Untuk Aja: “Ja, gak ada yang berubah di sini.”

// // 4 comments

Aja (Aji M Huda), apa yg kamu lihat Ja?

Sampai sekarang aku masih belum bisa merasakan apa yang berbeda, apa yang berubah dari diri seorang sahabat. Aku masih merasa sama, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Dan memang tidak ada yang berubah kecuali fakta bahwa kamu sudah tidak di sini lagi. Ah, tapi sekali lagi kutegaskan! Aku tak merasa beda, aku tak merasa kehilangan, aku bahkan tak bisa menangis. Kenapa? Karena tidak ada yang pernah berubah Aja, kamu akan selalu ada dalam diriku sebagai seorang sahabat yang sangat berarti, kawan  yang mengerti dan junior-ku yang berani. 

Aja. Aku pertama mengenalmu sekitar 8 tahun lalu, 2006. Saat itu aku masih memanggil nama lengkapmu, ‘Aji Muhammad Huda’. Kemudian jadilah kamu MPCA-ku, ketua MPCA-ku yang beruntung punya nama lapangan baru di hari pertama pelantikanya. Sejak saat itulah panggilanku padamu jadi ‘Aja’, sampai sekarang. Kenapa beruntung? Coba lihat nama-nama yang lain, sebut saja Patkay, Kliwon, Jablay, Upil. Hahaha.. ‘Aja’ kurasa lebih manusiawi. Maaf ya yang tersinggung. :) 

Bersama teman-teman di angkatanmu, jadilah kalian MPCA pertamaku pas di saat aku masih sombong-sombongnya sebagai AM baru di LAWALATA-IPB dan kamulah ketuanya! Saat itu, aku mengenalmu sebatas hubungan senior-junior dan tidak secara personal. Tapi aku memperhatikanmu dan menilaimu sebagai sosok calon anggota yang tangguh, punya pendirian, dan berani. Hey, kamu ketua-nya kan! Itu adalah buktinya. 

Kemudian jadilah kamu AM. Sungguh AM yang rajin, rajin main ke sekret maksudnya. Hehehe. Bersama teman-temanmu, Bucok, Kliwon, Kipli, dll telah membentuk satu kesatuan cowok-cowok AM Nusa Penida yang sungguh keren. Cukup menghibur senior cewek di Karimunjawa yang bawelnya setengah mati. Sumpah, aku bangga sama kalian!

Kamu yang kukenal adalah kamu yang penuh impian, cita-cita disertai rencana dan tanggung jawab. Kamu juga pernah bilang bahwa kamu adalah pelindung keluargamu, kamu akan lakukan apa saja untuk kebahagiaan keluargamu. Aku kagum dan terharu. Aku saja belum yakin bisa seperti itu. Dan itu kamu buktikan. Jika boleh kubilang, kamu adalah satu dari angkatanmu yang paling sukses dalam berkarir. Di tengah-tengah kami yang masih galau menentukan pilihan hidup, kamu sudah jauh melaju. Kamu mencari, mencoba sesuatu yang baru dan menemukannya. Aku tidak tahu, tapi itulah yang kulihat. 

Dan satu lagi Ja, kamu tidak pernah lupa dengan keluarga keduamu, L-IPB. Meski sudah alumni, kamu tak pernah absen untuk sekedar bercengkerama ngalor-ngidul di sekret, naik gunung, arung jeram ataupun ke pantai bersama L. Tak hanya 1 atau 2 kali kudapati kamu berada di tengah-tengah junior L di sekret. Yah, kamu ingin menularkan semangat, ilmu dan bahkan romantisme dan kehangatan dalam persahatan kita semua di Lawalata. Itulah mengapa seakan jarak tak pernah ada. 

Di hari itupun kamu juga sedang ber-arung jeram. Salah satu kegiatan favoritmu, kegemaran setiap penggiat alam kurasa. Dan Tuhan memanggilmu untuk bersamanya ketika kamu sedang melakukan aktivitas kesukaanmu. Ah jadi ingat aku: seorang kawanku yang hobi berkuda di Oregon pernah berkata, “I know that everyone will die someday. My wish is when my time come, I hope it will be when I’m riding a horse!”. Dia berkata bahwa kebahagian terakhir orang ada di situ. Yah, boleh setuju atau tidak dengan pendapatnya. Tapi aku yakin kamu akan selalu bahagia Ja. 

Kamu adalah satu dari sekian banyak orang yang kukenal. Yakinlah, jika setiap sahabat selalu punya ruang khusus di dalam hatiku, begitu juga kamu. Aku hanya sekedar satu dari sekian banyak orang yang mengenalmu. Tapi setiap orang akan punya kenangan yang beda tentangmu, cerita yang beda, kisah yang beda. Ah, aku bayangkan indah rasanya jika setiap sahabatmu menulis kisahnya bersamamu. Ini sekaligus ajakan bagi teman-teman semua. Tuliskan perasaanmu dan abadikan dalam kata-kata. 

Aku tidak akan mengenangmu dalam tangis ataupun haru. Aku bahkan tak nyaman menggunakan kata ‘mengenang’. Iya Ja, aku merasa tak ada yang berubah. Kamu tetap ada. Karena itu aku menggunakan ‘kamu’ daripada ‘dia’. Ini bukanlah penyangkalan tapi sebuah keyakinan. Aku percaya dengan cinta abadi karena itulah aku percaya bahwa hidup itu juga abadi. Kamupun juga selalu abadi sampai jika Tuhan berkehendak aku harus pikun di kemudian hari. 





Sudiyah Istichomah / Nonet L-262
Portland-Oregon, 02 Juli 2014

4 komentar: Leave Your Comments

  1. aaahh ajaaaa...i miss youuuu :(((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Muls.. gw jg, kemarin seharian entah napa keinget mulu sama Aja.. Semoga semua bahagia dimanapun itu.

      Hapus
  2. Marjaa... pernah dl ngobrol tentang keinginannya tuk segera menikah. hikss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gw juga inget dia bilang bakal nikah pas umur 26.. tahun ini...

      Hapus