A Journey to Tampo Bada (6): Rumah Adat Bada

// // Leave a Comment

16 Mei 2013



Rasa-rasanya hari ini aku butuh mengisi ulang batere tenagaku. Lelah sisa berjalan kaki kemarin baru terasa pagi ini. Aku bangun jam 6.30. Ketika aku keluar kamar jam 7.30 Ibu Femi sudah berangkat mengajar di SD. Ibu Femi adalah guru agama di SD desa ini. Sarapan jam 8.00 dengan lauk telor dadar dan sayur hijau. Yummy,...

Sampai menjelang siang aku ditemani oleh Kak Titi bersama anaknya si Verna, Vira yang sedang libur menunggu hasil UN SMPnya, Bang Adi yang ternyata adalah guru olahraga  SMP di Kageroa, dan Bang xx (God, lupa lagi) yang pada awalnya kupanggil bapak namun bilang bahwa dia masih pemuda hehehehe.  

Aku sedang membuka kembali file tulisanku tentang sejarah Bada. Aku ingin menanyakan bagaimana sejarah Bada pada mereka. Bagaimana kisah-kisah ini disampaikan antar generasi dan bagaimana menjaganya. Jika kemarin aku sudah menanyakan pada Ibu Femi yang memang concern- di masalah adat-beradat, kini saatnya menanyakan pada orang umum. Kutanyakan pada Kak Titi tentang sejarah Bada, tentang Wiri Bangko, dan Lapabada. Dia menjawab bahwa dia juga mengetahui tentang sejarah itu meskipun tidak terlalu lengkap. Yang menarik adalah dia mendapatkan cerita itu dulu ketika kecil melalui dongeng sebelum tidur yang diceritakan nenek dan ibunya. Kutanya ke Vira, dan dia juga mengaku pernah mendengar cerita itu dari neneknya. Kak Titi pun katanya juga menceritakan kisah itu ke anaknya, Yeyen dan Verna.

Transfer informasi tentang sejarah Bada dilakukan oleh para perempuan terhadap anak-cucu mereka. Jika memang ini adalah caranya, maka semua terjawab sudah pertanyaanku tentang transfer informasi. Dongeng sebelum tidur memang menjadi cara ampuh untuk mewariskan pengetahuan. Setidaknya itu yang kuyakini.
-----
Siang ini aku awalnya aku akan diajak ke kebun sayur milik Mama Dini (Orang di sini memanggil perempuan yang sudah punya anak dengan panggilan Mama plus nama anak pertamanya. Misalnya Mama Dini yang memilki dua anak yaitu Dini dan Gledis, tetap saja dipanggil Mama Dini). Karena ada duka/layat di Gintu, maka Mama Dini harus pergi ke acara itu dulu. Aku menunggu sesiang itu yang dihiasi hujan turun cukup deras meskipun tidak deras. Dan Mama Dini tidak kunjung datang.
----


Sekitar menjelang sore, Ibu Femi datang dan mengajakku berbincang. Hujan sudah reda. Kami memperbincangkan banyak hal, yahh senang juga rasanya bisa berdiskusi banyak hal, mulai dari hubungan antar manusia, bahkan pengalaman hidup yang dapat dijadikan pelajaran berharga. Ibu menceritakan tentang anak semata wayangnya yang saat ini sudah hampir lulus SD bernama Praska. (Ibu Femi dipanggilnya Mama Aka – panggilan imut Praska J). Terlihat sekali Ibu Femi sangat menyayangi anak laki-lakinya yang kalau menurutku berparas gagah seperti tentara. Hehehe...

.......

Ini Praska

Tidak berapa lama kemudian Mama Dini datang, mengabarkan jika tadi dia sempat terjebak hujan deras di Lengkeka, di depan kantor kecamatan Lore Barat. Sambil menunggu hujan dia makan indomie dulu (Penting gak ya ini? Hehehe). Acara pergi ke kebun pun gagal. Hujan masih menakutkan untuk dilawan. Apalagi lokasi kebun cukup jauh. Kemudian jalan-jalan dialihkan saja ke sekitar permukiman. Sekitar pukul 4 sore aku dan Bu Femi mulai berjalan-jalan.



Rumah adat Bada

Pertama-tama kami mulai ke rumah adat. Jika kemarin aku hanya melewati rumah adat ini, maka hari ini aku memasukinya. Rumah adat yang terbuat dari kayu. Karena aku agak malas menulis hari ini, jadi mending kupasang saja foto-foto rumah adat itu.

Rumah adat ini sengaja dibuat memang untuk display bagi orang-orang yang ingin tahu tentang rumah nenek moyang masyarakat Bada jaman dulu. Selain itu juga untuk pengetahuan bagi anak-anak Bada tentang sejarah mereka. Lokasi rumah adat ini tepat di samping gereja besar sehingga cukup strategis. Meski berdebu, namun rumah adat ini masih sangat kokoh. Di dalamnya banyak replika peralatan-peralatan yang dulu digunakan oleh orang bada seperti belanga, kain dari kulit kayu, bakul, kantong sirih, gelas saguer, dan banyak barang-barang lain.

Letak perapian berada di tengah-tengah ruangan tunggal rumah. Tujuan perapian di tengah ini adalah untuk memberikan kehangatan yang merata bagi seluruh penghuni rumah




....................
Selesai dari rumah adat kami melanjutkan menuju jembatan desa yang melintas di atas Sungai Tuare. Ada beberapa bapak-bapak sedang memancing ikan dan seorang lagi menjala ikan. Aku sempat mendatangi sebentar dan seorang bapak yang memancing memberiku buah langsat sekantong. Hehehe... lumayan.  Perjalanan dilanjutkan dan kami mengunjungi tempat gilingan padi. Di tempat inilah masyarakat menggilingkan padi hasil sawahnya. Biaya penggilingan berupa beras juga, dipotong dari jumlah beras yang digiling. Setelah dari penggilingan kami menuju saluran irigasi.

Seperti kemarin, kami berjalan melintasi saluran irigasi. Namun kali ini arahnya terbalik, kami berangkat dari saluran yang paling dekat dengan kampung. Di sepanjang aliran irigasi, di belakang rumah-rumah penduduk, kulihat beberapa kandang babi dan beberapa kolam ikan. Babi adalah ternak penduduk Tuare yang cukup menguntungkan. Selain makanan dan perawatannya mudah, harga daging babi juga cukup baik. Harga sekilo daging babi yang masih kotor adalah 30ribu sedangkan yang sudah daging bersih mencapai 40ribu. Karena hampir di setiap kegiatan dan upacara, misal kematian, kelahiran, perkawinan banyak menggunakan babi, maka pemasaran babi cukup mudah meski hanya di dalam satu wilayah saja. Karena itulah banyak masyarakat memelihara babi. Sebagian besar babi dikandangkan dan hanya sejumlah kecil saja babi yang diliarkan/ dibiarkan di luar kandang.

Suasana persawahan menjelang senja sungguh indah. Benar-benar mempesona. Meski batere  kamera sudah mulai low,  namun kupaksakan dia bekerja menangkap momen2 senja ini. Sayang sekali terlewat.
Kami kemudian pulang mengingat hujan gerimis mulai turun. Kami sempat kehujanan meski tidak kuyup. Sesampai di rumah aku minum air putih hangat dan kemudian mandi.

Malam ini aku mulai mendekati anak-anak kecil. Aku coba temani mereka belajar. Aku gambarkan Gledis, anak kecil 5 tahun ini sebuah gambar untuk diwarnai. Ternyata memang menyenangkan bermain bersama anak-anak. Kali ini juga banyak anak-anak berkumpul di sekitarku. Ada Gledis, Dini, Yeyen, Verna, Piyu, Praska, Viktor, dan Vira (meski dia sudah ABG J). 

Malam ini makan dengan sayur dan ayam. Sungguh ayamnya enak banget bumbunya. Sayangnya dagingnya agak alot. Hehehe... ayam kampung sih, suka lari-lari jadinya berotot semua.
Sehabis makan aku diajak menonton tivi, nonton Take Me Out, acara cari jodoh yang pasti skenario. Ternyata acara ini sangat populer di Tuare. Aku menolak nonton. Mending aku tidur saja. hehehe. Jam 9 malam aku kembali ke kamar.


Ritual dimulai: Nulis, Plan besok, Ngapal Vocab, (Sungguh sebenarnya ingin banget nonton dorama tapi tidak mungkinL),tidurr......

Journey 5: Bonde, Sepe, Palindo  <---before -----="" next----=""> Journey 7: Birunya langit Bada

0 komentar:

Posting Komentar