(Baru saja merapihkan file-file di laptop dan nemu catatan harian penelitianku untuk skripsi dulu. Penelitian yang berjudul "Perubahan Pola Interaksi Masyarakat dengan Hutan ".  Tahun 2011 tepatnya aku melakukannya, tak terasa udah 3 tahun lalu. Daripada ngendon di laptopku mending aku unggah saja di sini. hehehe. Akan aku bagi-bagi beberapa part berdasar hari )

Persawahan di Sukagalih, Cipeuteuy 

Hari 2

Minggu, 15 Mei 2011

Hari ini minggu, dimulai dari setengah tujuh pagi. bangun pagi dengan sapaan mentari yang langsung menyilaukan jendela timur dari kamar tempat aku menginap di rumah berlantai dua milik orang tua A Kosar.
Hari ini rencana untuk jalan-jalan. Dalam bahasa  penelitian aku pakai istilah observasi. Obyek observasi adalah pola pemukiman warga, pola pertanian di dalam dan luar kawasan hutan, serta sosek nya. 
Hari ini tidak banyak yang bisa kutulis. Buntu rasanya. Perlu mungkin sesekali seperti ini :-(  

Aku pun pulang ke Bogor dulu untuk kemudian balik lagi 2 minggu lagi :-) 


 ________________REAL FIELD WORK_______________________

HARI 3

Senin, 30 Mei 2011

Hari ini adalah hari pertama aku memulai mengumpulkan data di lapangan. Dalam rencana dua minggu ini, aku akan mengoptimalkan waktu dan tenaga serta pikiran untuk tugas ini. J

Berangkat dari bogor jam setengah delapan pagi dan sampai di lokasi pukul sebelas kurang sepuluh menit. setelah berbincang-bincang sebentar, dilanjutkan agenda pertama yaitu mengurusi surat perijinan kepada pemerintah desa. Dari alur surat yang dianjurkan oleh kampus, seharusnya harus mengurus perijinan terlebih dahulu ke linmas kabupaten untuk selanjutnya tembusan ke kepala desa. Surat untuk kepala desa pun sebenarnya ditujukan kepada linmas kabupaten. Namun dengan pertimbangan jauhnya jarak kantor pemda yaitu di Pelabuhan Ratu, maka aku mencoba untuk langsung tembak ke desa. Dan hasilnya pun memuaskan, ijin langsung didapatkan dan agenda selanjutnya langsung dapat secara resmi dilakukan.

·         Data monografi desa sudah sebagian didapatkan. Saat ini di kantor kelurahan sudah dapat meminta data dalam bentuk print out, sehingga tidak perlu lagi mencatat atau poto kopi. Data ini sebagai bahan untuk kondisi umum. Design penelitian untuk penarikan contoh berdasarkan jumlah KK dengan tipe kepemilikan lahan tidak bisa dilakukan karena kebanyakan petani yang menggarap lahan perkebunan tidak terdaftar, sehingga cara ini ditinggalkan. Data kepemilikan lahan yang terdapat di kelurahan hanya lah lahan masyarakat yang memiliki sertifikat/akta jual beli/girik/SPPT.

·         Wawancara dilakukan pada sore hari dengan pertimbangan bahwa jika waktu pagi-siang banyak masyarakat yang bekerja di lahan pertanian. Jam 4 sore kami (aku, Izah, Andi, Mbak Itok) berjalan menuju calon responden pertama yaitu Pak Basri yang rumahnya sekitar 30 meter-an dari rumah A Kosar. Pak Basri adalah ustaz di lingkungannya dan lebih dikenal dengan Ustaz Basri. Kebetulan sekali rumah Pak Basri juga bersebelahan dengan musholla yang menurutku tidak terlihat seperti musholla karena kondisinya yang cukup tua dengan tembok yang mulai lapuk. Hari ini Pak Basri tidak ada di rumah dan sedang di rumah anaknya di Tangerang. Dan wawancara dilakukan dengan istrinya yaitu Ibu Rohanah.

·         Ibu Rohanah adalah orang yang ramah dan suka bercerita. Senang sekali mengobrol dengan dia, namun karena kendala bahasa, perjalanan wawancara menjadi kurang lancar. Pak Basri dulu adalah seorang Polisi khusus atau polisi hutan yang bekerja di Perhutani. Bapak bekerja di Perhutani membantu perhutani dalam penjualan kayu2 jika ada tebangan. Saat ini bapak basri bekerja sebagai petani dengan lahan milik dan eks HGU dengan luas yang cukup besar sampai ada lahan yang terlantar di daerah yang cukup jauh.
Interaksi yang dilakukan dulu adalah pengambilan kayu (pembelian kayu) di hutan perhutani sewaktu ada tebangan kira-kira 30 tahun yang lalu. Sekitar tahun 1980-an. Bapak tidak bertani di hutan maupun memanfaatkan hasil hutan lain.

Informasi dari Ibu Roh, dahulu pada awal pemakaian lahan eks HGU oleh masyarakat sekitar tahun 96-97 terdapat beberapa oknum di masyarakat yang meminta pungutan dari pemakaian lahan tersebut. Namun hal itu hanya sebentar terjadi karena masyarakat mengetahui bahwa pungutan itu tidak resmi dan hanya untuk kepentingan pribadi oknum tersebut. Saat ini lahan tersebut bebas pajak, bahkan sudah mulai diperjual belikan.

·         Pada malam hari kami mengikuti pelatihan koprasi yang dilakukan oleh Telapak terhadap 5 dusun di desa ini. Sepertinya masyarakat tertarik untuk membentuk koprasi. Di acara ini, sempat bertemu Pak Otoy yang 2 minggu lalu sempat memberikan banyak informasi tentang tumpang sari jaman dulu sebelum dia tinggalkan.


·         Bertemu dengan Pak Nana yang adalah sama seperti Pak Otoy, dahulunya adalah petani penggarap lahan perhutani yang sekarang beralih bertani di lahan eks HGU. Rencananya besok sore atau malam, aku akan mewawancarainya. Semoga bisa bertemu.



(Baru saja merapihkan file-file di laptop dan nemu catatan harian penelitianku untuk skripsi dulu. Penelitian yang berjudul "Perubahan Pola Interaksi Masyarakat dengan Hutan ".  Tahun 2011 tepatnya aku melakukannya, tak terasa udah 3 tahun lalu. Daripada ngendon di laptopku mending aku unggah saja di sini. hehehe. Akan aku bagi-bagi beberapa part berdasar hari )
Desa Cipeuteuy, Kabandungan, Sukabumi berbatas TNGHS

HARI 1
Sabtu, 14 Mei 2011

Setelah  keraguan untuk mendatangi Cipeteuy hari ini, ternyata aku jadi juga datang ke tempat ini. Sekitar 4 jam perjalanan dengan motor sewaan melalui jalanan sukabumi yang macet. Terimakasih banyak untuk Benn Siregar, karena hanya dengan kebaikannya dan kesediaanya untuk mengantarku kesini, aku dapat sampai di desa ini dengan baik. Thanks a lot.

Jam 4 sore, aku sampai di Desa Cipeteuy dan langsung menuju rumah A Kosar. Beruntung sekali aku langsung dapat menemuinya. Langsung ke poin penting hari ini, yaitu tujuanku untuk menjajagi penelitian yang akan mengantarku menjadi seorang sarjana (Amiinnnn).

Dalam trip pertamaku ini, tujuanku adalah :
1.       Untuk mengetahui apakah terjadi perubahan pola interaksi antara masyarakat dengan hutan berdasarkan design  pola yang telah dibuat: yaitu berdasarkan penggunaan lahan.
2.      Jika terjadi perubahan, bagaimanakah bentuk2 pola interaksi dan perubahannya yang dilakukan oleh masyarakat terhadap hutan
3.       Mendapatkan daftar orang-orang yang melakukan perubahan interaksi dengan hutan.

Dari ketiga tujuan tersebut, yang pertama cukup menyenangkan jawaban yang kuperoleh, karena pada obrolan pertama dengan A Kosar yang aku kategorikan sebagai seorang tokoh desa mengiyakan asumsiku. Asumsi bahwa di desa ini telah terjadi perubahan pola interaksi seperti yang aku bayangkan.

Hasil diskusiku dengan A Kosar hari ini:

-          Hutan di desa ini semuanya merupakan hutan bagian dari kawasan TNGHS yang sebelumnya berstatus Perhutani. Batas desa berada di tengah hutan (saat ini sedang ada kegiatan pemetaan batas luar desa) --(Cari peta eks Perhutani dan batas desa. Lokasi dilakukan PHBM. (di kantor Perhutani? Internet? ) )

-          Pemanfaatan hutan/lahan hutan oleh masyarakat melalui skema PHBM yang dimulai sejak tahun ? . pemanfaatan lahan berupa tumpang sari, dll. Dusun2 yang paling banyak masyarakat ikut PHBM adalah Dsn Leuwiwaluh, Pandan Arum, dan Cisarua. Hal ini terkait dengan lokasi dusun yang lebih dekat dan berbatasan langsung dengan hutan. Sedangkan dusun Cipeteuy dan Arendah lebih sedikit yang ikut PHBM.  ---(Cari informasi tentang Program Perhutanan Sosial dan PHBM. Esp Di Cipeteuy)

-          Perubahan pemanfaatan lahan hutan oleh masyarakat terjadi. Jika dikaitkan dengan definisi perubahan pola interaksi yang dibuat sbb:
ü  Dari petani pengguna lahan menjadi tidak. Hal ini terjadi pada beberapa petani yang dahulunya mengikuti program PHBM, namun saat ini telah menghentikan aktifitas tersebut. Info lebih lanjut dapat menghubungi Kepala Dusun Cipeteuy Bapak Otoy yang termasuk dalam golongan ini. Pak Otoy adalah petani di hutan di Dusun Cisarua.
ü  dari tanpa penggunaan lahan menjadi pengguna lahan. masyarakat yang awalnya bekerja di perkotaan (sebagai buruh, pedagang, penambang,dll) kembali pulang ke desa dan memilih untuk bertani di hutan dan ikut dalam program PHBM. Alasan yang digunakan umumnya adalah karena penghasilan di kota juga tidak memberikan hasil banyak, sedangkan mereka juga harus lama jauh dari rumah.  Hal ini terjadi kampung Cisalimar1, Cisalimar2, dan sekitarnya. ---(Wawancara tokoh Kampung Cisalimar, dan terkait)
ü  Penggunaan lahah untuk pertanian terbuka (kebun sayur, sawah) juga terjadi di dusun Leuwiwaluh.

-          Informasi tentang Perhutani dapat di akses di Kantor KPH di Cicurug. Sedang informasi dari perorangan yaitu dapat menghubungi Pak Endang (saat ini masih bekerja di Perhutani) dan Pak Ne’an yang dulu bekerja sebagai mandor Perhutani (kemungkinan Pak Ne’an mempunyai dokumen tentang PHBM). Keduanya tinggal di Dusun Cisarua.

-          Pernah dilaksanakan program MKK di desa ini, namun dinilai kurang berhasil cenderung gagal dan tidak berkontribusi apapun.
-          Konflik terbaru pada April 2011, program penghijauan oleh TN dan BPDAS ditentang oleh masyarakat karena kurangnya pendekatan dan sosialisasi yang baik kepada  masyarakat.
-          Kepala Desa Pak Acun Sunandar dapat menjadi sumber informasi, versi resmi pemerintah desa
-          Tidak ada tokoh desa yang besar yang mampu memobilasi massa. Masyarakat cenderung sendiri2.
-          Sebagian warga pendatang adalah warga yang membeli tanah eks HGU Intan Hepta. 

Next hari 2
Teh kotak adalah teh kesukaanku. Teh favoritku meskipun serbuan teh-teh kemasan lain membanjiri negeriku. Teh kotak tetap primadona yang selalu menarik hatiku. Hanya Teh Kotak yang mampu membawa kesenangan dan kenikmatan melebihi rasa teh itu sendiri.

Kisah berawal ketika dulu. Awal tahun 90'an. Aku masih bocah ingusan yang pemalu dan pendiam. Dalam keluarga yang bersahaja aku dibesarkan. Kala itu air AQUA pun masih menjadi barang aneh, langka, nggak lazim. "Banyu kok didol" ,  Air kok dijual. Dan Teh Kotak yang melegenda itu sudah ada di sana. Nangkring bersama barisan air AQUA yang masih jarang pembelinya. Ya, aku pernah melihatnya ketika itu.

Seperti sebuah mimpi rasanya untuk bisa mencicipi  minuman dalam kemasan itu. Jangankan 'Teh Kotak', beli es lilin pun harus kutahan. "Ojo kakehan jajan", jangan kebanyakan jajan. Melihat teman-teman menjilati es lilinnya menjadikanku meleleh, menetes-netes seperti es dingin yang sedang dijilat itu. Pingin banget. Sedih. Boro-boro ngrasain teh kotak, kepikiran juga tidak pernah. Itu pasti mahal.

Suatu hari, samar-samar dalam ingatan pernah temanku meminumnya. Aku tidak yakin tapi rasanya pernah. Sumpah penasaran setengah mati. Seperti apa rasa minuman itu? Apakah sama seperti teh manis yang kuminum saat hajatan tiba? Atau teh manis di warung budheku ketika hari Pahing tiba? Atau teh bikinan ibuku yang saat ini aku lupa rasanya (karena jarang dibuatkan) ? Entah.

Budhe Yati, itulah budheku. Kakak perempuan bapakku yang baiknya tak kalah dari orang tuaku sendiri. Suatu hari memberiku minuman itu : TEH KOTAK. Minuman yang selama itu hanya dalam imajinasiku, tiba-tiba nyata ada di genggamanku. "Nyoh, diombe" mungkin itu katanya. "Ayo diminum" kedengarannya. Kupandangi kotak coklat itu dalam genggamanku. Kulihat-lihat dulu baru kemudian saat aku kembali sadar di dunia nyata kutusukkan sedotan di lubang alumunium kemasannya. Kusedot dan rasanya ... Enak. Manis. Segar. Itulah pertama kalinya aku minum Teh Kotak. Teh yang mahal dan hanya anak orang kaya yang membelinya. Aku meminumnya. Horeee.....

Sampai saat inipun momen-momen masa kecil selalu indah dikenang. Meskipun semakin pudar dalam ingatan, rasa itu tetap ada. Teh Kotak adalah salah satu jembatanku menuju masa kecilku, di rumahku, di kampungku, bersama keluarga dan teman-temanku. Rasa manis Teh Kotak yang tak berganti seakan melemparkanku ke masa-masa itu. Ketika Budhe Yati memberiku sekotak teh mahal yang rasanya sungguh luar biasa.

Terimakasih Teh Kotak. Meskipun banyak teh-teh lain, aku tetap setia padamu. Karena hanya kamu yang bisa memutar waktuku. Semoga bonus 50% mu akan selamanya berlanjut. Semoga kemasan klasikmu tidak berubah-ubah. Dan semoga aku masih bisa menikmatimu sambil membayangkan masa kecilku.

Img source: here

Title : Saikou no Rikon/ The Great Divorce
Genre : Romantic comedy
Episode : 11
Broadcast year: Jan - March 2013

Cast:

Eita as Hamasaki Mitsuo
Machiko Ono as Hamasaki Yuka
Ayano Go as Uehara Ryo
Maki Yoko as Uehara Akari 


The Great Divorce, Perceraian yang Hebat itulah judul dorama yang sangat menggoda minatku untuk melihatnya. Perceraian kok bisa hebat. Ya itulah hebatnya Saikou no Rikon. Dorama tentang lika-liku kehidupan dua pasang manusia  yang mencoba hidup bersama dalam status pernikahan.  Tidak hanya kisah romantis biasa dalam kisah cinta, Saikou no Rikon mengungkap banyak sisi lain pernikahan yang rumit dan penuh kejutan. Dorama yang cerdas dalam balutan dialog-dialog lucu namun penuh makna dari para karakter utamanya. Pantas saja dorama ini banjir penghargaan salah satunya sebagai drama terbaik dari Television Drama Academy Award ke 76 tahun 2013.
Saikou no Rikon menceritakan tentang kehidupan dua pasangan, yaitu Hamasaki Mitsuo - Hamasaki Yuka dan pasangan Uehara Ryo dan Uehara Akari. 

Hamasaki Mitsuo adalah seorang salariman (karyawan) biasa yang sangat kaku, terus terang, sinis terhadap apapun, dan terlalu rapi. Hamasaki menikah dengan Yuka yang memiliki sifat berkebalikan, berantakan, sedikit urakan, dan selalu bercanda. Kehidupan pernikahan mereka berjalan selama 2 tahun dan hampir setiap saat terjadi pertengkaran karena berbagai hal. Hingga suatu saat mereka memutuskan untuk bercerai. Meskipun demikian mereka merahasiakannya dari keluarga dan masih tinggal bersama dalam satu rumah.

Machiko Ono dan Eita @Saikou no Rikon
img source: here
Di sisi lain, Uehara Ryo yang seorang playboy dan flamboyan berpasangan dengan Uehara Akari yang feminin rapi dan cenderung pendiam. Secara tidak sengaja Akari bertemu dengan Hamasaki Mitsuo yang adalah mantan kekasihnya ketika masih kuliah. Hamasaki yang belum lama bercerai pun akhirnya CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) dengan Akari. Namun Akari mengatakan telah menikah dan mencintai suaminya. Fakta yang mengejutkan diketahui belakangan ketika ternyata suaminya, Uehara Ryo tidak pernah mendaftarkan pernikahannya di kantor distrikl. Itu artinya Ryo dan Akari tidak pernah menikah dan bukan suami-istri. Bagaimana kehidupan dua pasangan yang unik, aneh namun sesungguhnya dekat dengan kita itu? Saikou no Rikon akan memberikan cerita lain dibalik gemerlapnya status pernikahan dan rapuhnya hubungan antar dua manusia. Tentunya dalam drama komedi yang sangat menghibur.

Menguliti Dorama

Saikou no rikon membalut seluk beluk kehidupan pernikahan dengan cara yang lucu, cerdas, dan unik. Rasa yang berbeda benar-benar aku rasakan ketika menonton dorama ini. Seperti mencoba menu baru di restoran lama. Menunya sih biasa: dorama kisah cinta, barunya adalah cara penceritaannya. Dibanding adegan-adegan romantis dan kalimat-kalimat basi, Saikou no rikon lebih banyak memakai dialog-dialog unik  tokohnya sebagai kekuatan utama dengan adegan-adegan keseharian biasa yang wajar-wajar saja.

Di awal setiap episode selalu dimulai dengan 'monolog'  4 karakter utamanya. Bukan monolog sih, tokoh-tokoh tersebut sedang ngobrol dengan orang lain dan menceritakan kehidupannya. Misalnya saja Hamasaki Mitsuo yang sering curhat dengan asisten dokter giginya, Uehara Ryo dengan orang yang sering ditemuinya di taman, Yuka sering curhat di kedai minum, dan Akari yang curhat dengan teman saunanya. Nah, omongan-omongan tokoh utama itu menjadi sangat penting karena sering berisi kejadian-kejadian yang tidak digambarkan secara visual di doramanya. Misalnya ada kejadian Mitsuo jatuh, di doramanya tidak diperlihatkan, namun melalui omongan tokoh-tokohnya rasanya kita bisa melihat si Mitsuo ini jatuh. The power of words. Salut buat penulis skenarionya: Sakamoto Yuji.

Lanjut di bawah
Dan uniknya, 4 tokoh utama itu menceritakannya satu hal berdasarkan sudut pandangnya masing-masing dan pastinya berbeda. Yang perlu diperhatikan adalah dialognya cepat sekali. Untuk penonton yang tidak paham bahasa Jepang dan perlu membaca subtitel terkadang harus ekstra usaha. Terkadang banyak juga kata-kata yang susah dipahami, meskipun jika di skip juga tidak menjadi masalah.

Karakterisasi empat tokoh utama 'dapat banget' menurutku. Empat-empatnya memiliki karakter yang kuat dan khas. Dan para aktor/aktrisnya juga bisa memerankannya dengan baik. Eita sebagai Hamasaki sungguh sangat bikin pangling. Dia tampak berbeda sekali, culun dan menyebalkan. Yah, nama Eita memang sudah tidak perlu diragukan lagi di per-dorama-an. Machiko Ono juga baik memerankan Yuka, begitu pula dengan Maki Yoko dan Ayano Go yang memerankan Akari dan Ryo. Karakter pendukung lain, emm... karena peran mereka memang sedikit jadi bisa dibilang biasa-biasa saja. Btw Eita mendapatkan penghargaan sebagai best actor  dan Machiko Ono sebagai best supporting actress di 76th Television Drama Academy Award. Selamat ya.

Alur dorama ini mudah diikuti dan cukup menyenangkan. Kecuali kalau yang menyukai kisah cinta roman picisan mungkin kurang cocok dengan dorama ini. Kisah cinta di dorama ini tergolong cinta orang 'dewasa' yang complicated. Mungkin yang di bawah umur akan sulit memahami dorama ini. Misalnya saja Uehara Ryo yang selalu saja selingkuh meskipun dia sangat mencintai pasangannya, alasannya karena memang dia biasa begitu dan tidak merasa bersalah untuk itu. Atau Mitsuo dan Yuka yang memutuskan bercerai dengan sangat mudahnya hanya karena pertengkaran sepele dan masih tinggal bersama meskipun telah bercerai. Yah, banyak hal-hal dewasa lain yang akan muncul di dorama ini. Hal yang sebenarnya aneh tapi jika didalami lebih lanjut sesungguhnya itu dekat dengan kehidupan nyata.

Salah satu scene di ending song :-)
Lagu penutupnya berjudul Yin Yang dinyanyikan oleh Kuwata Keisuke tidak boleh dilewatkan. Bukan karena lagunya tapi karena adegannya (meskipun lagunya memperoleh penghargaan juga sebagai lagu terbaik). Keempat tokoh utama akan menari bersama dan berbeda-beda tiap episodenya. Lucu dan menarik untuk ditonton. Pokoknya jangan dilewatkan bagian ini. Sayang.



Menonton dorama ini dapat memberi hiburan sekaligus pengetahuan. Hehehe. Memangnya dorama sains :) . Tepatnya pengetahuan tentang dunia pernikahan. Misalnya saja jika di Jepang itu menikah atau bercerai mudah sekali, tinggal isi formulir daftar ke kantor distrik dan lalu sah. Bahkan yang mendaftarkannya pun bisa orang lain. Bandingkan dengan di sini. Ampun deh, ribet riweh repot. Yang mau nikah siapa yang sibuk siapa. Hehehe... Mungkin nanti kalo susah di sini, nikah saja di Jepang. Sama Yamapi. Hahaha.. Maunya.

Lanjut.
Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam menjalani dunia pernikahan. Menyatukan dua kepala itu bukan hal yang mudah. Diperlukan pengertian dan toleransi yang tinggi dan terkadang hal itu sulit dilakukan. Dalam pernikahan juga perlu komunikasi yang baik. Kejujuran adalah salah satu landasan utama yang perlu dibangun. Kejujuran akan menghasilkan kepercayaan. Dan kepercayaan akan mewujudkan ketentraman. Ciee....

Ya, overall cinta dapat mewujudkan yang tak mungkin menjadi mungkin. Meskipun cinta juga terkadang harus realistis. Karena itulah ada perceraian. Perceraian bukan terjadi karena tak ada cinta, hanya saja cinta yang tak sama. Setiap orang berhak bahagia. Dan pernikahan ataupun perceraian adalah sama-sama jalan untuk mencapai kebahagian. Don't judge just by its word.

Goodpart: Great idea, good dialog, Eita's act, the plot, good ending, scene in closing song.
Badpart: too fast dialog, difficult word.

8/10

---

"Marriage and divorce, both are the way to get happiness. "

More about Saikou no Rikon visit HERE.

Mendung dan hujan selama seminggu di Bogor membuatku bagai orang yang terkungkung dalam kolong. Meskipun kolong langit seluas dunia tapi kolong tetaplah kolong. Terbatas. Terkurung dalam rasa sungkan yang benar-benar membuat kesetanan.

Tidak terbayang ketika waktu seakan tak bergerak. Ketika pagi, siang, sore tak ada beda. Hanya gelap dan terang, pagi dan malam. Selebihnya tak ada. Langit jingga, terik mentari, dan panas surya seakan membawa pergi semangatku bersamanya. "Sudah cukup dong hujannya! Please... ", itu pintaku untuk Dewa Hujan.

Berita-berita banjir di televisi seharusnya memenuhi setiap stasiun acara. Namun nyatanya, meskipun demikian pula, lebih banyak teman-temanku melihat acara biasa. Ternyata gosip infotainment dan FTV lebih sangat menarik daripada berita banjir dan bencana. "Nonton banjir, ngapain?" komentarnya. Ahh,... Aku bisa jawab apa.

Memang tak banyak yang bisa kulakukan untuk banjir dan bencana itu. Tapi setidaknya ingin menunjukkan empati. 'Melalui nonton berita di TV?', 'berkicau di Twitter?', 'pasang status di FB?', atau sekedar doa tanpa suara. Yaelah, itu minimalis banget. Meski aku ragu yang minimalis pun susah dilakukan. Toh lagian rasanya sekedar nonton berita tak akan berpengaruh apa-apa. Sekedar 'mencoba' merasakan derita yang tak mungkin juga berasa. Wong kita bukan yang kena derita, bagaimana cara ngrasainnya coba? Bisa saja ini sok-sok an saja. Biar dibilang bersimpati meski dengan tangan kosong.

Tapi tiba-tiba aku teringat kejadian diberhentikannya acara TV "Hitam Putih" di Trans7 karena kalah rating dengan acara-acara alay di jam yang sama. Artinya adalah acara yang bagus belum tentu diminati orang. Berita banjir dan bencana kalah pamor dibandingkan berita Ayu Ting Ting melahirkan dan Jupe gagal menikah. Aku gak tahu tentang rating lho, ini ngomongin lingkungan di sekitarku saja. Lagipula, ngapain mikir derita orang kalau kita sendiri masih juga menderita. Ngapain juga mikir susah sehabis capek pulang kerja seharian. Mending joged oplosan dan lihat Cesar cengar-cengir di YKS tiap malam.

Eh, kok jadi acara TV? Maksudku adalah bisa jadi nonton berita itu penting juga. Minimal biar acara itu gak kegusur sama acara lain. Maklumlah, rating masih jadi raja. Kali-kali aja.

Jadi,...
Aku yang sedang berada di kolong ini ingin berkata bahwa kami (aku) lelah. Lelah dengan segala yang terjadi ini. Semuanya benar-benar menyebalkan. Rasanya tidak ada yang benar meski tak bisa kubilang semua salah. Semuanya abu-abu kelabu seperti langit Bogor seminggu ini. Keinginanku untuk sekedar peduli terhambat kolong yang membatasi. Ah, mungkin juga mereka? Pikiran yang sama kah? Empati tanpa wujud. Bercinta dengan diri sendiri?

Seluruh saudaraku di negeri yang sungguh kucintai. (Apa aku layak dipanggil saudara?) Rasa yang kurasakan sungguh mengganjal hati. Meski basi, tapi aku memang hanya bisa memberikan doa dan simpati. Simpati yang takkan cukup hanya melalui  uang kertas seribu-dua ribu di kotak-kotak sumbangan di tepi-tepi jalan. Jumlah yang sama yang kuberikan pada pengamen-pengamen angkot dan bus kota. Sedih.. Tapi hanya itu yang saat ini mampu anak kolong ini berikan. Maafkan.

-------------
(KWAN IM PO SAT)

---Desember kemarin aku berkesempatan mengunjungi sebuah klentheng di Pecinan Semarang. Klentheng itu namanya Tay Kak Sie (Hanzi: 大覺寺). Ada sebuah rak buku di ujung ruangan klentheng. Ketika kubuka salah satu buku, kulihat ada bab tentang ajaran welas asih. Jadi ingat Dewi Kwan Im - sang dewi welas asih. Kubaca-baca ajaran itu, ada sejumlah ajaran yang menurutku sih sangat indah. Jadi kufoto dan kusalin di sini. Menyebarkan kebaikan itu juga baik kan? Terlepas apapun keyakinan dan agama, kebaikan dan kemanusiaan adalah universal. Itu yang kutahu. Berikut ini adalah salinan ajaran welas asih.---

Yang harus dilaksanakan dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari:


  1. Jika orang bikin kita susah, anggaplah itu adalah tumpukan rejeki.
  2. Mulai hari ini, belajarlah setiap hari menyenangkan orang lain.
  3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu untuk suatu tujuan, itulah kebahagiaan.
  4. Lari dan berlarilah yang cepat untuk mengejar hari esok.
  5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.
  6. Setiap kali kalau ada orang yang memberi kamu satu, kamu harus mengembalikannya 10 kali lipat.
  7. Nilailah kebaikan orang lain terhadap kamu, tetapi hapuslah semua jasa yang pernah kamu berikan kepada orang lain.
  8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.
  9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan itu merupakan hukuman.
  10. Orang yang benar kita bela,tetapi yang salah kita beri nasehat.
  11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan tetapi kamu menerimanya, maka akan datang rezeki yang datang kepadamu berlimpah-ruah.
  12. Jangan selalu melihat kesalahan/ mengecam orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri. Itulah kebenaran.
  13. Orang yang baik diajak bergaul, orang yang jahat dikasihani.
  14. Kalau hati kamu senyum, hati kamu senang, pasti kamu akan aku terima.
  15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat selamanya.
  16. Saling salah-menyalahkan, maka mengakibatkan putus hubungan.
  17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.
  18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.
  19. Kalau kamu mengetahui orang itu berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembut hingga orang itu menjadi insaf.
  20. Doa dan sembah sujudmu aku terima, apabila kamu bisa sadar dan menuruti jalanku.


Barang siapa yang memperbanyak dan ikut serta menyebarkan ajaran welas asih Avalokitesvara Bodhisattva ini akan mendapatkan pahala yang tak terhingga.


---------

Tarian Katak di Kolam


Img source: here
Title : Nankyoku Tairiku, Kami no Ryouiki ni Idomunda Otoko to Inu no Monogatari /
          (Antarctica ~The Story of Dogs and Men Who Challenged the Field of God~) 
Genre : Drama, adventure
Episode : 10
Broadcast year: Winter 2011

CAST:

Kimura Takuya as Kuramochi Takeshi
Sakai Masato as Himuro Haruhiko
Yamamoto Yusuke as Inuzuka Natsuo
Ayase Haruka as Takaoka Miyuki
Shibata Kyohei as Shirosaki Suguru
Kagawa Teruyuki as Hoshino Eitaro
etc,..

Jangan ngaku penggemar dorama kalau sampai gak nonton ini.

Nankyoku Tairiku (mungkin) menjadi yang termahal di sepanjang sejarah per-dorama-an Jepang. Bagaimana tidak? Lokasi syutingnya di Antartika. Ya, ANTARTIKA, Kutub Selatan Bumi yang menjadi kerajaan pinguin. Ehm, sebaiknya sih begitu ya, tapi aku tidak yakin juga apakah benar ini syuting di sana karena pastinya mahal dan sulit.

Antartika yang sangat eksotis dan magis. Dan dorama ini mengisahkan petualangan 11 orang manusia dan 20 ekor anjing yang bertahan dalam ekspedisi lintas musim dingin di Antartika. Bukan hanya karena lokasi dan ceritanya, jajaran aktor kawakan seperti Kimura Takuya dan juga Sakai Masato menjadikan dorama ini sangat indah. Waahhh, sudah pasti petualangan adalah hal yang paling dijanjikan. Dan janji itu terpenuhi. Nankyoku Tairiku menjadi dorama bertema petualangan dan persahabatan yang sungguh sangat layak ditonton.


Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata ekspedisi Antartika Jepang yang pertama pada tahun 1956. Pada waktu itu Jepang masih berada dalam masa yang disebut masa pasca-perang. Mental sebagai negara yang pernah kalah menjadikan kehidupan masyarkat Jepang menderita secara fisik maupun psikologis. Setahun sebelum ekspedisi,  Jepang  mendapatkan undangan internasional untuk turut serta dalam ekspedisi penelitian di Antartika. Kuramochi Takeshi (Kimutaku),  seorang profesor geologi dari Todai Universitas Tokyo bersama dengan Shirosaki Suguru (Shibata Kyohei) yakin bahwa  Ekspedisi Antartika dapat mengakhiri masa pasca-perang, mengembalikan kepercayaan diri bangsa, dan menunjukkan pada dunia bahwa Jepang masih bisa duduk setara dengan negara-negara maju lainnya.

Mimpi ambisius tersebut akhirnya terwujud meskipun pada awalnya ditentang oleh pemerintah karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi Jepang yang masih susah. Melalui bantuan media, ekspedisi ini telah menarik minat anak-anak yang pada akhirnya memberikan donasi sukarela dalam kotak-kotak sumbangan. (Ini mirip fenomena 'koin Prita' di Indonesia. Hehehe). Ekspedisi Antartika akhirnya menjadi berita nasional dan pemerintah pun pada akhirnya menyetujui ekspedisi itu. Setelah persiapan setahun maka tim Ekspedisi Antartika Jepang pun diberangkatkan pada bulan November 1956 dengan kapal pemecah es bernama Soya. Tim ekspedisi terdiri dari sejumlah kru dan juga anjing Sakhalin Husky yang nantinya berfungsi untuk menarik kereta luncur.  Pernah terbayang bagaimana rasanya menghabiskan musim dingin di Antartika selama 1 tahun? Yaa.. 11 orang anggota ekspedisi dan 19 anjing Sakhalin Husky ini akan menceritakannya untuk kamu.

Eh, ternyata tidak hanya 1 tahun. Anjing-anjing Sakhalin Husky itu harus menghabiskan waktu 2 tahun musim dingin di Antartika. Lho kok bisa? Ternyata mereka terpaksa ditinggalkan di Antartika karena ketika waktunya dijemput, cuaca di Antartika yang sangat ekstrim tiba-tiba berubah buruk dan tidak memungkinkan untuk menjemput anjing-anjing itu. Nankyoku Tairiku akan memberi tahu kamu petualangan indah sekaligus sedih dari anjing-anjing manis itu yang harus bertahan hidup di Tanah Tuhan, tanah tak bertuan, Antartika, sambil menunggu manusia-manusia yang mereka percaya akan menjemput mereka. 
(hiks, hiks, hiks,... Jadi ingat dan pengen nangis)


Menguliti Dorama

Pada awalnya menonton dorama ini sungguh menyenangkan. Penuh semangat yang menggelora dan memberikan keyakinan bahwa mimpi apapun dapat kita wujudkan asal kita tidak pernah menyerah. Terwujudnya mimpi ambisius Kuramochi dan Shirasi untuk pergi ke Antartika, berhasilnya tim ekspedisi berlabuh di Antartika meskipun di lokasi yang katanya tak pernah tersentuh (inaccessible), pendakian puncak Gunung Bottnuten pertama kali di dunia, kepercayaan manusia kepada anjing yang setia, dan banyak lagi kejadian yang menyenangkan. Khusus untuk pendakian Botnutten, sumpah keren banget. View dari puncaknya tak bisa kulupakan. Mungkin karena aku pendaki makanya rasanya ngena banget.

Gunung Botnutten di Antartika


Namun setelah acara meninggalkan anjing di Antartika, mulai episode 7 sampai dengan selesai, sungguh terlalu. Nyesek. Sebel. 3G (galau, gundah, gulana). Sedih dan mual semua campur aduk. 3 episode terakhir terlalu lama memainkan emosi yang lama-lama malah menjadi  mual. Banyak part-part yang kulewati karena sudah nyesek duluan. Apalagi yang adegan anjing mati satu per satu, sungguh rasanya ga rela, ga tega, ga mau. Kenapa harus dilama-lamain? Terlalu over kurasa sampai 4 episode dipakai untuk bersedih-sedih begitu. Padahal di episode-episode sebelumnya sudah bagus banget. Memang ada masalah namun semua diselesaikan dengan cepat dan baik. Tidak seperti di konflik utamanya. Sumpah deh. Terlalu. Masa iya sih aku harus sediakan ember buat nampung air mata? :(

lanjut di bawah 


Meskipun Kimutaku sudah semakin berumur (jadi ingat dan membandingkan Sena di Long Vacation), namun sungguh akting dia sangatlah indah, wajar, normal, menawan (hee..lebay). Memang gak salah kalau dia dijuluki 'King of Dorama'.  Pemeran Hiromu yaitu Sakai Masato  juga keren. Karena aku baru lihat dia di Hanzawa Naoki padahal Nankyoku dorama lebih tua ya. Hehehe.. Bagus aktingya. Meskipun dandanan dan style-nya sama tapi aku bisa ngerasa bahwa antara Hiromu dan Hanzawa memang beda orang. Good Job. Ayase Haruka as Miyuki,.. Lumayanlah. Pak Prof. Shirosaki  dan Prof. Hoshino dua-duanya keren. Aku suka gaya serius dan joke-jokenya. Cerdas.  Yamamoto Yusuke sebagai Inuzuka juga bagus, kegalauan dan ketidak stabilan emosinya sebagai tim termuda terasa. Ini diluar fungsi dia sebagai beautiful boy di dorama ini. Hehehe.  Akting pemeran tim ekspedisi lain juga bagus. Pemeran pendukung anak-anak juga banyak yang memikat. Misalnya saja pemeran Haruo, murid Ayumi yang selalu menggendong adiknya kemana-mana, dan juga Haruka yang sangat menyayangi anjingnya Riki.

Dan yang terpenting akting anjing-anjingnya.. Heleh-heleh kok bisa ya anjing diajarin akting. Ga ngerti sampai sekarang, kok bisa ya? Penasaran banget. Sampai bener-bener  jatuh cinta sama anjing-anjing besar itu. Ingin kupeluk dan kucium satu-satu mereka. Untuk para aktornya 100% tidak ada complain. Just Perfect.

Pemandangan Antartika sungguh sangat indah. Suatu saat nanti aku ingin banget ke sana. Menjelajah tanah Tuhan. "Antarctica is the Land of God" ceunah. Dan memang sungguh-sungguh indah sekali ujung selatan bumi itu. Pinguin-pinguin sayang banget jarang di shoot padahal salah satu ikon Antartika kan pinguin. Tapi suasana pas badai salju sungguh ngeri, bagus banget gambarnya. Dinginnya Antartika seolah kurasa. Pas si Inuzuka nangis sampai ingusan sungguh keren. Kurasa itu bukan akting deh. Memang dingin banget... Brzzz

Lagu tema yang digunakan di dorama ini berjudul Arano Yori dan dinyanyikan oleh Nakajima Miyuki berkesan jadul. Memang bisa kurasakan melebur dengan dorama yang berseting tahun 50-an ini, tapi karena alasan selera aku jadi kurang menyukainya.

Lain-Lain

Kagum sama Jepang dan bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan. Bayangkan, hanya 10 tahun habis diporak-porandakan oleh bom nuklir  terdahsyat yang terekam sejarah, mereka berambisi menjelajah Antartika. Ini Antartika lho, benua beku yang tak pernah dihuni manusia itu. Kalau kita? Bertanya sendiri. Sudah hampir 70 tahun merdeka punya gak stasiun penelitian di sana? Hadeuh... Pusing. Lebih dari itu, Jepang sangat menghargai binatang. Gak hanya Taro - Jiro (dua anjing yang berhasil hidup di Antartika setelah ditinggal tim ekspedisi) yang sampai dibuat monumen penghargaannya , tentu masih ingat Hachiko juga kan. Kalo di sini nasib anjing sepertinya agak sial. Kalo ga dibuat makan, dikatain najis. Ya meski gak semuanya juga sih. Ampun deh.

Ada hal unik yang aku masih ingat, di dorama ini sempat digambarkan kehidupan masyarakat Jepang kala itu yang susah dan kumuh. Ada adegan orang-orang buang sampah di sungai/ saluran air. Oh, kelakuan yang sepertinya sering aku lihat. Oiya, orang-orang kita juga ya, di negeri tercinta kita ini. Bedanya kalau di Jepang itu 54 tahun lalu, kalau kita sampai sekarang masih saja begitu. Hahaha... (tertawa getir).


Goodpart: Good plot, true story, true adventure, universal love, Kimutaku - Masato, Inuzuka meler, lovely dogs, Exotism of Antartic, Haruo and piggiback his siblings, Haruka chan,
Badpart: Episode 7-10 end, too long, too much, too intense, sad story.

Dorama ini wajib ditonton, rugi kalau ga nonton. Udah mahal, yang main bagus, settingnya keren, ceritanya asli, mau apa lagi coba?

9/10  (-1 untuk episode 7-10 yang terlalu sedih)

-----------
img souce: here

In Memorian of the Dogs

19 anjing di ekspedisi lintas musim dingin Antartika 1. 

Aka, Anko, Kuro, Goro, Jack, Shiro, Shiroko, Jiro, Taro, Tetsu, Deri, Hibu noKuuma, Fuuren no Kuma, Besu, Bekku, Pochi, Moku, Monbetsu no Kuma, Riki.

Dari 19 anjing itu, Shiroko dipulangkan ke Jepang. Taro dan Jiro bertahan hidup setelah ditinggalkan tim ekspedisi selama 1 tahun. Anjing lainnya mati dan hilang di Antartika. (Setelah ditemukan hidup di ekspedisi ke-3, Taro dan Jiro masih tinggal di Antartika sampai tahun 1960. Sayangnya Jiro mati karena penyakit, sedangkan Taro dipulangkan ke Jepang). Taro mati pada tahun 1970 saat berumur 14 tahun 7 bulan. Cucu-cucu Taro banyak diadopsi oleh orang-orang Jepang dan saat ini tersebar di Jepang.  Blog tentang anjing-anjing antartika di sini.

--------


"They will come back. I believe them." -Kuramochi to the dogs.
(18 – 25 Desember 2013)

Menghasilkan sebuah buku adalah suatu wujud pencapaian seseorang dalam menuangkan ide di kepalanya ke dalam suatu media. Tulisan. Satu tingkat di atas sekedar bicara. Namun ketika buku telah hadir, muncul kemudian sosok yang tidak kalah penting, yaitu kehadiran pembaca.  Buku adalah ibarat proposal, penawaran dari si penulis untuk pembaca. Karena berisi pengetahuan, ide-ide, dan bahkan ajakan, buku menjadi suatu alat yang menjembatani kedua pihak itu. Apakah si pembaca akan menerima atau menolak proposal tersebut, terserah pembaca.

Meskipun demikian, dalam masyarakat kita yang masih kurang kebiasaan membaca, buku yang tidak dianggap populer akan sedikit menarik minat pembaca. Ibarat proposal dengan judul yang dianggap tidak menarik. Lalu bagaimana caranya agar proposal yang dianggap tidak menarik itu dapat mengetuk hati sang pemilik keputusan? Kita butuh audiensi. Ketemuan langsung, tatap muka, diskusi. Dan itulah yang Rita Mustikasari lakukan. (Follow Rita @ritamustikasari)

Buku Air 
Penulis buku air ini telah melakukan audiensi dengan sejumlah calon-calon pembacanya, berinteraksi langsung dengan mereka, berbagi pengetahuan dan juga ide-ide di kepala. Jawa bagian tengah menjadi pilihan untuk pertemuan itu, tepatnya di Banyumas dan Yogyakarta. Pada awalnya akan diadakan juga pertemuan di Semarang, namun karena ada suatu halangan rencana itu terpaksa dibatalkan.

Lalu apa sebenarnya Buku Air yang telah ditulis Rita? Judul buku ini adalah “Kelembagaan Air di Indonesia: Sebuah Panduan Untuk Pengguna Air”. Buku ini adalah semacam panduan atau ensiklopedia tentang kelembagaan air di Indonesia.  Jika anda tertarik dengan air, maka mungkin buku ini bisa berjodoh dengan anda. Buku ini dapat dibaca online FREE di SINI.

Pangebatan dan Yogyakarta

Peserta membaca buku air
di Pangebatan
Lokasi pertama yaitu di Desa Pangebatan, Kecamatan Karang Lewas , Kabupaten Banyumas. Di sini Rita bertemu dengan para petani, praktisi air yang sebagian besar juga merangkap sebagai pamong desa, ketua P3A, dan ketua kelompok pemuda. Berbicara tentang air dengan petani ternyata menjadi tantangan tersendiri, berbeda dengan diskusi kampus ala akademisi. Hampir semua petani mengutarakan masalahnya masing-masing. Masalah yang tak sama tapi serupa. Semua ingin masalahnya terselesaikan. Sepertinya ada kesalahpahaman tentang maksud dan tujuannya. Petani mengira Rita adalah konsultan air, layaknya konsultan dari dinas PU-ahli irigasi- yang sempat kudengar di antara bisik-bisik petani yang hadir. Tapi semua berjalan dengan baik sampai selesai acara. Dan bahkan beberapa peserta yang tertarik tetap tinggal di lokasi diskusi untuk melanjutkan sesi informal bertukar pikiran dengan Rita. (Follow @DesaPangebatan)

Lokasi kedua yaitu di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Rita berdiskusi dengan para anggota Water Forum Kalijaga (WFK) yang beranggotakan mahasiswa. Para anggota WFK sudah pasti tertarik dengan isu air dan memang sedang menggeluti aktivitas itu. Diskusi ala anak sekolahan pun berlangsung. Banyak tanya jawab dan diskusi yang menarik. Semangat jiwa muda memang memberikan energi yang berbeda. Dan di sini Rita adalah sang inspiratornya. Semangat untuk menyelamatkan air, terutama sungai dapat disalurkan ke peserta yang hadir. Buku yang dibagikan pun menarik perhatian peserta. Sering terlihat di sela-sela acara mereka membolak-balik halaman buku. Dan lebih seru lagi, di akhir acara ada sesi minta tanda tangan penulis. Jika ingin berkunjung ke website WFK bisa di link http://waterforumkalijogo.wordpress.com/ .

Catatan Perjalanan

Beberapa catatan yang bisa saya sampaikan terkait kegiatan ini yaitu:

- Rencana kegiatan memang tidak bisa dibuat tunggal, harus ada rencana alternatif. Rencana A, B , dan mungkin C. Banyak terjadi hal-hal di luar rencana yang sangat mungkin terjadi di lapangan. Misalnya saja yang terjadi di Semarang, ketika contact person tiba-tiba membatalkan rencana mendadak.

- Skenario kegiatan diskusi dipersiapkan sesuai dengan pesertanya. Saya lihat misalnya di Pangebatan yang melibatkan petani. Diskusi dengan mereka membutuhkan pendekatan yang berbeda atau mungkin pengantar yang jelas agar maksud dan tujuan tidak disalah-pahami. Saya lihat kesalah-pahaman terjadi ketika Rita dianggap sebagai ahli air dalam artian ahli teknis seperti teknisi PU. Pemahaman antara peserta diskusi tidak sama sehingga mungkin pesan yang disampaikan tidak semuanya bisa diterima dengan baik.

- Dalam diskusi yang terjadi malah buku kurang terbahas. Di WFK UIN Kalijaga Yogyakarta, judul acaranya adalah bedah buku. Namun tentang buku itu sendiri kurang terlalu mendapat porsi yagn cukup untuk dibedah. Mungkin memang ada tujuannya, namun saya merasa bahwa pembahasan tentang buku juga perlu lebih banyak dilakukan. Buku yang ditulis Rita adalah jenis buku ‘minat khusus’ dalam artian tidak akan semua orang tertarik membaca buku itu. Dan ketika bertemu calon pembaca yang potensial sebaiknya tidak dilewatkan untuk menguliknya sebaik mungkin. Jika calon pembaca tertarik dan benar2 membaca buku itu maka respon balik akan lebih mudah didapat. Respon balik dari pembaca adalah hal yang baik bagi penulisan buku.

- Setelah acara diskusi harus dijaga komunikasi berkelanjutan. Sangat baik ketika Rita dan juga saya sendiri diundang untuk bergabung di forum facebook WFK. Melalui forum tersebut kita dapat berbagi informasi dan lebih penting lagi semangat dalam melakukan aktivitas masing-masing, menjaga jaringan yang telah dibentuk.

Saya rasa cukup sekian sedikit catatan dari saya tentang perjalanan satu minggu di Jawa bagian tengah akhir tahun ini. Semoga apa yang telah dilakukan menjadi bahan pelajaran dan suatu langkah maju untuk semuanya.Semoga semangat kita bersama dapat terus mengalir seperti air.

Bersama-sama Water Forum Kalijaga 
Promosi buku bersama teman-teman baru :)

 ----