Ngegalau Masa Depan yang Buram

// // Leave a Comment
 (Ini adalah hasil 'free writing', yaitu menulis bebas 10 menit terus menerus tanpa edit.)

Tiba-tiba hatiku gundah gulana entah kenapa. Ada seseorang yang menanyakan kabar dan mencari informasi sedang apa. Rasanya aku dikejar waktu yang seakan tak memberiku ampun dan kesempatan untuk sekedar bersantai. Aduh, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi aku tak mungkin bisa melakukannya di sini karena hari masih sore dan aku masih merasa menjadi orang normal. Tapi aku masih ingin teriak karena hatiku rasanya deg-degan setengah tak mau memberi ampun. Oke, aku bernegosiasi pada diriku sendiri untuk berteriak lewat tulisan 10 menit yang seperti biasa kulakukan untuk melemaskan jari dan juga membungkam kegalauan.

Aku memikirkan tentang masa depan, tentang suatu waktu yang masih belum tentu dan tentang ketidakteraturan. Satu hal yang pasti menjadi pertanyaan bagi semua manusia adalah tentang apa yang dimauinya? Aku pun juga begitu. Aku selalu bertanya dan bertanya pada diriku sendiri, dialog sendiri, apa sebenarnya dalam hidupku yang terbatas ini yang benar-benar aku inginkan. Dan aku selalu saja dibuat terkejut, terkesima sekaligus jengkel dan jengah atas jawaban yang membuatku tak bisa memilih. Apa itu? Aku ingin semuanya. Aku ingin banyak hal yang tidak bisa kuprioritaskan yang mana. Aku masih menjadi anak kecil yang selalu menginginkan semua mainan baru. Bagus benar kan?

Tapi rasanya tidak begitu juga. Aku ingin pulang ke rumah dan membuat sesuatu hal kecil yang nyata tapi aku juga ingin menjadi selebriti besar. Bingung kan? Aku ingin berdiam di satu tempat dan membentuk kedamaian di sana. Tapi kenapa aku selalu menjadi pengiri para pengelana? Bahkan aku masih dianggap pengelana saat aku berpikir aku hanya orang yang sedang bingung. Haduh. Aku ingin mengenal diriku sendiri. Diri yang tak pernah mengakui bahwa aku hanyalah satu dari jutaan orang 'biasa' di bumi ini. 

Pernah aku ingat, membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan yang mungkin dan besar peluangnya terjadi. Apa? Mati dan dilupakan. Oh, benar-benar itu. Itu menakutkanku setengah hidup. Aku pemuja hidup abadi layaknya aku selalu percaya akan cinta abadi. Nah, aku juga pasti ingin hidup abadi, mengukirkan sejarahku dan meninggalkan hidupku dalam keabadian yang tak bisa lekang. Hebat bukan. 

Tapi ya itu. Masa depan bagiku masih seburam 13 tahun lalu ketika pertama kali aku ber-KTP. Lha kalo sekarang saja masih buram, bagaimana ke depan? Berapa lama lagi sih waktu yang kumiliki di sini? Jika mengikuti sejarah nabi, maka hampir separuh waktu dan kesempatanku sudah kuambil. Tinggal separuh lagi yang tersisa. Tapi aku masih mikir bagaimana menggunakan yang separuh itu menjadikannya prasasti dan membuatku dikenang. 

Aku harus apa? 



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(Foto di bawah ini rasanya seperti dunia tak nyata yang sedikit memberiku gambaran tentang apa yang ingin kurasakan sekarang, 'maya'.)



0 komentar:

Posting Komentar