Cerita Saat Maharlika Pergi Karaoke

// // Leave a Comment



Ada hal-hal yang kadang hanya bisa kita ketahui saat menyanyi bersama-sama, misalnya kawan yang kalem dan alim ternyata rocker, diri sendiri yang ngakunya rocker ternyata pas nyanyi dangdut malah menggila, dan masih banyak kejutan lain. Ini juga yang aku temukan saat karaokean kemarin bersama teman-teman se-kos di Maharlika. Baru tahu ternyata Chinit yang kalem itu ternyata penggemar musik rock oldies!

Sore itu, kami bertujuh -Aku, Cory, Iie, Dita, Arya, Chinit, Rere- memutuskan untuk karaokean bareng di tempatnya Mbak Inul. Sudah lama banget rasanya gak ngumpul hepi-hepi bareng anak-anak kosan. Kami masuk tempat karaoke sih sudah lewat jam 7 malam. Maklum, macet di Bogor pada jam-jam sibuk bisa bikin bulu rontok saking lamanya. Setelah numpang sholat maghrib di musholla mini Inul Vizta, kami makan malam di warung ayam goreng cepat saji yang sebenernya sih gak cepet-cepet amat. Baru jam setengah delapan-an kami siap berkaraoke ria.

Kami memilih ruangan medium berkapasitas 6 orang yang harus nambah bayar 20 ribu per-orang jika pengisinya lebih dari kuota ruangan. Aku baru tahu tentang aturan ini! Kalau dipikir-pikir apa bedanya ya ruangan di isi sedikit atau penuh? Kita kan sewa ruangannya? Harusnya suka-suka dong mau kita isi berapa? Mungkin jika logikaku ini diaplikasikan, maka setiap orang main ke karaoke pasti milih ruangan yang kecil dan rela bersumpek-sumpek ria demi ngirit. Ha ha ha..

Kami pun masuk ke ruangan kami di lantai 2. Di lorong-lorong antar ruangan terdengar bunyi musik  nyaring yang bercampur suara nyaris sumbang dari tiap-tiap ruangan karaoke. Sepertinya, orang-orang sedang bersenang-senang dan berpesta ria di dalamnya. Kami pun segera menyusulmu kawan! Hehehe...Ruangan kami, berukuran sekitar 2x3 meter, dilengkapi sebuah sofa, meja dan layar monitor. Sebuah cermin menggantung di dinding dan lampu warna-warna menyorot seluruh ruangan. Woyaa! Kami siap menyanyi. 


Lagu pertama yang kami pilih pun mengalun, "Selimut Tetangga"-nya Revuplik. Dalam dunia karaoke, semakin norak dan alay sebuah lagu maka semakin meriah suasananya. Selimut tetangga mampu memanaskan suasana. Itu artinya,... Ha ha.. Jujur saja, sudah berhari-hari ini aku mendengar lagu ini hampir di mana saja dan kapan saja. Suka sih enggak, tapi bagian reff lagu itu selalu nyantol di kepala. 


"Mana mungkin,.... selimut tetangga, hangati tubuhku saat kesepian.."

Daftar lagu kami buat. Masing-masing orang memasukkan dalam mesin entry, lagu apa saja yang akan mereka nyanyikan. Sejumlah daftar yang dibuat teman-temanku ini, sedikit banyak memberitahuku sisi lain tentang mereka yang bahkan kadang mengagetkanku! Satu yang paling heboh adalah playlist Chinit. Dia adalah seorang kawan yang boleh kubilang paling lembut, kalem, alim dan apapun kata yang bisa dipakai untuk mendeskprisikan orang baik deh. Hehehe... 

Setelah beberapa lagu dimainkan, terdengarlah intro lagu rok klasik 70-80an yang tak asing bagiku. Lagu 'Wind of Change' milik Scorpions mengalun. 
"Lhah, siapa ini yang milih lagu ini? Lu ya Re?", tanya Cory. Si Rere memang rada doyan lagu beginian. 
"Ah, bukan", Rere.
"Mbak Net?", Cory.
"Bukan juga kok.", aku.
Tiba-tiba saja Chinit mengambil mike dan bilang, "Itu Nit yang pilih."

"What!!!!", aku pastikan hampir dari kami semua kaget. Ternyata dalam urusan musik, selera Chinit tidak sesuai dengan imajinasi orang-orang akan gadis alim, yah mungkin ini imajinasiku saja sih. Aku jadi ingat Meilani, cewek SMA berhijab yang lemah lembut yang ternyata sangat piawai bermain gitar musik metal! (Yang belum tahu siapa doi, gugel aja gitaris berhijab, pasti doi langsung muncul.) Jadi teman-teman, pelajaran hari ini adalah jangan menilai orang dari penampilan dan jangan suka berasumsi. Plus satu lagi: "jika ingin kenal sisi lain temanmu, maka berangkatlah berkaraoke!". Nah kalau sudah mau berangkat karaoke, aku diajak ya. :)


We are very happy here! (Photo taken by me, that's why I'm not in it. :) )

Lagu demi lagu pun mengalun disertai kemeriahan dan kegembiraan kami. (Atau aku saja ya yang merasa gembira. Hahaha.... ) Aku tidak tahu berapa banyak lagu yang kami nyanyikan selama 2 jam itu. Aku ingat-ingat lagi 1-2 pilihan lagu dari teman-temanku ini. 

Rere: All about that bass (Megan Trainor), 
Iie: Duh Emen (Yosie Lucky)
Cory: Seribu Tahun (Jikustik), 
Dita: Happy (Pharrel Williams)
Arya: lupaa....
Chinit: Wind of Change (Scorpions), I want to break free (Queen)
Aku: Selimut tetangga (Revublik), Benci untuk mencinta (Naif), dll

Aih, ternyata aku banyak lupanya. Arya, maaf ya aku lupa sama sekali pilihan lagumu. :) Beberapa lagu dangdut juga nongol, seperti lagu 'Jatuh bangun'-nya Kristina dan 'Senyum membawa luka'-nya Meggy Z. Aku dan Cory adalah penikmat dangdut dan kami berduet menyanyikan lagu dangdut yang ternyata bikin capek. 

Dua jam yang menyenangkan. Dua jam yang menyegarkan. Waktu rasanya cepat sekali berlalu dan tiba-tiba lagu terakhir kami dendangkan. Kamipun kembali pulang ke Maharlika, rumah kami yang hangat di Darmaga. 

Kapan-kapan nyanyi bareng lagi yuk teman. 

Oia, satu lagi catatan penting yang hampir kelupaan. Skor tertinggi untuk karaoke adalah 99. Siapa yang mendapatkannya? Ha ha ha,... Tentu saja aku. Lagu 'Benci untuk mencinta' yang kunyanyikan sepenuh hati ternyata menyentuh hati si mesin karaoke juga. Hi hi hi hi... Love you all deuh! 



The girls of Maharlika before the party! :)
(Iie, Cory, Dita, I, Chinit, Arya, Rere)



-------------



0 komentar:

Posting Komentar