East Wind West Wind (by: Pearl S Buck)

// // Leave a Comment


Judul    : East Wind West Wind (Angin Timur Angin Barat)
Penulis : Pearl S Buck
Bahasa : Indonesia (penterjemah: Lanny Murtihardjana)
Halaman  : 21 bab, 240 halaman
Penerbit  : Gramedia
Skor    : ***

Sinopsis:
Kwei Lan adalah seorang perempuan Cina yang tumbuh dan dididik menurut adat-istiadat Cina Kuno. Adat-adat istiadat kuno yang mengharuskan seorang perempuan menjadi bunga dan menyingkirkan diri diam-diam di hadapan lelaki, yang melarang perempuan mengungkapkan perasaannya secara langsung dan terang-terangan, dan yang mengharuskan seorang perempuan mengalami penderitaan yang menyakitkan karena harus membebat kaki agar senantiasa kecil dan cantik. Masa itu adalah masa dimana kaki yang kecil adalah yang dianggap cantik, dan setiap kecantikan memerlukan pengorbanan.

Masalah muncul ketika Kwei Lan menikah dengan seseorang yang modern. Meskipun suaminya adalah seorang Cina, namun dia pernah pergi ke luar negeri dan menerima pendidikan barat. Berbagai perbedaan sudut pandang dan pertentangan budaya pun banyak terjadi mewarnai hari-hari selama perkawinan mereka, bahkan menjadi masalah di keluarga besar kedua belah pihak. Masalah semakin besar ketika kakak Kwei Lan pulang dan membawa istri berkebangsaan asing.  


Kwei Lan semakin menderita karena merasa pengorbanan yang selama ini dilakukannya sia-sia sedangkan suaminya menuntutnya untuk berkorban lebih, terlebih ketika suaminya meminta bebat kakinya dibuka. Sedangkan bagi suaminya, membuka bebat kaki berarti adalah membebaskan istrinya dari penderitaan. Apa yang Kwei Lan pikirkan sering tidak sesuai dengan maksud dari sang suami.
Kisah ini, dituturkan dengan sudut pandang Kwei Lan. Bagaimana dia mengalami pendidikan Cina kuno ketika kecil, hari-hari awal pernikahannya, menghadapi budaya baru yang sama sekali asing baginya, dan bagaimana dia harus menyesuaikan diri dengan budaya baru tersebut. Kisah dimana Angin Timur dan Angin Barat bertemu.

Pendapat saya:
Cerita ini dituliskan oleh Pearl S Buck melalui penuturan Kwei Lan. Membaca kisah ini, seperti mendengar sendiri Kwei Lan bercerita dan mencurahkan isi hatinya. Cerita ini sangat mengalir sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan kisahnya. Saya membaca buku ini selama 3 hari.

Membaca kisah ini, memberikan pengetahuan tentang budaya-budaya Cina Kuno dan bagaimana proses budaya barat yang mulai masuk dan diadaptasi oleh masyarakat lokal. Bagaimana cara masyarakat Cina harus menyesuaikan diri dengan budaya baru yang bahkan bertentangan dengan budaya lama dan bagaimana nasib mereka yang tidak mau menyesuaikan diri? Jawabannya akan ditemukan dalam kisah ini melalui sudut pandang Kwei Lan.

Namun demikian, dalam cerita ini saya melihat bahwa budaya Cina yang ditampilkan terkesan seperti budaya yang terkalahkan, sedangkan budaya barat yang ditampilkan seolah-olah lebih unggul. Konflik-konflik yang tercipta juga terkesan sedikit ‘mengunggulkan’ budaya barat, meskipun saya yakin masih banyak budaya Cina Kuno yang baik.

Saya memberikan rating/ nilai *** (bintang tiga) untuk karya Pearl S Buck yang pertama ini. Jika anda memiliki waktu luang di akhir pekan, anda dapat membaca buku ini pada Jum’at malam dan pada hari Minggu-nya anda akan mendapatkan pengetahuan baru tentang budaya Cina kuno.




0 komentar:

Posting Komentar