A Journey to Tampo Bada (8): Menelusur Sejarah 1

// // Leave a Comment
18 Mei 2013
Menelusuri Sejarah (I)

Ternyata menelusuri sejarah adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Semua catatan yang kupunya dari file kiriman Kipli sama sekali tidak cocok dengan apa yang kudengar dari narasumber sejarah hari ini. Jadi hari ini, aku diisi oleh kepusingan akan sejarah. Meski bukan inti dari riset yang kulakukan namun sejarah menjadi bagian penting juga. Jadi marilah menulis tentang sejarah .

Hari ini sebenarnya rencana kami adalah ke Bulili, menemui seseorang bapak anggota MHTB yang juga cukup tahu tentang sejarah adat di Tampo Bada. Kami berangkat sekitar jam 10 pagi. Aku membonceng Bang Adi dan Bu Femi bermotor sendiri. Cuaca yang sungguh cerah ini ternyata tidak membuat peruntungan kami baik. Hehehe. Si Bapak di Bulili ternyata tidak ada di rumah. Beliau sedang di Palu sudah sejak 2 minggu yang lalu untuk suatu keperluan. Kamipun melanjutkan kembali, mencari nara sumber baru yang mungkin ada di Gintu.

Bulili adalah desa yang cukup jauh dari Tuare. Sekitar hampir sejam kami harus bermotor ke sana. Jalan dari Gintu ke Bulili sudah berupa jalan aspal yang cukup bagus. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi jalan tanah Gintu – Tuare yang parah sekali kondisinya.

Sebelum ke Bulili kami singgah dulu di Gintu, di rumah adik Ibu Femi. Kami ngopi dulu sambil beristirahat setelah perjalanan hampir setengah jam di jalan becek. Aku sempat juga berjalan-jalan sebentar di sekitar untuk mengambil foto anak-anak SD yang baru pulang sekolah. Kupikir mereka malu-malu tapi ternyata mereka malah mengeruyukku. Cewek-cewek kecil ini sungguh lincah sekali. Mereka bahkan minta difoto rame-rame bergaya Chibi-chibinya Cherrybelle. OMG. Ini penampakan mereka.

Chibi-chibi dari Gintu

Setelah ngopi kami pergi dulu ke Desa Bewa, desa perbatasan dengan Gintu sebelah utara. Di desa inilah sinyal dapat terjangkau. Di desa inilah orang-orang dari seluruh Bada yang ingin menelpon atau ber-sms berkumpul. Aku sempat membeli pulsa juga di sebuah warung. Pulsa 20ribu seharga 24ribu. Ehm, wajar sih... Btw desa ini adalah desa si Desna Ratowo. Apa kabar dia ya?



Di warung ini Ibu Femi berkenalan dengan seorang wartawan sebuah mingguan. Selesai membeli aku juga ikut berkenalan. Namanya Pak Viktor, kepala cabang tabloid “FAJAR PENDIDIKAN” di Sulteng. Tabloid yang asalnya dari Sulsel ini merupakan tabloid yang banyak membahas tentang pendidikan meskipun juga memasukkan berita umum. Aku sempat bertukar nomer kontak dan email. Hitung-hitung menambah kenalan dan teman.  . Si bapak ini sedang survey dan melihat-lihat kondisi pendidikan di Lembah Bada yang menurutnya masih sangat kurang. Entah kurang apanya?

Aku coba untuk mengirim sms, namun beberapa masih pending. Kucek sinyal 3G namun tidak ada. Awalnya aku ingin menaikkan beberapa foto ke dunia maya, namun sepertinya sulit jadi kuurungkan saja setelah beberapa kali gagal mencoba. Ibu Femi sibuk selama beberapa saat dengan telepon yang masuk beberapa kali. Ehm, iya sih, Ibu Femi kan PD jadi otomatis termasuk orang sibuk. Hehehe. Semangat ibu..

Setelah dari Bewa barulah kami menuju Bulili. Bulili adalah desa yang akan dipetakan selanjutnya oleh tim UKP3 dari AMAN. Pertimbangan utama adalah karena di desa ini terdapat cukup banyak usaha tambang emas tradisional oleh masyarakatnya dan pernah ada investor tambang yang melirik usaha ini. Selain Bulili, ada beberapa desa lain juga yang terdapat tambang emas tradisionalnya namun paling banyak di Bulili.

Yang unik dari Bulili adalah slogannya : Bulili EMAS. Slogan ini terpasang di gerbang-gerbang rumah hampir semua penduduknya. Kupikir emas ya berarti emas. Tapi ternyata bukan. EMAS adalah akronim dari Ekonomi Masyarakat Akan Sejahtera. Owhhh... Lalu ada juga taman kecil dengan bunga warna-warni dan ada sebuah papah beratap bertulis wisma 5 bugenvil di depan satu rumah. Aku ambil fotonya. Setelah kuperhatikan, ternyata di masing-masing rumah ada taman kecil berikut papan namanya, misalnya Wisma 4 Mawar, wisma 6 xx, dll. So sweet banget.


Bulili Emas 

wisma 5 Bugenvil

Kami beristirahat untuk makan siang di Desa Runde, di sebuah warung kecil. Aku dan Bu Femi memesan “Binte” yaitu semacam sup jagung. Rasanya lumayan sih, namun untuk lidahku, aku perlu menambahkan sedikit garam. Ehm, satu hal lagi yang masih aneh buatku. Di sini, bukan hanya garam, gula, sambal, merica, kecap dan saos yang diletakkan di meja hidang sebagai bumbu tambahan bagi pemesan makanan, namu ada juga vetsin. Jadi vetsin ditambahkan sendiri di meja makan oleh pembelinya. Ini juga yang kulihat di warung Maley Bada di perjalanan  Tentena-Bada. Aku melihat seorang ibu memesan mie instant rebus dan kemudian dia menambahkan lagi vetsin di mie-nya itu. Heee..... sempet kaget juga sih. Bukankan mie instant itu kandungan MSG-nya sudah tinggi sekali? Eh ini ditambahin lagi! Gak kebayang kek mana rasanya? (sehat gak sih?)

Pak Taula, Baju Adat dan sekelumit kisah dongeng sejarah,---

Rumah di warung itu ternyata adalah milik seorang pembuat baju adat dari kulit kayu. Nama bapaknya Pak Anthonius Taula. Dia adalah orang yang paling ahli di bidang baju adat di Bada. Sudah banyak orang-orang dari dinas kebudayaan dan juga wartawan nasional yang mengunjungi bapak ini. Misalnya saja dia bercerita pernah masuk acara di Metro TV dan pernah ada juga wartawan dari TV lain (RCTI kalau tidak salah). Mulailah aku menanyakan tentang baju-baju itu, bagaimana proses pembuatannya, penggunaannya, sampai ke arti dari motifnya. Ehm, ternyata ribett sekali. Ingin menulisnya rinci di sini. Tapi lelah rasanya (pulang petang dan kehujanan di jalan benar-benar melelahkan). Mungkin besok pagi akan kurapikan tulisannya.

Bapak Toni (panggilan Pak Anthonius) sempat juga memakai baju adat itu. Yup. Sudah kuambil fotonya. Aku berjanji  pada diriku sendiri akan mempromosikan baju adat ini dengan cara menuliskannya di blogku, di kaskus, dan forum-forum yang kuikuti. Yahh, minimal itulah yang bisa kulakukan. .
Karena kupikir tahu tentang sejarah, akhirnya sekalian saja aku menanyakan tentang sejarah lahirnya komunitas adat di Lembah Bada ini. Lalu dimulailah episode sejarah panjang yang benar-benar menguras otakku. Bagaimana tidak? Hampir seluruh catatan dari Kipli (yang ditulis entah aku tidak paham), hampir semuanya tidak cocok dengan apa yang diceritakan si bapak ini. Memang sih ada nama-nama yang sama, namun garis ceritanya benar-benar acakabrut. Hampir satu jam-an lebih kami membicarakan sejarah ini. Aku akan menuliskan hasil obrolan ini dan nanti akan kutunjukkan lagi ke Pak Toni untuk dikoreksi. Pak Toni bilang bahwa dia masih ada garis keturunan dengan pemegang sejarah Bada. Yaa, aku sih percaya. Slow ya Bapak, saya akan coba menulisnya dengan baik. Semoga simpang siur sejarah ini bisa kita perbaiki bersama.

Setelah itu kami pamit pulang. Sebenarnya aku masih ingin banyak berbincang, namun  kondisi Ibu Femi sudah lelah selain juga memang sudah sore. Kami mampir dulu di Gintu lagi karena Ibu Femi berencana mengganti oli motornya meskipun akhirnya gagal karena bengkel sudah pada tutup. Ketika akan kembali ke Tuare hujan mulai turun lebat. Kami menunggu sejam. Karena tak berhenti juga akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Untung aku membawa mantel plastikku. Lumayanlah untuk melindungi kepala, badan dan elektronik yang kubawa. Kami berangkat jam setengah 6. Jalanan sudah mulai gelap.

Setelah sampai di Tuare aku langsung mandi. Selesai mandi, Gledis dan Praska sudah menyambutku di depan kamar. Hee.. mungkin mereka sudah kangen aku ya?  Aku menggambar untuk kemudian diwarnai Gledis. Acara menggambar di malam hari sudah menjadi acara rutin 3 malam ini. Setelah menggambar barulah makan malam : Ikan Mas Bakar dan tumis kangkung. Enak Bangettt....
Akupun pamit ke kamar. Kulihat jam sudah jam 8. Kutulis jurnal harian ini. Mataku sudah sangat berat. Listrik masih mati. Sumber listrik masih dengan genset. Cahaya lampu yang dihasilkan tidak stabil dan berpendar-pendar membuat mataku cepat lelah. Uh, alasan saja !  (tapi ini serius). Kadang-kadang dilema juga. Malam hari adalah waktuku menulis, namun kondisi sungguh tidak nyaman dengan lampunya. Namun jika siang hari, listrik terbatas dan aku hanya mengandalkan batre laptop saja.

Semangattt...

Sudah dulu ah, besok pagi aku akan merapikan cerita sejarah yang memusingkan itu. Tidak bisa juga kupaksa malam ini karena benar-benar sudah low energy.

(jadi ingat candaan di 9gag.com “I am not lazy. I am just in power saving mode” . wkwkwk)
Besok hari Minggu, saatnya umat Kristiani ke gereja. Di sini kan mereka rajin sekali beribadah. Ehm, liat besok apa yang akan kudapatkan.

Selamat tidur. Semoga mimpi indah.
See you....

birunya langit Bada <--- -----="" before="" next-----="">

0 komentar:

Posting Komentar