Cerita dari Karimata: Sungai Melano yang Berubah

// // Leave a Comment
Sungai Melano - DAS Karimata

"Setiap sore, air di Sungai Melano pasang. Air menjadi lebih tinggi  sampai 1 meter dari biasanya. Hanya saja tahun- tahun belakangan ini pasangnya lebih tinggi , kadang bisa mencapai 1,5 sampai 2 meter tingginya. Selain itu, air banjir juga semakin keruh dan kadang berbau. Itu terjadi sejak hutan-hutan di hulu dibabat dan perkebunan sawit mulai dibuka. " Kata Pak Musbalo, seorang penduduk di Desa Batu Barat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Wilayah-wilayah di sekitar Sungai Melano telah dikenal sejak tahun 70an sebagai daerah produksi kayu hutan alam atau HPH. Meskipun berbatasan langsung dengan wilayah konservasi  Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), daerah di hulu Melano cukup terkenal dengan kasus illegal loggingnya. Setelah kasus illegal-logging mulai turun, sebagian bekas wilayah eks HPH berubah menjadi bagian wilayah Perkebunan Sawit PT CUS. Perubahan-perubahan tutupan lahan di wilayah sekitar Sungai Melano yang masuk ke dalam satuan DAS Karimata, saat ini telah menampakkan dampaknya pada kondisi sungai yang bermuara di Selat Karimata ini. Banjir pasang saat ini menjadi lebih tinggi, air sungai pun kata orang-orang sekitar tercampur limbah pupuk dari perkebunan sawit.


Desa Batu Barat terletak tepat di tepi Sungai Melano yang memisahkannya dengan wilayah TNGP. Desa ini dulunya hanya bisa dijangkau dengan perahu atau kapal yang melintas Sungai Melano. Tapi sekarang desa ini sudah bisa dilewati dari jalan darat. Kondisi jalan tidak rata, kadang beraspal, bersemen atau jalan tanah yang kadang berganti-ganti. Kata Pak Mus, ini akibat dari proyek PNPM di masing-masing desa yang tidak terintegrasi sehingga bangunan sarana jalan tidak kompak dan terpotong-potong. Umumnya, semakin dekat dengan Teluk Melano, Ibu kota kecamatan yang juga pusat perdagagan di wilayah sekitar-maka kondisi jalan semakin baik. Di beberapa jalan tanah, ketika musim penghujan sangat sulit dilewati. Banyak motor-motor yang tergelincir karena lumpur yang licin. Meskipun demikian jalan darat saat ini lebih diutamakan karena dianggap lebih murah dan mudah. Kapal Sepit  (speedboat) yang melintas di sungai tidak bisa diprediksi kapan datangnya sehingga menyulitkan bagi yang ingin menumpang.

Sungai Melano sangat penting keberadaannya bagi masyarakat di sepanjang aliran terutama di wilayah hulu. Air sungai dimanfaatkan untuk keperluan MCK sehari-hari oleh masyarakat. Tidak adanya mata air di sekitar wilayah pemukiman menyebabkan air sungai menjadi satu-satunya sumber yang selalu ada. Orang-orang yang rumahnya agak jauh dari sungai, mereka membuat parit-parit di depan rumah yang akan terisi air jika sungai pasang setiap sore. Ketika pasang inilah biasanya mereka ramai-ramai mandi dan mencuci. Bagi yang lebih jauh lagi dan tidak dapat mengakses air sungai, maka pilihannya hanya menggunakan air gambut yang warnanya kehitaman. Tidak ada pilihan lain, kata mereka. Untuk air konsumsi masyarakat biasanya menampung air hujan atau membeli air galon kemasan yang harganya tidak murah, 25 ribu rupiah  per galon. Meskipun beberapa puluh tahun lalu orang-orang masih mengkonsumsi air sungai, tapi sekarang itu tidak bisa dilakukan lagi karena air sudah kotor.

Kondisi Sungai Melano yang berubah ini disadari oleh beberapa orang di Desa Batu Barat. Mereka mengatakan bahwa kondisi sungai ini semakin memburuk, persis seperti yang diungkapkan Pak Musbalo. Jika dikaitkan dengan perubahan tutupan lahan yang sangat drastis di daerah itu, mereka menganggap hilangnya hutan menjadi penyebabnya. Perusahaan  HPH, tambang, dan sekarang sawit telah membabat hutan-hutan di wilayah ini, hanya Taman Nasional Gunung Palung yang tersisa. Beberapa orang ini mengkhawatirkan masa depan orang-orang yang tinggal di daerah ini. Apa yang akan mereka lakukan jika nanti suatu saat perusahaan sawit pergi meninggalkan tanah gersang, sungai yang kotor, dan mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa.  "Ya, saat ini belum terasa, tapi jika kita tidak berbuat apa-apa pasti alam akan menghukum kita", kata Pak Mantan Kepala Desa Batu Barat yang aku lupa namanya.

 ----

Anak-anak Batu Barat di tepi Sungai Melano










0 komentar:

Posting Komentar