(Ini adalah catatan tentang seorang sahabat, seorang teman yang dalam hidupku yang cuma sekali ini telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk kutemui. Ya, melalui catatan ini aku ingin mengungkapkan betapa mereka-mereka ini sangat berharga. Benar-benar berharga hingga aku bahkan kadang tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. )



Nadia and I at Labuhan Jukung Beach, West Lampung


Nadia, itu nama kamu. Apa kabar kamu sekarang ya? Ah, tentunya kamu sekarang sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Saat itu, tahun 2008 kita bertemu dan kamu masih kelas 6 SD. Kamu adalah satu orang spesial yang telah menghiasi hari-hari indahku selama melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Krui Barat - Lampung Barat. Satu bulan penuh cerita yang menghiasi petualangan pertamaku di Pulau Sumatra.

Pahmungan, sebuah pekon (desa) indah yang dikelilingi agroforest Damar, menjadi kampung halamanmu dan juga tempatku belajar tentang hutan dan kehidupan. Alam yang indah, orang-orang yang ramah, bahasa baru, rasa baru, dan banyak hal lain yang sungguh mempesonaku di sana. Bisa kubilang jika kegiatan PKL-ku itu adalah ekspedisi soloku yang pertama. Dan kamu, Nadia menjadi bagian penting juga di dalamnya.

Pertama kali bertemu denganmu mungkin adalah hari kedua setelah kedatanganku di Pahmungan. Aku menginap di rumah kakek kamu yang pas terletak di sebelah rumahmu. Dalam suasana yang masih asing dan sungkan, kamu muncul dengan anak-anak yang lain. Ah, aku kok lupa ya! Siapa itu nama adik kamu yang cantik itu? Juga sepupu kembar kamu yang lucu itu? Lalu kitapun berteman dekat. Aih, senang sekali rasanya punya kawan baru. Dimulailah kemudian petualangan kita bersama.

Sekarang aku akan mencoba mendaftar kegiatan apa saja yang pernah kita lakukan bareng ya.

  1. Mandi sore di sungai. Main air di sungai adalah satu keasyikan yang tak tertandingi. Meski sayang sekali aku tak bisa berenang. Nadia selalu menemaniku di sore yang lelah, untuk sekedar menyegarkan diri di aliran jernih air sungai yang mungkin adalah Way Ngison Balak (atau Lunik). Ah lupa lagi.
  2. Panen Damar Mata Kucing. Di suatu siang, kamu dan temanmu ikut aku ke hutan. Jika tugasku adalah mengamati dan mendata tentang panen damar, kamu bersama temanmu 'ngelahang' alias panen damar jatuhan. Lumayan bisa dijual juga kan. Hemm, laku berapa Nadia waktu itu?
  3. Belajar Bahasa Lampung. Satu hal yang paling sulit kupelajari adalah bahasa baru ini. Aksen huruf 'R' yang khas adalah kendala utamaku. Nadia adalah guru yang sabar. Aku masih ingat lho sejumlah kata yang kamu ajarkan: Babui (babi), Ulai (ular) dan Kaci (anjing).
  4. Main di Pantai Labuhan Jukung. Yuhuuu! Ini adalah yang paling menyenangkan. Labuhan Jukung adalah satu dari pantai terindah di pesisir Lampung Barat. Sehari waktu itu, kita menjelma menjadi gadis pantai yang seksi. Ha ha ha. Maksudnya kamu sih Nadia. Meskipun masih kecil, tapi tubuhmu yang bongsor dan juga kulit kecoklatan kamu terlihat keren. Ekspresi kamu juga oke banget. Kamu terlihat seperti anak pantai beneran. (Memang benar kali ya!) Waktu itu kita bertemu 2 atau 3 bule ganteng dan ingin sekali menyapa. Ah, sayangnya aku masih cemen waktu itu. Coba sekarang! Pasti sudah kita ajak kenalan. :)
  5. Jalan-jalan di Pasar Krui. Di pasar itu juga kita makan bakso yang enak banget.

Etc

Aku yakin masih banyak banget Nad, hal-hal yang pernah kita lakukan bareng. Hal penting yang mungkin perlu kusampaikan adalah kamu membuat hari-hari selama di Pahmungan menjadi sangat berkesan. Kamu banyak mengajarkan aku segala macam hal. Kamu juga menjadi pemandu-ku yang paling handal. Kamupun juga selalu memperkenalkan aku dengan banyak teman-temanmu di sana sehingga aku bisa punya banyak kenalan. Memang benar banget, aku menyukai anak-anak. 

Terima kasih Nadia. Kamu telah mewarnai kenangan indahku di masa PKL. Belajarku jadi menyenangkan. SKS-ku pun menjadi petualangan.

Aku tak tahu bagaimana caranya agar kamu bisa membaca catatan ini. Ah, kenapa bingung ya! Aku bisa saja bermain lagi ke Pahmungan. Aku juga masih ingat jelas rumah kamu dimana. Yah, semoga saja jodoh kita masih ada sehingga kita bisa bertemu lagi nanti. Jika kupikir lagi, mungkin akan agak canggung kali ya jika kita bertemu. Kamu pasti sudah menjelang dewasa sedang kamu yang kukenal masih anak-anak. Halah, kenapa aku jadi berpikir sejauh itu? Bertemu kawan lama adalah anugerah. Pastinya akan banyak cerita yang kita bisa bagi. Nadia pun bisa saja mengajariku Bahasa Lampung lagi.

Ya,..

Suatu hari nanti. 
Ada satu hal yang selalu membuatku jengkel saat hujan. Ini terkait erat dengan sandal jepit dan jalanan becek. Ada yang tahukah apa hubungannya? Yang jelas, jika dipadukan maka mereka akan selalu membuat kaki dan celanaku belepotan air kotor genangan hujan.

Entah hanya aku atau mungkin ada yang lain, aku memiliki kekurangan yaitu tidak bisa berjalan dengan  rapih di jalan becek dengan sandal jepit. Ayunan langkah kakiku selalu berhasil menciprati  dan mengotori kaki, sehati-hati dan sepelan apapun. Nah, anehnya, cipratan di kaki ini tidak berlaku saat aku pakai sepatu atau sendal yang bukan sendal jepit. Lhoh! Aku juga tidak paham kenapa bisa begitu.  Mungkin ada hubungannya dengan desain alas kaki tersebut dan juga gerakan kakiku? Ehm,... Bisa jadi demikian. Hemm... Sok serius. Ha...

Hari ini pun begitu. Hujan semalam yang mengguyur Bogor menyisakan genangan-genangan air di jalanan aspal yang memang sudah lama tak pernah rata. (Proyek baru coy!) Genangan berwarna kecoklatan itu sudah pasti adalah campur- campur dari segala macam yang ada di jalan dan jika lagi hoki bisa jadi dapat tambahan air got. Di pagi yang mendung ini, aku berjalan hendak belanja di tukang sayur di komplek jajanan serba ada di lingkungan kampus IPB yang termahsyur: BARA. Celana pendek, kaos oblong, tas belanja besar dan tentunya sandal jepit adalah pilihan utama di pagi yang basah ini. Dan ya! Pilihanku tepat. Belum juga jalan 10 menit, kedua betisku sudah ternoda totol-totol coklat terkena cipratan air lumpur dari ayunan kakiku. Hahh....

Rasanya menyebalkan sekali saat percik air menyentuh betisku. Nyess.... Jiahhhh,.... Kebayang deh itu ramuan penyusun air genangan. Hehehe...

Dulu, saat aku masih sering memakai celana panjang, hal serupa juga sering terjadi. Bedanya adalah aku tidak sadar jika celanaku sudah banyak tercetak cipratan air. Gak kerasa. Hingga kadang aku heran, "Kok bisa ya?!". Celanaku berubah jadi totol. Apalagi jika celana warna terang, berubah coraklah dia.

Aku suka hujan. Aku suka tetes air pembawa kehidupan. Berjingkrak di bawah hujan pernah pula menjadi bagian dari masa emasku. Namun jika berbicara tentang berjalan di jalanan becek dan sandal jepit, tanpa ragu aku akan bilang "NO" besar.


Selamat datang musim hujan di Kota Hujan. Siap-siap juga untuk musim banjir di bawah sana. 



NB: Kadang aku berpikir apakah sandal swallowku sebel karena kotor atau malah tertawa geli melihat kejengkelanku. Ha ha...





Wahai para pecinta kucing atau yang mengaku 'cat lover', pasti kalian sudah gak asing lagi dengan (mungkin) satu-satunya kafe kucing di dunia: Nekorobi Cat Cafe di Tokyo, Jepang. Meskipun dengan harga yang tidak murah (bahkan untuk ukuran orang Jepang), cafe unik ini tetap eksis bahkan menjadi salah satu 'hal yang wajib dilakukan' di Tokyo. Saat aku browsing dengan keywords 'must to do things in Tokyo', nama Nekorobi Cat Cafe menjadi salah satu top tennya. Dan akhirnya aku ke sana juga.

Nekorobi terletak di lantai 3 sebuah gedung. Dengan papan nama yang tidak terlalu mencolok dan agak susah dilihat di keramaian Ikebukuro. Nekorobi menempati satu ruangan yang tidak terlalu besar, mungkin kurang dari 10x10 m. Di dalam ruangan bercat  krem itu, aku langsung disambut seketika aku membuka pintu ruangan. Gadis muda yang kawaii alias imut langsung menyapaku dan menjelaskan sekilas peraturan serta tarif di sana. (Aku yakin gadis muda inilah yang pernah kulihat di tivi, di program "Sabtu...Minggu...Setengan Satu...." yang dibawakan Asri Welas. Waktu itu kebetulan sedang ada liputan tentang kafe kucing di Tokyo. Pasti ini! Hehehe).

Aku sempat mengunjungi kafe ini minggu kemarin (Desember 2014) di suatu malam yang cukup menggigilkan badan, saat musim dingin di negeri Sakura telah menjelang. Terletak di daerah Ikebukuro yang ramai, cafe ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 menit-an dari Stasiun Ikebukuro. Bagi pelancong baru, sangat aku sarankan untuk selalu mengaktifkan aplikasi googlemap selama di Tokyo dan sekitarnya. Terakhir kali aku di Ikebukuro, aku berputar-putar tidak karuan di jalan-jalan malam yang super ramai dan berkerlap-kerlip hampir semuanya terlihat mirip. Selama hampir satu jam aku tidak bisa menemukan letak Nekorobi yang memang agak 'nyelip' di antara keramaian Ikebukuro. Beruntung aku bertemu seorang baik yang membantuku. 

Di ruangan hangat Nekorobi, ada 14 kucing manis yang menyambut para pengunjung. Semuanya bersih dan wangi. Wajar sih, mahal banget pasti perawatannya. Ada beberapa tempat tidur kucing yang sedang dipakai oleh penghuninya. Beberapa tamu yang datang sedang bermain dengan kucing, sekedar mengambil foto-foto dan ada beberapa tamu yang menikmati minuman hangat dari vending machine yang ada di ruangan itu. Aku? Tentunya hunting foto-foto unyu dari para neko itu! 

The Cats

Dari semua kucing di sana, paling kece adalah Haruki. Dengan badan besar dan bulu yang panjang serta tatapan tajam, Haruki menjadi kucing paling ganteng di sini. Cool!

Sebelum masuk dan setelah keluar ruangan, para tamu harus mencuci tangan dulu. Tas, barang bawaan dan jaket harus dilepas diletakkan di loker yang telah disediakan. Setiap tamu akan diberi name tag yang bertuliskan jam kita masuk kafe. Nanti pas selesai, jam masuk itu akan jadi patokan berapa biaya yang harus kita bayarkan. Untuk satu jam berkunjung ke Nekorobi, kita perlu membayar 1100 Yen atau sekitar 110 ribu rupiah. Fasilitas yang bisa didapatkan adalah bermain dengan kucing dan menikmati minuman dari vending machine. Awalnya kupikir di kafe ini, pengunjung bisa memesan makan dan minum layaknya kafe biasa. Tapi ternyata enggak! Yang ada hanya kucing. Ha ha ha... Namanya juga Kafe Kucing ya! 

Meski mahal tapi aku senang bisa ke sana. Soalnya jarang-jarang kan bisa ke sana. Bisa pamer foto juga dengan para Cat Lover lain yang pasti ngiri banget meluk-meluk kucing yang mungkin saja paling mahal di Ikebukuro. 

Ada yang mau ke sini dan selfie bareng Haruki, Kinako, Kiyomori, dkk? Datang ke Nekorobi Cat Cafe di Ikebukuro - Tokyo!

Nekorobi Cat Cafe juga punya website yang bisa kamu kunjungi. Cek ini http://www.nekorobi.jp

Haruki and I





Di suatu pesta atau mungkin hajatan atau bisa jadi festival, dalam sebuah ruang gedung yang cukup besar yang mungkin berisi sekitar ratusan orang, aku di sana. Ada sebuah panggung di hadapan barisan kursi-kursi undangan dan seseorang berdiri di atasnya, memegang mikrofon berkabel tanpa tiang dan menyanyi: karaoke! Satu persatu orang menyanyi, menyumbangkan lagu untuk acara itu. Suara tak selalu merdu bahkan nyaris sumbang meski tak kuingat jelas bagaimana suara mereka. Lalu kulihat kakak laki-lakiku di sana, Mas Eko. 

Mas Eko beberapa kali menyanyikan lagu di panggung depan, bolak-balik mungkin sampai 4-5 kali. Para hadirin di acara itu nampaknya sangat antusias untuk menyumbangkan satu lagu. Aku belum ada keinginan untuk itu. Sungkan rasanya. Tidak semua orang duduk di tempat duduknya. Mereka menyebar tak beraturan di dalam ruangan besar itu, bisa kukatakan mirip dengan acara bebas setelah acara seremoni selesai. Dan orang-orang bergantian menyanyi, meski tak semua orang memperhatikannya. Kulihat para 'penyanyi' itu bahagia, bisa eksis kurasa. 

Aku berdiri di dekat meja sajian makanan prasmanan yang terletak di belakang kursi-kursi hadirin. Ada sebuah lorong pendek tak lebih panjang dari 5 meter di bagian itu dan aku bersandar di temboknya bersama seseorang hadirin yang kukenal. Kami berbincang santai seperti orang-orang lain juga yang membentuk grup-grup kecil. Lalu kulihat kakakku kembali naik ke atas panggung untuk menyanyi. Ah, baru aku tahu ternyata kakakku yang kupikir malu-malu, sekarang mendadak eksis di depan banyak orang. 

Kawanku bertanya, "Kenapa aku tidak ikut menyumbang lagu, menyanyi di atas panggung juga?". Apakah dia mengetahui gelisah di hatiku yang mungkin saja rasa grogi dan sungkan tampil di depan umum? Ah, aku tidak boleh terlihat lemah dan aku juga tidak ingin kalah dari kakakku. Aku beralasan, "Aku tak ingin bernyanyi tapi tak didengarkan. Aku tak ingin heboh sendiri tanpa ada yang memperhatikan." Sombong nian! Itulah aku.

Tak ingin termakan omongan sendiri, akupun memutuskan maju ke panggung. Kuambil mikrofon dan kupanggil para hadirin agar semua perhatian tertuju padaku. Kusampaikan bahwa aku akan menyanyikan sebuah lagu yang sangat bersejarah, sangat penting bagi semuanya. Sambil bicara aku juga berpikir, "Lagu apa yang cocok untuk ini? Aku bahkan tidak tahu!". Di tengah mata-mata yang tertuju padaku, aku tidak boleh gagal. Aku tahu mereka menunggu sesuatu yang besar dan mengguncang. Lalu aku tiba-tiba menyanyikan sebuah lagu yang entah darimana tiba-tiba terbersit di otakku. Lagu yang kupikir semua orang tahu. 

"From this moment, life has begun
From this moment, you are the one..."
                       (Shania Twain - From This Moment)

Lagu yang biasa dinyanyikan saat pesta pernikahan itu tiba-tiba mengalun dari mulutku, mencoba mengajak semua orang untuk ikut larut dalam pesan manis cinta di bait-bait syair lagu indah itu. 

Meski tak semua menyanyi, aku melihat sebagian besar orang bersama-sama membentuk paduan suara yang meski tak merdu tapi menyentuh kesadaranku. Setidaknya aku berhasil di sini.

Dan akupun bangun, di pagi terakhir di Cedar Mill - Portland, di atas kasur hangat dan empuk yang telah menemaniku selama 6 bulan ini. Ah,... Kuciumi bantal dan selimut kucel ini. Kuakhiri mimpi pagi.

Portland, 02 Desember 2014




Rasa haru menyeruak tiba-tiba. Angin dingin musim gugur menerpa wajahku yang panas menahan rasa untuk alasan yang tak sepenuhnya kupahami. Aku merasa rindu. Rindu pada waktu yang baru saja terlalu. Menyisakan sedikit sesak dalam dada yang sedikit terisak. 

Aku mencoba mencari-cari apa yang ingin kucari. Ah, kembali lagi aku ke awal perjalanan. Kembali lagi aku ke petualangan jiwa yang tak akan pernah berhenti. Aku merasa dunia selalu berputar, sedang aku  diam tak bergerak. Sentuhanku pada jaman yang selalu berbeda, berubah dan kemudian kembali lagi.

Oh, apakah ini mimpi? Begitu cepatkah aku harus terbangun dan terkaget-kaget! Aku masih memukul wajah berkali-kali hanya untuk yakin jika tidur telah usai. 

Di dalam mimpi aku bergumam. Kampung halaman yang telah lama kutinggalkan muncul di sana. Bersama aku dan keluargaku di masa abu-abu itu. Mereka memanggil-manggilku, melambaikan tangan padaku, mengajakku untuk bermain di tempat-tempat lama. Di kali, sawah, kebun-kebun singkong dan sengon, serta bukit desa yang kecoklatan basah sehabis hujan sesiangan. Aku merasakan beceknya tanah merah di kakiku ya g telanjang. Menatap biru Merapi Merbabu di cakrawala barat bersama gumam kawan-kawan kecilku. 

Sejauh kenangan yang bisa kukenang. Tak sadar mataku hangat dan hujan. Aku menangis dalam diam. Diam dalam mimpi tidurku. Apa ini? Benarkah jika manusia selalu akan gelisah? Selalu mencari-cari tanpa tahu apa yang diinginkan? Apakah aku juga begitu? 

Di mimpi menjelang pagi ini aku merasa berkaca, sebelum terbit fajar dan menyentakku dalam nyata. Sambil menikmati terpa angin musim gugur di dunia mimpi yang hampir usai. 





Saat itu sepertinya siang yang mendung, gelap. Aku di kelas bersama kawan- kawanku saat jam istirahat menjelang. Ruang kelas yang suram membuatku tak bisa melihat dengan jelas di arah papan tulis dari bangkuku, nomer 3 dari belakang. Mataku tidak terlalu baik melihat di remang cahaya, aku minus 2! 

Kucari- cari saklar lampu dan kutemukan satu di dinding yang mepet bangku sebelahku. Kulihat ada saklar lampu dan juga lubang colok yang telah diisi alat kotak hitam semacam charger. Saklar lampu berada di tengah-tengah lubang colok yang dipenuhi alat-alat itu dengan  beberapa serabut tembaga kabel telanjang mencuat. Aku tahu, logam-logam itu konduktor dan bisa menghantarkan listrik. Kucoba menyentuh saklar listrik dengan ketakutan akan setrum. Klik.... Ternyata saklar yang kuturunkan balik lagi ke posisi semula. Lampu yang mulai menyala pun mati lagi. Kucoba dan kucoba lagi hingga aku sadar jika saklar ini selain harus diturunkan ceklekannya tapi juga harus diputar ke kanan untuk mengunci. Kucoba sedikit memutar ke kanan. Ah, belum jadi terputar aku duluan takut akan kawat tembaga yang mencuat. Aku tak punya nyali. 

Kucoba mencari saklar lain dan tiba-tiba ruang kelas....klap...menjadi terang di salah satu sisi belakang. Dari 4 lampu di penjuru kelas, satu menyala dan itu yang tepat di atasku. Kulihat-lihat siapa yang menyalakannya, ternyata ada seseorang kawanku, sepertinya perempuan yang menyalakan saklar yang ada di tembok dekat pintu masuk. Tiba-tiba lagi lampu menyala lagi. Sekarang 2 lampu menerangi ruang kelas. Kelaspun menjadi terang kecuali satu sudut yang masih muram, lampu di dekat papan tulis belum menyala. Padahal lampu itu yang paling penting karena menyinari papan tulis. Sedangkan saklar lampunya adalah yang tadi kucoba. Saklar yang berbahaya itu tadi!

Kutanyakan apakah ada yang berani menyalakan? Semua hanya bergumam. Lalu Dian, kawanku mengatakan jika ia pernah kesetrum di sana. Ah, jadi makin takut aku dan yakin jika memang itu berbahaya. Tapi tiba-tiba ruang kelas benderang dan lampu semua menyala. Apa yang terjadi?
Aku tak tahu pasti. 

Di jam istirahat itu nampaknya aku keluar ruang kelas, mungkin jajan atau makan siang? Tak terlihat olehku. Saat aku kembali ke kelas, beberapa menit sebelum bel masuk berdentang, kulihat bangkuku sudah dipenuhi oleh 4 orang kawan sekelas, semua perempuan dan salah satunya adalah teman sebangkuku, Kris. Mereka terlihat sibuk menuliskan sesuatu, tergesa-gesa. Oh, ternyata itu adalah tugas PR dari guru Bahasa Inggris yang entah kenapa sang guru itu mirip antara Pak Kosim guru SDku dan Adi Bing Slamet. Bapak guru memberi tugas untuk membuat satu puisi dalam Bahasa Inggris. Sepertinya kawan-kawan ini belum mengerjakannya. Aku memakluminya dan menunggu sambil duduk di bangku depanku yang kosong. Sesekali kuintip apa yang dilakukan teman-temanku ini. Ahh, rasanya lega, aku sudah mengerjakan PR itu. 

Bel masuk berbunyi dan kawan-kawanku masih sibuk di bangkuku. Aku belum bisa duduk di sana dan aku juga merasa kasihan juga. Ya sudah, akupun tetap anteng duduk di bangku itu. Pak guru pun datang masuk ke kelas, memberi ucapan salam dan langsung menanyakan PR. Teman-teman di bangkuku seakan tak peduli dan tetap sibuk. Pak guru sudah mulai mengamati mereka. Aku merasa di atas angin. Entahlah, rasanya sudah mengerjakan PR itu memang sesuatu banget. 

Pak guru berkata bagi yang sudah siap boleh maju ke depan untuk membacakan puisinya. Tak ada satupun yang maju. Bahkan 4 kawan di bangkuku masih sibuk. Pak guru mulai menghampiri murid-muridnya, langsung menuju jalur bangkuku. Dia mengambil buku-buku tugas kawanku satu persatu yang sudah siap hingga saat tiba di bangkuku yang ramai diapun membubarkan kerumunan itu. Ah,....senangnya. Aku yang mulai cemas akhirnya bisa kembali ke bangkuku. Aku ingin segera memberikan  PR ku kepada Pak Guru. 

Ketika aku baru kembali ke bangkuku, Pak Guru sudah kembali ke depan kelas, hanya dengan membawa beberapa buku PR. Diapun mulai memeriksanya. Aku tak boleh ketinggalan. Kucari-cari buku tugasku dan kusadari ada yang salah dengan bangkuku. Aku memeriksa satu tas dan tak ada. Ternyata itu tas kawanku yang tadi duduk di situ. Aku marah-marah dan jengkel hingga kemudian ternyata yang kuomeli adalah Nika, yang duduk di bangku sebelah sedangkan tadi yang duduk di sini adalah Tere. Yang aneh adalah tas itu memang punya Nika. Kok bisa ada di situ? Nikapun marah juga karena merasa tak bersalah. Aku meminta maaf dan kukatakan jika tadi aku kira dia adalah Tere. Orang yang sedang dibicarakan hanya tersenyum lebar di bangku paling belakang sambil berucap maaf tanpa suara. Huhhh..

Kuperiksa dimana tasku dan kemudian aku mendapat kejutan lagi. Glodakan (loker) bangkuku berantakan sekali. Tas dan buku-bukuku semuanya ada di sana padahal aku ingat sekali jika sebelum keluar kelas aku memasukkan semua buku-bukuku di tas. Tas itu berwarna krem, merk Mountain Hardwear milikku yang dalam dunia nyata telah hilang di Pontianak tahun kemarin. Aku kesel minta ampun. Sambil ngedumel aku mencari-cari buku PRku, ingin segera kuberikan pada Pak Guru. Dumelanku ternyata membuat teman sebangkuku marah juga. "Apaan sih!", katanya. Kujelaskan kondisinya dan diapun akhirnya diam. Akhirnya kutemukan buku PR itu diantara bukuku yang lain yang hampir mirip semua sampulnya: bergambar bebek kartun warna-warni.

Kuambil buku itu, memeriksa isinya dan kutemukan hasil kerjaku. Ah lega.. Pak guru di depan kelas masih memeriksa PR dan mungkin segera menunjuk seseorang untuk membaca puisi Bahasa Inggrisnya. Di antara kawan-kawan yang duduk diam di bangkunya, aku berdiri dan maju ke depan, menjadi pusat perhatian. Aku bawa buku PR itu untuk kuberikan pada Pak Guru sambil berharap untuk bisa membaca puisi yang telah kubuat. 


Dan akupun terbangun dari tidurku. 
Jam 7.40 am, masih Cedar Hills, Portland - Oregon













Title: Atashinchi No Danshi
Genre: drama, family
Episode: 11
Broadcast Time: April - June 2009

Cast:
Horikita Maki as Mineta Chisato
Kaname Jun as Okura Fuu
Okada Yoshinori as Okura Takeru
Mukai Osamu as Okura Sho
Yamamoto Yusuke as Okura Masaru
Seto Koji as Okura Satoru
Okayama Tomoki as Okura Akira
Etc. 

Lagi-lagi dorama yang ngumpulin banyak ikemen dalam satu tempat. I love it! 

Atashinchi No Danshi, selain memanjakan mata juga menyuguhkan cerita yang lumayan menghibur, lucu, ringan, santai dan sangat komikal. Saking komikal-nya, drama ini di-adaptasi menjadi sebuah manga. Ini berkebalikan dengan tren drama/ film lainnya yang banyak merupakan versi live-action dari manga/ anime. Jadi, khusus dorama ini, manganya muncul belakangan. Wah wah wah... 

Bercerita tentang Mineta Chisato, seorang gadis home-less (tidak punya rumah alias gelandangan) yang tiba-tiba harus menjadi ibu dari 6 orang cowok-cowok super ganteng (lebay dikitlah). Bagaimana bisa ya?

Sinospis

Mineta Chisato harus menanggung beban hutang 10 juta Yen yang ditinggalkan ayahnya yang gemar berjudi. Sejak ibunya meninggal dan ayahnya kabur, Chisato harus berjuang hidup sendiri serta lari dari kejaran penagih hutang. Selama 10 tahun dia menjadi gelandangan dan tinggal d rumah kardus di sebuah taman kota. Pada suatu hari ia sedang lari dari kejaran penagih hutang yang berhasil menemukannya. Di saat terdesak dan hampir tertangkap, tiba-tiba seorang pria paruh baya (om om) muncul dan melunasi hutang dengan syarat Chisato harus menikahinya. Siapa pria itu?

Okura Shinzo adalah pemilik perusahaan Miracle, produsen mainan terkemuka di Jepang. Meski bergelimang kekayaan dan bisnis yang sukses, Okura tidak pernah menikah dan tetap melajang. Mengetahui bahwa umurnya tinggal 1 bulan karena suatu penyakit, dia ingin menghabiskan masa-masa terakhirnya dengan seseorang. Dan dia memilih Chisato yang umurnya jauh lebih muda darinya. Mereka pun menghabiskan sebulan bersama sampai Okura meninggal. Chisato mengira bahwa kontraknya telah selesai dengan kepergian Okura tapi ternyata tidak. Kontrak yang ditanda-tanganinya menyisakan beberapa hal yang harus dia penuhi, salah satunya adalah menjadi ibu bagi anak-anak adopsi Okura yang jumlahnya 6 orang dan semuanya laki-laki serta tinggal bersama di Trick Castle, rumah mereka. Lebih mengejutkan lagi, sebagian besar anak-anak Okura sudah dewasa bahkan lebih tua dari Chisato. Dan, semuanya adalah ikemen alias pretty boys! 

OMG! 
Bagaimana Chisato menjalani hidupnya di Trick Heart Castle bersama anak-anak barunya? Tinggal bersama para ikemen pasti beresiko jatuh cinta. Hehehe.. Apakah Chisato juga akan jatuh cinta pada salah satu anaknya? Apa rahasia yang tersimpan di Trick Castle yang menyimpan banyak misteri? Apa maksud terselubung mendiang Okura Shinzo yang membuat Chisato melakukan ini semua? 
Banyak pertanyaan kan. Silakan nonton sendiri agar lebih jelas. :)

Menguliti Dorama

Spoiler Alert

Cerita
Ngomongin soal cerita, dorama ini terlalu banyak fantasi dan khayalan, tipikal cerita komedi Jepang yang berbau-bau manga/  anime. Satu cewek yang dikelilingi dan tinggal bersama cowok-cowok ikemen, ehm...jadi ingat kisah lain kan, sebut saja Yamato Nadeshiko Shichi Henge dan Hana Kimi. Mirip! Bedanya adalah Atashinchi No Danshi lebih menonjolkan hubungan keluarga dan bukannya romance. Meskipun ada cerita percintaan antara Chisato dan Sho, tapi bukan menjadi kisah utama dan hanya sebagai pemanis saja. 

Aku suka bagaimana dorama ini menceritakan satu per satu latar belakang keluarga Okura, dari sang ayah Okura Shinzo yang nyentrik, Chisato, dan ke-enam anak adopsi  Okura. Mengetahui kisah masing-masing tokoh membuat jalinan emosi antar karakter makin kuat. Emosipun cukup tersampaikan dengan baik. Meskipun pada awalnya mereka adalah orang asing tanpa ikatan darah, tapi mereka akhirnya menjadi keluarga yang sesungguhnya. Kebersamaan dan kekompakan dengan keluarga akan bisa mengatasi segala rintangan. Ciehhh....


Alur
Ehm,.. Enak sih. Cukup rapi dan mengalir. Jika mempunyai waktu luang di akhir pekan (terutama para pencinta dorama yang jomblo heee) bisa banget menjadikan dorama ini untuk marathon. Setiap episode selalu diakhiri dengan adegan sedikit menggantung yang menggoda penonton untuk ingin langsung lanjut ke episode berikutnya. 

Tokoh dan Pemeran
Untuk para pemeran utama sih No Complaint kecuali untuk si adek kecil, anak ke-6 Okura Akira. Sang aktor muda Okayama Tomoki yang masih imut-imut itu terlalu kaku dan sering garing. Bahkan aku pernah membaca review orang yang mengatakan anak ini masa depannya sebagai aktor bakal suram karena dia tidak bisa akting. Hehehe...

Horikita Maki seperti biasanya selalu terlihat cantik dan imut, meskipun didandani kucel sekalipun. Aktingnyapun boleh juga-lah. Kaname Jun ganteng banget bo'! Aku suka x_x . Dia sangat keren di sini, apalagi di adegan sauna dan hanya dengan handuk doang. OMG, drooling...ngiler. Sumpah body doi bikin ngiler! Sayangnya adegan Kaname Jun tidak terlalu banyak di episode  awal. Ada pula Mukai Osamu yang senyumnya bikin klepek-klepek sampai aku lupa memperhatikan aktingnya. Hahaha.. Kurasa Mukai Osamu dalam berakting selalu konstan dalam artian  selalu baik. Saking konstannya, sampai-sampai rasanya begitu-begitu saja. Selama aku menonton drama dan film yang ada dia, belum pernah sih merasa kecewa tapi belum pernah juga merasa greget banget. 

    Cool Kaname Jun. I love him here. 


    Yamamoto Yusuke! Look at his eyes, he's wearing eye shadow..

    
      Still Yamamoto Yusuke. He's so funny here. Still with his eye shadow! 


Yang justru lumayan greget adalah Yamamoto Yusuke yang memerankan Okura Masaru, anak ke-4, seorang top model yang phobia perempuan. Dia lucu sekali di sini apalagi ketika berekspresi kemayu dengan make-up lengkap dan eye-shadow warna-warni. Hahaha.. Aku selalu tertawa kalau ada dia. Jika diingat lagi, Yamamoto Yusuke selalu dapat peran yang aneh-aneh ya. Ingat kan saat dia jadi paranormal di Hana Kimi, atau jadi si bodoh Yamada di Yamada kun and 7 Witches dan masih banyak peran aneh lain. Aku jadi suka sama dia. 

Ketinggalan satu lagi, Seto Koji. Dia bagus sih, mayan. Doi masih muda, masih panjang jalan karirnya dan masih perlu banyak belajar. Maksudnya!... ;) Untuk pemeran pendukung lainnya, aku suka pengacara wanita Okura yang selalu muncul tiba-tiba. Kehadirannya memeriahkan suasana. Tokoh antagonis Tokita cukup lincah diperankan. Wajah pemerannya mirip banget sama Adi Bing Slamet. Jangan-jangan saudaraan mereka! :)

Setting/ Latar
Good Job! Bagus. Yang paling keren adalah SAUNA room! Aku paling suka adegan berlatar kamar sauna di sini. Masih tanya kenapa? Jelas! Half naked hot men are the best! Di ruang sauna ini, kita bisa  ngintip bodi-bodi kece milik Kaname Jun, Mukai Osamu, Yamamoto Yusuke, dkk. With only yellow towels and sweaty bodies, they made me fly in the dark fantasies! Hahaha.. 

Trick Castle yang digunakan adalah bangunan yang sama dengan yang dipakai di YamaNade Shichi Henge dan Yukan Club. Kurasa banyak pasti dorama yang memaki kastil ini sebagai latar. Memang bagus sih bangunannya. Ruang-ruang rumah, lorong-lorong rahasia pun digarap dengan apik.


    Hot sauna room!


    Trick Heart Castle


Satu lagi catatan adalah latar taman tempat Chisato tinggal bersama para homeless lain. 
Tamannya bersih banget dan beda sama kawasan kumuh di Jakarta. Aku jadi heran, apakah memang begitu ya pemukiman homeless di Jepang? 

Lagu Tema
Lagu tema dorama ini berjudul 'Infinity' dinyanyikan oleh Girl Next Door. Gimana ya,.. Tidak ada kesan sih di aku. Mungkin karena aku terlalu larut sama ceritanya jadi tidak memperhatikan lagu tema ini. 

Sebenarnya masih ingin menulis lagi tentang Atashinchi No Danshi, tentang kenapa dorama ini layak tonton, tentang ceritanya, dll. Tapi kebetulan ini sudah ngantuk dan ingin tidur. Mungkin akan aku edit lagi kapan-kapan. Tapi secara keseluruhan dorama ini kece. Nonton yak!

Goodpart: Warm family story, hot ikemens, Kaname Jun, Yamamoto Yusuke's eye shadow, Sauna Room
Badpart: Okura Akira cast, Kaname Jun appearance is too short, awkward kissing scene


8/10








Title: Mei chan No Shitsuji
Genre: comedy, school, romance
Episode: 10
Broadcast year: Jan - March 2009

Cast:
Eikura Nana as Shinonome Mei
Mizushima Hiro as Shibata Rihito
Takeru Sato as Shibata Kento
Yamada Yu as Hongo Shiori
Mukai Osamu as Shinobu 
Etc.

This is more than a Cinderella story!
Pernah terbayangkah bagaimana rasanya menjadi Cinderella dalam waktu semalam? Bagaimana rasanya hidup yang biasa, tiba-tiba berubah drastis bak putri raja yang baru ditemukan? Mei-chan mungkin akan menceritakan kisah ajaibnya, dari seorang anak penjual Udon di kota kecil hingga menjadi pewaris utama perusahaan terbesar di Jepang. Tapi bukan itu yang utama, melainkan seorang pelayan pribadi/ butler super ganteng yang selalu menemani dan melayaninya setiap saat. I want one too! Mei-chan No Shitsuji adalah satu dari sekian banyak dorama yang tidak masuk logika, adaptasi manga yang penuh dunia imajiinasi yang indah. 
You shouldn't miss it!

Sinopsis

Kehidupan Shinonome Mei seketika berubah setelah kematian kedua orang tuanya, dari seorang anak penjual Udon menjadi pewaris perusahaan besar di Jepang: Hongo Corporation. Shibata Rihito tiba-tiba muncul di depan Mei dan mengatakan bahwa sejak saat itu dia adalah butler yang akan melayaninya. Demi keamanan dan kebaikan orang-orang di sekitarnya, Mei pun menyetujui untuk pindah sekolah dan tempat tinggal sembari menyiapkan diri sebagai seorang lady yang pantas untuk keluarga Hongo. Sekolah baru tersebut adalah St Lucia, sekolah elit khusus gadis yang memiliki peraturan lain dari yang lain: setiap siswi harus mempunyai butler yang super tampan. Dan Mei telah memiliki Rihito, butler S-rank yang merupakan tingkatan tertinggi bagi seorang butler.

Di St. Lucia, Mei bertemu dengan Hongo Shiori yang menyandang status sebagai Lucia-sama yaitu tingkat tertinggi murid di sana. Shiori yang awalnya terlihat anggun dan lembut ternyata menyimpan rahasia kelam dan niat terselubung terhadap Mei. Mei harus menjalani masa-masa sulit di sekolah barunya ini. Dia harus menghadapi bully dari teman-teman sekelasnya. Di saat-saat sulit itulah, sang butler-Rihito selalu mendampingi dan menjaganya. Teman masa kecilnya, Shibata Kento yang juga adik Rihito, masuk ke St Lucia sebagai butler junior untuk bisa lebih dekat dan menjaga Mei. 

Bagaimana kemudian perjuangan Mei untuk menjadi seorang lady, menghadapi teman sekelas dan Shiori? Bagaimana pula hubungan Mei dengan Rihito dan Kento yang ternyata telah tumbuh rasa cinta segitiga di-antara mereka? Bagaimana ia menghadapi aturan mutlak St Lucia yang melarang hubungan cinta antara siswi dan butlernya? Silakan nonton sendiri dorama yang kisahnya lebih ajaib dari Cinderella ini! 


Menguliti Dorama

Cerita
Cerita di dorama ini adalah adaptasi dari manga dengan judul yang sama 'Mei chan no Shitsuji' karya Riko Miyagi. Cerita dorama ini menggabungkan antara kisah Cinderella, school romance, harem dan butler/ maid fantasy. Hehehehe. Semua mimpi manis seorang gadis dikumpulkan di cerita ini. Bagaimana rasanya tiba-tiba menjadi seorang putri? Dikelilingi oleh cowok-cowok super hot yang berseragam pelayan? Butler pribadi yang gantengnya minta ampun? Hingga kisah cinta terlarang di sekolah! Sungguh, imajinasi sang mangaka sungguh sangat liar. 

    All girls and their super cool butlers! 

Begitu juga pembuat drama live action ini, sungguh gila! Gila kenapa? Karena hampir semua cerita yang disajikan di dorama ini tidak masuk akal dan logika. Hahaha... Bayangkan! Ruang kelas yang super mewah, butler yang melayani hampir semuanya mulai dari menyiapkan makan, mandi, menggendong saat melewati kolam, hingga membalik halaman buku pelajaran! Sumpah! Aku sampai tertawa geli saat melihatnya. Tapi itulah kelebihannya. Ketidak-wajaran cerita di dorama Jepang justru menarik karena tidak ada yang menyamai. Apa saja bisa terjadi di dorama.

Karena aku belum pernah baca manganya, maka aku tidak tahu bagaimana perbandingannya. Tapi ketika aku googling segelintir gambar-gambar di manganya sepertinya cukup hot. Hehehe.. Tapi aman kok di dorama ini, tidak ada adegan yang bikin gerah. (Padahal kecewa.. :p )

    Which butler do you want to be served? 

Alur
Sangat mudah mengikuti alur dorama ini. Alurnya sederhana dan mengalir. Hanya saja aku masih merasa jika tiap perpindahan alur cerita masih agak kasar sehingga kadang terasa dipaksakan. Ehm, mungkin memang karena ceritanya juga unik kali. Perpindahan patah-patah ini mirip yang kurasakan ketika menonton Hana Kimi (2006) yang notabene dorama dengan genre sejenis. Hmmm.. Mungkin saja ya.. (bergumam sendiri)

Ending
Aku suka happy ending. Dorama ini juga happy ending. Pasti langsung ketebak kan apa yang akan terjadi? So silakan cari sendiri.

    One of ending scene... Cute.. 

Setting/ Latar
Latar yang digunakan di dorama lumayanlah. St Lucia terlihat sangat mewah dan elegan, cocok juga sebagai sekolah super elit yang hanya ditempati putri-putri super kaya di Jepang. Taman-taman bunga yang indah, dan ruangan sekolah yang mewah. Pantai di kampung halaman Mei yang di tepi pantai juga lumayan bagus, dalam artian biasa saja. Yang paling oke adalah pencahayaan yang sebagian besar berlatar pagi/ senja dengan suasana remang yang romantis. Suasana ini menjadikan Mizushima Hiro (Rihito) semakin ganteng. Satu yang kurang mungkin ilustrasi gedung keseluruhan St Lucia yang bagiku masih terlihat jelas sebagai efek grafis komputer. Kurang alus animasinya. :) 

Pemain
Damn, I love pretty boys! 
Dari jajaran para butler aku sungguh terpuaskan. Kapan lagi melihat para ikemen ngumpul jadi satu, pakai seragam butler pula. Sebut saja Mizushima Hiro yang punya mata dan senyum sendu, Takeru Sato yang manyun-nya bikin gemes, Mukai Osamu dengan wajah baby face dan suara sexy-nya, dan butler-butler lain yang tidak kalah hot-nya: Kyou Nobuo, si kembar Takagi, Mayama Akihiro, dan masih banyak lagi. Pokoknya salut deh untuk yang tukang cast-nya. Jadi kepo, berapa duit ya untuk bayar para ikemen ini? Belum lagi para pemain ceweknya yang juga kawai! Lhah kok malah ngomongin fisik sih? Hehehe

Secara keseluruhan akting para pemain cukup baik tapi belum cukup untuk aku katakan sempurna. Pada beberapa adegan masih terlihat akting kaku dari para pemain. Eikura Nana sebagai Mei chan meski bagus tapi kurasa kurang cocok. Rasa-rasanya dia terlalu gemuk di sini dan aktingnya juga gak menyeluruh, kurang greget dan mengena. Mizushima Hiro, ehmm..gimana ya? Ganteng sih tapi...masih agak kaku kayaknya. Yang justru kurasa bagus adalah Takeru Sato. Dia bisa terlihat natural memerankan Mameshiba yang urakan. Mata belo miliknya selalu menunjukkan jika dia sedang serius ber-akting. 


    Mukai Osamu with white hair and very cute smile. 



    Mizushima Hiro with elegant glance!


    Takeru Sato's cool face! 


Kostum
Not bad. Menurutku kostum-kostum yang digunakan di dorama ini cukup modal. Banyak gaun-gaun cantik yang dipakai oleh para pemain. Seragam butler yang dipakai pun rapih dan elegan. Seragam sekolahnya sungguh sangat pendek roknya. Hehehe.. 

OST
Lagu tema dorama ini berjudul My Sunshine yang dinyanyikan oleh Rock A Trench. Lagunya sih biasa saja, tapi karena selalu diputar di akhir setiap episode lama-lama nyanthol di kepala. 
"..... Aitakutte aitakutte...." 

Jadi, itulah tentang Mei chan No Shitsuji. Bagi pencinta dorama yang belum sempat nonton, silakan nonton. Terutama bagi yang menyukai kisah ringan, kocak, ajaib dari adaptasi manga, maka dorama ini cukup menghibur. Manjakan mata dengan melihat wajah-wajah cantik ikemen dengan seragam butlernya. 

Hemm... yummy!

Goodpart: Lots of Ikemen butler, Mizushima Hiro smile and eyes, Takeru Sato good act, funny story, romantic lighting
Badpart: not smoot story flow, Eikura Nana, St Lucia whole school animation. 


7.5/10




Bravo si anjing imut
Ada apa dengan anjing?

Ada berita lucu-lucu aneh hari ini yang ada hubungannya dengan Anjing. Apakah itu? Cek dua berita ini dulu: Lihat Anjing Pelacak Polisi di Balai Kota Pesilat FPI Menyingkir dan Dua anggota FPI digigit anjing pelacak saat demo Ahok. Nah kalo sudah baca beritanya baru lanjut lagi kita ngobrol.

Anjing dan FPI. Ada hubungan apakah di antaranya keduanya?

Hari ini, massa salah satu ormas yang ngaku membela agama itu berdemo di depan Balai Kota DKI Jakarta. Ormas yang terkenal dengan seragam sorban, dan baju terusan putih ini melakukan aksinya dengan orasi dan juga adegan silat. Mereka seperti sudah siap untuk memperjuangkan apa yang mereka percaya, yaitu penggulingan sang PLT Gubernur DKI Jakarta, Ahok. Di tengah terik siang panas Jakarta, semangat tempur membuncah.

Pesilat tangguh pun unjuk gigi diiringi orator yang berteriak-teriak, "Kita akan menampilkan silat jurus Kemplang Babi melawan jurus Cina Mabok,".
Ngeri kan...

Img source: here


Hingga kemudian muncul si Anjing. Polisi mengerahkan empat ekor anjing pelacak untuk berjaga-jaga. Dan sang pesilat berbaju hijau yang sedang beraksipun tiba-tiba ciut nyali dan menyingkir. Lho kok?
Segitu aja?

"Polisi jangan provokasi kami dengan menampilkan anjing, itu najis," kata salah seorang orator.

Para pendemopun akhirnya bubar. Lho kok?

Apakah ini gara-gara si anjing? Salah apa si anjing? Anjingnya najis katanya. Halah, najis ya tinggal dicuci bersih 7 kali. Anak SD yang pernah belajar agama pasti juga tahu itu. Kenapa bubar? Ada yang digigit anjing rupanya! Yah, itu salahnya sendiri kenapa main masuk kantor orang dengan paksa.  Padahal aku juga seneng sebenernya dengan berita ini. Hahaha...Bingung sendiri tapi terhibur.

Anjing polisi (Img source: here)


Lalu aku main ke Kaskus yang lagi rame membahas hal ini juga, salah satunya trit ini. Ada yang mengatakan bahwa sang pesilat yang memperagakan jurus kemplang babi belum belajar jurus kemplang anjing. Jadinya mundur dulu untuk mempelajari jurus baru ini. Hahahaha... tambah ngakak saja aku.

Sebagai pecinta binatang, anjing bagiku adalah satu dari binatang favoritku. Mereka itu sangat imut, lucu, pintar, setia dan nurut. Lhah, anehnya di banyak tempat di tanah air tercinta ini, anjing seakan jadi marga satwa kelas 2 bersama si babi. Heran deh. Orang misuh-misuh nyebut anjing, anjing gak ngapa-ngapain disambit batu, anjing gak tahu apa-apa dikata-kata najis dan kotor terus. Ampun Emak!!! Sedih setiap mendengar itu. Gimana mau maju jika anjing aja jadi masalah gedhe.

Upss...Tapi mungkin ada hikmahnya juga ya. Sekarang ketahuan gimana cara mudahnya mbubarin demo ormas yang bersangkutan itu. Tinggal lepas saja anjing dan mereka mungkin bakal kabur. Hahaha..

Ya, kecuali jika lain kali mereka sudah menguasai jurus kemplang anjing.  





Title : SHARK
Genre : drama, music
Episode : 12
Broadcast year :  Jan - March 2014

Cast:
Hirano Sho as Kurata Mizuki
Hamada Takahiro as Hagiwara Kai
Matsumura Hokuto as Ryuzaki Ayumi
Iwamoto Hikaru as Satomi Kenzo
Kamiyama Tomohiro  as Adachi Teppei
Yamashita Rio as Komatsu Ichika


Kebayang gak sih kalau JE boys yang cantik-cantik gabung jadi band rock? Stop! Tidak perlu susah membayangkannya, cukup nonton dorama musikal satu ini yang dijamin akan membawamu ikut emosi dengan suka-duka meniti hidup lewat musik. SHARK adalah dorama pendek (30 menit tiap episode) yang paling cocok untuk kamu-kamu yang suka nonton marathon. 

(SPOILER alert!)

Sinopsis 

Shark adalah nama sebuah band rock indie beranggotakan 5 orang. Kharisma sang vokalis, Kazuki, yang mempercayai bahwa musik dapat merubah dunia, telah membawa Shark menjadi band indie yang paling bersinar. Ketika tinggal selangkah lagi untuk menuju debut di bawah naungan label besar Wonder Record, sang vokalis mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya dan merenggut pula peluang debut yang sudah di depan mata. Selama setahun lebih, Shark harus bertahan tanpa adanya pengganti Kazuki. Gitaris utama Hagiwara Kai merangkap sebagai vokalis, namun belum cukup mengembalikan kegemilangan Shark. 

Ichika, sebagai manager sekaligus orang terdekat Shark mengusahakan agar debut Shark diwujudkan. Perusahaan rekaman Wonder Record tempatnya bekeja menyetujui dengan syarat, Shark harus mempunyai vokalis baru yang memiliki kharisma kuat seperti Kazuki. Tidak mudah untuk mencari vokalis baru. Di suatu acara, Ichika melihat penampilan Kurata Mizuki yang sedang bernyanyi. Suara Mizuki langsung membuatnya tersadar bahwa ia telah menemukan vokalis untuk Shark. Langsung saja, Ichika melamar Mizuki sebagai vokalis baru Shark.

Tidak mudah untuk membuat Shark kembali bersinar meskipun vokalis baru telah muncul. Mizuki memiliki kepribadian yang tidak biasa, cenderung arogan dan kasar. Para anggota lain juga memiliki masalah masing-masing yang perlu diselesaikan. Dengan sekuat tenaga Ichika membantu Shark untuk bisa debut profesional. Tapi tentu saja banyak masalah yang harus mereka hadapi terlebih dulu. Ingin melihat bagaimana perjuangan mereka? Nonton sendiri ya. 

Mizuki dan Kai


----Selingan-----

Tidak pernah aku bayangkan jika dorama ini bagus pada awalnya. Waktu itu hari Sabtu, saatnya berburu dorama untuk berakhir pekan, dan ketemulah aku dengan Shark. Website tempat aku biasa nonton -dramacool.com- menyajikan drama yang kebanyakan adalah K-drama sehingga jika ada J-drama yang masuk di kategori most popular biasanya memang bagus. Shark juga termasuk di daftar itu bersama dorama populer lain seperti Last Cinderella, Boku no Ita Jikan, Shitsuren Chocolatier dana sejumlah dorama lain yang memang bagus. Ternyata memang benar bagus! Sekali menonton episode pertama langsung ketagihan. Rasanya waktu cepat berlalu. Padahal memang dorama ini cuma 30 menit per episode jadi tidak terasa. Akhirnya Sabtu itu, aku alokasikan 6 jam waktuku untuk marathon Shark! 
Nonton marathon bagiku hanya kulakukan untuk dorama pendek seperti Shark ini. Untuk dorama dengan waktu tayang normal, aku jarang melakukannya. 
-------------------

Menguliti Dorama

Cerita
Meski cerita tentang perjuangan band dalam dunia musik bukan ide baru lagi, tapi Shark lebih segar. Musik Rock yang menjadi latar kisah mengingatkanku pada film Bandage yang dibintangi Akanishi Jin, atau Kdrama Shut Up Flower Boyband. Tapi Shark jelas beda. Cara penyampaian cerita di dorama ini sangat modern dan tidak basi, sehingga meskipun ceritanya tidak terlalu baru, tetap enak ditonton. 

Alur
Alur/plot sangat mengalir dan mudah diikuti. Satu persatu konflik dimunculkan dan diselesaikan hingga pada konflik utama yang disajikan di episode terakhir. Aku menyukai cara dorama ini menjelaskan masalah dan cara penyelesaiannya yang cepat dan tidak berlarut-larut. Satu masalah selesai baru muncul masalah lain. Beda dengan sinetron Indonesia yang biasanya menumpuk masalah menjadi satu yang kadang membuat penonton jengkel seperti sinetron yang sering menjadikan tokoh utamanya dianiaya terus menerus oleh tokoh antagonis yang jahatnya kadang tidak wajar. Lho kok jadi ngomongin sinetron ya. Hehehe. 

Ending
Aku suka tapi aku juga kecewa! Kenapa? Aku menyukai akhir yang jelas, semua masalah terpecahkan dan ya selesai. Tidak dengan Shark! Konser Shark di episode final memang sangat wah, keren dan cocok sebagai adegan penutup. Tapi kenapa masalah baru malah muncul? Di akhir cerita, sang vokalis dinyatakan akan kehilangan suaranya karena sakit. Kok begitu? Lalu bagaimana debut yang sudah mereka rencanakan? Apa yang terjadi kemudian? Masa yang begini jadi akhir cerita sih? 
Yah.. Banyak kekesalan yang kurasakan. Tapi angin segarnya adalah di akhir drama dipromosikan adanya Shark musim kedua! Mungkin di sanalah jawabannya. Mungkin.

Tokoh dan pemeran
Hampir sempurna! Aku suka JE boys sudah dari dulu. Siapa sih yang tidak suka cowok cantik? Akting mereka pun cukup baik. Acungan jempol untuk Hirano Sho yang memerankan Mizuki, vokalis baru yang arogan. Dia cocok sekali dengan karakternya ditambah pula suaranya yang serak-serak rendah yang lembut sekaligus seksi. Suaranya mengingatkanku pada suara Kamenashi Kazuya yang sangat karakternya hampir mirip. Yamashita Rio sebagai Ichika awalnya biasa saja, tapi lama- lama dia semakin bagus dan menunjukkan posisi penting di dorama ini. Pemeran pendukung benar-benar mendukung! Aku paling suka gadis penjaga cafe teman Mizuki yang imut-imut dan lucu. 

Hirano Sho as Mizuki, Imut banget kan


Latar/Setting
Bagus. Untuk dorama setengah jam yang hanya 12 episode, maka penggarapan latar untuk Shark cukup mapan. Banyak lokasi yang ditunjukkan dalam dorama ini, pemeran figuran juga banyak, misalnya para penonton konser, yang membuat adegan terlihat lebih alami dan nyata. Ah, pasti modalnya besar. Apalagi ini adalah dorama tengah malam yang mungkin saja penontonnya terbatas. Mungkin nama JE boys sudah menjanjikan segmen tertentu penonton ya.  

Kostum
Gak punya baju lain ya? Satu yang paling tidak kusuka dari Shark adalah kostumnya. Bukannya jelek, tapi kenapa mereka tidak pernah ganti baju? Kurang dana untuk kostum kah? Aneh banget menurutku. Apa mungkin dana habis untuk bayar para figuran? Hahaha.. Dari awal sampai akhir, para pemain hampir selalu memakai baju yang sama! Jaket merah Mizuki adalah maskotnya. 

Musik tema dan lagu-lagu
Semuanya lagu-lagu yang dibawakan Shark di dorama ini sangat 'easy listening' - mudah dinikmati. Selain itu liriknya juga cukup menyentuh. Coba saja dengarkan. Aku penasaran deh, apa mereka yang benar-benar memainkan lagu-lagu ini? Apakah Hirano Sho yang menyanyikan lagu-lagunya Shark? Jika kudengar-dengar sih memang seperti suaranya dia. Jika iya, mungkin para JE Boys yang umumnya dibentuk menjadi Idol Group, berpeluang juga jadi musisi Rock? Siapa tahu? Band rock dengan personil ganteng pasti kan lebih laku, hehehe... 

Apalagi ya? Sepertinya sudah hampir semua yang ingin kucatat sudah kutuliskan. Kira-kira seperti itulah dorama Shark bagiku. Sangat kurekomendasikan bagi kamu-kamu pencinta dorama yang belum sempat nonton. Sambil berakhir pekan, ditemani sebungkus besar keripik cemilan dan segelas teh panas, Shark akan sangat pas menemanimu! 

Nikmati kisahnya!
Dengar musiknya!
Pelototin para pemainnya!

Happy weekend... Selamat berakhir pekan.

Goodpart: fresh, plot, JE boys, good music, Hirano's voice
Badpart: Blurred ending, lack of costume variation 

8.5/10