[FieldNoteSkripsi] Hari 4, Leuwi Waluh - Dusun 1

// // Leave a Comment

(Baru saja merapihkan file-file di laptop dan nemu catatan harian penelitianku untuk skripsi dulu. Penelitian yang berjudul "Perubahan Pola Interaksi Masyarakat dengan Hutan ".  Tahun 2011 tepatnya aku melakukannya, tak terasa udah 3 tahun lalu. Daripada ngendon di laptopku mending aku unggah saja di sini. hehehe. Akan aku bagi-bagi beberapa part berdasar hari ).

Mengangkut kayu bakar

HARI 4

01 Juni 2011

Menuju Dusun Leuwi Waluh

Hari ini dimulai pada pukul 8 saat aku bangun pagi dan langsung ditempa sinar mentari pagi yang menyilaukan dibalik gorden jendela. Dimulai dari mencuci baju dan keramas. Sebelum sarapan pagi Ibu Kosih berpamitan untuk pergi ke Sukabumi menjenguk anak adiknya yang sakit sehabis kecelakaan. Kemungkinan ibu pulang malam, dan mempersilakan aku untuk melayani diri sendiri di rumah. Ibu sudah memasak untuk sarapan pagi kami. Untuk makan siang jika ingin memasak nasi goreng juga boleh, nanti ditemani oleh Neng Maryam. Namun siang itu ternyata aku tidak makan, melainkan sore harinya sebelum berangkat ke Leuwi Waluh untuk mencari responden.

Pagi sampai siang aku gunakan untuk menandai kuesioner yang kemarin didapatkan. Aku menandai kuesioner berdasarkan jenis pemilikan lahan, sehingga menjadi 3 kategori. Sebenarnya aku ingin untuk mengkompilasi datanya, namun aku mengalami kesulitan untuk itu. Kesulitan itu adalah untuk menentukan beberapa variabel penduganya, seperti pendapatan, luas lahan. banyak di antara responden tidak mengetahui pasti berapa pendapatan dan luas lahannya. Untuk menduga pendapatan per bulan aku menggunakan pendekatan dari pengeluaran per bulan. Asumsi yang digunakan adalah pendapatan besarnya lebih dari pengeluaran atau minimal sama.

Pada sore hari hujan turun meski tidak terlalu lebat. Hal ini sempat membuatku ragu untuk melanjutkan jalan sore ini. Namun tak berapa lama hujan berhenti dan kami (aku dan andi) bersiap berangkat dengan meminjam motor A Robert. Terimakasih banyak untuk A Robert. Aku janji namanya akan aku tulis di skripsiku. Dan tentu saja untuk Andi, yang membantu banyak dalam proses ini. Selain membantu mengumpulkan data, juga telah mengantarku kemana-mana. Namanya akan aku tulis juga di skripsi J.

Desa Cihamerang - Nyasar di desa tetangga 

Perjalanan dimulai dengan nyasar ke Desa Cihamerang. Hal ini diketahui setelah sekitar 20 menit berjalan dan bertemu  sekitar 7 orang yang berkumpul di sebuah warung. 

Aku bertanya “Punten Pak, Bu, apakah di sini adalah Dusun Leuwi Waluh?”
dan dijawab kompak “ Bukan neng, disini mah sudah masuk Cihamerang, Leuwi waluh mah di atas sana tadi, pas pertigaan naek ke atas”.
“Ohh, jadi saya kebablasan ya, jadi harus kembali lagi?”
“enggak usah neng, terus saja nanti kalau ada portal pertigaan pilih jalan yang naek ke atas, nanti nglewati dusun Pameungpeuk, habis itu baru masuk Leuwiwaluh”
‘ohh, terimakasih”
(jadi aku nyasar nih)

Desa Cihamerang adalah batas sebelah selatan Desa Cipeuteuy. Desa  ini juga berbatasan langsung dengan kawasan TNGHS. Salah satu dusun yang berbatasan langsung adalah Dusun Pameungpeuk. Menurut keterangan dari Pak RT Ucok yang menjadi RT di Kampung Darmaga Dusun Leuwi waluh, masyarakat di dusun Pameungpeuk banyak yang menjadi penggarap di kawasan TNGHS. Hal ini berarti bahwa karakter kedua dusun (Pameungpeuk dan sebagian Leuwiwaluh) memiliki kemiripan. Hal ini disebabkan karena lokasi kedua dusun yang memang sama dalam hal berbatasan dengan taman nasional.

Di Pameungpeuk terdapat sebuah sekolah STM bernama STM Tijaan yang sepertinya menjadi satu-satunya STM di sekitar wilayah ini. Dari keterangan seorang warga yang anaknya bersekolah di sana, biaya perbulan SPP adalah 50 ribu.

Latihan rebana anak madrasah
Sedangkan di Kampung Sawah Dusun Leuwiwaluh terdapat sebuah madrasah yang letaknya bersebelahan dengan rumah Pak Mandor Ukat yang menjabat sebagai Kadus di sini. Kebetulan waktu kesana anak-anak sedang berlatih rebana untuk acara mauludan di kampung tersebut. Acara akan diadakan pada tanggal 19 Juni nanti. Aku pun diundang untuk datang di acara tersebut oleh Pak Ustad yang mengajari rebana. Senangnya.

Pendidikan anak-anak di Desa Cipeuteuy umumnya dobel antara pendidikan resmi dan pendidikan agama non formal. Pada pagi hari anak-anak bersekolah SD yang merupakan sekolah resmi dari pemerintah, dan selanjutnya anak-anak masih  bersekolah madrasah yang biasanya dari siang sampai sore sekitar pukul setengah 4. Anak-anak Pak Kosih pun begitu pula, baik Mela maupun Basar, harus bersekolah 2 kali. Dari cerita Ibu dan anak-anak, sebenarnya anak-anak kecapekan juga dengan sistem itu, namun memang dari dulu sudah biasa begitu. Anak-anak menjadi berkurang waktu main, karena dari pagi sampai sore harus beraktifitas di SD maupun madrasah. Saat libur nasional pun, biasanya mereka masih harus sekolah di madrasah, karena madrasah tidak libur.

Di Kampung Sawah terdapat perusahaan JABON (singkatan dari Jati Ambon) yang usahanya dalam bidang penanaman. Salah seorang pegawainya yaitu Pak Makmur mengatakan bahwa perusahaan ini baru. Upah pekerja 20 ribu per hari dan dibayarkan setiap sepuluh hari. Pekerjaan ini dijadikan pekerjaan utama oleh Pak Makmur karena bekerja di tempat ini memberikan penghasilan yang pasti dan rutin. Bertani hanya sebagai sampingan saja.

Tumpukan log kayu di tepi jalan
Responden pertama ditemui adalah Pak Mandor Ukat. Dari cerita Pak Ukat, dulu warga di Kampung Sawah banyak yang bertani di kawasan kehutanan (pada waktu masih dikelola oleh Perhutani). Pertanian yang dilakukan oleh warga kampung tersebut tidaklah lama, umumnya hanya sampai 1-2 kali musim tanam padi huma yaitu sekitar 1 tahunan. Namun saat ini, hal ini sudah tidak dilakukan lagi karena menurut keterangannya jaraknya terlalu jauh dan hasilnya juga kurang memuaskan.

Hal ini juga disebutkan oleh responden selanjutnya di kampung yang sama, yaitu Pak Jaji, Pak Ocih dan Pak Makmur. Mereka semua pernah menggarap lahan di kawasan hutan, namun saat ini sudah ditinggalkan. Beberapa menyebutkan bahwa bertani di hutan tidak menguntungkan dan rugi karena banyak diserang babi, selain karena juga jarak yang terlalu jauh (sekitar 2 km/1 jam jalan kaki). 

Mereka menyebutkan bahwa masyarakat di Leuwiwaluh yang masih banyak menggunakan kawasan hutan untuk pertanian adalah yang berada di Kampung Darmaga dan Kampung Cilodor yang berada di atas dan berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Selanjutnya kami menuju ke Darmaga.
Jalan menuju darmaga menanjak dan berbatu-batu, sekitar 20 menit kami sampai di sana. 

Pemukiman di kampung ini mengelompok, sehingga rumah-rumah ke-39 KK yang berada di kampung ini semua berdekatan. Jarak kampung dari hutan adalah sekitar 200 meter. Sebagian petani di sana menggunakan kawasan hutan yang berbatasan dengan kampung untuk pertanian, biasanya untuk sawah. dari keterangan responden di Kampung ini, umumnya masyarakat memulai menggunakan kawasan hutan tersebut pada waktu setelah dilakukan tebangan tahun 1999. Warga memulai menggarap lahan bekas tebangan sekitar tahun 2000 an. Sebelumnya mereka hanya menggarap lahan milik sendiri atau lahan sewa yang luasnya sangat terbatas.

Pada awalnya, masyarakat tidak berani untuk menggarap lahan tersebut. Namun karena melihat tanah tersebut kosong dan tidak terpakai maka, beberapa masyarakat berinisiatif untuk menggarap lahan itu. Setelah beberapa orang memulai menggarap, masyarakat yang lain mengikuti menggarap lahan itu. Pihak taman nasional (saat ini) sudah melarang kegiatan tersebut, namun masyarakat sampai saat ini masih menggarapnya. Hal ini dikarenakan masyarakat membutuhkan lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Beberapa petani bahkan sama sekali tidak memiliki lahan milik, dan hanya mendapat penghasilan dari bertani di lahan TNGHS. Mereka berharap bahwa pihak TN memahami kondisi mereka yang memang sangat membutuhkan lahan untuk menyambung hidup. Hal ini juga mirip dengan yang terjadi di Kampung Cisalimar2 dimana sebagian besar warga sangat tergantung dengan lahan TNGHS untuk pertanian.

Luas lahan TNGHS yang dimanfaatkan oleh masyarakat tidak terlalu jauh berbeda satu sama lain. sekitar 3 patok atau sekitar 1200 meter persegi. Lokasi lahan dekat dengan sungai yang menjadi perbatasan hutan dan kampung. Beberapa tahun yang lalu pernah diadakan acara penanaman tanaman kehutanan yang diadakan pihak TN. Masyarakat ikut menanamnya.

Hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sampai saat ini adalah kayu bakar. Masyarakat kampung Darmaga masih mengandalkan kayu sebagai bahan bakar.  Dari dulu mereka memanfaatkan ranting-ranting pohon yang jatuh dan kering untuk bahan bakar sehari-hari. Hanya beberapa warga saja yang memanfaatkan bahan bakar gas, karena selain karena bantuan dari pemerintah yang terbatas, harga bahan bakar juga dianggap mahal. Sebagian mengatakan bahwa bahan bakar dari kayu lebih hemat karena tidak perlu membeli. Pengambilan kayu bakar ini tidak dilarang oleh pihak TN.

Letak Kampung Darmaga ini berada tepat di atas Kampung Gunung Leutik.

Beberapa dokumentasi 01 Juni 2011

Keluarga Pak Jaji dan keluarga


Pak Ukat, Kadus Leuwi Waluh

Warga Dramaga 2


0 komentar:

Posting Komentar