas Eko. 

Mas Eko beberapa kali menyanyikan lagu di panggung depan, bolak-balik mungkin sampai 4-5 kali. Para hadirin di acara itu nampaknya sangat antusias untuk menyumbangkan satu lagu. Aku belum ada keinginan untuk itu. Sungkan rasanya. Tidak semua orang duduk di tempat duduknya. Mereka menyebar tak beraturan di dalam ruangan besar itu, bisa kukatakan mirip dengan acara bebas setelah acara seremoni selesai. Dan orang-orang bergantian menyanyi, meski tak semua orang memperhatikannya. Kulihat para 'penyanyi' itu bahagia, bisa eksis kurasa. 

Aku berdiri di dekat meja sajian makanan prasmanan yang terletak di belakang kursi-kursi hadirin. Ada sebuah lorong pendek tak lebih panjang dari 5 meter di bagian itu dan aku bersandar di temboknya bersama seseorang hadirin yang kukenal. Kami berbincang santai seperti orang-orang lain juga yang membentuk grup-grup kecil. Lalu kulihat kakakku kembali naik ke atas panggung untuk menyanyi. Ah, baru aku tahu ternyata kakakku yang kupikir malu-malu, sekarang mendadak eksis di depan banyak orang. 

Kawanku bertanya, "Kenapa aku tidak ikut menyumbang lagu, menyanyi di atas panggung juga?". Apakah dia mengetahui gelisah di hatiku yang mungkin saja rasa grogi dan sungkan tampil di depan umum? Ah, aku tidak boleh terlihat lemah dan aku juga tidak ingin kalah dari kakakku. Aku beralasan, "Aku tak ingin bernyanyi tapi tak didengarkan. Aku tak ingin heboh sendiri tanpa ada yang memperhatikan." Sombong nian! Itulah aku.

Tak ingin termakan omongan sendiri, akupun memutuskan maju ke panggung. Kuambil mikrofon dan kupanggil para hadirin agar semua perhatian tertuju padaku. Kusampaikan bahwa aku akan menyanyikan sebuah lagu yang sangat bersejarah, sangat penting bagi semuanya. Sambil bicara aku juga berpikir, "Lagu apa yang cocok untuk ini? Aku bahkan tidak tahu!". Di tengah mata-mata yang tertuju padaku, aku tidak boleh gagal. Aku tahu mereka menunggu sesuatu yang besar dan mengguncang. Lalu aku tiba-tiba menyanyikan sebuah lagu yang entah darimana tiba-tiba terbersit di otakku. Lagu yang kupikir semua orang tahu. 

"From this moment, life has begun
From this moment, you are the one..."
                       (Shania Twain - From This Moment)

Lagu yang biasa dinyanyikan saat pesta pernikahan itu tiba-tiba mengalun dari mulutku, mencoba mengajak semua orang untuk ikut larut dalam pesan manis cinta di bait-bait syair lagu indah itu. 

Meski tak semua menyanyi, aku melihat sebagian besar orang bersama-sama membentuk paduan suara yang meski tak merdu tapi menyentuh kesadaranku. Setidaknya aku berhasil di sini.

Dan akupun bangun, di pagi terakhir di Cedar Mill - Portland, di atas kasur hangat dan empuk yang telah menemaniku selama 6 bulan ini. Ah,... Kuciumi bantal dan selimut kucel ini. Kuakhiri mimpi pagi.

Portland, 02 Desember 2014




Rasa haru menyeruak tiba-tiba. Angin dingin musim gugur menerpa wajahku yang panas menahan rasa untuk alasan yang tak sepenuhnya kupahami. Aku merasa rindu. Rindu pada waktu yang baru saja terlalu. Menyisakan sedikit sesak dalam dada yang sedikit terisak. 

Aku mencoba mencari-cari apa yang ingin kucari. Ah, kembali lagi aku ke awal perjalanan. Kembali lagi aku ke petualangan jiwa yang tak akan pernah berhenti. Aku merasa dunia selalu berputar, sedang aku  diam tak bergerak. Sentuhanku pada jaman yang selalu berbeda, berubah dan kemudian kembali lagi.

Oh, apakah ini mimpi? Begitu cepatkah aku harus terbangun dan terkaget-kaget! Aku masih memukul wajah berkali-kali hanya untuk yakin jika tidur telah usai. 

Di dalam mimpi aku bergumam. Kampung halaman yang telah lama kutinggalkan muncul di sana. Bersama aku dan keluargaku di masa abu-abu itu. Mereka memanggil-manggilku, melambaikan tangan padaku, mengajakku untuk bermain di tempat-tempat lama. Di kali, sawah, kebun-kebun singkong dan sengon, serta bukit desa yang kecoklatan basah sehabis hujan sesiangan. Aku merasakan beceknya tanah merah di kakiku ya g telanjang. Menatap biru Merapi Merbabu di cakrawala barat bersama gumam kawan-kawan kecilku. 

Sejauh kenangan yang bisa kukenang. Tak sadar mataku hangat dan hujan. Aku menangis dalam diam. Diam dalam mimpi tidurku. Apa ini? Benarkah jika manusia selalu akan gelisah? Selalu mencari-cari tanpa tahu apa yang diinginkan? Apakah aku juga begitu? 

Di mimpi menjelang pagi ini aku merasa berkaca, sebelum terbit fajar dan menyentakku dalam nyata. Sambil menikmati terpa angin musim gugur di dunia mimpi yang hampir usai. 





Saat itu sepertinya siang yang mendung, gelap. Aku di kelas bersama kawan- kawanku saat jam istirahat menjelang. Ruang kelas yang suram membuatku tak bisa melihat dengan jelas di arah papan tulis dari bangkuku, nomer 3 dari belakang. Mataku tidak terlalu baik melihat di remang cahaya, aku minus 2! 

Kucari- cari saklar lampu dan kutemukan satu di dinding yang mepet bangku sebelahku. Kulihat ada saklar lampu dan juga lubang colok yang telah diisi alat kotak hitam semacam charger. Saklar lampu berada di tengah-tengah lubang colok yang dipenuhi alat-alat itu dengan  beberapa serabut tembaga kabel telanjang mencuat. Aku tahu, logam-logam itu konduktor dan bisa menghantarkan listrik. Kucoba menyentuh saklar listrik dengan ketakutan akan setrum. Klik.... Ternyata saklar yang kuturunkan balik lagi ke posisi semula. Lampu yang mulai menyala pun mati lagi. Kucoba dan kucoba lagi hingga aku sadar jika saklar ini selain harus diturunkan ceklekannya tapi juga harus diputar ke kanan untuk mengunci. Kucoba sedikit memutar ke kanan. Ah, belum jadi terputar aku duluan takut akan kawat tembaga yang mencuat. Aku tak punya nyali. 

Kucoba mencari saklar lain dan tiba-tiba ruang kelas....klap...menjadi terang di salah satu sisi belakang. Dari 4 lampu di penjuru kelas, satu menyala dan itu yang tepat di atasku. Kulihat-lihat siapa yang menyalakannya, ternyata ada seseorang kawanku, sepertinya perempuan yang menyalakan saklar yang ada di tembok dekat pintu masuk. Tiba-tiba lagi lampu menyala lagi. Sekarang 2 lampu menerangi ruang kelas. Kelaspun menjadi terang kecuali satu sudut yang masih muram, lampu di dekat papan tulis belum menyala. Padahal lampu itu yang paling penting karena menyinari papan tulis. Sedangkan saklar lampunya adalah yang tadi kucoba. Saklar yang berbahaya itu tadi!

Kutanyakan apakah ada yang berani menyalakan? Semua hanya bergumam. Lalu Dian, kawanku mengatakan jika ia pernah kesetrum di sana. Ah, jadi makin takut aku dan yakin jika memang itu berbahaya. Tapi tiba-tiba ruang kelas benderang dan lampu semua menyala. Apa yang terjadi?
Aku tak tahu pasti. 

Di jam istirahat itu nampaknya aku keluar ruang kelas, mungkin jajan atau makan siang? Tak terlihat olehku. Saat aku kembali ke kelas, beberapa menit sebelum bel masuk berdentang, kulihat bangkuku sudah dipenuhi oleh 4 orang kawan sekelas, semua perempuan dan salah satunya adalah teman sebangkuku, Kris. Mereka terlihat sibuk menuliskan sesuatu, tergesa-gesa. Oh, ternyata itu adalah tugas PR dari guru Bahasa Inggris yang entah kenapa sang guru itu mirip antara Pak Kosim guru SDku dan Adi Bing Slamet. Bapak guru memberi tugas untuk membuat satu puisi dalam Bahasa Inggris. Sepertinya kawan-kawan ini belum mengerjakannya. Aku memakluminya dan menunggu sambil duduk di bangku depanku yang kosong. Sesekali kuintip apa yang dilakukan teman-temanku ini. Ahh, rasanya lega, aku sudah mengerjakan PR itu. 

Bel masuk berbunyi dan kawan-kawanku masih sibuk di bangkuku. Aku belum bisa duduk di sana dan aku juga merasa kasihan juga. Ya sudah, akupun tetap anteng duduk di bangku itu. Pak guru pun datang masuk ke kelas, memberi ucapan salam dan langsung menanyakan PR. Teman-teman di bangkuku seakan tak peduli dan tetap sibuk. Pak guru sudah mulai mengamati mereka. Aku merasa di atas angin. Entahlah, rasanya sudah mengerjakan PR itu memang sesuatu banget. 

Pak guru berkata bagi yang sudah siap boleh maju ke depan untuk membacakan puisinya. Tak ada satupun yang maju. Bahkan 4 kawan di bangkuku masih sibuk. Pak guru mulai menghampiri murid-muridnya, langsung menuju jalur bangkuku. Dia mengambil buku-buku tugas kawanku satu persatu yang sudah siap hingga saat tiba di bangkuku yang ramai diapun membubarkan kerumunan itu. Ah,....senangnya. Aku yang mulai cemas akhirnya bisa kembali ke bangkuku. Aku ingin segera memberikan  PR ku kepada Pak Guru. 

Ketika aku baru kembali ke bangkuku, Pak Guru sudah kembali ke depan kelas, hanya dengan membawa beberapa buku PR. Diapun mulai memeriksanya. Aku tak boleh ketinggalan. Kucari-cari buku tugasku dan kusadari ada yang salah dengan bangkuku. Aku memeriksa satu tas dan tak ada. Ternyata itu tas kawanku yang tadi duduk di situ. Aku marah-marah dan jengkel hingga kemudian ternyata yang kuomeli adalah Nika, yang duduk di bangku sebelah sedangkan tadi yang duduk di sini adalah Tere. Yang aneh adalah tas itu memang punya Nika. Kok bisa ada di situ? Nikapun marah juga karena merasa tak bersalah. Aku meminta maaf dan kukatakan jika tadi aku kira dia adalah Tere. Orang yang sedang dibicarakan hanya tersenyum lebar di bangku paling belakang sambil berucap maaf tanpa suara. Huhhh..

Kuperiksa dimana tasku dan kemudian aku mendapat kejutan lagi. Glodakan (loker) bangkuku berantakan sekali. Tas dan buku-bukuku semuanya ada di sana padahal aku ingat sekali jika sebelum keluar kelas aku memasukkan semua buku-bukuku di tas. Tas itu berwarna krem, merk Mountain Hardwear milikku yang dalam dunia nyata telah hilang di Pontianak tahun kemarin. Aku kesel minta ampun. Sambil ngedumel aku mencari-cari buku PRku, ingin segera kuberikan pada Pak Guru. Dumelanku ternyata membuat teman sebangkuku marah juga. "Apaan sih!", katanya. Kujelaskan kondisinya dan diapun akhirnya diam. Akhirnya kutemukan buku PR itu diantara bukuku yang lain yang hampir mirip semua sampulnya: bergambar bebek kartun warna-warni.

Kuambil buku itu, memeriksa isinya dan kutemukan hasil kerjaku. Ah lega.. Pak guru di depan kelas masih memeriksa PR dan mungkin segera menunjuk seseorang untuk membaca puisi Bahasa Inggrisnya. Di antara kawan-kawan yang duduk diam di bangkunya, aku berdiri dan maju ke depan, menjadi pusat perhatian. Aku bawa buku PR itu untuk kuberikan pada Pak Guru sambil berharap untuk bisa membaca puisi yang telah kubuat. 


Dan akupun terbangun dari tidurku
Jam 7.40 am, masih Cedar Hills, Portland - Oregon













Title: Atashinchi No Danshi
Genre: drama, family
Episode: 11
Broadcast Time: April - June 2009

Cast:
Horikita Maki as Mineta Chisato
Kaname Jun as Okura Fuu
Okada Yoshinori as Okura Takeru
Mukai Osamu as Okura Sho
Yamamoto Yusuke as Okura Masaru
Seto Koji as Okura Satoru
Okayama Tomoki as Okura Akira
Etc. 

Lagi-lagi dorama yang ngumpulin banyak ikemen dalam satu tempat. I love it! 

Atashinchi No Danshi, selain memanjakan mata juga menyuguhkan cerita yang lumayan menghibur, lucu, ringan, santai dan sangat komikal. Saking komikal-nya, drama ini di-adaptasi menjadi sebuah manga. Ini berkebalikan dengan tren drama/ film lainnya yang banyak merupakan versi live-action dari manga/ anime. Jadi, khusus dorama ini, manganya muncul belakangan. Wah wah wah... 

Bercerita tentang Mineta Chisato, seorang gadis home-less (tidak punya rumah alias gelandangan) yang tiba-tiba harus menjadi ibu dari 6 orang cowok-cowok super ganteng (lebay dikitlah). Bagaimana bisa ya?

Sinospis

Mineta Chisato harus menanggung beban hutang 10 juta Yen yang ditinggalkan ayahnya yang gemar berjudi. Sejak ibunya meninggal dan ayahnya kabur, Chisato harus berjuang hidup sendiri serta lari dari kejaran penagih hutang. Selama 10 tahun dia menjadi gelandangan dan tinggal d rumah kardus di sebuah taman kota. Pada suatu hari ia sedang lari dari kejaran penagih hutang yang berhasil menemukannya. Di saat terdesak dan hampir tertangkap, tiba-tiba seorang pria paruh baya (om om) muncul dan melunasi hutang dengan syarat Chisato harus menikahinya. Siapa pria itu?

Okura Shinzo adalah pemilik perusahaan Miracle, produsen mainan terkemuka di Jepang. Meski bergelimang kekayaan dan bisnis yang sukses, Okura tidak pernah menikah dan tetap melajang. Mengetahui bahwa umurnya tinggal 1 bulan karena suatu penyakit, dia ingin menghabiskan masa-masa terakhirnya dengan seseorang. Dan dia memilih Chisato yang umurnya jauh lebih muda darinya. Mereka pun menghabiskan sebulan bersama sampai Okura meninggal. Chisato mengira bahwa kontraknya telah selesai dengan kepergian Okura tapi ternyata tidak. Kontrak yang ditanda-tanganinya menyisakan beberapa hal yang harus dia penuhi, salah satunya adalah menjadi ibu bagi anak-anak adopsi Okura yang jumlahnya 6 orang dan semuanya laki-laki serta tinggal bersama di Trick Castle, rumah mereka. Lebih mengejutkan lagi, sebagian besar anak-anak Okura sudah dewasa bahkan lebih tua dari Chisato. Dan, semuanya adalah ikemen alias pretty boys! 

OMG! 
Bagaimana Chisato menjalani hidupnya di Trick Heart Castle bersama anak-anak barunya? Tinggal bersama para ikemen pasti beresiko jatuh cinta. Hehehe.. Apakah Chisato juga akan jatuh cinta pada salah satu anaknya? Apa rahasia yang tersimpan di Trick Castle yang menyimpan banyak misteri? Apa maksud terselubung mendiang Okura Shinzo yang membuat Chisato melakukan ini semua? 
Banyak pertanyaan kan. Silakan nonton sendiri agar lebih jelas. :)

Menguliti Dorama

Spoiler Alert

Cerita
Ngomongin soal cerita, dorama ini terlalu banyak fantasi dan khayalan, tipikal cerita komedi Jepang yang berbau-bau manga/  anime. Satu cewek yang dikelilingi dan tinggal bersama cowok-cowok ikemen, ehm...jadi ingat kisah lain kan, sebut saja Yamato Nadeshiko Shichi Henge dan Hana Kimi. Mirip! Bedanya adalah Atashinchi No Danshi lebih menonjolkan hubungan keluarga dan bukannya romance. Meskipun ada cerita percintaan antara Chisato dan Sho, tapi bukan menjadi kisah utama dan hanya sebagai pemanis saja. 

Aku suka bagaimana dorama ini menceritakan satu per satu latar belakang keluarga Okura, dari sang ayah Okura Shinzo yang nyentrik, Chisato, dan ke-enam anak adopsi  Okura. Mengetahui kisah masing-masing tokoh membuat jalinan emosi antar karakter makin kuat. Emosipun cukup tersampaikan dengan baik. Meskipun pada awalnya mereka adalah orang asing tanpa ikatan darah, tapi mereka akhirnya menjadi keluarga yang sesungguhnya. Kebersamaan dan kekompakan dengan keluarga akan bisa mengatasi segala rintangan. Ciehhh....


Alur
Ehm,.. Enak sih. Cukup rapi dan mengalir. Jika mempunyai waktu luang di akhir pekan (terutama para pencinta dorama yang jomblo heee) bisa banget menjadikan dorama ini untuk marathon. Setiap episode selalu diakhiri dengan adegan sedikit menggantung yang menggoda penonton untuk ingin langsung lanjut ke episode berikutnya. 

Tokoh dan Pemeran
Untuk para pemeran utama sih No Complaint kecuali untuk si adek kecil, anak ke-6 Okura Akira. Sang aktor muda Okayama Tomoki yang masih imut-imut itu terlalu kaku dan sering garing. Bahkan aku pernah membaca review orang yang mengatakan anak ini masa depannya sebagai aktor bakal suram karena dia tidak bisa akting. Hehehe...

Horikita Maki seperti biasanya selalu terlihat cantik dan imut, meskipun didandani kucel sekalipun. Aktingnyapun boleh juga-lah. Kaname Jun ganteng banget bo'! Aku suka x_x . Dia sangat keren di sini, apalagi di adegan sauna dan hanya dengan handuk doang. OMG, drooling...ngiler. Sumpah body doi bikin ngiler! Sayangnya adegan Kaname Jun tidak terlalu banyak di episode  awal. Ada pula Mukai Osamu yang senyumnya bikin klepek-klepek sampai aku lupa memperhatikan aktingnya. Hahaha.. Kurasa Mukai Osamu dalam berakting selalu konstan dalam artian  selalu baik. Saking konstannya, sampai-sampai rasanya begitu-begitu saja. Selama aku menonton drama dan film yang ada dia, belum pernah sih merasa kecewa tapi belum pernah juga merasa greget banget. 

    Cool Kaname Jun. I love him here. 


    Yamamoto Yusuke! Look at his eyes, he's wearing eye shadow..

    
      Still Yamamoto Yusuke. He's so funny here. Still with his eye shadow! 


Yang justru lumayan greget adalah Yamamoto Yusuke yang memerankan Okura Masaru, anak ke-4, seorang top model yang phobia perempuan. Dia lucu sekali di sini apalagi ketika berekspresi kemayu dengan make-up lengkap dan eye-shadow warna-warni. Hahaha.. Aku selalu tertawa kalau ada dia. Jika diingat lagi, Yamamoto Yusuke selalu dapat peran yang aneh-aneh ya. Ingat kan saat dia jadi paranormal di Hana Kimi, atau jadi si bodoh Yamada di Yamada kun and 7 Witches dan masih banyak peran aneh lain. Aku jadi suka sama dia. 

Ketinggalan satu lagi, Seto Koji. Dia bagus sih, mayan. Doi masih muda, masih panjang jalan karirnya dan masih perlu banyak belajar. Maksudnya!... ;) Untuk pemeran pendukung lainnya, aku suka pengacara wanita Okura yang selalu muncul tiba-tiba. Kehadirannya memeriahkan suasana. Tokoh antagonis Tokita cukup lincah diperankan. Wajah pemerannya mirip banget sama Adi Bing Slamet. Jangan-jangan saudaraan mereka! :)

Setting/ Latar
Good Job! Bagus. Yang paling keren adalah SAUNA room! Aku paling suka adegan berlatar kamar sauna di sini. Masih tanya kenapa? Jelas! Half naked hot men are the best! Di ruang sauna ini, kita bisa  ngintip bodi-bodi kece milik Kaname Jun, Mukai Osamu, Yamamoto Yusuke, dkk. With only yellow towels and sweaty bodies, they made me fly in the dark fantasies! Hahaha.. 

Trick Castle yang digunakan adalah bangunan yang sama dengan yang dipakai di YamaNade Shichi Henge dan Yukan Club. Kurasa banyak pasti dorama yang memaki kastil ini sebagai latar. Memang bagus sih bangunannya. Ruang-ruang rumah, lorong-lorong rahasia pun digarap dengan apik.


    Hot sauna room!


    Trick Heart Castle


Satu lagi catatan adalah latar taman tempat Chisato tinggal bersama para homeless lain. 
Tamannya bersih banget dan beda sama kawasan kumuh di Jakarta. Aku jadi heran, apakah memang begitu ya pemukiman homeless di Jepang? 

Lagu Tema
Lagu tema dorama ini berjudul 'Infinity' dinyanyikan oleh Girl Next Door. Gimana ya,.. Tidak ada kesan sih di aku. Mungkin karena aku terlalu larut sama ceritanya jadi tidak memperhatikan lagu tema ini. 

Sebenarnya masih ingin menulis lagi tentang Atashinchi No Danshi, tentang kenapa dorama ini layak tonton, tentang ceritanya, dll. Tapi kebetulan ini sudah ngantuk dan ingin tidur. Mungkin akan aku edit lagi kapan-kapan. Tapi secara keseluruhan dorama ini kece. Nonton yak!

Goodpart: Warm family story, hot ikemens, Kaname Jun, Yamamoto Yusuke's eye shadow, Sauna Room
Badpart: Okura Akira cast, Kaname Jun appearance is too short, awkward kissing scene


8/10








Title: Mei chan No Shitsuji
Genre: comedy, school, romance
Episode: 10
Broadcast year: Jan - March 2009

Cast:
Eikura Nana as Shinonome Mei
Mizushima Hiro as Shibata Rihito
Takeru Sato as Shibata Kento
Yamada Yu as Hongo Shiori
Mukai Osamu as Shinobu 
Etc.

This is more than a Cinderella story!
Pernah terbayangkah bagaimana rasanya menjadi Cinderella dalam waktu semalam? Bagaimana rasanya hidup yang biasa, tiba-tiba berubah drastis bak putri raja yang baru ditemukan? Mei-chan mungkin akan menceritakan kisah ajaibnya, dari seorang anak penjual Udon di kota kecil hingga menjadi pewaris utama perusahaan terbesar di Jepang. Tapi bukan itu yang utama, melainkan seorang pelayan pribadi/ butler super ganteng yang selalu menemani dan melayaninya setiap saat. I want one too! Mei-chan No Shitsuji adalah satu dari sekian banyak dorama yang tidak masuk logika, adaptasi manga yang penuh dunia imajiinasi yang indah. 
You shouldn't miss it!

Sinopsis

Kehidupan Shinonome Mei seketika berubah setelah kematian kedua orang tuanya, dari seorang anak penjual Udon menjadi pewaris perusahaan besar di Jepang: Hongo Corporation. Shibata Rihito tiba-tiba muncul di depan Mei dan mengatakan bahwa sejak saat itu dia adalah butler yang akan melayaninya. Demi keamanan dan kebaikan orang-orang di sekitarnya, Mei pun menyetujui untuk pindah sekolah dan tempat tinggal sembari menyiapkan diri sebagai seorang lady yang pantas untuk keluarga Hongo. Sekolah baru tersebut adalah St Lucia, sekolah elit khusus gadis yang memiliki peraturan lain dari yang lain: setiap siswi harus mempunyai butler yang super tampan. Dan Mei telah memiliki Rihito, butler S-rank yang merupakan tingkatan tertinggi bagi seorang butler.

Di St. Lucia, Mei bertemu dengan Hongo Shiori yang menyandang status sebagai Lucia-sama yaitu tingkat tertinggi murid di sana. Shiori yang awalnya terlihat anggun dan lembut ternyata menyimpan rahasia kelam dan niat terselubung terhadap Mei. Mei harus menjalani masa-masa sulit di sekolah barunya ini. Dia harus menghadapi bully dari teman-teman sekelasnya. Di saat-saat sulit itulah, sang butler-Rihito selalu mendampingi dan menjaganya. Teman masa kecilnya, Shibata Kento yang juga adik Rihito, masuk ke St Lucia sebagai butler junior untuk bisa lebih dekat dan menjaga Mei. 

Bagaimana kemudian perjuangan Mei untuk menjadi seorang lady, menghadapi teman sekelas dan Shiori? Bagaimana pula hubungan Mei dengan Rihito dan Kento yang ternyata telah tumbuh rasa cinta segitiga di-antara mereka? Bagaimana ia menghadapi aturan mutlak St Lucia yang melarang hubungan cinta antara siswi dan butlernya? Silakan nonton sendiri dorama yang kisahnya lebih ajaib dari Cinderella ini! 


Menguliti Dorama

Cerita
Cerita di dorama ini adalah adaptasi dari manga dengan judul yang sama 'Mei chan no Shitsuji' karya Riko Miyagi. Cerita dorama ini menggabungkan antara kisah Cinderella, school romance, harem dan butler/ maid fantasy. Hehehehe. Semua mimpi manis seorang gadis dikumpulkan di cerita ini. Bagaimana rasanya tiba-tiba menjadi seorang putri? Dikelilingi oleh cowok-cowok super hot yang berseragam pelayan? Butler pribadi yang gantengnya minta ampun? Hingga kisah cinta terlarang di sekolah! Sungguh, imajinasi sang mangaka sungguh sangat liar. 

    All girls and their super cool butlers! 

Begitu juga pembuat drama live action ini, sungguh gila! Gila kenapa? Karena hampir semua cerita yang disajikan di dorama ini tidak masuk akal dan logika. Hahaha... Bayangkan! Ruang kelas yang super mewah, butler yang melayani hampir semuanya mulai dari menyiapkan makan, mandi, menggendong saat melewati kolam, hingga membalik halaman buku pelajaran! Sumpah! Aku sampai tertawa geli saat melihatnya. Tapi itulah kelebihannya. Ketidak-wajaran cerita di dorama Jepang justru menarik karena tidak ada yang menyamai. Apa saja bisa terjadi di dorama.

Karena aku belum pernah baca manganya, maka aku tidak tahu bagaimana perbandingannya. Tapi ketika aku googling segelintir gambar-gambar di manganya sepertinya cukup hot. Hehehe.. Tapi aman kok di dorama ini, tidak ada adegan yang bikin gerah. (Padahal kecewa.. :p )

    Which butler do you want to be served? 

Alur
Sangat mudah mengikuti alur dorama ini. Alurnya sederhana dan mengalir. Hanya saja aku masih merasa jika tiap perpindahan alur cerita masih agak kasar sehingga kadang terasa dipaksakan. Ehm, mungkin memang karena ceritanya juga unik kali. Perpindahan patah-patah ini mirip yang kurasakan ketika menonton Hana Kimi (2006) yang notabene dorama dengan genre sejenis. Hmmm.. Mungkin saja ya.. (bergumam sendiri)

Ending
Aku suka happy ending. Dorama ini juga happy ending. Pasti langsung ketebak kan apa yang akan terjadi? So silakan cari sendiri.

    One of ending scene... Cute.. 

Setting/ Latar
Latar yang digunakan di dorama lumayanlah. St Lucia terlihat sangat mewah dan elegan, cocok juga sebagai sekolah super elit yang hanya ditempati putri-putri super kaya di Jepang. Taman-taman bunga yang indah, dan ruangan sekolah yang mewah. Pantai di kampung halaman Mei yang di tepi pantai juga lumayan bagus, dalam artian biasa saja. Yang paling oke adalah pencahayaan yang sebagian besar berlatar pagi/ senja dengan suasana remang yang romantis. Suasana ini menjadikan Mizushima Hiro (Rihito) semakin ganteng. Satu yang kurang mungkin ilustrasi gedung keseluruhan St Lucia yang bagiku masih terlihat jelas sebagai efek grafis komputer. Kurang alus animasinya. :) 

Pemain
Damn, I love pretty boys! 
Dari jajaran para butler aku sungguh terpuaskan. Kapan lagi melihat para ikemen ngumpul jadi satu, pakai seragam butler pula. Sebut saja Mizushima Hiro yang punya mata dan senyum sendu, Takeru Sato yang manyun-nya bikin gemes, Mukai Osamu dengan wajah baby face dan suara sexy-nya, dan butler-butler lain yang tidak kalah hot-nya: Kyou Nobuo, si kembar Takagi, Mayama Akihiro, dan masih banyak lagi. Pokoknya salut deh untuk yang tukang cast-nya. Jadi kepo, berapa duit ya untuk bayar para ikemen ini? Belum lagi para pemain ceweknya yang juga kawai! Lhah kok malah ngomongin fisik sih? Hehehe

Secara keseluruhan akting para pemain cukup baik tapi belum cukup untuk aku katakan sempurna. Pada beberapa adegan masih terlihat akting kaku dari para pemain. Eikura Nana sebagai Mei chan meski bagus tapi kurasa kurang cocok. Rasa-rasanya dia terlalu gemuk di sini dan aktingnya juga gak menyeluruh, kurang greget dan mengena. Mizushima Hiro, ehmm..gimana ya? Ganteng sih tapi...masih agak kaku kayaknya. Yang justru kurasa bagus adalah Takeru Sato. Dia bisa terlihat natural memerankan Mameshiba yang urakan. Mata belo miliknya selalu menunjukkan jika dia sedang serius ber-akting. 


    Mukai Osamu with white hair and very cute smile. 



    Mizushima Hiro with elegant glance!


    Takeru Sato's cool face! 


Kostum
Not bad. Menurutku kostum-kostum yang digunakan di dorama ini cukup modal. Banyak gaun-gaun cantik yang dipakai oleh para pemain. Seragam butler yang dipakai pun rapih dan elegan. Seragam sekolahnya sungguh sangat pendek roknya. Hehehe.. 

OST
Lagu tema dorama ini berjudul My Sunshine yang dinyanyikan oleh Rock A Trench. Lagunya sih biasa saja, tapi karena selalu diputar di akhir setiap episode lama-lama nyanthol di kepala. 
"..... Aitakutte aitakutte...." 

Jadi, itulah tentang Mei chan No Shitsuji. Bagi pencinta dorama yang belum sempat nonton, silakan nonton. Terutama bagi yang menyukai kisah ringan, kocak, ajaib dari adaptasi manga, maka dorama ini cukup menghibur. Manjakan mata dengan melihat wajah-wajah cantik ikemen dengan seragam butlernya. 

Hemm... yummy!

Goodpart: Lots of Ikemen butler, Mizushima Hiro smile and eyes, Takeru Sato good act, funny story, romantic lighting
Badpart: not smoot story flow, Eikura Nana, St Lucia whole school animation. 


7.5/10




Bravo si anjing imut
Ada apa dengan anjing?

Ada berita lucu-lucu aneh hari ini yang ada hubungannya dengan Anjing. Apakah itu? Cek dua berita ini dulu: Lihat Anjing Pelacak Polisi di Balai Kota Pesilat FPI Menyingkir dan Dua anggota FPI digigit anjing pelacak saat demo Ahok. Nah kalo sudah baca beritanya baru lanjut lagi kita ngobrol.

Anjing dan FPI. Ada hubungan apakah di antaranya keduanya?

Hari ini, massa salah satu ormas yang ngaku membela agama itu berdemo di depan Balai Kota DKI Jakarta. Ormas yang terkenal dengan seragam sorban, dan baju terusan putih ini melakukan aksinya dengan orasi dan juga adegan silat. Mereka seperti sudah siap untuk memperjuangkan apa yang mereka percaya, yaitu penggulingan sang PLT Gubernur DKI Jakarta, Ahok. Di tengah terik siang panas Jakarta, semangat tempur membuncah.

Pesilat tangguh pun unjuk gigi diiringi orator yang berteriak-teriak, "Kita akan menampilkan silat jurus Kemplang Babi melawan jurus Cina Mabok,".
Ngeri kan...

Img source: here


Hingga kemudian muncul si Anjing. Polisi mengerahkan empat ekor anjing pelacak untuk berjaga-jaga. Dan sang pesilat berbaju hijau yang sedang beraksipun tiba-tiba ciut nyali dan menyingkir. Lho kok?
Segitu aja?

"Polisi jangan provokasi kami dengan menampilkan anjing, itu najis," kata salah seorang orator.

Para pendemopun akhirnya bubar. Lho kok?

Apakah ini gara-gara si anjing? Salah apa si anjing? Anjingnya najis katanya. Halah, najis ya tinggal dicuci bersih 7 kali. Anak SD yang pernah belajar agama pasti juga tahu itu. Kenapa bubar? Ada yang digigit anjing rupanya! Yah, itu salahnya sendiri kenapa main masuk kantor orang dengan paksa.  Padahal aku juga seneng sebenernya dengan berita ini. Hahaha...Bingung sendiri tapi terhibur.

Anjing polisi (Img source: here)


Lalu aku main ke Kaskus yang lagi rame membahas hal ini juga, salah satunya trit ini. Ada yang mengatakan bahwa sang pesilat yang memperagakan jurus kemplang babi belum belajar jurus kemplang anjing. Jadinya mundur dulu untuk mempelajari jurus baru ini. Hahahaha... tambah ngakak saja aku.

Sebagai pecinta binatang, anjing bagiku adalah satu dari binatang favoritku. Mereka itu sangat imut, lucu, pintar, setia dan nurut. Lhah, anehnya di banyak tempat di tanah air tercinta ini, anjing seakan jadi marga satwa kelas 2 bersama si babi. Heran deh. Orang misuh-misuh nyebut anjing, anjing gak ngapa-ngapain disambit batu, anjing gak tahu apa-apa dikata-kata najis dan kotor terus. Ampun Emak!!! Sedih setiap mendengar itu. Gimana mau maju jika anjing aja jadi masalah gedhe.

Upss...Tapi mungkin ada hikmahnya juga ya. Sekarang ketahuan gimana cara mudahnya mbubarin demo ormas yang bersangkutan itu. Tinggal lepas saja anjing dan mereka mungkin bakal kabur. Hahaha..

Ya, kecuali jika lain kali mereka sudah menguasai jurus kemplang anjing.  





Title : SHARK
Genre : drama, music
Episode : 12
Broadcast year :  Jan - March 2014

Cast:
Hirano Sho as Kurata Mizuki
Hamada Takahiro as Hagiwara Kai
Matsumura Hokuto as Ryuzaki Ayumi
Iwamoto Hikaru as Satomi Kenzo
Kamiyama Tomohiro  as Adachi Teppei
Yamashita Rio as Komatsu Ichika


Kebayang gak sih kalau JE boys yang cantik-cantik gabung jadi band rock? Stop! Tidak perlu susah membayangkannya, cukup nonton dorama musikal satu ini yang dijamin akan membawamu ikut emosi dengan suka-duka meniti hidup lewat musik. SHARK adalah dorama pendek (30 menit tiap episode) yang paling cocok untuk kamu-kamu yang suka nonton marathon. 

(SPOILER alert!)

Sinopsis 

Shark adalah nama sebuah band rock indie beranggotakan 5 orang. Kharisma sang vokalis, Kazuki, yang mempercayai bahwa musik dapat merubah dunia, telah membawa Shark menjadi band indie yang paling bersinar. Ketika tinggal selangkah lagi untuk menuju debut di bawah naungan label besar Wonder Record, sang vokalis mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya dan merenggut pula peluang debut yang sudah di depan mata. Selama setahun lebih, Shark harus bertahan tanpa adanya pengganti Kazuki. Gitaris utama Hagiwara Kai merangkap sebagai vokalis, namun belum cukup mengembalikan kegemilangan Shark. 

Ichika, sebagai manager sekaligus orang terdekat Shark mengusahakan agar debut Shark diwujudkan. Perusahaan rekaman Wonder Record tempatnya bekeja menyetujui dengan syarat, Shark harus mempunyai vokalis baru yang memiliki kharisma kuat seperti Kazuki. Tidak mudah untuk mencari vokalis baru. Di suatu acara, Ichika melihat penampilan Kurata Mizuki yang sedang bernyanyi. Suara Mizuki langsung membuatnya tersadar bahwa ia telah menemukan vokalis untuk Shark. Langsung saja, Ichika melamar Mizuki sebagai vokalis baru Shark.

Tidak mudah untuk membuat Shark kembali bersinar meskipun vokalis baru telah muncul. Mizuki memiliki kepribadian yang tidak biasa, cenderung arogan dan kasar. Para anggota lain juga memiliki masalah masing-masing yang perlu diselesaikan. Dengan sekuat tenaga Ichika membantu Shark untuk bisa debut profesional. Tapi tentu saja banyak masalah yang harus mereka hadapi terlebih dulu. Ingin melihat bagaimana perjuangan mereka? Nonton sendiri ya. 

Mizuki dan Kai


----Selingan-----

Tidak pernah aku bayangkan jika dorama ini bagus pada awalnya. Waktu itu hari Sabtu, saatnya berburu dorama untuk berakhir pekan, dan ketemulah aku dengan Shark. Website tempat aku biasa nonton -dramacool.com- menyajikan drama yang kebanyakan adalah K-drama sehingga jika ada J-drama yang masuk di kategori most popular biasanya memang bagus. Shark juga termasuk di daftar itu bersama dorama populer lain seperti Last Cinderella, Boku no Ita Jikan, Shitsuren Chocolatier dana sejumlah dorama lain yang memang bagus. Ternyata memang benar bagus! Sekali menonton episode pertama langsung ketagihan. Rasanya waktu cepat berlalu. Padahal memang dorama ini cuma 30 menit per episode jadi tidak terasa. Akhirnya Sabtu itu, aku alokasikan 6 jam waktuku untuk marathon Shark! 
Nonton marathon bagiku hanya kulakukan untuk dorama pendek seperti Shark ini. Untuk dorama dengan waktu tayang normal, aku jarang melakukannya. 
-------------------

Menguliti Dorama

Cerita
Meski cerita tentang perjuangan band dalam dunia musik bukan ide baru lagi, tapi Shark lebih segar. Musik Rock yang menjadi latar kisah mengingatkanku pada film Bandage yang dibintangi Akanishi Jin, atau Kdrama Shut Up Flower Boyband. Tapi Shark jelas beda. Cara penyampaian cerita di dorama ini sangat modern dan tidak basi, sehingga meskipun ceritanya tidak terlalu baru, tetap enak ditonton. 

Alur
Alur/plot sangat mengalir dan mudah diikuti. Satu persatu konflik dimunculkan dan diselesaikan hingga pada konflik utama yang disajikan di episode terakhir. Aku menyukai cara dorama ini menjelaskan masalah dan cara penyelesaiannya yang cepat dan tidak berlarut-larut. Satu masalah selesai baru muncul masalah lain. Beda dengan sinetron Indonesia yang biasanya menumpuk masalah menjadi satu yang kadang membuat penonton jengkel seperti sinetron yang sering menjadikan tokoh utamanya dianiaya terus menerus oleh tokoh antagonis yang jahatnya kadang tidak wajar. Lho kok jadi ngomongin sinetron ya. Hehehe. 

Ending
Aku suka tapi aku juga kecewa! Kenapa? Aku menyukai akhir yang jelas, semua masalah terpecahkan dan ya selesai. Tidak dengan Shark! Konser Shark di episode final memang sangat wah, keren dan cocok sebagai adegan penutup. Tapi kenapa masalah baru malah muncul? Di akhir cerita, sang vokalis dinyatakan akan kehilangan suaranya karena sakit. Kok begitu? Lalu bagaimana debut yang sudah mereka rencanakan? Apa yang terjadi kemudian? Masa yang begini jadi akhir cerita sih? 
Yah.. Banyak kekesalan yang kurasakan. Tapi angin segarnya adalah di akhir drama dipromosikan adanya Shark musim kedua! Mungkin di sanalah jawabannya. Mungkin.

Tokoh dan pemeran
Hampir sempurna! Aku suka JE boys sudah dari dulu. Siapa sih yang tidak suka cowok cantik? Akting mereka pun cukup baik. Acungan jempol untuk Hirano Sho yang memerankan Mizuki, vokalis baru yang arogan. Dia cocok sekali dengan karakternya ditambah pula suaranya yang serak-serak rendah yang lembut sekaligus seksi. Suaranya mengingatkanku pada suara Kamenashi Kazuya yang sangat karakternya hampir mirip. Yamashita Rio sebagai Ichika awalnya biasa saja, tapi lama- lama dia semakin bagus dan menunjukkan posisi penting di dorama ini. Pemeran pendukung benar-benar mendukung! Aku paling suka gadis penjaga cafe teman Mizuki yang imut-imut dan lucu. 

Hirano Sho as Mizuki, Imut banget kan


Latar/Setting
Bagus. Untuk dorama setengah jam yang hanya 12 episode, maka penggarapan latar untuk Shark cukup mapan. Banyak lokasi yang ditunjukkan dalam dorama ini, pemeran figuran juga banyak, misalnya para penonton konser, yang membuat adegan terlihat lebih alami dan nyata. Ah, pasti modalnya besar. Apalagi ini adalah dorama tengah malam yang mungkin saja penontonnya terbatas. Mungkin nama JE boys sudah menjanjikan segmen tertentu penonton ya.  

Kostum
Gak punya baju lain ya? Satu yang paling tidak kusuka dari Shark adalah kostumnya. Bukannya jelek, tapi kenapa mereka tidak pernah ganti baju? Kurang dana untuk kostum kah? Aneh banget menurutku. Apa mungkin dana habis untuk bayar para figuran? Hahaha.. Dari awal sampai akhir, para pemain hampir selalu memakai baju yang sama! Jaket merah Mizuki adalah maskotnya. 

Musik tema dan lagu-lagu
Semuanya lagu-lagu yang dibawakan Shark di dorama ini sangat 'easy listening' - mudah dinikmati. Selain itu liriknya juga cukup menyentuh. Coba saja dengarkan. Aku penasaran deh, apa mereka yang benar-benar memainkan lagu-lagu ini? Apakah Hirano Sho yang menyanyikan lagu-lagunya Shark? Jika kudengar-dengar sih memang seperti suaranya dia. Jika iya, mungkin para JE Boys yang umumnya dibentuk menjadi Idol Group, berpeluang juga jadi musisi Rock? Siapa tahu? Band rock dengan personil ganteng pasti kan lebih laku, hehehe... 

Apalagi ya? Sepertinya sudah hampir semua yang ingin kucatat sudah kutuliskan. Kira-kira seperti itulah dorama Shark bagiku. Sangat kurekomendasikan bagi kamu-kamu pencinta dorama yang belum sempat nonton. Sambil berakhir pekan, ditemani sebungkus besar keripik cemilan dan segelas teh panas, Shark akan sangat pas menemanimu! 

Nikmati kisahnya!
Dengar musiknya!
Pelototin para pemainnya!

Happy weekend... Selamat berakhir pekan.

Goodpart: fresh, plot, JE boys, good music, Hirano's voice
Badpart: Blurred ending, lack of costume variation 

8.5/10



Img source: here

Raskin (Beras Miskin) diwacanakan akan dihapus. (Baca beritanya di sini) Beras yang dijual dengan harga super murah dengan kualitas super buruk ini apakah memang lebih baik dihapus atau dipertahankan?

Saya jadi ingat kisah Pak Mustofa dari Kelompok Tani Organik Al-Barokah di Ketapang - Kab. Semarang, satu dari produsen beras organik terbaik di negeri ini. Dia mengatakan bahwa, petani di kelompok tani itu juga mendapatkan bantuan 'Beras Miskin' ini. Padahal mereka itu produsen beras kelas 1! Aneh bin ajaib. Tapi gak boleh nolak bantuan kan, jadinya ya raskin dijual lagi atau kalau tidak ya jadi pakan ayam.

Jujur, emak saya sendiri di kampung juga dapat jatah raskin, soalnya para tetangga banyak yang tergolong kaya sedang rumah kami masih sama seperti 30 tahun lalu. Hehehe.. Tapi ya tentu saja, emak saya gak mau mengkonsumsi raskin. Siapa juga yang mau, wong berasnya sering berulat begitu. Ngeri kali.... Paling sering ya dijual lagi ke pasar, eh sebenernya sudah ada tengkulak yang sering datang ke rumah untuk ambil beras ini. Buka kartu deh.

Kenapa gak nolak saja? Aku pernah nanya gitu juga ke si Emak, dan dia jawab,"Mengko yen ora ditompo paling-paling dipangan karo petugase." (Nanti kalau tidak diterima, palingan dimakan sama petugasnya - alias dikorupsi.) Hadeuhh.. Memang jujur-jujuran, korupsi raskin sudah seperti rahasia umum, mulai dari harga yang sedikit dilambungkan, jatah yang sedikit dikurangkan, atau malah sekalian diembat.Hayo yang punya cerita dari kampungnya tentang korupsi raskin sini aku mbok dicritain.

Balik lagi ke Raskin yang akan dihapus. Ada yang bilang bahwa sebenarnya ada pihak-pihak yang membutuhkan bantuan beras ini. Siapa? Masyarakat miskin katanya. Tidak bisa salah juga. Mereka yang secara finansial tidak mampu membeli beras normal dalam arti sesuai harga pasar pasti akan terbantu jika ada beras yang harganya di bawah standar. Jika memang niat baik pemerintah adalah membantu mereka-mereka ini, ya bagus itu. Aku tidak bisa tidak setuju.

Tapi, masih ada tapinya. Kenapa kualitas beras bantuan untuk kemanusiaan ini sangat tidak manusiawi? Beras yang pecah, kotor, apak, kadang berbonus ulat dan kutu masih layakkah dikonsumsi? Untuk melihatnya saja aku malas, apalagi memakannya. Bahkan kurasa ayampun kalau tahu beras model begitu, enggan makannya. (Maaf ya Yam, aku sok-sokan jadi kamu. Padahal mungkin kamu tetap saja nyaplok tak peduli itu beras miskin ataupun beras kaya. Nyatut bentar ya untuk efek lebay.)

Kalau mau serius mau mbantu kok rasa-rasanya aneh. Niat apa enggak? Seperti salah satu tetanggaku yang sering memberi makanan yang 'hampir' basi ke rumah. (Sial! Dikiranya recycle bin apa ya!) Ya, kami terima wong dasarnya Wong Jowo itu kalau dapat rejeki harus nerima, gak boleh nolak. Ini juga demi rukun hidup bertetangga. Tapi ya itu, siapa juga yang mau makan begituan. Paling banter ya dikasih ke bebek atau ayam di kandang belakang. Kalau para unggas sudah tak mau lagi, ya masih bisa jadi pupuk untuk nyuburin tanah di kebon belakang yang ditumbuhi rumpun pisang. Niat baik itu tak selalu jadi baik, mungkin benar.

Apakah aku punya solusi? Tentu saja tidak. Aku kan bukan ahli pangan, ekonomi, pertanian, dll. Hehehe.. Kabur.... Mungkin bukan solusi tapi sedikit pemikiran. Kurasa memang bantuan beras mungkin perlu, tapi kualitasnya juga wajib ditingkatkan. Sedih rasanya melihat beras tak layak makan dijadikan bantuan. Bagi saya itu seperti penghinaan terhadap kemanusiaan. Lebih dari itu, dibanding beras miskin -(nama raskin sendiri kok agak gak enak di telinga ya, terdengar diskriminatif dan merendahkan. hehehe.. aku tersinggung) - kenapa bukannya subsidi untuk para petani kita ditingkatkan. Subsidi yang aku maksud tidak melulu duit, bisa apa saja yang bisa membantu mereka semakin produktif dan sehat. Harga beras dipasaran juga perlu dipantau agar tetap wajar dan normal. Orang-orang diberdayakan biar hidupnya makin sejahtera sampai tak doyan lagi melihat wujud 'beras berulat'.

Betewe, apakah kita ini masih impor beras? Atau kita ini ngekspor beras? Jangan bilang kita ngekspor beras bagus, impor beras murah, petani tercekik, dan beras buruk dikasih ke rakyat? Ini pikiran buruk aku, semoga saja enggak begitu. Sudah-sudah, suujon itu dosa!..

Soal raskin ini membuatku terpancing nulis uneg-uneg sepanjang ini. Padahal awalnya aku hanya ingin pajang di status fesbuk sambil mancing komen dari temen-temen di dunia sosmed sana. Eh, jadinya kepanjangan untuk sebuah status. Jadinya kularikan ke blog saja.
Oh raskin... Balada si Raskin! Begitu miskinkah rakyat Indonesia sampai diberi makan oleh  pemerintahnya dengan beras berulat? Alamak.. Sedih sekali hatiku.

Ah, jadi inget emakku lagi yang tiap bulan berjatah dan menjatah dalam lingkaran setan bernama 'raskin' ini.

Kalau menurut kamu bagaimana?

Tidak cuma sekali-dua kali tapi sering dan bahkan hampir selalu, aku tidak bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Di saat aku harus menulis laporan kerja, tiba-tiba ada hasrat nulis puisi, balik lagi ke tugas, trus pingin ngisi blog, belum selesai blog pengen lanjutin tugas lagi, trus mampir nyanyi sambil gitaran 1-2 lagu, bikin kerjaan lain lagi, seterusnya begitu. Mampir sana-sini selalu begitu. Kenapa ya? Aku jadi bingung sendiri nih, apa ini yang disebut multi-tasking? Aih, padahal alibi saja untuk menutupi aku yang selalu gagal fokus.

Aku mendefinisikan diriku sebagai orang yang berbakat multi-tasking. Hehehe... Aku bisa melakukan banyak pekerjaan sekaligus, bahkan hari ini aku mengerjakan sampai lebih dari 8 hal yang berbeda:
1. Bikin surat
2. Bikin powerpoint untuk presentasi
3. Nulis 1 puisi
4. Merampungkan 2 sketsa gambar
5. Nulis 2 artikel di blog (termasuk tulisan gajebo -gak jelas bo'!- ini)
6. Merapihkan file-file yang berserakan dan membuat back-upnya
7. Nulis laporan
8. Baca berita dan browsing segala rupa informasi penting dan gak penting.
9. Main sos-med dan forum diskusi
Dan lain lain

Nah, tapi yang jadi masalah adalah tidak semuanya selesai! (Ada beberapa yang selesai juga sih. Hehehe) Aku tidak bisa bekerja di satu hal saja sampai satu hal itu selesai. Susah bagiku untuk tetap menjaga mood di satu hal. Jadi aku selalu menclak-menclok kemana-mana. Bikin tulisan baru separo, menclok ke yang lain, pindah lagi, balik lagi dan begitu seterusnya. Jadi, meskipun aku bisa kerja banyak hal di satu waktu, tapi alokasi waktunya tetap saja tidak terlalu beda dengan yang mengerjakan satu-satu. Hehehe.. Gampangnya sih sebenarnya aku tipe orang yang fokusnya tidak fokus. Hayo, apaan itu?

Apakah aku terganggu dengan itu?
Kadang iya tapi kadang juga enggak.

Ketika dikejar deadline, kebiasaanku ini juga suka muncul gak tahu aturan. Masa ketika aku harus menyelesaikan laporan yang semakin mencekik, aku malah tiba-tiba ingin nulis puisi? Atau malah inspirasi menggambar datang? Dan aku lebih sering kalah dengan mereka-mereka itu. Sampai aku marah-marah pada diriku sendiri, tapi juga memuji-muji diri sendiri. (Soalnya puisi atau gambar yang kubuat jadi bagus. hehehe)

Lebih seringnya adalah aku mengkonsumsi waktuku untuk mengerjakan tugas kerja dan hobi yang bermacam-macam tanpa ada urutan jelas. Pindah-pindah sesuka hati. Dan semakin ke sini aku semakin terbiasa dengan cara itu.

Meskipun ke-gagal-an fokus yang ada padaku ini sudah terlanjur akut, aku masih ingin tetap memegang satu prinsip dasar yang penting: Tepat Waktu! Aku selalu percaya bahwa apapun itu, lebih baik tidak sempurna asal tepat waktu daripada sempurna tapi telat. Seperti saat dulu masih ngampus, kalau mengumpulkan tugas tepat waktu meskipun hasil kopas (hehehe..ngaku) bisa dapat nilai 7. Kalau ngumpulinnya telat, meskipun hasilnya sempurna tapi nilainya dikurangi (karena telat). Biasanya dikurangi 3, jadi meski dapat nilai sempurna 10 tetep jadinya 7. Sama saja! Hahaha.. 
Nah, aku juga begitu. Meskipun aku kerja dengan cara yang acak, tapi biasanya tetap kuselesaikan jika memang waktunya harus selesai. (Pernah juga sih telat sekali-kali. ;) ) Jadi jangan heran, jika aku selalu mengerjakan satu hal, sedikit-sedikit, berselang-seling, dan tak pernah fokus. 

Dulu pernah juga agak marah dengan diriku tentang ini, tapi kemudian aku semakin kenal diriku dan berdamai dengannya, bahwa aku memang begini. Apakah aku menyerah? Ini bukan urusan menyerah atau tidak mau merubah kebiasaan. Aku rasa ini sudah menjadi gaya atau style yang tiap orang pasti beda. Aku berasumsi bahwa memang dari otakku kerjanya acak, tidak beratur seperti juga kondisi meja kerjaku yang isinya campur-campur. 

Jadi ingin bertanya lagi, "Aku ini multi-tasking atau cuman gagal fokus?" 


Aku dan ruang kerjaku :)



Kau yang dulu pernah bertahta Dewa
Kini tertelan kabut kelabu

Aku yang tak pernah berani menatapmu
Kini terang-terangan menantangmu dengan telanjang mata

Kau tak kuasa menembus tabir
Bahkan bulan malampun lebih bersinar

Sesekali kau nampakkan wujud di sumur langit
Satu lubang dalam yang berhasil kau singgahi
Satu titik yang mampu kau silaui
Melihatkan lapisan kelabu yang berangsur putih
Sebuah lubang di langit
Dan kau di dalamnya
di dasar sumur itu
di atasku


Apa kamu pernah tak sengaja buka website xxx di Ipad lalu tak sengaja memasukkannya ke daftar bacaan atau reading list. Waduh! Bahaya! Bagaimana jika ada yang melihatnya? Ketahuan kan kalau kita buka-buka website aneh-aneh. Harus segera dihapus ini! Gimana cara menghapusnya? Tak ada tanda-tanda untuk penghapusan. Ah, coba hapus di history and data. Erased - Terhapus! Cek lagi di reading list,.. Eeeehhh,.. masih ada juga! Ampun Emak,... iyeu kumaha atuh ngehapusna? Hehehe... Secuil latar belakang pengalaman newbie Ipad lagi. Hehehe...

Untuk pengguna baru, mungkin hal-hal sederhana semacam ini bisa membuat pusing kepala. Tentu saja ini tidak berlaku bagi mereka yang doyan nanya ke Google. Nah, akupun sempat pusing kepala karena telat nanya ke Google. Padahal gampang banget menghapus reading list. Gimana caranya?

"Untuk menghapus bookmark, tinggal tarik bookmark ke kiri. Setelah itu muncul pilihan 'delete'. Tinggal hapus deh."

Yang masih gak ngerti juga, lihat video di bawah. (Orang yang bikin video ini pasti tahu banget ya jika banyak newbie Ipad yang kebingungan sama hal-hal sederhana kayak gini. Makasih bro!)






Padahal begitu doang, tidak sampai 1 menit beres. Hehehe.. Pengalaman baru yang sempet bikin keringat dingin netes-netes seember.

Enjoy your gadget!

Img source: here

"Bersenang-senanglah. Karena hari ini akan kita rindukan di hari nanti. Sebuah kisah klasik untuk masa depan."



Mendengar lagu ini membawaku kembali pada masa-masa yang tak terulang. Pada waktu ketika aku menjadi bagian dari sejarah bagi hidup sejumlah manusia yang juga menjadi bagian sejarahku. Orang-orang yang kusebut teman dan sahabat. Orang-orang yang bahkan mungkin dalam kurun waktu tertentu di masa lalu itu, lebih dekat dari keluargaku sendiri. Ah, rasanya jadi rindu. Bahkan dulu ketika aku menyanyikan lagu ini bersama kalian, aku sudah membayangkan hari ini. Hari ketika aku sendiri, menuliskan betapa rindunya aku akan sepotong kisah yang aku tahu tak mungkin ada lagi.

Sedihkah aku? Mungkin tidak. Justru aku bahagia. Aku bahagia karena aku bisa puas menghabiskan waktu itu bersama kalian, bersenang-senang dan gila bersama. Tak ada yang kusesalkan karena aku merasa memiliki 'sebuah kisah klasik' yang bisa kubanggakan saat ada yang bertanya, "Apa yang kamu lakukan dulu?". Dan lewat kisah yang kusampaikan, akan selalu muncul kalian, orang-orang yang pernah membuatku merasakan ikatan, yang mereka sebut persahabatan. 

Ketika tak sengaja aku mendengar lagu ini, muncul mereka di otakku: 2.3 , PERSADA, paskib 009, X-MPCA 04, L-IPB KJ, The Divas Company, dan sejumlah kawan lain terutama mapala se-Indonesia yang pernah kutemui. Kalian membuat waktuku menjadi meriah kawan! 

2.3 , Kelas terbaik di masa abu-abu yang penuh warna


2.3 , teman di kelas juga teman di gunung. :)


PERSADA - You rock guys!


Paskib 009. Selalu di hati juga.


x-mpca 05. Apapun yang terjadi, aku cinta kalian kawan..


Lawalata IPB - KJ 06. Kita tetap jadi angkatan yang paling KJ ya.. Kagak Jolas.. hehehe


TWKM 06. Pernah suatu masa aku juga sempat gila bareng kalian.


The Divas. Udah gak tahu deh, mau ngomong apa tentang kitah.. :)


Memang benar waktu tak akan kembali, tapi kita bisa bernostalgia. Bertukar cerita dan membayangkan masa lalu yang kita bagi. Mungkin saat ini jarak aku dan kamu jauh terbentang. Aku di sini dan kamu di sana. Aku hanya tukang tahu sedang kamu pengusaha kaya. Aku artis dan kamu kyai. Ah, peduli apa! Waktu ini bukanlah milik kita. Biarkanlah roda jaman menggilas kita, seperti kata Ebiet G Ade. Tapi waktu yang pernah kita bagi di masa lalu adalah nyata. Itulah milik kita. Hingga jika suatu saat kita bertemu lagi, tak perlu kau risaukan masa kini, karena kita masih punya masa lalu yang akan selalu menjadi harta kita, kisah klasik kita, yang jauh lebih berharga daripada pilihan hidup saat ini yang seperti tak pernah peduli.

Aku merindukan kalian. 

"Mungkin diriku masih bersama kalian. Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian." - Sheila On 7


(Sedikit mewek dan berkaca-kaca tapi karena bahagia. Hiks-hiks-hiks..)








Tentang bunga atau lebih senang kusebut kembang. Betewe kembang itu awalnya bahasa apa ya? Jawa atau Indonesia atau malah Sunda? Ada yang tahu? Silakan tinggalkan komennya di bawah. :) Ada gak sih wanita yang tak suka kembang? Kayaknya gak ada ya? Kalau kamu suka gak sama kembang? Aku? Ya pasti suka karena aku juga wanita. Hehehe... Malah kemana-mana. 

Nah, di sini aku ingin sedikit bercerita tentang kembang di Kota Mawar - Portland - The City of Rose. Ibu kota negara bagian Oregon di Amerika Serikat ini memang bisa dikatakan sebagai Kota Kembang-nya negeri Paman Sam. Tidak hanya kembang mawar warna-warni segala rupa yang bisa ditemui di sini, tapi juga banyak sekali kembang lain yang hidup di tanah ini, dari bunga budidaya sampai bunga liar yang tumbuh di gunung-gunung hingga di tepi jalanan. 

Pesona bunga di Portland dan umumnya Oregon, telah membuatku jatuh hati. Betapa tidak? Bunga segala rupa menghias di halaman-halaman perumahan tempat aku tinggal. Jalanan menuju stasiun kereta dihiasi oleh bunga liar di tepiannya. Bahkan bukit kecil di belakang tempat kerja juga dihampari oleh rerumputan berselipkan bunga indah memanjakan mata. Ah, rupanya aku datang di kota ini saat akhir musim semi, waktu sempurna untuk menyaksikan semarak bunga di sini. Aku disuguhi pemandangan indah sejak pertama kali menginjakkan kaki di benua baru ini. 

Sungguh seluruh rasa dan indra dimanjakan olehNya. Terimakasih Tuhan, untuk kesempatan dan untuk kehidupan, serta untuk hati yang masih dan semoga selalu terbuka. 

Berikut aku coba bagi sejumlah wajah-wajah ayu kembang-kembang di Portland dan sekitarnya. Siapa tahu, mungkin ada yang terinspirasi atau sekedar mensyukuri ciptaan di bumi yang sama-sama kita tinggali ini. 

Bunga Chicory yang banyak tumbuh di pinggir jalan.


Bunga Daisy yang banyak tumbuh di bukit belakang kantor WFC


Bunga liar di tepi jalanan.


Bunga liar - Mt Hood


Bunga liar - Mt Hood


Bunga liar - Mt Hood


Bunga liar d Mount Hood


 Bunga Anyelir di depan rumah tetangga di Cedar Mill

 Bunga Viola di halaman belakang rumah tempat tinggalku